
" assalamualaikum dek...." ucap mbak Ella
" waalaikumsalam mbak..." jawab ku dan Lidia bersamaan.
" mbak masuk ya.." ujarnya sambil masuk ke dalam kamar kami.
" gini dek, mbak mau pamit.." ujarnya lagi
" pamit? mau kemana mbak? mau pulang kampung ya?" tanya ku.
" iya dek..." jawabnya tak bersemangat.
" berapa lama mbak?" tanya Lidia
" belum tahu dek, ini mbak lagi proses mengajukan cuti kuliah" jawab nya
" memang kenapa mbak harus sampe cuti kuliah? sayang banget...mbak kan sudah di semester akhir" ujar ku.
" iya sih dek, cuma gimana ya.. orang tua mbak gak punya lagi uang untuk bayar uang kuliah, sudah tiga bulan ini mereka gak ngirimin mbak uang lagi, jadi kostan mbak juga menunggak, takut nya kalau mbak bertahan lebih lama disini, akan tambah berat" ujarnya sambil menahan tangis.
__ADS_1
" makanya mbak akhir - akhir ini terkesan agak tidak tahu malu, karena selalu ikut kalian makan, cuma mau bagaimana lagi" lanjut nya lagi.
" ya ampun mbak...kenapa gak bilang, kalo mbak bilang kan kita bisa makan sama - sama walaupun seadanya" ujarku sedikit menyesal karena selama ini memperlakukan nya dengan tidak baik.
" gak apa dek, mbak juga ngerasain merantau, uang kiriman pasti pas - pas an...gak mungkin mbak minta kalian menanggung mbak" ujar mbak ella.
" jadi kapan mbak mau pulang?" tanya Lidia.
" kalau proses pengajuan cuti mbak sudah disetujui, mbak langsung berangkat ke Bangka, makanya mbak pamitan dari sekarang sama kalian, takutnya nanti pas mau berangkat, gak ketemu..." ujar mbak Ella.
" nanti berangkat ke Bangka sendirian mbak?" tanyaku
" minta pinjemin satu kamar yang kosong aja mbak sama ibu kost...buat ayahnya mbak" ujarku. karena ukuran kamar mbak ella tidaklah sebesar kamar kami, hanya muat untuk satu tempat tidur, tidak ada ruang tersisa.
" gak apa dek, paling juga cuma berapa hari, lagian gak enak sama ibu kost, udah dikasih waktu aja mbak sudah senang" ujarnya.
" ya udah mbak, yang sabar ya... insyaallah ini yang terbaik, kami doakan semoga keuangan keluarga mbak segera membaik biar mbak bisa nyelesain kuliah mbak..." ujarku.
" iya mbak...dan kami mohon maaf ya mbak, kami pasti banyak salah selama tinggal disini" sambung Lidia
__ADS_1
" iya adek...mbak juga minta maaf ya, mohon ikhlas kan apa yang sudah mbak makan ya dek... sekali lagi maaf merepotkan.." ujar mbak Ella.
kami mengikuti mbak Ella ke kamar nya, mau menyapa ayahnya.
sesampainya di kamar mbak Ella, ada seorang laki-laki sedang duduk di tempat tidur, untuk seumuran mbak Ella, seperti nya ayahnya tampak muda. setelah menyapa kami pun kembali ke kamar.
" itu beneran ayahnya?" ujar Lidia. nah beneran kan, Lidia satu pemikiran denganku.
" mungkin awet muda lid..." ujarku
" kelihatan udah berumur sih, tapi kayaknya beda umur nya gak begitu jauh.." ujar Lidia.
" lagian, dia kan lagi kesulitan uang, mending uangnya di kirim aja buat ongkos mbak Ella ke Bangka, daripada ayahnya harus bolak balik gitu, kan ongkos ke Bangka lumayan juga. " ujar Lidia lagi.
" mulai deh otak nya... mikirnya kejauhan.." ujarku
" biarin aja lah lid,.kita juga gak enak buat banyak tanya sama mbak Ella, yang penting kita do'a in yang terbaik, do'a in yang baik-baik, karena do'a juga kan buat kita sendiri" ujarku
Lidia pun tertawa, lalu naik ke atas atap, tempat favorit kami.
__ADS_1