
" Pak saya tinggal disini ya motornya, saya percayakam sama bapak deh" ucap Inka sambil memberikan beberapa lembar uang kepada bapak montir .
" Ini buat DP ya pak" lanjutnya.
" Baik neng, insyaalloh amanah neng" jawab bapak montir itu sambil menerima uang dari Inka.
Kemudian Inka pergi dengan ojek onlinenya yang dia pesan yang baru saja datang.
" Yok bang" tangannya sambil menepuk bahu si tukang ojek.
Beberapa menit kemudia Inka sudah sampai di tempat kostnya. Dengan wajah lelahnya dia memasuki kamarnya dan lalu merebahkan tubuhnya yang masih lengket. Memejamkan matanya perlahan kemudian dengan cepatnya berkelana di alam mimpi.
Di tempat lain, Dimas yang sudah mulai menguasai pekerjaannya disibukkan dengan berbagai tumpuk kertas yang harus di foto copy.
" Dim, kenapa kamu kuliah sambil kerja? Bukannya yang kuliah di kampusmu itu orang kaya semua?" tanya Seto teman kerja Dimas.
Seto juga mahasiswa tapi bukan di kampus tempat Dimas kuliah. Melainkan di kampus pemerintah yang banyak beasiswa dan tentu saja banyak keringanan. Karena Seto bukan berasal dari keluarga yang tergolong mampu. Bahkan bisa dibilang dari keluarga pas pasan. Jadi jika dia ingin kuliah ya harus berusaha sendiri tanpa bantuan orang tua.
Dimas menoleh ke arah Seto yang juga sibuk dengan bagiannya. Mereka memang ounyatugas masing masing. Dimas di bagian foto copy sedangkan Seto di bagian membendel.
" Ah tidak semuanya orang kaya, buktinya aku bisa masuk dengan beasiswa" ucap Dimas dengan kerendahan hatinya.
" Masak sih? Soalnya selama aku bekerja disini, ku lihat semuanya bermobil, kalo ada yang pakek motor pun motornya yang luar biasa mahalnya" Seto masih menerawang bayangannya yang biasa dia lihat.
" Buktinya aku pakek motor butut kak, ya bisa masuk kampus itu, yang penting niatnya ka" jawab Dimas sambil mengerjakan perkejaannya.
" Bener juga sih, kamu sudah membuktikannya" jawab Seto. Akhirnya mereka melanjutkan perkerjaan dengan diselingi candaan dan sekedar cerita cerita berbagi pengalaman hidup.
" Eh cowok butut ini beneran butut ya ternyata, kirain cuma motornya aja yang butut ternyata orangnya juga" Seseorang datang ke konter mereka dengan beberapa temannya di belakangnya.
__ADS_1
Dimas menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Sedang Seto segera berdiri dari tempatnya dan menghampiri orang itu. Dengan wajah ramah Seto memluai aksinya sebagai pegawai yang baik.
" Selamat sore kak, ada yang bisa dibantu?" ucap Seto.
" Sotoo , kamu punya teman baru yang sama bututnya sama kamu. Bagus kamu ada temen sekarang Soto." ucap orang itu dengan tawa mengejek.
Seto merasa bingung dengan apa yang dikatakan orang itu. Ya Seto kenal dengan orang di depannya kini. Namanya Ilman, seorang cowok ganteng dengan segala pesonanya sebagai ketua geng gabut. Dengan nama Ilman yang artinya ilmu, justru sebaliknya dengan Ilman. Dia cowok yang susah sekali menyerap Ilmu. Dia hanya mengandalkan kekuasaan orang tuanya untuk bisa kuliaj di kampus itu dan tentunya yang membuat dia merasa sangat sombong.
" Sotoo seperti biasa, ini tugasku dikumpulkan lusa, dan seperti biasa juga buatkan untuk kami berlima" ucap Ilman sambil memberikan selembar kertas pada Seto.
Seto mengagguk mengiyakan. Berbeda dengan Dimas menatap aneh pada Ilman dan teman tannya lalu menatap Seto bergantian. Ilman berlalu pergi setelah dia menyerahkan tugasnya.
" Apa maksudnya dengan tugasnya yang diberikan padamu kak?" tanya Dimas pada Seto.
