
sayup - sayup suara azan subuh terdengar, karena sedang berhalangan, aku pun memutuskan untuk melanjutkan tidur. entah mengapa udara terasa sangat panas, kusibakkan sedikit selimut yang menutupi tubuhku, perlahan aku merasakan sangat panas, keringat mulai menetes dari rambut ku, entah kenapa aku menjadi sangat gelisah, tak lama.
sert....sert...
ada yang mencakar lenganku, cakarannya sangat pelan, namun sangat terasa karena kukunya tajam, aku langsung menoleh ke arah Lidia, ku pikir dia sedang menjahili aku, tapi kulihat Nadia sudah tidak ada di tempat tidur, bergegas aku bangun dan mencari Nadia keluar kamar, ketika membuka pintu kamar, ternyata Nadia sudah ada di depan kamar.
" astaghfirullah Nadira...kami kebelet?" ujar Lidia kaget
" enggak, aku nyari kamu..." jawabku lesu sambil langsung duduk di kursi kamar kami. dan memikirkan bahwa apa yang terjadi tadi hanya mimpi.
" uhhh... dasar anak manja... kepengen nya pas bangun ada yang nemenin ya?" gurau Lidia sambil mencolek lenganku.
"aaww.." pekikku sambil melihat ke arah lenganku, ada bekas cakaran disana, dan darah perlahan mengalir, Lidia yang sudah siap mau sholat subuh pun mengurungkan niatnya karena melihat lenganku
" kenapa tangan kamu?"
" kamu Garut sampe berdarah gitu?"
tanya Lidia
" enggak tahu..aku tadi mimpi di cakar, aku gak nyadar kalo di cakar beneran" jawabku .
" kamu serius? ini cakarannya dalem banget loh..aku sholat sebentar, nanti aku bantu bersihin ya " ujar Lidia.
__ADS_1
Lidia menyarankan agar aku tidak usah kuliah dulu karena melihat luka ku, tapi aku merasa baik - baik saja, jadi aku tetap kuliah.
" klo luka nya sakit, atau kamu demam, hubungi aku ya, nanti aku temenin kamu pulang" ujar Lidia saat kami akan berpisah, karna memang jurusan kami berbeda.
" iya...tenang aja ya..." ujar ku meyakinkan Lidia bahwa aku baik - baik saja.
***
" waduh ...ini tangan kenapa nad?" ujar Rani ketika aku masuk ke ruang kelas.
" biasa lah ...anak jagoan..." ujarku sambil tertawa
" kamu jatuh ya? " tanya Yanti
dan ternyata dosen nya berhalangan hadir, aku pun langsung nimbrung ke teman - teman lain yang sedang merumpi sambil ngemil.
" wi... lihat tu si Nadira...harusnya pamer tatto...eh pamer perban.." ujar Yanti dan semua teman tertawa, saat aku bergabung dengan mereka, tak terkecuali Rani yang ada di sana sambil main game di handphone nya, lalu Rani melihat ke arah luka ku.
" kamu lagi halangan ya nad?" tanya Rani
" iya...kok tahu..?" aku balik nanya
" hati - hati...jangan sampe bekas pembalut nya di buang sembarangan, terus sebelum di buang, cuci dulu bekas pembalut nya sampe bersih, bila perlu rendam pakai pewangi biar bau darahnya hilang" ujar Rani yang ku balas dengan anggukan. lalu Rani beranjak pergi meninggalkan kelas. teman - teman yang lain langsung melihat ke arah ku dengan aneh, karena tiba-tiba Rani bisa peduli sama aku, Rani di bilang aneh sama teman sekelas, karena dia jarang ngomong, suka tiba-tiba keluar kelas padahal ada dosen di dalam, suka lama - lama di toilet, entah mengapa, tidak ada yang tahu karena Rani pun tidak punya teman dekat.
__ADS_1
***
hari sudah hampir magrib ketika aku dan Lidia sampai di kost an, aku pun langsung buru - buru mandi, lalu buru - buru ke kamar karena handphone ku berbunyi, pasti papa ku, bisa panjang ceramahnya kalau aku telat angkat telepon, saat aku sedang berbicara dengan papa ku, tiba - tiba terdengar suara teriakan dari kamar mandi, aku pun buru - buru keluar, kulihat Lidia sudah di bopong keluar oleh kak Levi, dan kak Yanto, teman di kost an kami. setelah di baringkan di kamar, aku dibantu mbak Ella langsung mengganti pakaian Lidia, karena pakaian Lidia basah saat terjatuh di kamar mandi.
" lid...bangun dong...kamu kenapa?" ucapku khawatir karena kalau terpeleset, kenapa Lidia sampai pingsan? apa kepala nya terbentur? pikiranku berkelana entah kenapa.
" nih kak, kasih air putih ini dulu" ujar Surya sambil memberikan cangkir berisi air putih. Surya adalah anak yang tinggal di kamar lantai bawah, dia tinggal bersama adiknya dan nenek nya. mbak Ella langsung meminumkan air itu ke Lidia.
" terimakasih ya dek...sampe gak kepikiran mau ngasih Lidia minum" ucapku sambil terus memijit tangan Lidia, berharap dia bangun.
" iya kak, sama - sama... nanti airnya di habiskan ya kak, soalnya sudah di bacakan Al Fatihah sama nenek tadi" ujar Surya lagi
Alhamdulillah perlahan Lidia sadar, tapi dia belum bisa bercerita, kenapa dia sampai pingsan.
" mbak , aku titip Lidia bentar ya, tadi kelupaan pakaian kotor punya ku masih di kamar mandi " ujarku pada mbak Ella. dan di jawab anggukan oleh mbak Ella.
ketika aku di kamar mandi, aku melihat bekas pembalut ku masih tertinggal disana, waduh gimana kalau terlihat sama kakak dua itu ? malu banget... batinku. seketika aku ingat omongan Rani tadi, bergegas aku membersihkan bekas pembalut ku dengan sangat bersih.
di kamar hanya tinggal kami berdua, aku melihat keadaan Lidia sudah sedikit membaik, jadi kuputuskan untuk bertanya saja.
" kamu tadi kenapa lid? kepeleset atau apa?" tanya ku.
" tadi aku kebelet, langsung ke kamar mandi, pas aku mau masuk ada orang hitam, besar banget duduk di atas closet, orang itu sedang menjilati darah di bekas pembalut, ketika orang itu melihat aku, aku langsung berteriak, eh tahu nya aku pingsan" cerita Lidia sambil memeluk ku, Lidia masih sangat ketakutan. tadi ketika membawa Lidia ke kamar, tidak ada orang lain selain penghuni di kost an ini, apa yang di lihat Lidia bukan manusia? apa ini maksud Rani menyuruhku agar berhati-hati? entahlah aku pun bingung, biarlah besok aku tanyakan pada Rani, kulihat Lidia sudah tertidur pulas.
__ADS_1
###