MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH

MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH
Minta maaf


__ADS_3

" Selamat pagi kaka Seto" Suara Inka yang cempreng benar benar membuat Seto hampir melambungkan kertas kertasnya ke udara.


" Kenapa harus secempreng itu Inka?" Tanya Seto dengan nada jengkelnya.


" Terlalu bersyemangat kak Seto" jawabnya sambil senyum nyengir.


" Temenmu masih ada kuliah full seharian paling juga sore bakal kesininya" ucap Seto memberi tau keberadaan Dimas sebelum Inka bertanya.


" Lah aku sudah tau kak Seto, kalau dia tidak disini pasti sedang ke kampus." jawab Inka santai sambil mengeluarkan bukunya.


" Terus?" tanya Seto penasaran kenapa Inka masih santai duduk di konternya.


" Terus apa? " Inka tidak mengerti dengan pertanyaan Seto yang tidak jelas.


" Terus kamu ngapain masih disini Inka?" jelas Seto.


" Duduk menemani kak Seto sambil baca buku, dari pada di taman atau di kantin paling palinh akhirnya kena bulian para mahasiswi kecantikan itu, males aku ah" jawab Inka.


Akhirnya Seto menerima kehadiran Inka dengan pasrah. Seenggaknya dia tidak menggangu Seto bekerja. Inka berkutat dengan buku buku faforitnya hingga jam kuliah ya datang. Dia segera mengemas buku bukunya dan beranjak pergi dari konter.


" Udah jamnya masuk kuliah kak, aku pergi dulu terimakasih tempatnya" pamit Inka.


Dia segera melajukan motornya menuju temoat parkir. Karena jamnya sangat mepet akhirna dia berlari dan tak sengaja dia menabrak sesuatu yang tinggi dan wangi. Inka terjatuh dan segeran meraba bokongnya yang sudah mencium tanah.


" Auwwww" sambil mengelua elus bokngnya.


" Maaf saya tidak sengaja" seseorang sedang berucap maaf dan mengulurkan tangannya untuk membantu Inka berdiri. Inka menatap siapa yang berdiri di depanngnya tepatnya siapa yang ia tabrak.


" Tidak apa apa mas, maaf saya bisa sendiri... saya harus pergi saya buru buru bye" Inka berdiri sendiri dan langsung pergi meninggalkan pria itu.

__ADS_1


Pria itu tersenyum simpul melihat kelakuan Inka. Dan pria itu pun pergi dengan motor sportnya.


Inka masuk kelasnya dan sampai waktu kuliahnya berakhir Inka keluar ternyata tidak terasa waktu sudah sore. Matahari yang hampir tenggelam menyisakan senja. Inka berjalan menuju parkiran dan disana tinggal motornya yang masih terparkir dengan cantik. Si ganteng sepertinya sudah dibawa empunya motor. Inka sebenarnya ingin menemui Dimas karena seharian ini tidak bertemu tapi rasa lelahnya menginginkannya cepat pulang dan merebahkan diri ke kasur. Akhirnya Inka memilih pulang.


Dimas masih sibuk dengan beberapa tumpuk buku yang harus di foto kopy. Dia kuliah sampai sore hari ini. Jadi dia mulai bekerja sudah hampir petang. Sedang yang harus di foto kopi sudah tertumpuk tinggi. Dia harus segera menyelesaikannya agar besok dia tidak punya tanggungan. Karena jika tidak diselesaikan hari ini besok pasti kerjaan semakin menumpuk.


Dimas fokus tapi kadang kadang juga matanya melirik kearah pintu gerbang kampus yang ada di depan konternya. Dia mencari sosok gadis cantik pujaan hatinya yang hari ini belum bertem sama sekali. Gadis yang dia puja tapi hanya bisa menjadikannya sebagai teman saja karena tekadnya yang tidak ingin berpacaran dulu. Dia ingin fokus pada pendidikannya dan ujiannya. Dia hanya tidak ingin salah memilih jalan.


Sesaat dia melihat gadis cantik itu dan secara tak disengaja senyum timbul secara alami. Namun senyum itu menghilang dengan kekecewaan yang ia rasakan. Gadis itu tak menoleh sedikitpun dan yang biasanya hanya mampir juga sepertinya dia langsung pulang. Kecewa dirasakannya sendiri melihat yang dirindukan tak merasakan hal yang sama. Sebenarnya dia sadar jika itu pasti terjad tapi rasa kecewa tetap saja ada. Sebenarnya dia juga ingin meminta maafbatas kejadian kemarin karena sudah menuduh Inka menjadi wanita malam. Dia tidak ingin kesalah pahaman itu berlarut.


