MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH

MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH
Berkenalan


__ADS_3

Kata selamat pagi diucapkan oleh semua yang membuka matanya pagi ini. Suara riuh kembali lagi dengan di barengi intipan sang mentari yang tak lagi malu malu. Hampir tak mendengar suara ayam jantan berkokok karena tidak ada memelihara ayam. Namun yang terdengar suara wekker dengan berbagai nada dering.


Semua sudah sibuk dengan aktifitas rutin mereka. Emak emak kota yang sudah pada ribut dengan keluarganya anak anak mereka suami mereka yang pada ribet pakek sarung dengan kopinya. Sedang para penghuni kostan sedang sibuk mempersiapkan kegiatannya pagi ini dan bahkan masih ada yang masih molor karena begadang.


Dimas yang selalu siap saat pagi untuk memulai aktifitas. Dan saat ini pun pukul tujuh sudah siap untuk berangkat ke kampus. Tak lupa dia mampir di warung nasi dekat komplek kostannya yang terkenal murah dan enak. Pas buat kantong untuk anak kuliahan non elit.


" Selamat pagi buk, nasi campur seperti biasa ya dua bungkus" uca Dimas pada penjual nasi yang terlihat cantik meski umurnya sudah tidak muda lagi.


" Den Dimas yang ganteng, pagi pagi selalu rapi dan wangi, ibuk jadi punya semangat kerja kalo pagi pagi sudah liat yang ganteng kayak gini" ucap bu warung dengan kecentilannya.


" Ibu bisa aja, rapi dan bersih itu suatu keharusan bu" jawab Dimas dengan keramahannya.


Setelah nasi bungkus Dimas sudah selesai dan dibayarnya Dimas pun langsung menuju tempat kerjanya karena hari ini dia sebenarnya jam kuliahnya ada di siang hari. Jadi dia memilih untuk bekerja dan sarapan di tempat kerja bersama Seto.


Tak lama kemudia datang seorang wanita cantik yang tertutup kecantikannya oleh penampilannya yang biasa saja namun masih terlihat bersih dan rapi. Siapa lagi kalu bukan Inka, yang datang pagi pagi untuk sarapan di ibuk warung. Dia trauma dengan kejadian kemarin yang pada akhirnya dia harus menahan lapar hingga sore.


" Ibuk sayang, sarapaaannn" teriaknya pada ibuk warung.


" Loh kan kesayangan ibuk sudah datang" sambut ibuk warung tak kalah semangatnya.


" Makan seperti biasa ya ibuk, udah luaper beneer" sambil memperlihatkan cengirannya yang khas.


" Siyap... barusan ada cowgan pagi pagi udah ganteng banget, kamu telat Ink" goda ibuk warung pada Inka. Inka dan ibuk warung sudah seperti ibu dan anak yang tak terpisahkan. Sifatnya yang blak blakan dan rame membuat mereka cepat sekali akrab.


" Waduh... kenapa ibuk tidak bilang, tau gitu aku bisa kenalan sama cowgan hahahah" jawab Inka dengan tawa riangnya di pagi hari.


Sepiring nasi campur kesukaan Inka pun sudah tersedia di meja dan Inka juga sudah tidak sabar menyantapnya. Pagi itu masih sepi membeli. Karena sepertinya ketika hampir weekend seperti ini banyak penghuni kost yang pulang kampung kecuali yang rumahnya jauh.


" Tidak pulkam Ink?" buk warung mulai membuka obrolan kembali dengan tenang.


" Pulkam buk tapi mungkin besok, hari ini.masih ada jam kuliah dan motorku juga masih baru bisa diambil hari ini" Jawab Inka dengan mengunyah makanannya.


" Kamu itu aneh loh Ink, biasanya ya orang kuliah di tempat elit kayak kamu ini tidak ada yang mau kost di komplek ini apalagi makan di warung ibuk, kamu itu beda , sama dengan mas Dimas si cowgan itupun juga begitu." ucapan ibuk warung sering sekali dia dengar dan bagi Inka semua itu tidak penting .

__ADS_1


" Saya bukan seperti mereka yang suka akan kemewahan orang tua mereka buk, bagi saya yang penting nyaman tidak harus gwngsi sana sini, apalagi soal makanan, yang pentin enak dan murah udah cukup buat saya" jawab Inka dengan santainya yang masih menikmati sarapannya.


" Ehm... ibuk mengerti deh, emang anak ibuk yang satu ini spesial pakek teloorr" canda ibuk warung lagi.


" hahahaha.... ibuk bisa saja" Inka pun ikut tertawa dengan khasnya.


Setelah selesai sarapan dia bergegas untuk pergi ke kampusnya dengan ojek online langgananya. Akhirnya dia sampek langganan dengan tukang ojeknya. Karena dia lebih suka naik motor daripada naik angkot. Dia juga tidak enak jika harus numpang sama teman satu kostnya.


Pagi ini dia mampir dulu ke bengkel pak Bahdim untuk melihat kesayangannya.


" Selamat pagi bapak " sapa Inka dengan semamgat pagi pada oak Bahdim.


" Selamat pagi atuh neng, bahagia banget hari ini neng?" sambut pak Bahdim.


" Seneng dong bapak, kan katanya bapak kesayangan aku sudah bisa diambil hari ini" jawab Inka semangat.


