
Inka
Aku berjalan menuju tempat parkir setelah jam kuliahku selesai. Dengan semangat aku berjalan karena perutku sudah mulai keroncongan. Hari ini aku akan makan di warung sebelah kostku yang masakannya enak dan menunya macam macam dengan harga anak kost banget.
Setibanya di tempat parkir aku dikagetkan dengan keadaan motorku yang aduhai berantakan sekali. Dan lebih parahnya lagi sudah berada di luar tempat parkir. Ya tepat di sebelah motor sama jadulnya dengan motorku. Aku sudah mulai tersulut emosi karena kesayanganku sudah terluka. Namun tiba tiba suara laki laki yang tadi pagi menegurku kembali terdengar.
" Kan saya sudah bilang jangan parkir di situ?" suaranya itu semakin dekat dan kulihat dia dengan santainya mengambil motor miliknya.
" Maaf ya mas, saya tidak kenal dengan anda, saya juga tidak pernah ada urusan dengan anda, tapi kenapa anda melakukan ini kepada saya?" ucapku penuh dengan amarah. Siapa dia pikirku sampai dia bisa mengerjaiku seperti ini. Apa salahku padanya, kenal saja tidak.
" Saya kan hanya memperingatkan kamu, apanya yang salah?" katanya cuek dengan tetap berada di atas jok motornya.
" Anda kan yang melakukan ini, mengaku saja lah!" desakku.
" Kenapa kamu bisa berfikir bahwa yang melakukan itu aku?" tanyanya.
" Aku bisa memanggil satpam ya supaya kamu mengaku" ucapku tak mau kalah.
Tiba tiba sebuah mobil menghampiri kita, dan apa yang dikatakannya membuatku sama sekali tidak paham.
" Cowok butut., tolong dong ya bilang ke cewek butut ini untuk tidak parkir di tempat parkir" ucapnya dengan super sombongnya.
Aku merasa sangat terhina disini. Siapa mereka siapa cewek cantik itu? Apa karena aku pakai motor jadulku ini dia jadi semena mena seperti ini? Aku masih tidak mengerti apa yang mereka katakan. Bukannya aku parkir di tempat yang benar.
" Bukannya aku sudah parkir di tempat yang benar?" kataku.
" Ouh belum paham juga ternyata, oke kapan kapan aku jelasin ya, tapi sayangnya sekarang aku sudah ada janji, bye" cewek cantik itu berlalu dengan mobil mewahnya.
__ADS_1
Tinggal aku sendiri masih mematung mencoba mencerna apa yang diucapkan cewek cantik tadi. Apa kenapa?
" Masih belum paham juga?" Ah aku dikejutkan suara laki laki tadi. Dia masih disini belum pergi? batinku.
" Ehm" Aku mengangguk cepat sambil menunggu penjelasannya.
" Kemaren mereka memperlakukan motorku seperti motormu, akhirnya hari ini aku parkir disini atas ijin pak satpam, paham kan?" jelasnya yang kemudian langsung pergi begitu saja.
Ah aku masih perlu mencerna ini. Meski aku berotak cerdas dan bisa mendapatkan beasiswa tapi masalah kesayanganku ini entah kenapa jadi lemot sekali. Aahhh
" Cewek butut?" Ahhh aku mengerti sekarang. Karena motor jadulku ini dan beasiswaku mereka mengira jika aku adalah orang yang tidak layak berada di kampus elit ini. Benar seperti itu sepertinya dan berarti aku sudah menuduh dia.
Sungguh aku merutuki diriku sendiri sudah memfitnah orang yang tidak bersalah. Bahkan justru dia mencoba menyelamatkan aku.
" Aku harus meminta maaf padanya" Gumamku dalam hatiku.
Dimas
Setelah jam kuliahku selesai, aku hari ini hanya ada dua jam kuliah. Jadi siang ini aku langsung menuju parkiran untuk segera ketempat kerjaku yang baru. Ya hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja part time ku. Demi menyambung hidup aku harus bekerja.