" Apa dia marah padaku?" guman Dimas yang tak terdengar oleh siapapun termasuk Seto yang berada di dekatnya.


" Tadi pagi dia kesini sampek siang, seoertinya berharap ketemu kamu eh kamunya kuliah sampek sore ternyata" Seto bersuara.


" Dia siapa?" Dimas berpura pura tidak tau dan cuek.


" Ya dia teman barumu itu bro, gadis cantik yang paling aneh yang pernah ku temui seumur hidupku. hahaha" jawab Seto dengan membayangkan seorang Inka yang tidak pernah berpenampilan semenarik perempuan lain. Tapi tetap terlihat cantik apa adanya.


" Iya siapa lagi bro, perasaan temanmu ya cuma itu yang kamu kenalkan denganku hahah" tawa Seto.


Dimas tersenyum lega ternyata Inka tidak marah padanya. Inka adalah cewek yang tidak mudah memakai perasaan dalam bertindak. Dimas benar benar semakin tertarik pada Inka dengan segala pesonanya yang mungkin tidak terlihat oleh laki laki lain.


Dimas pun dengan lebih semangat segera menyelesaikan pekerjaanya agar dia tidak pulang terlalu malam. Dia berencana untuk mengajak Inka makan malam atau sekedar jalan jalan malam untuk menebus kesalahannya kemarin.


Jam menunjukkan jam sembilan malam. Inka baru terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya yang dia kira sudah pagi tapi ternyata masih malam.


kruuk kruuk kryuk...


" Ah aku laper ternyata, baru inget kalau belum makan malam karena ketiduran" gumam Inka.

__ADS_1


Tiba tiba ponsel Inka berbunyi. Inka terkejut siapa yang menelpon malam seperti ini. Ternyata tertera nama Dimas disana. Inka dengan semangat mengangkatnya.


" Halo Dimas..." ucapnya dengan suara seraknya khas bangun tidur.


" Maaf ganggu sudah tidur ya?" ucap Dimas dari seberang sana.


" Baru bangun, tidur dari sepulang kuliah tadi, sekarang laper" jawab Inka jujur.


" Ya udah turun gih, aku di bawah kita cari makan" ajak Dimas.


Inka terkejut dengan ucapan Dimas. Dia langsung menuju balkon untuk memastikan benar tidaknya apa yang dikatakan oleh Dimas. Dan ternyata benar dia melihat si ganteng dengan pengemudinya.


" Dia tau banget kalo aku lagi lapar" batin Inka sambil menyambar blazer yang berada di pojokan kasurnya. Dia berlari turun dan menuju tempat dimana Seorang Dimas menunggu.


" Kok bisa tiba tiba di sini?" tanya Inka setelah sampai di dekat Dimas dan langsung naik di motor Dimas bagian belakang.


" Sudah feelling ajah " Inka menyebik. Dia tidak percaya masih ngirit ajah tuh ucapannya.


" Mau makan apa?" tanya Dimas.


" Lalapan pak Mono" Jawab Inka dengan antusias.


" Sebelah mana tuh?" Dimas mengernyitkan dahinya tampak heran baru seminggu di sini sudah tau kulineran.


" Belum tau lalapan pak Mono? udah terkenal banget loh itu dikalangan anak kampus apalagi di kalangan kostan sini"


" Enggak terlalu suka kulineran pulang kerja ya dirumah tidur, ya sudah diaman tempatnya?"


" oke ikuti petunjukku ajah oke, letsgo..." seri Inka. Berangkatlah mereka dengan si satria menuju warung pak mono.

__ADS_1


Perjalanan yag tidak terlalu panjang karena masih sekitaran daerah kostannya. Jadi hanya beberapa menit pun mereka sampai. Dimas terheran heran dengan warung yang ada di depannya sekarang. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam warung itu masih ramai dengan pengunjung bahkan masih banyak yang antri.


" Kapan kita makannya kalau antri kayak begini?" guman Dimas masih terheran heran.


__ADS_2