Misteri Villa Seruni

Misteri Villa Seruni
Pengakuan yang terdalam.


__ADS_3

Daren bangkit dari posisinya, ia berjalan keluar kamar dan meminta petugas mengambilkan satu kotak tissu dan sebotol air putih.


Dengan sedikit berdehem ia mendekatkan wajahnya kepada Widia.


"Widia..ceritakan semuanya, agar saya bisa membantumu" suara Daren pelan ia mencoba memberikan suasana tenang.


"Pak..saya benci dan jengkel sama orang itu!" Widia menurunkan kedua tangannya, air mata membasahi kedua pipinya. Bibirnya bergetar dahsyat..rupanya amarah yang ia pendam sedalam dalamnya selama ini akan meledak sebentar lagi.


Daren menyodorkan kotak tisu dan botol aqua yang diberikan petugas jaga.


"Tenangkan dirimu, minumlah air dibotol itu..saya akan menyiapkan tape recorder agar saya bisa merekam semuanya..ini penting agar nanti semua ucapanmu bisa menolongmu"


Daren menyiapkan sebuah tape recorder keatas meja dan juga buku notanya ia buka.


Setelah agak mereda tangis Widia, Daren mulai menanyakan kapan ia berkenalan dengan Utha.


"Saya diajak bapak untuk bekerja sebagai tukang masak dirumahnya diMalang. Entah kenapa setelah 2 hari saya kerja disana Utha mulai melancarkan rayuan maut dan mulai mengatakan betapa cantiknya saya dan segala macam gombal" Ia menarik napas dalam.


"Ceritakan pelan pelan..Widia jangan takut dan malu"


"Hanya butuh 1 minggu, Utha sudah mengatakan cintanya pada saya..Saya yang pada waktu itu memang masih gadis dan sendirian, jatuh cinta juga kepadanya. Saya tidak memikirkan bahwa ia sudah punya istri dan dari keluarga kaya raya dan saya hanyalah seorang pembantu rumah tangga..dari semenjak itu hubungan kita menjadi mesra"


"Maafkan saya..apakah dia sudah menidurimu pada saat itu?" sela Daren.


"Belum pak,.. kami hanya bermesraan saja..itupun kalau tidak ada orang dirumah. Utha sering colong colong kekamar dapur dan menciumku..hanya sebatas itu saja, sampai ketika bapak dipindahkan kevilla. Ia katakan mending kamu keluar saja dari pekerjaanmu dan dia akan tetap kirim gajih meskipun aku tidak kerja..Ia mengatakan kepada istrinya karena aku sering sakit maka aku diberhentikan..bayangkan pak segitu hebatnya dia berbohong"


"Dan kamu mengikuti saja arahannya? Lalu bagaimana dengan bapakmu?"


"Bapak mengetahui kisah percintaan kita dan pernah saya dan bapak saling debat..tapi aku sudah kadung cinta sama dia..bapak sangat menyayangiku..ia relakan apapun yang terjadi asalkan saya bahagia"


"Oke..selanjutnya kamu berhenti kerja sedangkan bapak pindah kevilla diBatu, betul?"


"Betul pak..sampai satu saat, aku diundang kevilla untuk bantu memasak..saat itu bapak memang disuruh urus rumah Malang..anehnya saat itu waktu saya kevilla disana tidak ada ibu Thea istrinya..hanya ada dia sendiri"

__ADS_1


"Utha nginap divilla selama 1 minggu dan pada saat itulah.." Widia berhenti bicara, ia menarik sehelai tissu dan menangis.


"Lepaskan semua..tidak apa apa" ucap Daren.


"Saat itulah ketika saya bekerja diVilla ia merenggut kegadisanku. Ia mengatakan bahwa saya akan dinikahi secara siri, ia katakan bahwa ia sangat mencintai diriku.." Widia memandang Daren air mata membasahi pipinya..ia menatap wajah Daren seakan meminta pertolongan.


Daren menganggukan kepala dan tersenyum ramah.


"Teruskan Widia..aku mendengarkan" Suara Daren terdengar pelan ia mencoba memasuki kejadian lama yang telah dilalui Widia.


"Setelah kejadian itu Utha beberapa kali mengajakku menginap dihotel, bahkan ia pernah mengajakku keJakarta dan menginap 3 hari disebuah hotel..Setelah 1 bulan berjalan ahirnya saya hamil dan itu saya katakan kepadanya..dia gembira dan mengatakan akan menikahi secepatnya sebelum anakku lahir..saya senang dan bapakpun senang meskipun ini adalah rahasia kita bersama"


"Waktu kamu hamil besar apakah ada orang kampungmu yang tau?"


