
Inka
Siang ini, dimana aku memberanikan diri menyapa seorang laki laki terlebih dahulu ya paling pantang dilakukan oleh seorang Inka. Aku termasuk orang yang cuek dan tidak suka cari perhatian pada laki laki. Namun kali ini rasanya berbeda, entah kenapa aku ingin sekali berteman dengannya dan meminta maaf atas kejadian kemaren. Dia berbeda dengan lainnya. Aku menganggap dia dan aku adalah orang mempunyai kesamaan. Jadi ketika kita berteman pasti asik.
Dan siang ini dengan dinginny dia menerima permintaan pertemnanku. Sungguh senangnya hatiku karena dia teman pertamaku di kampus ini.
" Kamu mau kemana?" Aku mengikutinya berjalan menuju parkiran kampus.
" Kerja" jawabnya masih singkat sesingkat singkatnya. Entah kenapa laki laki ini irit banget bicara. Saraiwan mungkin ya. Pikirku.
" Boleh ikut?" tanyaku dengan wajah memohon.
" Ehm" jawabna sambil mengangguk sekali.
Aku terus berjalan mengikutinya. Hingga aku dan dia sampai di tempat parkir.
" Motormu sudah selesai diperbaiki?" tanyanya padaku saat dia melihat motorku yang terparkir di dekatnya.
" Iya Dim... akhirnya dia bisa menemaniku jalan jalan lagi" jawabku berbinar melihat motorku sendiri. Uh sepertinya setiap hari aku semakin jatuh cinta pada motor kesayanganku.
" Syukurlah kalau begitu" jawabnya agak panjang sedikit. Aku hanya tersenyum kecut saja mendengar jawabannya.
Kami pun sudah berada di atas motor kami masing masing. Karena jam kuliah kami telah habis makan kami bersiap keluar kampus. Namun seperti biasa banyak orang yang usil di kampus ini. Dan seperti siang ini. Sebuah mobil mewah berwarna merah lewat di depan kami dan kemudian dia menghentikan mobilnya.
" Wah wah wah... cowok sama cewek butut sedang siap berjalan bersama. Sungguh romantis sekali kelain???" Kata kata itu membuat aku merasa geram tapi aku bukanlah orang yang suka kekerasan. Sikapi saja dengan elegan.
" Memang kita sangat serasi ya Dim, kakak jangan iri gitu dong" jawabku dengan senyumanku termanis. Dan kulihat raut wajah Dimas pun berubah aneh. Sepertinya dia terkejut dengan ucapanku yang sedikit ngawur.
" Cuihh siapa juga yang iri dengan pasangan butut seperti kalian, heran saya kenapa orang orang butut seperti kalian bisa masuk kampus elit seperti ini, " ucapnya sambil tertawa kecut.
Aku masih tersenyum geli, betapa sombongnya orang orang disini sampai segitunya memandang kami. Lalu ku dengar Dimas bersuara.
__ADS_1
" Kami bisa masuk disini karena kemampuan kami sehingga kami bisa mendapatkan beasiswa, jadi kami tidak perlu kaya untuk bisa masuk kampus elit ini" jawabnya dengan dingin.
Setelah itu, belum laki laki kaya sombong itu menjawab Dimas sudah melajukan motornya. Begitupun aku segera menyusul motor Dimas dangan motorku sendiri. Aku melirik sedikit ke aras laki laki sombong itu dan kulihat dia mengumpat tapi tak terdengar olehku. Aku tersenyum puas.
Aithor
" Sialan, berani mereka sama kita bos" ucap seorang pria tampan pada ketua gengnya.
Mereka adalah geng pria tampan di kampus ini. Orang tua mereka yang di kenal sebagai orang yang paling berpengaruh pada kampus ini membuat mereka semena mena dan merasa paling hebat. Memang hampir semua mahasiswa di kampus ini menyanjung mereka. Apalagi para mahasiswinya yang begitu mendewakan mereka karena ketampanan mereka. Tapi sungguh ketampanan mereka berbanding terbalik dengan kemampuan otak mereka yamg pas pasan.
