Misteri Villa Seruni

Misteri Villa Seruni
Pertemuan pak Wir dan Widia.


__ADS_3

Widia turun dari kendaraan dinas kepolisian Malang dengan langkah lesu..sudah hampir 3 jam semenjak pemeriksaan terahir dan serah terima polsek Jakarta dan polsek Malang selesai. Widia diantar 2 Pollan memasuki kantor polsek Malang. Statusnya kini menjadi tersangka.


Tidak berapa lama kemudian Daren juga sudah memarkirkan kendaraannya dihalaman parkir.


Pak Wir keluar dari pintu penumpang, langkahnya gontai. Hari ini ia memakai celana hitam baju batik dan kopiah hitam.


Daren menghampiri pak Wir, meletakkan tangannya diatas pundak orang tua itu seraya berkata..


"Yang tegar ya pak..sing kuat! anakmu membutuhkan bapak sebagai benteng terahir kehidupannya, tidak ada orang lain hanya bapak..tahan tangismu pak..agar Widia tenang"


"Nggeh sampun.." jawabnya pelan.


Daren mengajak pak Wir masuk seperti ia mengajak ayahnya sendiri. Daren mencoba memberikan suasana hangat dan sayang agar pak Wir menjadi tenang.


"Pak..duduk disini dulu, saya mau cek apa Widia sudah ada atau belum"


Ternyata setelah Daren cek Widia sudah berada didalam sel. Disana ada satu wanita lainnya yang menunggu dipindahkan ketahanan pengadilan.


Daren melihat wajah Widia yang lesu, ia terlihat tertunduk.


"Pak..tahanan wanita yang dari Jakarta sudah dapat makan?" tanya Daren kepada petugas piket.


"Tadi waktu datang kami berikan teh panas dan sepotong roti pak..nanti jam 12 kami akan berikan makan siangnya"


"Baik..saya mau pinjam tahanan ini sebentar, tolong pindahkan kekamar interogasi pak"


"Siap"


...○○○○...


Widia bertemu Daren diruang interogasi, dalam hatinya Daren merasakan iba atas wanita muda ini..beban hidupnya berat dan akan menjadi lebih berat lagi. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur..ia harus melampaui masa tahanan yang cukup panjang karena pembunuhan yang dilakukannya.


"Apa kabar Widia?"


"Alhamdulillah baik pak Daren..bagaimana dengan bapak dan anak saya?"


"Anakmu aman Widia, sementara ini dipegang oleh beberapa tetangga tapi sekarang bapak ada disini"


Widia kaget mendengar berita itu, wajahnya menengadah menghadap Daren.


"Bapak disini? mana pak..saya mau ketemu"


"Sebentar ya saya bawa bapak kesini" ucap Daren sambil tersenyum.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian pak Wir memasuki kamar interogasi..Bapak dan anak saling berpelukan erat, air mata mereka membanjiri pipi.


"Ya Allah Widia anakku sayang!" ucap pak Wir berkali kali sambil mengelus punggung anaknya.


Daren meninggalkan mereka berdua dikamar itu dan berjalan kearah luar..ia sengaja membiarkan mereka berdua disana. Daren merogoh saku celananya mencari bungkus rokok, ia berdecak menyesal ia baru ingat rokok setengah bungkus tertinggal divilla ketika menunggu pak Wir menyiapkan diri.


Kemudian Daren berjalan kearah warung didepan kantor polisi, baru saja ia hendak membeli rokok ponselnya berdering.


"Pak maaf ada perkembangan baru dari pak Sumitro" ucap seorang anggita bareskrim Jakarta Timur.


"Oh ya gimana pak?"


"Sesuai dengan arahan, hari ini unit kami sudah menangkap pak Sumitro yang sedang bermain golf..agak merepotkan sedikit karena pak Sumitro kala itu sedang bermain golf bersama seorang anggota DPR"


"Ah ga ada urusan sama mereka"


"Iya betul pak,.beliau sempat adu argumen sama Tim kita..tapi ahirnya menyerah juga setelah kami katakan bahwa saksi Luna juga sudah kami tangkap..masalah lain kebetulan disana ada seorang wartawan sebuah media sosial..dia langsung meliputi dan sekarang cerita penangkapan itu menjadi viral"


"Bagus! tidak apa apa..kalau begitu, segera mungkin tangkap juga istrinya..jangan sampai lolos"


"Waktu kami tangkap dia langsung call istrinya, jadi unit yang lain langsung memburu kealamat rumahnya..Semoga bisa langsung kita tangkap juga"


"Bagus pak! berita bagus"


"Siap!" ujar Daren, ia tersenyum gembira..sudah hampir semua tertangkap.


