
Dimas menatap dinding atap rumahnya. Dengan pikiran melayang layang mengingat apa yang dia dengat di mini mart tadi. Seorang Inka cewek tomboi yang tidak pernah berpakaian selayaknya wanita. Bahkan tadi saat ketemu pun dia juga masih sama seperti Inka yang biasanya. Bisa bisanya dia bilang dia pergi bersama om om di malam hari seperti itu.
Dimas masih belum bisa memejamkan matanya meski sudah lewat tengah malam. Dia masih terus memikirkan Inka. Dia ingin sekali memastikan Inka baik baik saja tapi enggan untuk melakukannya. Sifatnya yang ia buat sedingin mungkin benar benar membuatnya tersiksa saat ini. Sungguh saat ini dia terjerat oleh pesona Inka.
Pagi datang mengusir rembulan. Semalam rembulan menayapa namun Dimas tak menghiraukannya. Dan pagi datang pun dia cuek dengannya. Dia masih asik dengan guling dan bantalnya. Dia baru tidur sehabis subuh karena Inka suda mengganggu pikirannya. Untung saja hari ini dia sedang off kuliah karena week end.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dengan irama yang pas. Dan akhirnya Dimas menyerah untuk bangkit walaupun matanya seperti tertempel oleh lem. Dimas membuka pintu kamar kostnya.
" Nak Dimas, itu pemilik kostan datang ingin berkenalan dengan nak Dimas." ucap seorang penjaga kebersihan di kostan Dimas.
" Ah iya pak, tunggu sebentar saya mau cuci muka sama ganti baju dulu." jawab Dimas dengan malas.
" Baik nak" jawab bapaknpenjaga itu seraya meninggalkan Dimas yang kembali masuk kekamarnya.
Setelah beberapa saat Dimas keluar kamar dan segera turun ke ruang tamu untuk bertemu dengan sang pemilik rumah. Dimat melihat laki laki muda, postur tubuhnya aduhai jika cewek yang melihatnya pun pasti klepek klepek dengn baju khas anak motor. Yang bisa dipastikan beliau ini pasti anak motor. Dimas akhirnya mendekatinya dan mulai menyapanya.
" Selamat pagi pak" sapa Dimas dengan sedikit ragu ragu.
Laki laki yang masih membelakanginya pun akhirna menoleh setelah mendengar suara Dimas. Menatap Dimas sebentar lalu menghamburkan pelukan seperti teman lama yang tak bertemu.
Dimas pun terkejut siapa yang berada di hadapanna kini. Memang seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Lebih tepatnya saudara yang tiba tiba menghilang. Ya dia adalah kakak kandungnya yang telah lama tak pulang.
" Kenapa bisa kamu?" ucap Dimas tak percaya.
Laki laki itu melepas pelukannya dan mempersilakkan Dimas untuk duduk di sofa.
" Ketika aku tau kamu ngekost disini aku langsung ingin menemuimu." jawabnya dengan temang seperti tidak ada apa apa.
" Kenapa menghilang dan kenapa tiba tiba muncul" perasaan Dimas menjadi campur aduk. Entah apa yang dirasa Dimas saat ini. Rasa kantuk yang tadi mendera seketika menghilang. Banyak rasa saat ini yang berada di hati Dimas.
__ADS_1
" Bagaimana kabarmu adik bontotku?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
" Bisa kau lihat aku masih baik baik saja dan akan tetap baik baik saja" jawab Dimas dingin.
"Apa harus sedingin itu denganku? sepertinya aku masih menyayangimu seperti kau pertama lahir, kenapa sekarang kau jadi sedingin itu padaku"
" Aku bukan orang yang pembenci hanya menjadi tidak biasa saja bertemu denganmu setelah begitu lama kau menghilang dari kehidupan kami" ucap Dimas.
" Kau betah tinggal di kostan ini? kalau kau tidak betah kau bisa tinggal denganku" tawarnya pada Dimas.
" Aku tidak sepertimu yang akan gagal untuk ujian ini lalu kabur, di sini aku bukan anak papa, aku hidup dengan kerja kerasky sendiri jadi tempat apapun yang ku singgahi pasti nyaman buatku, jika kamu tidak suka aku kost di sini aku bisa pergi dan cari kost lain."
" Tenang Adikku sayang, bukan itu maksudku, aku hanya merindukanmu jadi aku kesini ingin menemuimu dan melepas rindu bukan seperti ini. tinggalah sesukamu di mana kau akan tinggal yang penting kau nyaman. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Jika kau sangat terganggu dengan kehadiranku" laki laki itu terlihat ada kekecewaan diwajahnya. Dan Dimas pun melihatnya namun dia tidak mau lagi terlibat dalam masalah keluaraga yang sama sekali dia tidak pernah ingin ikut campur. Itu urusan laki laki itu dengan papanya.
" Terimakasih sudah mengijinkan aku tinggal di rumah kostmu," Dimas meninggalkannya melenggang pergi dengan motor kesayangannya.
