
Suasana menjadi sangat tegang ketika Thea mendekati kursi saksi ditengah ruangan sidang.
Daren tidak sempat mengontak pihak keamanan,tangannya langsung menyingkap jaket dan menarik pistolnya. Ia bergerak mendekati ruang tengah, dengan cepat ia mendorong seorang petugas kepolisian yang berdiri didepannya.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik, Daren merasakan semuanya bergerak pelan seakan sedang dipertontonkan sebuah film yang speed nya diperlahan.
Daren melihat laki laki itu menarik sesuatu dari balik bajunya. Ia mengacungkan kearah depan, targetnya Thea yang akan duduk.
Tiba tiba..
Dhar Dhar Dhar!!
3 kali suara pistol menyalak dan rubuhlah Thea kelantai..darah mengalir deras keluar dari lobang peluru yang terhujam masuk kedalam badannya.
Seketika itu ruang sidang menjadi kacau dan panik bukan main. Seseorang yang mencoba merebut pistol orang itu kena tinju yang dilayangkan sang penembak hingga orang itu terpelanting kelantai..Ternyata yang terbanting itu seorang wartawan media online.
Sang penembak langsung memutar tubuhnya, dengan cepat dan ia berlari keluar dari ruangan.
Daren loncat kearah depan, pistol ia genggam dengan 2 tangan dan mengarahkan kepada penembak namun ia batalkan menembak, Daren tidak berani melepaskan tembakan..Terlalu banyak orang orang disamping dan didepan. Ia menunduk dan mendekati Thea yang tergeletak dilantai bersimbah darah.
Majelis hakim dan juga para pengacara langsung menghindar dari kejadian. Hakim ketua menundukkan badannya dan bersembunyi dibawah meja diikuti 2 hakim anggota. Teriakan riuh rendah dari orang orang didalam ruang sidang menjadi suasana kacau.
Daren memeluk tubuh Thea, ia memeriksa mana saja yang terkena tembakan. Ia melihat satu bersarang dipundak kanan dan dua dipinggang belakang.
"Thea! Thea!" teriaknya sambil memeluk.
Saat itu Thea seperti antara sadar dan tidak, ketika tembakan mengenai tubuhnya, ia hanya merasakan seperti sebuah tendangan dahsyat dari belakang dan ia terjatuh.
Ia kemudian mendengar namanya dipanggil, pelan pelan ia membuka kedua matanya..dihadapannya Daren sedang meneriaki namanya dan mencoba memeluknya.
"Pa Daren..." katanya, kemudian ia tidak sadarkan diri.
...○○○○...
Laki laki itu mendorong seseorang yang mencoba menahannya dan ia berlari kearah keluar, matanya mencari cari kendaraan yang katanya akan menjemputnya.
Dari sebelah kanan ia melihat sebuah mobil putih melaju kearahnya. Ia langsung berlari kearahnya. Dibelakang sang penembak beberapa polisi berlari dengan mengacungkan pistol kearah ia berlari.
__ADS_1
Baru saja ia hendak mendekati mobil itu, tiba tiba jendela samping mobil putih yang berwarna hitam gelap diturunkan, laki laki itu kaget dan larinya terhenti. Ia melihat sepucuk pistol dengan peredam suara diarahkan kedadanya.
"Jret jret jret!"
3 peluru terbang melesat kearah jidat dan tembus kedadanya. Seketika ia roboh tersungkur kelantai.
Mobil itu menaikkan jendela kaca hitamnya dan melaju kearah gerbang luar gedung pengadilan.
4 penjaga pos gerbang tidak sempat melihat kejadian penembakan. Mereka terbengong bengong atas segala keributan yang terjadi dari dalam gedung. Tanpa sadar kendaraan putih itu sudah melaju keluar dan meninggalkan gedung dengan selamat.
Beberapa polisi mendekat kearah tubuh sang penembak yang telah tergeletak dilantai, pistol mereka terarah kearahnya.
"Dia mati! mati ketembak!" teriak seorang polisi. Serentak semua anggota polisi dan keamanan gedung mendekati mayat laki laki itu.
...○○○○...
Daren mencoba menutup darah yang mengalir dari luka tembakan. Ia menoleh kekiri dan kekanan.
"Mana bagian kesehatan?! panggil dokter cepat!!" teriaknya.
Beberapa petugas tergugah dari ketakutannya, seorang berlari kearah samping ruang pengadilan untuk menelpon ambulan dan dokter.
...○○○○...