" Ah itu, aku mempunyai kerjaan tambahan Dim, yaitu mengerjakan tugas tugas mereka, lumayanlah buat tambahan." terang Seto.
Hari sudah berganti malam dan sudah waktunya Dimas dan Seto berkemas untuk pulang. Dimas mengambil motornya yang diparkir di depan konternya. Namun motor Dimas sedikit kempes. Dia melihat bengkel motor pak Bahdim masih buka. Dia segera menuntun motornya ke bengkel pak Bahdim.
" Malam pak," Sapa Dimas.
" Malan den, eh aden ganteng, mau pulang den?" tanya pak Bahdim ramah.
" Iya pak, boleh minta angin sedikit pak, sepertinya satria sedikit kempes." pintanya dengan ramah pada pak Bahdim.
" Walah, silahkan den" pah Bahdim berjongkok untuk memberi agin pada ban motor Dimas. Dimas mengedarkan pandangannya pada bengkel pak Bahdim dan menemukan motor yang ia temui tadi pagi yang berakhir berantakan.
" Sudah den" ucap pak Bahdim membuyarkan pandangannya.
" Ah terimaksih banyak pak," ucapnya ramah sambil memberikan uang pada oak Bahdim. Dan pak Bahdim menerimanya dengan sukarela.
__ADS_1
" Pak boleh tanya, motor yang di ujung itu, rusaknya parah ya pak?" tanyanya oada pak Bahdim.
Pak Bahdim mengikuti arah tangan Dimas yang menunjuk oada sebuah motor butut yang begitu berantakan. Sekejap pak Bahdim menatap Dimas sambil tersenyum.
" Ouh itu lumayan mas, tapi ya tidak parah banget, tapi benerinnya lumayan lama begitu" Jelas pak Bahdim sambil tersenyum.
" Ouh begitu ya pak, " Dimas mengangguk mengerti.
" Punya temen aden?" tanya pak Bahdim penasaran. Tadi siang si eneng yang tanya, sekarang si aden yang tanya.
" Dia bukan teman saya pak, ya sudah pak, saya pamit dulu" pamit Dimas untuk segera pergi dari tempat itu.
" Ya sudah aden hati hati." jawab pak Bahdim.
" Tadi siang jawabnya juga bukan temennya, tapi saling nanya, aneh kalau gak kenal kok tanya tanya" gumam pak Bahdim dalam hatinya.
Dimas melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Malam mulai larut, jalanan mulai sepi hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dijalanan. Dimas tiba tiba memelankan motornya karena melihat seseorang yang tidak asing baginya.
" Cewek itu, malam malam mau kemana? " gumamnya. Kemudian dihentikannya motor tepat di depan toko yang buka 24 jam. Dia masuk dan keluar kembali dengan membawa kresek berisi beberapa makanan untuk mengisi perutnya malam ini.
Mata Dimas masih tidak luput dengan pandangannya pada gadis yang berjalan sendirian seperti sedang mencari sesuatu. Dimas terus mengawasinya sampai akhirnya gadis itu kembali dijalan yang tadi dilewati. Dimas mengikutinya dari jauh. Sepertnya Dimas sudah mulai menjadi penguntit sekarang.
" Kenapa dia masuk gang ini?" gumam Dimas lagi yang melihat gadis itu masuk dalam gang yang sama denga tempat kostnya.
Beberapa saat kemudian gadis itu masuk ke dalam sebuar rumah kost putri. Dan Dimas menghentikan motornya kembali lalu mengamati tulisan rumah kost putri itu.
" Dia kost disini?" Wajah Dimas keheranan. Bahkan saat ini Dimas merasa jawaban yang diberikan pada Seto soal kenaoa dia bekerja sedangkan kebanyakan dari mahasiswa di kampusnya adalah orang kaya adalah benar. Karena sebenarnya dia juga orang kaya. Tapi kenapa gadis itu malah kost disini yang kostnya terkenal dengan harga yang murah dan kurang elit bagi para mahasiswa di kamousnya.
" Apa dia benar benar orang biasa, atau dia juga sepertiku yang terkena hukuman?" gumamnya lagi yang kali ini penuh dengan rasa penasaran.
__ADS_1