Sedang laki laki itu hanya menatap punggung Dimas sampai tak terlihat. Terlihat jelas tatapan kerinduan itu dari seorang kakak pada adiknya. Bahkan begitupun sebaliknya namun dia tau seorang Dimas dan sangat mengenal Dimas.
Dirumah lain yang cukup besar, pagi ini sudah ramai sekali dengan teriakan teriakan mami yang sangat khas dengan iramanya yang membuat telinga telinga yang mendengarkan langsung ikut dengan iramanya.
" KAKAK.... tidak pernah ada kemajuan selalu kalau mami tidak teriak tidak berkutik dari tempat tidur... banguunnn sudah jam berapa ini" teriakan mami yang begitu di rindukan oleh Inka akhirnya terdengan juga. Ya kali ini mamainya berniat membangunkan kakaknya tapi sebenarnya yang masih asik di atas temoat tidur kakaknya itu adalah Inka.
" Pagi mamih" senyum Inka mengembang menyambut maminya yang sudah uring uringan sejak pagi.
" Loh kok jadi permpuan, sejak kapan kamu jadi perempuan begini Zammm?" tampak mamih sangat syok melihat anak laki lakinya berubah menjadi perempuan.
"Ihsss mami ini Inka bukan kak azzam, kenapa mami jadi gak bisa bedain Inka sama kak Azzam sih mi" suara Inka yang serak dan manjanya membuat mami sadar bahwa yang dideoan matanya benar benar anak perempuannya. Seketika jeweran melayang pada telinga Inka.
" Adduuhh aduh sakit mami... kenapa harus di jewer" rengek Inka kesakitan.
" Kamu ini bisa bisanya tiba tiba muncul di kamar Azzam kakakmu, kalian semalam tidur bareng? sudah pada dewasa bisa bsanya tidur bareng gak baik" omel mami tanpa melepas jewerannya.
__ADS_1
" Aduuhhh lepasin mami... sakiittt... aku nggak tidur bareng kok mih... niatnya aku cuma mau kabur dari teriakan mami tapi malah ketahuan" ucap Inka sambil meringis.
" Dasar anak nakal bisa bisanya kabur... mau molor seharian??? lagipula mami mana tau kalau kamu pulang Inka!!!" akhirnya mami melepaskan jewerannya.
" hehehe iya ya kan aku pulang hampir pagi tadi sama papi" Inka dengan gaya cengengesannya.
" Ya sudah bangun mandi mami tunggu sarapan, terus kakakmu kemana kok sudah hilang?" tanya mami.
" Katanya mau lari pagi ma tadi pagi pagi udah keluar" jawab Inka sambil keluar kamar untuk menuju kamarnya.
Azzam adalah kakak Inka yang paling dia sayangi karena memang kakak satu satunya. Umur mereka terpaut hanya lina tahun saja. Inka yang manja dan sang kakak yang selalu jahil tapi sangat perhatian membuat mereka saling kompang dan saling menyayangi.
Di meja makan, tersedia berbagai jenis makanan yang disiapkan oleh mami karena Azzam sedang pulang ke rumah. Ya karena Azzam mengambil alih kepemimpinan perusahaan papinya jadi dia memilih untuk tinggal di kota dekat dengan kantornya. Sedangkan rumah orang tua mereka berada di pinggiran kota yang juga tak kalah ramai.
Mami memang lebih condong ke Azzam karena dia mempunyai karakter yang diinginkan oleh mami sebaliknya dengan Inka yang sangat bertolak belakang dengan karakter yang diinginkan maminya. Tapi Inka punya papi yang tak kalah sayangnya dengan maminya. Mereka adalah keluarga yang bahagia.
" Selamat pagi papi mami" sapa Inka dengan ceria. Langsung duduk dan mengambil nasi goreng yang ada di depannya.
" Tunggu kakakmu Inka, sarapan bersama sama" tegur mami dengan lembut.
" Kakak lemot mi, Inka keburu laperr" Inka yang paling suka membantah dengan manjanya.
" Kebiasaan" ucap mami.
Tak lama kemudian Azzam datang dan duduk disamping adik kesayangannya dengan tak lupa melayangkan jitakan pada kepala Inka. Dan yang punya kepala pun meringis.
" Lama gak ketemu loh, bukanya disayang sayang malah di jitak, sakit loh..., pagi tadi udah di jewer ajah sekarang kena jitak terus apalagi nanti " Inka memanyunkan bibirnya namun masih fokus ke nasi gorengnya.
" Tumben pulang dek, pasi gak betah tuh mi jauh dari papi mami?" Azzam tidak menjawab ucapan Inka malah berlanjut mengejek Inka.
" Tuh kan ada aja deh, ahhh... kakak lain kali gak usah pulang deh ya kalau cuma mau ngledekin aku ajah... " Inka semakin memanyunkan bibirnya sampai monyong.
__ADS_1
" Hahahahaha... bibir monyongmu ini loh yang ngangenin dek" sambil menyentuh bibir monyong dengan sendok...