
Sebelum diajukan beberapa pertanyaan Daren sempat menanyakan dimanakah ia berada pada malam yang naas itu..selanjutnya apakah ia mengenal Utha..
Widia terlihat agak nervous menjawab beberapa pertanyaan Daren..padahal pertanyaan pertanyaan itu adalah mudah dan tidak bertele tele..Daren yang biasa menginterogasi orang menditeksi adanya perubahan dalam sikap duduk dan cara menjawab Widia. Ada apa dengan wanita ini?
Lewat setengah jam kemudian Daren dan Widia diantar Lukas berangkat keJakarta.
○○○○
Luna yang sudah kadung basah dan dinyatakan sebagai terdakwa tidak dapat menyembunyikan segala kekawatirannya. Semua rencana gilanya telah terbongkar secara tidak sengaja oleh Robi.
Didalam sel penjara, Luna berjalan hilir mudik pikirannya kacau. Ia marah dan kesel atas semuanya yang terjadi. Semua kedudukan dan harta yang ia pupuk bertahun tahun kini tinggal kenangan.
"Tidak! ini tidak bisa dibiarkan begitu saja..aku harus menyeret orang orang yang juga terlibat!" ucapnya sendiri berkali kali.
Seorang petugas penjara kepolisian yang duduk disebiah kursi tidak jauh dari sel Luna mendengar gumam desah Luna. Ia bangkit dan berdiri didepan sel, ditangannya ada sebotol Coca Cola dingin.
"Buk..minum dulu kasian pasti haus" ucap pak polisi sambil menyodorkan botol Coca Cola.
Luna menoleh, air liurnya membasahi bibirnya..minuman dingin itu menggugah pikirannya..sel ini memang panas dan pengab.
Ia mendekat dan meraih botol dingin itu.
"Terima kasih pak" ia langsung membuka tutup botol dan menghabiskan seluruhnya.
"Hehe..seger ya..buk, tadi saya denger ibuk bilang harus menyeret orang lain..siapa itu mereka?" tanya pak polisi.
Luna tidak menjawab..hanya terdiam, ia sadar bahwa apabila ia menceritakan siapa saja yang ikut dalam pembunuhan Maka ini akan menjadi sebuah cerita yang menggemparkan.
"Ah saya lagi sebel aja..lupakan pak" katanya sambil menjauh dan duduk dikursi pojok didalam sel.
Petugas itu tersenyum dan berjalan kembali keposisi duduknya. Ia yakin apa yang ia dengar tadi. Nanti ia akan laporkan kepimpinan waktu pergantian petugas jaga nanti. Ini sesuatu yang menarik..
○○○○
Didalam pesawat terbang menuju Jakarta Daren berusaha menggunakan waktu 1 jam setengah itu untuk mengorek sedikit tentang diri Widia.
"Mba Widia..kamu anak satu satunya pak Wir?"
"Iya betul pak satu satunya"
"Oh njjih..kalau boleh tau, mba Wi bercerai atau bagaimana dari suaminya?"
__ADS_1
"Saya memang belum punya suami pak" suara Widia pelan ia menoleh kearah jendela melihat awan yang berkumpul diluar sana.
"Mba..bagaimana tentang kematian majikan pak Wir..apakah mba kasian atas kejadian itu?"
"Ya..memang sudah suratan dari yang diatas mungkin pak, saya ndak tau ya" jawab Widia sambil menghela napas dalam.
"Apa mba sering mengunjungi bapak divilla?"
"Kadang kadang saja pak, soalnya saya tidak mau mengganggu kerja bapak juga, lagian saya ada kerjaan sendiri jadi ya jaranglah pak"
"Kamu belom makan tadi ya? Nanti diJakarta kita makan" ucap Daren sambil tersenyum.
Widia hanya duduk terdiam, ia sedang memikirkan kenapa dirinya dibawa keJakarta? Ada apa disana?
○○○○
Satu setengah jam setelah penerbangan dari Malang dan mendarat, ahirnya Daren dan Widia berangkat dengan jemputan mobil polisi menuju kekantor polisi di Jakarta Timur.
Widia jadi teringat ketika ia pernah diajak Utha keJakarta dan menginap disebuah hotel mewah. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Utha sembunyi sembunyi mendatangi kamar hotel pada waktu malam hari.