Berbeda dengan Inka dan Dimas yang benar benar dengan kamampuan otaknya mereka kuliah. Walaupun mereka tidak dianggap oleh teman teman kebanyakan tapi masih ada beberapa mahasiswa yang melihat mereka dari kemampuannya. Maksudnya disini mereka memanfaatkan Dimas dan Inka sebagai penolong akademik mereka.
" Cewek itu benar benar menarik bos, menarik untuk diberi pelajaran" kata salah satu geng tampan itu.
" Benar sekali, kira kira apa ya yang bisa membuat cewek itu terpuruk karena sudah berani padaku." jawab si bos.
" Bagaimana dengan si cowok butut itu bos?"
" semua menarik untuk kita beri pelajaran" jawab si bos sambil tersenyum licik. Kemudian mobil mereka melaju keluar kampus.
" Ini cowok sama cewek emang jodoh deh ya, bisa gitu sama sama penggemar barang antik kayak begini" gumama Seto dengan sangat lirih.
" Seto, kenalakan ini teman, Inka ," Dimas mengenalkan Inka pada Seto dengan singkat padat dan jelas lalu segera mengambil beberapa kertas yang sudah siap di fotocopy.
Inka masih terheran heran dengan sikap Dimas. Sebegitu cueknya sampai dia meninggalaknnya begitu saja. Bahkan mengenalkan pada temannya saja sambil jalan.
" Hai aku Seto, teman kerja Dimas" Seto mengulurkan tangannya untuk menyapa Inka.
Dengan senyuman khasnya yang sangat cantik dia menyalami Seto. " Aku Inka kak, senang berkenalan denganmu, semoga kita bisa menjadi teman" ucap Inka panjang lebar.ang sejatinya dia tergolong cewek yang cerewet dan itu didapat dari maminya.
Seto mengangguk dengan tersenyum ramah. Dia pun melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
" Kaka Seto, temanmu itu memang irit bicara seperti itu?" tanya Inka penasaran.
Seto yang mendapat pertanyaan aneh itu pun memandang Dimas sekilah lalu tertawa dengan kerasnya.
" Lah kenapa malah tertawa kak?" tanya Inka heran pada Seto kenapa bukannya menjawab pertanyaannya malah jadi ketawa begitu.
" Memangnya kamu baru kenal sama dia?" tanya Seto dengan menghentikan tawanya meski belum puas.
Inka menggeleng " Aku kenal barusan aja kak" sambil tersenyum menjawab pertanyaan Seto.
Seto menepuk jidatnya." Astaga Inka, kenapa kamu mau berteman dengan manusia es itu hahaha"
" hah?" Inka jadi tambah bingung.
" Dia itu emang begitu, irit segala galanya. Ramah dan senyumnya hanya untuk para pelanggan. Aku saja yang setiap hari bersama tidak pernah dia senyum padaku. datang kerja dan diam, itulah dia" Inka mengangguk angguk mendengar penjelasan Seto.
" Menarik" ucap Inka tanpa sadar.
Sore menjelang dan kerjaan Dimas semakin menumpuk. Sepertnya malam ini dia harus lembur lagi karena besok sudah week end dan hari minggu dia harus libur. Dia tidak maulbur di hari minggu. Begitu juga dengan seto dia juga ingin punya hari libur. Inka juga sudah pulang ke kostannya sejak tadi karena sudah mulai bosan dengan teman barunya itu yang mengacuhkannya. Dia hanya bercanda dan berbincang dengan Seto.
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dimas baru saja melajukan motornya untuk pulang. Dan seperti biasa dia berhenti di mini mart yang dekat dengan tempat kostnya. Dan tak sengaja bertemu dengan teman barunya itu. Dimas melihatjam tanganya dan keheranan kenapa gadis ini bisa keluar malam malam.
" Inka" sapa Dimas.
" Hai Dim, baru pulang?"
" Malam malam begini, cewek keluar rumah?"
Inka mencebik," memangnya kenapa?"
" Aneh, seperti wanita malam"
__ADS_1
" Hahahaha, kamu suka benar sih Dim, tuh om om ku udah nunggu di luar" Inka sambil menunjuk kearan laki laki paruh baya yang sedang duduk di motor gede.
Dahi Dimas mengernyit tak percaya dengan apa yang di katakan Inka. Tapi belum semoat Dimas meminta penjelasan Inka sudah menghilang tanpa pamit.