
"Pak..bapak pulang saja ya, biarkan Widia disini, kasian Dimas pasti nyariin" ucap Widia.
"Nak jaga dirimu ya, besok bapak akan kembali kesini lagi" jawab pak Wir sambil memegangi kedua tangan anaknya.
Pada saat itu pintu terbuka dan Daren masuk kedalam.
"Pak Wir, saya sudah titipkan Widia kepada petugas. semuanya aman, mau sekalian saya antar bapak pulang?"
"Saya tidak kevilla pak..saya kerumah Widia mau urus Dimas"
"Ya sudah..ikut saya, saya bisa antar"
Perpisahan bapak dan anak itu begitu menyedihkan..Siapa yang bisa menyangka bahwa perbuatan Widia terungkap hanya karena ia berpapasan dengan Robi didepan kamar Utha.
...○○○○...
Kenapa semua ini terjadi? Dan ternyata begitu banyak orang yang membenci Utha. Segala gaya dan kesombongan yang ia tampilkan selama ini ternyata menghadirkan berbagai macam musuh. Thea memikirkan satu persatu para pembunuh suaminya.
Memang betul dia benci Utha, bahkan berkali kali ia menginginkan bercerai dengan suaminya. Diapun sudah selama hampir satu tahun belakangan ini tidak mau tidur satu tempat tidur, semuanya terjadi ketika Thea mengetahui Utha mempunyai banyak pacar gelap dan sering menginap dihotel bersama wanita lain. Ia jijik, ia benci semuanya..
Tapi untuk membunuhnya, tidak..itu diluar nalar sehatnya..ia masih waras..Memang betul ia sudah tidak satu tempat tidur dengan priya itu, biarkanlah ia dengan dunianya..semuanya akan ia tanggung sendiri nanti didepan Allah..
Sebuah perjalanan hidup anak manusia didunia ini memang tidak ada yang bisa tau, lihatlah Utha dengan segala kemewahan, kemudahan dan kesombongan akan hartanya ternyata hanya permainan semu belaka..dan ia mati sia sia dan terhina. Thea menghela nafas dalam dalam mengingat suaminya.
Thea mengeluarkan semua pakaian dan sepatu Utha divilla dan mengepaknya dalam sebuah koper. Ternyata disebuah laci diurutan paling bawah Thea menemukan setumpuk uwang dollar amerika, setelah dihitung semuanya ada seribu dollar. Untuk apa uwang sebanyak itu ia simpan divilla? kenapa tidak ia simpan dibank?
Diantara uwang dollar itu Thea menemukan sebuah surat tua yang keliatannya dilipat rapih hingga bentuk kecil. Iseng iseng ia membuka dan mulai membacanya.
"Sayangku Utha,
Aku tau dan mengerti bahwa kamu sudah berkeluarga, dari awalpun aku sebetulnya tidak mau memasuki kehidupanmu. Tapi kamu nekad dan terus menerus meminta agar aku menjadi istrimu.
__ADS_1
Kini, setelah aku menyerahkan jiwa ragaku dan cintaku padamu, dan setelah kamu menjadi ayah dari anak kita Dimas, kamu telah mencampakkan diriku..kamu putuskan hubungan ini dengan semena mena, Lalu..dimanakah rasa tanggung jawabmu kepada diriku dan Dimas?
Aku tidak mau menerima uwangmu..ini aku kembalikan semuanya kepadamu. Uwang bukan segalanya, jangan kau pikir aku ini pelacur yang bisa kamu beli setelah kamu puas dengan diriku.
Oleh karenanya aku doakan semoga Allah memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu.
Widia."
Thea tertegun dan menahan tangisnya..ia sedih, ternyata itulah sebabnya Widia membunuh suaminya. Dan uwang yang banyak ini sebetulnya wang pemberian Utha pada Widia. Thea menyesali telah membaca surat Widia. Ia telah buta selama ini, tidak sampai pikirannya sejauh apa yang telah dilakukan suaminya.
Dalam hati kecilnya ia berkata mungkin inilah jalan terbaik untuk Utha. Ia telah melakukan banyak dosa dimana mana..Dan, Dimas dimana ia berada sekarang? aku ingin melihat anak itu.
Tiba tiba ia mendengar suara Bell berbunyi. Surat itu ia lipat dan letakkan kembali didalam laci bersama sama wang dollar amerika.
