MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH

MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH
Ambil senjata


__ADS_3

Di sebuah gazebo yang terletak di taman belakang rumah, dengan taman bunga di sekelilingnya. Tampak kebun sayur mayur yang tak jauh dari kebun bunga. Pohon segala buah buahan pun tersebar di beberapa titik di seluruh taman belakang rumah Inka.


Kini Inka duduk bersantai ditemani secangkir wedang kunir kesukaannya. Di sampingnya ada seorang kakak yang sangat dirindukan Inka beberapa bulan ini.


" Kenapa kakak jarang pulang? lupa sama rumah apa memang terlalu nyaman di sana?" tanya Inka dengan nada kecewa.


" Hai gadis yang sudah beranjak dewasa, kakak kerja dan banyak sekali yang harus diselesaikan, jika kakak pulanh seminggu sekali seperti dirimu ini akan memakan waktu sekali" jawab Azzam.


" Sok sibuk sekali, kasian papi sama mami aku kuliah dan harus kost sedangkan kakak jarang sekali pulang pasti mereka kesepian" ucap Inka dengan mata yang menerawang jauh ke angkasa.


" Biarkan mereka menikmati masa tua dengan berpacaran lagi Inka sayang" jawab Azzam tidak ada dosa.


Mereka dia sejenak, suasana menjadi hening. Inka meminun wedangnya dan kembali memandang kakaknya dengan antusias bercerita kali ini tentang kehidupan kampusnya yang menyebalkan.


" Nggak tau kenapa aku sebenarnya tidak nyaman kuliah disitu." Inka memulai percakapan.


" Kenapa?"


" Mereka memandang rendah aku karena motor kesayanganku, dan karena aku anak beasiswa, sesempit itu pikiran mereka"


" Mereka semua adalah kebanyakan anak dari orang orang yang diatas rata rata, dan disetiap tahunnya pasti ada orang tua mereka yang menjadi donatur terbesar di kampus itu, jadi mereka menganggap bahwa kamu bukan setara mereka"


" Harus membedakan dari status sosialnya? Bahkan teman sekelas pun tidak ada yang mau berteman denganku, menganggapku remeh,"


" Ya seperti itulah, tapi pasti ada beberapa orang yang seperti kita, meski tidak banyak"


" Huft... ehm sepertinya memang harus membawa senjata lengkap untuk berperang?" ucap Inka penuh semangat.

__ADS_1


" Hah??? senjata apa?" tatap Azzam bingung dengan perkataan adiknya.


" Ada deh... kepo" jawab Inka sambil tersenyum dan langsung berlari menuju bengkel motor papinya.


Ya papinya punya bengkel motor tapi hanya untuk motor motor koleksinya. Papi Inka adalah salah satu kolektor motor antik, bisa dibilang antik karena motor motor yang dikoleksina adalah motor jaman perang dulu. Bahkan harganya juga tidak main main, karena termasuk barang langka.


Di bengkel. Inka menghampiri papinya yang sedang mengotak atik motor BSA nya.


" Papi..." sapa Inka dengan senyuman cerianya.


" Ehm..." tanpa menoleh pada Inka dan Inka merasa di cuekin.


" Pi aku mau bekal peralatan perbengkelan, biar kalo motorku rusak aku bisa benerin sendiri di kostan" Inka yang ikut duduk disamping papinya.


Papi Inka menatap putrinya merasa aneh. "Kenapa buat apa? memangnya kamu akan jarang pulang sampai mau bawa peralatan kerja papi, kan papi bisa servis motor kamu dirumah sayang" jawab papi.


" Ya sudah terserah kamu aja ka, ambil apa saja yang kamu perlukan deh" papi pasrah.


Senin pagi sudah menyambut. Suasana kampus kembali ramai. Mobil mobil mewah terpakir rapi di tempatnya. Begitu juga motor motor bagus keluaran terbaru juga pada rapi di tempat parkir yang tersedia. Dan satu lagi tempat di mana tempat parkir baru untuk motir butut. Juga sudah ada si satria yang dengan gagahnya terparkir sendirian. Entah dimana temannya itu belum muncul juga.