Setelah melalui berbagai kemacetan dijalan jalan ibu kota Jakarta, kendaraan yang ditumpangi Daren dan Widia ahirnya memasuki halaman kantor polisi.
"Baik pak"
Daren meminta Widia duduk dikamar interogasi yang kebetulan kosong, ia keluar meminta bantuan seorang petugas piket untuk membelikan nasi bungkus.
"Oke sambil menunggu waktu..silahkan makan dulu, saya mau cek kepada kepala disini"
○○○○
"Pak Daren itukah wanita yang bapak maksud?" tanya seorang petugas polisi.
"Iya..semoga inilah orang yang kita cari cari selama ini..sebab kalau betul dia orangnya yang ada diCCTV maka ketemulah sebuah misteri"
"Baik..kita berikan dia waktu untuk makan dan istirahat setelah itu saya akan bawa keluar Robi"
○○○○
Setengah jam sudah berlalu..Ketika itulah Daren meminta petugas membawa Robi kesebuah ruang interogasi yang letaknya terpisah dari tempat Widia duduk.
"Oke..bung Robi, saya sudah mendatangkan orang yang kamu liat dimalam itu..perhatikan benar benar wajahnya, jangan sampai salah..ini nasip orang ditanganmu"
__ADS_1
Daren mengajak Robi ketempat Widia, ia hanya diperbolehkan melihat dari luar kamar. Sudah tentu Widia tidak bisa melihat keluar karena kaca pintu itu berwarna hitam rayban..model kaca dimana dari luar bisa melihat kedalam tapi dari dalam tidak bisa melihat keluar.
"Itu pak orangnya..saya ingat wajah cantik itu yang keluar dari kamar tidur membawa sebuah tas" ucap Robi.
"Kamu yang bener! ingat! ini nasip orang, salah mengucap maka nasip orang akan menjadi sial!"
"Benar pak, saya ingat sekali! Sumpah!"
"Oke terima kasih..demi Tuhan semoga kamu benar"
Daren menarik napas panjang setelah ia mengembalikan Robi kedalam selnya.
Ia tidak menyangka sosok yang tampak dalam CCTV ternyata Widia. Tapi ada apa dengan Widia sampai membunuh Utha?
○○○○
Daren mengambil flash disc dari saku kantong celananya..sudah lama flash disc itu berdiam didalam kantongnya, dan kini adalah waktunya untuk dipertontonkan kepada orang yang dituju.
Daren masuk kedalam kamar interogasi, wajahnya serius dan tanpa senyum. Ia menarik sebuah laptop, membuka tutupnya dan menyalakan. Dengungan kecil terdengar keluar dari alat komputer itu.
Setelah flash disc ia masukan kedalam port nya Daren menggeserkan laptop pas kedepan Widia.
"Widia, kini saatnya saya mau bicara serius dan kenapa saya membawa anda kesini.." Kedua mata Daren menatap tajam kewajah Widia.
Kedua kaki Widia dibawah meja terasa bergetar..
"Pertama, karena kami saat ini sudah menangkap seseorang yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan Utha. Kedua..malam itu ketika ia hendak masuk kekamar tidur Utha ia berpapasan dengan seorang wanita..barusan ia melihat wajahmu dari luar dan ia pasti bahwa kamulah orangnya yang ia lihat keluar dari kamar tidur membawa sebuah kantong tas dari kulit"
Mata Widia secara tidak sengaja membelalak..
"Ketiga..saya mempunyai copy rekaman CCTV dimana kamu berdiri merokok dan berjalan kearah sebuah mobil, kemudian membawa sebuah tas kantong dan berjalan lewat samping villa..Dan inilah rekaman itu"
Daren menekan tombol play, disana terlihat sosoknya yang berdiri mengenakan topi hitam sambil merokok.
"Widia..mengakulah bahwa itu adalah kamu..sebab orang yang bertemu denganmu diluar kamar tidur Utha sudah jelas dan hakul yakin bahwa wanita itu adalah kamu..kalau kamu mengaku dan menjelaskan kronologisnya kemungkinan tuduhan kepadamu akan berkurang"
Widia shock terperanjat..padahal biasanya dia orangnya tenang tapi karena perkataan Daren terlalu memojokkan dirinya..ahirnya ia tidak kuat lagi.
Widia menundukkan wajahnya, kedua tangannya menutupi muka dan tangisannyalah yang memberikan jawaban...
■■■■■
__ADS_1