Setelah sampai aku di tempat parkir motorku aku melihat cewek tadi pagi dengan motornya yang sudah tidak layak di sebut motor. Entah apa yang mereka lakukan pada motor gadis itu sampai terlihat seberantakan itu. Wajah gadis itu pun terlihat bingung dan marah. Aku berjalan mendekati motorku dan anehnya dia malah menuduhku.
Kami berdebat lumayan lama sampai ada mobil yang menghampiri kami. Dan benar yang keluar adalah dia yang melakukan hal yang sama dengan motorku kemarin. Tapi kali ini hanya genk ceweknya yang terlihat. Sedang yang kemaren genk cowoknya yang beraksi.
Entah mereka punya dendam apa pada kami ya maksudku adalah aku dan cewek disebelahku ini, sehingga mereka tega melukai motor kesayangan kami. Cewek yang katanya paling cantik dan populer dikampus ini sedang mencoba memberi peringatan pada gadis disampingku. Namun sepertinya gadis ini tidak paham juga dengan apa yang dikatakan si cewek cantik itu. Lucu sekali dia sudah dikatai tapi masih tidak sadar juga. batinku.
Akhirnya setelah mobil itu telah berlalu aku mencoba menjelaskan menurut versiku. Paham atau tidak aku tidak peduli. Aku hanya sedang membela diri dari tuduhannya tadi. Aku langsung pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Author
Dimas sudah berlalu menuju tempat kerjanya. Sedang Inka menuntun motornya yang sudah tidak karuan bentuknya. Dia menyusuri jalan untuk mencari bengkel terdekat untuk menyelamatkan kesayangannya itu. Untung saja Inka adalah gadis yang kuat dan tidak manja. Jadi masalah seperti ini saja tidak masalah buatnya.
Ternyata disebelah kampus tidak begitu jauh ada bengkel. Kemudian Inka segera membelokkan motornya kemudia mendongkraknya dan langsung duduk sambil terengah engah. Bagaimana tidak jarak antara tempat parkir ke jalan raya cukup jauh masih ditambah lagi jalan sambil mendorong motor yang bannya kempes semua. Sungguh penuh perjuangan.
" Mas, tolong benerin motorku ya, parah ini udah bentuknya." ucapku pada salah satu orang di bengkel itu. Kemudia ada seorang lelaki paruh baya mungki hampir seumuran ayah inka.
" Wah kenapa neng motornya bisa ancur kayak gini?" tanya bapak itu pada inka. Sepertinya bapak itu adalah yang punya bengkel itu.
" Aduh ujian mahasiswa baru kali pak, kakak senior tidak suka sama motor kesayangan saya ini" jawan Inka santai.
Bapak itu menggeleng geleng kepalanya keheranan. Gadis cantik ini sungguh unik menurutnya.
" Tapi tidak bisa langsung beres ini neng, mungkin lusa, kemaren juga ada yang kasusnya kayak gini juga, tapi tidak separah ini." jelasnya pada Inka.
" Ouh ya pak?" tanya Inka tidak percaya.
" Iya milik maba juga neng, tapi cowok dan motornya juga motor jadul seperti ini." jelasnya lagi.
" Milik cowok yang kerja diseberang itu ya pak?" ucap Inka sambil menunjuk kearah Dimas yang sedang sibuk melayani para mahasiswa yang sedang ingin foto copy atau yang lain lain.
Inka yang sedari tadi ternyata menemukan sosok lelaki yang ia fitnah tadi di seberang jalan di sebuah ruko yang bertuliskan percetakan. Dia tidak sengaja terus memperhatikan Dimas dari jauh.
" Wah betul neng. betul sekali. Temennya neng?" bapak bengkel ini sepertinya mulai kepo.
" Bukan pak" Jawab Inka sambil.tersenyum.
__ADS_1