
seminggu berlalu dari kejadian malam itu, mbak Ella sudah berpamitan dan pulang ke Bangka, kondisi Lidia juga sudah membaik, dan sudah mulai masuk kuliah, namun Lidia tidak mau kembali ke kostan, dia masih trauma jika harus kembali tinggal di kostan.
" nad, kita pindah kostan aja ya.." bujuk Lidia ketika kami ketemuan di kampus.
" aku gak bisa lid..." ujarku
" kenapa? kan sudah ada kejadian yang membuktikan kalau kostan itu gak bagus, aku udah ngalamin nya sendiri" ujar Lidia kembali meyakinkan aku.
" bukannya aku gak mau lid, kamu tahu sendiri kostan yang paling murah itu ya kostan kita sekarang, kalau harus pindah, uang sewa nya pasti mahal, lagian ini sudah masuk semester baru, orang tua ku harus ngeluarin uang buat bayar kostan dan bayar uang semester, aku gak mau ngebebanin mereka" ujarku dengan berat hati.
" tapi kalau aku pindah..kamu sendirian dong disini nad..." ujar Lidia.
" nggak apa-apa lid, insyaallah aman" ujarku
" ya udah, pokoknya kalau nanti ada apa - apa, jangan lupa hubungi aku, aku juga untuk sementara masih numpang di kostan nya Dwi, teman satu kelas aku" ujar Lidia lagi.
" pasti, kamu gak usah khawatir.." ujarku.
__ADS_1
setelah kepindahan Lidia, kostan semakin sepi, karena kak Levi pun pindah kembali ke kota-nya, jadi di kostan itu hanya ada aku dan kak Amri.
dari sore cuaca sudah sangat mendung, ketika memasuki Maghrib angin bertiup kencang dan hujan deras pun turun, aku baru selesai sholat Maghrib ketika sayup-sayup terdengar suara orang memanggil ku, bergegas aku pun keluar kamar, ternyata Lidia dan Dwi ada di bawah, langsung aku melempar kunci ke arah Lidia agar bisa membuka gerbang.
" kalian ngapain hujan - hujanan kesini?" tanyaku saat mereka berdua sudah ada di tangga.
" ini nih si Lidia.. khawatir banget sama kamu" ujar Dwi.
aku langsung mempersilahkan mereka berdua masuk ke kamar dan memberikan handuk kecil untuk mengeringkan tubuh mereka.
" kamu kan takut sama suara hujan nad, apalagi tadi banyak petir, jadi aku kepikiran kamu, maka nya aku kesini sama Dwi, rencananya buat jemput kamu biar nginep di rumah Dwi dulu, daripada aku gak bisa tidur mikirin kamu, tapi rupanya kamu udah ada temen" ujar Lidia
" temen? gak ada temen..aku sendirian.." ujarku.
Lidia dan Dwi saling pandang dengan tatapan bingung.
" serius aku lihat dari bawah ada orang di depan kamar kamu, kalau gak percaya nih Dwi saksi nya" ujar Lidia yang di sambut anggukan yang keras oleh Dwi.
__ADS_1
" tapi beneran gak ada orang disini lid..." ujarku lagi.
" tadi pas kami nyampe bawah, ada cewek pakai baju putih duduk di kursi depan kamar, nah waktu kami manggil kamu, terus kamu buka pintu kamar, itu cewek berdiri dan masuk kamar, kejadian nya cepet banget, kamu keluar kamar, dia masuk.." ujar Lidia.
" kalau yang lihat cuma Lidia, mungkin Lidia masih ada rasa trauma, tapi aku juga lihat kok nad.." ujar Dwi.
aku semakin bingung, siapa wanita yang dimaksud oleh Lidia dan Dwi, apakah wanita ini orang yang diceritakan oleh Rani waktu itu, gambaran nya hampir sama, memakai baju putih, dan Lidia mengira bahwa wanita itu adalah temanku, berarti penampilan nya masih muda.
" yuk, mumpung hujannya reda, kita ke kostan Dwi, nanti besok pagi kalau kamu mau pulang gak apa" ujar Lidia.
" aku gak bisa lid, aku lagi ada tugas buat besok, gak mungkin aku mau bawa' laptop dan printer ke kostan Dwi, belum lagi buku - buku referensi nya, dan besok pagi harus segera di kasih ke dosen " tolak ku halus.
Lidia ingin memaksa ku, tapi di tahan sama Dwi.
" ya udah nad, mumpung hujannya udah berhenti, kami pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa, jam berapa pun itu, hubungi kami ya, nanti kami jemput " ujar Dwi.
saat mengantar mereka ke bawah, kulihat kak Amri baru pulang, aku pun sedikit lega, apalagi kamar kak Amri ada di lantai atas juga, paling tidak aku punya teman.
__ADS_1
aku bukan tidak menghargai kekhawatiran Lidia, namun entah mengapa aku tidak ingin meninggalkan kostan ini, aku merasa lebih nyaman, walaupun cerita tentang kostan ini dan bahkan sudah dialami oleh teman satu kamar ku sendiri, tetapi aku merasa sangat nyaman dan tidak merasakan apapun.
###