Dengan sedikit merapikan rambutnya Thea berjalan kedepan dimana Daren sudah berdiri didepan pintu.
Senyum khas Daren tertuju kepada Thea..
"Baik pak..yuk silahkan masuk"
Daren melihat sedikit ada kesedihan diwajah Thea, tapi ia tidak berani bertanya..mungkin efek dari pemakaman suaminya. Pikir Daren sambil berjalan masuk.
"Oh ibuk sedang ngepak barang barang?"
"Ah itu pakaian pakaian lama Utha, biasanya dia menyimpan pakaian disini..jadi kalau berlibur kevilla dia tidak usah repot repot bawa baju dan celana..silahkan duduk pak..mending kemeja makan saja ya"
Daren melihat ada 2 koper besar berdiri didekat dapur. Tapi saat ini Villa terasa sepi, biasanya pak Wir ada disana entah melakukan apa..kini sepi sunyi.
"Oke..aku sudah buatkan kopi..gimana kalau kita bicara diteras belakang?"
"Baik buk" Daren mengikuti langkah Thea menuju kearah teras belakang. Ditempat itu memang sangat tenang, apalagi kalau sudah menjelang malam..semilir angin pegunungan membuat suasana bertambah syahdu.
__ADS_1
"Gimana pak? ceritakan kepada saya seluruhnya bagaimana sampai Widia ikut terlibat"
Daren mulai menceritakan bahwa sosok wanita yang dilihat diCCTV ternyata adalah Widia dan bagaimana pada malam itu Widia datang membawa seekor ular berbisa, ia memang sudah matang merencanakan pembunuhan itu.
Bagaimana sampai Widia ketauan terlibat, karena secara tidak sengaja Robi juga tertangkap dan malam itu Robi berpapasan dengan Widia diluar kamar tidur Utha. Dari sana Widia diinterogasi dan ahirnya mengaku dia membunuh.
"Mohon maaf ibuk, hal selanjutnya harus saya ceritakan..sekali lagi mohon maaf, Jafi Widia ternyata mempunyai hubungan gelap dengan pak Utha dan dia menuntut janji pak Utha untuk menikahinya..Tapi pak Utha tidak mau menikahinya dan bahkan memutuskan hubungan mereka..Disitulah amarahnya memuncak hingga ahirnya ia memutuskan untuk membunuhnya"
Thea menarik nafas panjang, tarikan nafas yang terasa sakit didadanya..
"Ada satu hal lagi..ternyata pak Wir juga sudah 5 bulan tidak pernah menerima gajih dari pak Utha"
Mata Thea melotot mendengarkan hal itu.
"Ya ampun! kasian sekali! Bagaimana sih Utha ini? Hadeeh!! pak..besok saya akan mencari oak Wir dan membayarkan semua utang kita ditambah bonus dari saya..ya ampun! nasip orang dimain mainkan oleh Utha!" Geram sekali Thea mendengarkan penuturan Daren.
"Baik buk..saya bisa antarkan kerumahnya kalau mau"
Thea tidak memberi respon, pikirannya melayang kepada surat Widia kepada Utha yang ia temukan dilaci.
"Kalau saja saya tau masalahnya sepelik ini, dari dulu saya pasti sudah menceraikannya. Pantes saja banyak orang marah kepadanya!"
"Ya itulah yang saya pikirkan juga.." ujar Daren menyetujui perkataan Thea.
"Jadi begitulah cerita tentang Widia..dan mengenai pembunuh satu lagi yaitu, Luna. Ternyata dia kolaborasi bersama pak Sumitro dan istrinya bersama sama juga melakukan hal yang sama..tapi ini lebih gawat karena mereka telah merencanakan semuanya beberapa bulan yang lalu"
"Motifnya?"
"Motifnya ada 2, Pak Utha memakai wang mereka dan tidak pernah mengembalikan tapi juga hasil usaha minyak kelapa sawit tidak pernah terbayarkan..Sedangkan ibu Luna, maaf sekali lagi..selain pak Utha punya utang kepadanya..bu Luna juga punya kisah Asmara diantara mereka berdua"
"Ya ampun!! Aduuh ini orang bagaimana sih??"
__ADS_1
...■■■■■...