Pada saat yang sama..Larso berdiri dan membuat secangkir teh, ia merogoh kantong baju dan menarik sebatang rokok, ia nyalakan dan dihisapnya rokok itu dalam dalam. Kepulan asap rokok ia kumpulkan dalam mulutnya dan ia keluarkan membentuk bulatan bulatan.
Laki laki berumur 50 tahun itu berjalan kearah rak piringan hitam dipojok ruangan, ia mencabut sebuah album dari penyanyi Arabia bernama Abu dan memilih lagu Malek El Fabraka. Dengan girangnya ia menggoyangkan tubuhnya menari nari sesuai irama lagu.
Tiba tiba ditelevisi terpampang sebuah berita breaking news. Ia menoleh sebentar kesana dan cepat cepat ia menghentikan putaran piringan hitam dan duduk menyaksikan breaking news.
Ia mengepalkan tangannya dan meninju keatas sembari berteriak..
"Yes! mampus kalian!"
Disana dalam berita diberitakan bahwa saksi persidangan bernama Thea Kaihulu tertembak oleh seseorang yang tidak diketahui namanya dan dari mana asalnya. Pembawa berita kemudian menceritakan bahwa sang penembak sekarangpun tewas yang diperkirakan oleh sekelompok orang dari dalam mobil.
"Hahaha! kalian mau bermain dengan aku?! itulah ganjarannya!" ia menghisap rokok dalam dalam dan mengepulnya dengan bentuk bentuk lingkaran.
__ADS_1
Larso kembali keperangkat Hifi dan memainkan lagi piringan hitam tadi, ia menari sendirian dengan gembiranya.
...○○○○...
Tidak lama setelah seorang petugas pengadilan mengontak pihak ambulan dan dokter, pengacara Thea datang menghampiri Daren. Ia melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh Thea.
"Pak..semoga ibu Thea selamat ya..kita harus mengungkap siapa dibelakang semua ini!" kata sang pengacara geram.
Daren hanya menganggukkan kepalanya, ia merasa iba kepada Thea yang telah melalui berbagai percobaan berat dalam hidupnya. Dengan penuh kasih sayang ia membelai rambut Thea yang menutupi wajahnya.
"Thea..jangan menyerah ya..aku ada disampingmu" bisik Daren pelan dikupingnya.
Sekejap Daren bisa merasakan ketukan jari Thea ditangan Daren. Ia melihat kearah dari mana ketukan itu datang, Daren menggemggam jari jemari Thea dan meremasnya dengan halus.
"Coba sebentar saya periksa" tiba tiba terdengar suara seseorang dibelakang Daren. Ia menoleh kebelakang disana sudah berdiri seorang priya yang ternyata dokter pengadilan yang kebetulan sedang berada didekat gedung. Ia bergegas memasuki gedung pengadilan setelah seorang polisi memberitahukan apa yang telah terjadi.
"Oke. saya sudah call rumah sakit terdekat dan ambulan sudah berangkat kesini" ujar dokter itu.
Para petugas polisi yang berada diluar langsung memeriksa identitas penembak yang tewas itu. Ternyata ia datang tidak membawa satu dokumenpun. Mungkin ia sudah bersiap diri apabila sesuatu tidak diinginkan terjadi, semua orang tidak bisa mengenalinya.
...○○○○...
Ketika mobil ambulan datang, petugas ambulan langsung memberikan suntikan XStat untuk mencegah adanya bakteri sekaligus menutup lobang yang luka untuk sementara sebelum operasi pengeluaran peluru dilakukan. Setelah itu luka tembak dibungkus dengan plastik bersih.
Daren meminta beberapa petugas polisi menunggu ambulan lain datang untuk mengangkut mayat penembak sementara ia masuk kedalam ambulan bersama sama dengan Thea yang kondisi nyawanya dalam keadaan genting itu.
"Ayo Thea kamu kuat, jangan kamu tinggalkan saya disini" Berkali kali Daren membisikkan kata kata itu ditelinga Thea.
Didalam mobil ambulan ia langsung mengontak pak Roni diSurabaya. Daren menceritakan kronologis perihal penembakan yang terjadi tadi.
"Jaga saksi Thea jangan sampai ia meninggal..gila sekali ini! Apa kamu ada pemikiran siapakah yang melakukan itu?"
"Saya tidak tau bos..tapi yang jelas ini pasti perbuatan seseorang yang menculik Thea waktu itu"
"Oke..kalau sudah minta CCTV rekaman kantor peradilan..kita bisa liat kendaraan itu dari mana datangnya dan kemana tujuannya.."
"Siap pak..ini sudah mau sampe rumah sakit, nanti saya lapor lagi"
__ADS_1
...■■■■■...