Hari hampir siang, Inka baru sampai di kampusnya dan segera memarkir motornya. Dia tersenyum melihat satria terparkir disebelahnya. Berarti Dimas sedang berada di kampus. Hari ini Inka ada jam kuliah siang dan Inka berniat mampir ke kantin dulu untuk mencari makan. Dan seperti biasa banyak meja yang penuh dan akhirnya Inka memutuskan hanya membeli beberapa roti saja dan air mineral lalu pergi meninggalkan kantin.


Inka memilih menunggu jam kuliahnya dengan bersantai di taman kampus sambil memakan rotinya. Tiba tiba ada tiga teman ceweknya yang suoer duper angkuh menurutnya menghampirinya.


" Hei cewek butut, aku peringatkan padamu ya, jangan pernah cari cari perhatian pada kaka Revano ya, kamu sama sekali tidak selevel sama dia" kata putri cewek tercantik di antara dua temannya.


Inka mendongak melihat sumber suara. Inka heran dengan apa yang dikatakan Putri teman sekelasnya itu. Siapa Revano itu, Inka saja tidak tau apa lagi cari perhatian dengannya.

__ADS_1


" Tenang saja saya bukan yipe cewek yang suka cari perhatian cowok kok put," jawab Inka santai


" Aku pegang kata kata kamu, " mereka bertiga melenggang pergi begitu saja. Inka sungguh terheran heran pada mereka bertiga. Apa yang mereka bicarakan barusan saja Inka tidak bisa memahami. Bahkan Inka pikir mereka itu kuliah hanya mengejar popularitas dan cowok saja. Tidak bermanfaat.


Jam kuliah Inka sudah mulai. Dia sudah masuk kekelasnya. Dia melihat putri dan teman temannya menatapnya dengan tatapan lebencian. Sungguh rasana Inka ingin pindah saja ke kampus lain. Tapi dia sayang pada beasiswanya yang sangat sulit didapatkannya. Dan akhirnya Inka bisa menyelesaikan perkuliahanya pada siang ini. Inka berjalan menuju parkiran untuk segera pulang dan istirahat. Karena dia tadidari rumah langsung ke kampus.


Inka melihat Dimas dari kejauhan. Dia segera menghampirinya.


" Siang Dimas, sudah selesaikah jam kuliah kamu?" tanya Inka dengan senyum cerianya.


" Ehm" Dengan dinginya dia menjawab.


" Ish dingin sekali kayak es batu padahal terik begini heran kok gak mencair sih" canda Inka. Dan sepertinya Dimas tidak tertarik dengan candaan Inka. Dimas masih merasa tidak nyaman dengan ucapan Inka yang kemarin itu.


" Kamu kenapa Dim?" tanya Inka yang melihat wajah Dimas aneh.


" Tidak apa apa, ternyata ada juga ya wanita malam yang penampilannya se tomboi kamu." jawab Dimas ketus.


" Hah? " Inka benar benar kaget dengan ucapan Dimas yang sepertinya tertuju padanya. Dan sesaat kemudian dia ingat akan malam sabtu itu. Dimana dia bertemu dengan Dimas dan dia mengatakan sedang oergi bersama om om.


" Kamu percaya aku cewek seperti itu?" tanya Inka pada Dimas dengan tersenyum.


" Kan kamu yang bilang sendiri" jawab Dimas.


" Kamu salah paham Dimas, kamu telan mentah mentah gitu aja ucapanku waktu itu, dia papiku dan teman temannya satu club motor, dan aku juga ikut club itu. dan malam itu kita sedang kopdar Dim, dan setelah itu aku ikut papi pulang kerumah karena ada yang ingin aku ambil." jelas Inka dengan sejelas jelasnya.


Dimas mendengarkan dengan seksama dan Dimas tanpa menjawab sudah pergi dengan motornya. Sedangkan Inka kaget karena dia sudah ditinggalkan oleh Dimas.

__ADS_1


" Lah malah pergi gitu aja" Dan akhirnya Inka pun meninggalkan kampusnya untuk pulang dan istirahat.


__ADS_2