" Hahaha sudah baoak duga, pasti gara gara motornya sudah siap ditunggangi lagi, sudah kangen banget ya neng?" tanya pak Bahdim.


" Iya dong pak, kuangen buanget" jawab Inka lagi.


" Beneran pak?" tanya Inka tak percaya jika pagi ini dia sudah bisa menaiki motornya itu.


" Iya atuh neng sudah siap gasss" jawab pak Bahbdim semangat.


Akhirnya Inka sudah bisa mengendarai motor kesayangannya untuk kuliah pagi ini. Inka segera melajukan motor kesayanganya dengan hati hati dan disertai senyuman menawan sepanjang jalan yang hanya beberapa meter dari parkiran motor. Inka memarkirkan motorna di tempat Dimas biasa parkir. Dia sudah tidak mau mencari gara gara yang bisa melukai kesayangannya itu.


Sambil parkir Inka celaingak celinguk mencari teman senasibnya tapi tidak kelihatan. Dan dia juga saking senangnya tadi tidak sempat melirik kearah konter foto kopy. Dan sedangkan si mas mas fotokopy sejak Inka di bengkel tadi sudah curi curi pandang dengan wajah Inka yang indah terulir senyan.


Siang menjelang dan Inka sudah mulai lapar lagi. Suasana kantin tidak seperti kemarin yang ramai. Hari ini lebih lengang. Tapi Inka tiba tiba melihat sosok yang dia cari sejak tadi duduk di sebuah kursi dan sendirian. Sambil menikmati makanannya dia fokus tidak tolah toleh. Inka menghampirinya dengan semangat.


"Hai aku Inka " Suara nyaring dari dekat membuat makan Dimas sedikit terganggu. Dimas menatap gadis di sebelahnya itu dengan tatapan aneh dan penuh keheranan.


" Aku Dimas" Dengan nada dinginnya lalu kembali fokus kemakanannya.

__ADS_1


Ya kini mereka berada di kantin sebuah uneversitas swasta yang cukup elit. Hamoir semua mahasiswa yang kuliah di kampus ini adalah anak dari para pengusaha. Demikian juga dengan Inka dan Dimas.


Namun mereka berbeda, mereka mendapatkan beasiswa karena kecerdasan mereka. Tapi karena beasiswa itu mereka sering dianggap orang yang tidak mampu. Dan yang paling mendukung mereka dapat bulian tiapnhari adalah kendaraan yang mereka tumpangi adalah motor butut.


" Apakah aku mengganggu makan siang mu?" tanya seorang Inka pada Dimas.


Tanpa menjawab Dimas hanya menggeleng saja. Dimas tetap fokus pada makanannya yang hampir habis. Setelah habis pun Dimas segera pergi meninggalkan meja kantin. Inka yang merasa ditinggal begitu saja dia lalu mengejar Dimas.


"Kamu yang kerja di percetakan depan itu kan?" Inka masih berusaha akrab dengan Dimas. Inka begitu tertarik dengan Dimas. Karena Inka merasa mereka senasip seperjuangan.


" Ehm" Dimas menjawab dengan singkat saja. Dan masih terus berjalan menuju tempat kerjanya karena jam kuliahnya sudah selesai.


" Kamu ambil jurusan apa Dim? "


" managemen bisnis" Jawab singkat padat dan jelas.


Namun Inka bukan anak yang suka menyerah. Dia tetap ingin berteman dengan Dimas ini. Menurutnya dengan punya teman yang senasib dia bisa berbagi suka dan duka selama dibuli. Eh memangnya di buli ada sukanya ya?


" Jawaban kamu singkat terus dari tadi, kamu tidak mau berteman denganku ya?" tanya Inka dengan masih mengikuti Dimas dibelakangnya sampai akhirnya membuat Dimas berhenti. Dan Inka yang jalannya nylonong aja menubruk tubuh Dimas.


Dimas menatap Inka dengan wajah yang sedikit menakutkan. " Kamu siapa sih? kenapa terus mengikutiku? kenapa terus memberiku banyak pertanyaan? apa kamu wartawan? kenapa begitu tertarik mewawancaraiku?" tanyanya balik pada Inka.


Inak menelan ludahnya berat ketika mendengar petanyaan yang banyak banget yang di ucapkan Dimas.


" Aku hanya ingin berteman saja, apa aku salah? Hampir semua anak disini menganggapku cewek aneh, dan aku lihat kamu juga dianggap seperti itu. Jadi aku pikir kita senasib dan bisa jadi teman." jawab Inka.


" Maaf jika aku mengganggumu, maaf jika aku terus mengikutimu." lanjut Inka dengan raut wajah kecewa lalu pergi meninggalkan Dimas. Ya Inka kecewa karena ternyata Dimas pun sama dengan teman yang lain. Menganggapnya cewek aneh.


Disisi lain Dimas yang mendengar jawaban kecewa dari Inka merasa bersalah dengan ucapannya yang ternyata menuinggung Inka. Lalu dia berusaha mengejar Inka dan menangkap tangannya.


" Maaf, bukan seperti itu maksudku. ya kita bisa berteman" ucapan Dimas yang terdengar serius dan nadanya menjadi bersahabat membuat mata Inka berbinar.


" Kamu serius kan?" tanya Inka meyakinkan.

__ADS_1


" ehm" Dimas mengangguk sambil tersenyum.


Inka dengan girangnya meloncat loncat sampai hampir jatuh. Untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangannya.


__ADS_2