"Saya mengaku bahwa suami saya sedang bekerja diluar kota dan akan kembali secepatnya..ketika anakku lahir, Utha memberikan nama Dimas dan ia menjanjikan secepatnya menikah..namun janji itu hanyalah sebatas janji..bahkan sampai Dimas memasuki umur 2 tahun ia terus menerus berjanji"


"Selama itu apakah dia memberikan nafkah?" tanya Daren.


"Selanjutnya?"


"Beberapa bulan yang lalu saya dikejutkan oleh ucapannya..ketika itu saya menagih janji apa yang ia katakan kepada saya sebelumnya..masalahnya orang orang kampung saya semua menanyakan kemanakah suami saya dan macam macam lainnya. Saya kaget dan terkejut ketika ia secara tiba tiba menolak perkawinan yang ia janjikan..keputusan itu begitu mengagetkan dan saya marah besar kepadanya..tapi saya tidak sanggup apa apa, kami adalah orang kecil bapak" Widia menundukkan wajahnya sambil mengusap air mata yang membasahi lagi pipinya.


"Kapan kamu memutuskan untuk melakukan pembunuhan?"


"Saya mendengar berita dari bapak bahwa akan diadakan pesta anniversarynya..saya marah besar kekesalan saya memuncak! Dan ternyata saya juga mendengar kabar bahwa bapak tidak pernah terima gajih selama beberapa bulan! gila sekali! Saya langsung katakan bahwa dia harus mati! saya benci sekali dengan dia!!" Widia sedikit berteriak mengeluarkan emosinya.


"Bagaimana kamu membunuhnya?"


"Saya mempunyai seekor ular weling..malam itu saya melepaskan ular weling kedadanya..ia mematuknya hingga ia tewas! Saya telah puas pak!"


Daren menganggukkan kepalanya..semuanya menjadi jelas.


"Waktu kamu keluar dari kamar itu kamu berpapasan dengan seorang laki laki?"

__ADS_1


"Oh benar iya pak..saya kaget ketika saya keluar dari kamar seorang laki laki bertubuh tegap masuk dengan serentak..Namun ada sesuatu juga saat itu"


"Oh apalah itu Widia?"


"Setelah ular saya mematuk dadanya dan saya masukkan kembali ular itu kekantong tas saya melihat jendela kamar dekat tempat tidur dibuka orang"


Daren membetulkan posisi duduknya..


"Ada yang membuka jendela?"


"Ada pak..makanya saya cepat cepat keluar dari kamar dan tidak sempat menyaksikan Utha mati..ia memang sudah roboh dilantai tapi mati atau tidak saya tidak yakin"


"Berarti selain kamu dan orang yang tegap itu ada lagi yang membunuh Utha?" Daren terkejut akan cerita Widia.


"Mungkin demikian pak..tapi pak, saya mohon kebapak..jangan bapak tahan bapak saya..biarkan ia lepas, dia tidak bersalah..saya yang bersalah atas kematian Utha dan saya rela masuk penjara..biarkan bapak saya dirumah mengurus anak saya pak..tolong saya pak!"


"Baiklah saya akan lepaskan pak Wir malam ini..ya ampun Widia kenapa sampai begini? kasian anakmu"


"Entahlah pak, semua sudah terjadi..tapi saya puas pak..dia telah menodai dan berbohong kepada saya!"


"Mohon maaf, Kamu harus saya tahan disini sementara waktu Widia..tapi saya akan selalu datang memeriksa kondisimu..saya juga akan bertemu dengan pak Wir malam ini menceritakan semuanya"


"Pak..tolong liat anak saya dirumah pak, kasian anak saya"


"Baik Widia akan saya urus bagaimana dengan anakmu disana..sebentar ya"


Daren langsung membuat laporan kepada kepala kepolisian setempat dan juga kepada bosnya diSurabaya.


Malam itu juga Widia dimasukan kedalam sel, setelah pembuatan laporan ia bermaksud akan dibawa keMalang untuk diajukan kepengadilan Malang.


Malam itu didalam sel..Widia menangis terus menerus..inilah ahir dari sebuah cinta yang kelam dan terbunuhnya seseorang yang pernah ia cintai dulu. Kini semua hanyalah sebuah kenangan belaka..Hari harinya akan selamanya berada didalam sel tahanan.


...■■■■■...

__ADS_1


__ADS_2