...○○○○...


Sambil menyulut sebatang rokok Daren menghubungi Thea. Sudah hampir 2 hari ini semenjak ia bolak balik Malang Jakarta ia tidak mengontak Thea.


"Halo bu Thea bagaimana kabarnya?"


"Halo pak Daren..Alhamdulillah semua urusan pemakaman Utha berjalan lancar..Saya rencana akan kevilla sore ini mau beres beres disana, apakah police line masih dipasang?"


"Buk ada 3 berita penting semenjak kita terahir ketemu..Pertama, Ternyata sosok wanita yang mengendap endap disamping villa itu adalah putrinya pak Wir yang bernama Widia..pasti ibuk kenal dengannya"


Detak jantung Thea berdegup kencang..ya ampun! kenapa jadi dia? Ada apa lagi?? pikirnya keras.


"Ya ampun Widia?!" ucapnya kaget.


"Benar sekali buk..ceritanya cukup panjang tapi Widia kami tangkap kemarin dan sekarang berada disel penjara polsek Malang..Nanti saya akan ceritakan detilnya ke ibuk..Nah yang kedua, bu Luna..dia juga kami tangkap karena dia telah menugasi seorang temannya untuk ikut dalam pembunuhan malam itu"


"Oh no! Siapakah itu? Apakah dia salah satu tamu kita?" tanya Thea.

__ADS_1


"Dia hadir juga malam itu, ternyata Utha tidak mengundang Luna tapi mengundang temannya Luna yang juga temannya Utha..namanya Robi..ibuk kenal?"


"Loh iya dong! dia kan pelatih Karatenya Utha..dan kadang kadang suka dibawa kedaerah daerah kalau ada acara penting..semacam body guard lah..ya ampun!"


"Selain Luna dan Robi yang kita tahan ada satu lagi yang baru saja kita tahan..dan I i akan mengagetkan ibuk"


"Sebentar pak..tadi saya lagi liat YouTube..saya sempat melihat postingan seseorang tentang seorang pejabat tinggi ditangkap! Saya melihat sekilas wajah pak Sumitro! Tapi karena ada sesuatu saya pikir nanti saja bukanya..Ya ampun! apakah dia juga terlibat?"


"Itulah buk..Jadi mereka berdua..ibu Luna dan pak Sumitro bersekongkol melakukan pembunuhan..saat ini kita sedang menuju kerumahnya untuk menangkap istrinya..karena diduga dia ikut andil"


"Oh my God! banyak sekali yang bunuh Utha! Dan kenapa Widia ikut ikutan membunuh?"


"Menyeramkan memang..dan semua terjadi pada saat yang hampir bersamaan"


"Iya pak..bapak dimana sekarang?"


"Saya ada dipolsek Malang"


"Apakah akan kevilla malam ini?"


"Boleh buk..nanti sore sebelum magrib saya kesana..mungkin oa Wir tidak pulang malam ini buk"


"Tidak apa apa pak..sebaiknya dia tenang dulu, terserah dia mau pulang ketumahnya atau mau nunggu anaknya tidak apa apa..saya masakin malam ini ya pak?"


"Aduh buk..reportin ibuk, yang penting kita ketemu dan bicara saya sudah senang buk"


"Oke pak..saya jam 5 sore sudah divilla"


"Siap ibuk..sampai nanti"


Daren menutup pembicaraan dan masuk kedalam gedung. Ia langsung masuk kekamar interogasi. Disana Widia dan pak Wir masih saling berpelukan.


Daren mengambil sebuah kursi dan duduk disamping pak Wir. Ia mengelus pundak pak Wir.


"Mungkin ini sudah jalannya pak..saya akan mencoba membantu Widia dipengadilan nanti semoga hukuman akan diperingan oleh hakim"


"Bapak malam ini mau disini atau pulang?"


"Biar bapak pulang saja pak..urus Dimas anak saya dirumah" ucap Widia.


"Baik..itu yang paling bagus, kamu tudak usah takut disini Widia..saya akan bilang kepetugas untuk menjagamu..oya, saya sudah belikan nasi bungkus..kamu belum makan dari tadi..silahkan disini saja, kamu dan bapak makan dulu"


"Terima kasih sekali pak" jawab pak Wir.

__ADS_1


...■■■■■...


__ADS_2