MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH

MOTOR JADUL PEMBAWA JODOH
Dia itu seperti hantu


__ADS_3

Pagi yang cerah, pagi yang membuat dunia yang semula sunyi menjadi gaduh dengan berbagai suara suara cempreng emak emak yang mengomel pada anak anaknya. Suara gunjingan para emak emak di warung yang mengalahkan lambe ndower. Serta suara nyanyian yang merdu di kamar mandi.


Ya suasana ini begitu menghangat ketika matahari juga semakin naik dan mulai membulat. Kampung ini sering di sebut kampung kontrak. Kenapa? Karena hampir semua rumah di kampung ini di kontrakkan. Jadi di sini berbagai macam suku bangsa benar benar berbaur dan bersatu.


Pagi ini seorang gadis yang sedang asik melalukan rekamannya di kamar mandi seketika terganggu oleh teman sekostannya. Suara yang luar biasa kerasnya benar benar membuat telinga seperti mendengung.


" Inkaaaaaa" Gadis berlogat madura itu memanggil Inka dengan suara keras.


" Astaga... anak itu apa punya spiker di mulutnya, keras sekali suaranya" gumam Inka tapi belum menjawab panggilan temannya itu.


" Inkaaaa... cepetan, in sudah hampir telat, katanya kamu mau nebeng, aku ada jam pagi" suaranya masih keras memekakkan telinga.


Inka yang dipanggil tidak bersuara justru melanjutkan nyanyiannya yang masih tertunda.


" Ah, sudah tak tinggal kamu ya." teman Inka yang bernama siti itu pun pergi terburu buru karena ada jam pagi dan hampir telat.


Inka keluar kamar dengan tanpa beban dan dosa. Merapikan kamarnya yang seperti kapal pecah dan kemudian bersiap. Karena dia belum begitu lapar jadi dia berniat untuk sarapan di kantin kampus saja. Inka turun dari lantai kamarnya karena kamar Inka berada di lantai dua.


Setelah tiba di lantai dasar dia celingak celinguk mencari seseorang. Inka mencari Siti dan tidak menemukannya.


" Nyari siapa ka?" tanya seorang gadis cantik yang bodinya aduhai putih mulus berambut panjang. Pantas sekali dia jadi model dan namanya Wulan. Dia satu tingkat diatas Inka. Dan dia adalah peimadona di kostan tempat tinggal Inka. Dan lagi gosipnya pemilik kostan ini juga mwngincarnya.


" Aku nyari Siti kak, apa kakak melihatnya?" tanya Inka yang masih celingak celinguk.


" Siti yang dari Madura itu?" dan disambut anggukan oleh Inka.


" Bukannya dia sudah berangkat beberapa menit yang lalu, dan dia terlihat seperti terburu buru" jelas Wulan dengan lembut.

__ADS_1


" Ah aku lupa, dia bilang ada kelas pagi." sambil menepuk jidatnya sendiri.


" Memangnya ada apa kamu mencari Siti?" tanya Wulan penasaran. Pasalanya mereka beda kampus meski kamous mereka berdekatan dan lagi mereka berbeda fakultas juga.


" Mau numpang kakak, motorku rusak dan masih di bengkel untuk beberapa hari kedepan" ucapnya sedih mengingat motor kesayangannya.


" Ish... mau pakek motorku? aku libur hari ini" Wulan menawarkan motornya.


Inka menggeleng cepat. Dia tidak mau membawa barang yang bukan miliknya.


" Tidak usah kak, biar aku naik angkot saja." Inka pergi meninggalkan Wulan yang masih berdiri dan melihat kepergiannya.


Di kampus. Terlihat sebuah motor jadul terpakir sendirian tak berteman. Seperti halnya motornya yang sendirian, pemiliknya pun juga sendirian. Dia Dimas yang sebenarnya merupakan pribadi yang riang menyenangkan dan gampang bergaul tapi kini dia harus menjadi pribadi yang dingin dan pendiam. Itu karena dia tidak suka dengan pribadi orang orang di kampus ini yang hanya memandang kekayaan.


Pagi ini Dimas sudah ada di kampus karena ada jam kuliah pagi dan sepertinya dia full jam kuliah hari ini. Sungguh hari yang sibuk bagi Dimas.


" Beberapa hari lagi kamu tidak akan sendirian motor ganteng" gumam Inka masih menatap motor itu sambil tersenyum.


Inka kembali berjalan menuju kelasnya. Dan sampai jam kelas selesai Inka merasa cacing diperutnya sudah mulai memberontak ingin asupan. Maka Inka segera bergegas menuju kantin. Dan sampai di kantin Inka diam terpaku.


" Ini kanti kenapa hari ini ramai sekali?" ucap Inka heran.


Terdiam lama akhirnya Inka memutuskan untuk tetap ikut memenuhi kantin karena waktu istirahatnya menuju jam kedua tidak banyak. Setelah mendapatkan makanan yang dia inginkan yaitu nasi campur.


Inka celingak celinguk mencari tempat duduk yang kosong. Dan hampir semua sudah terisi. Akhirnya Inka berjalan menuju sebuah kursi yang hanya satu satunya kosong di meja paling pojok.


" Maaf kak, apakah saya boleh duduk disini?" tanya Inka pada beberapa orang yang duduk di meja yang sama.

__ADS_1


Mereka menoleh ke arah Inka. Memperhatikan Inka dari atas ke bawah. Ya memang tampilan Inka jauh dari kata fasioneble seperti wanita kebanyakan di kampus ini.


" Boleh silahkan" jawab seseorang yang duduk dengan sinisnya.


Inka tersenyum senang dan dia segera duduk dengan antusias. Benar saja perutnya sudah lapas sekali. Dan tiba tiba saat enak enaknya makan ada sesuatu di luar dugaannya.


byuurrr...


" Ahhh..." suara Inka membuat banyak mata beralih memandangnya.


" Maaf gak semgaja" teman satu mejanya pergi begitu saja tanpa dosa.


" Huft..." Inka menahan marah. Bagaimana tidak marah ketika makanannya yang sedang dia makan tiba tiba di sirah dengan air minumnya sendiri oleh teman semejanya tadi. Apalagi perut Inka sangat sangat lapar.


Dan yang lebih membuat Inka marah lagi adalah semua orang yang berada di kantin seketika tertawa dengan kompaknya. Tapi Inka masih punya stok sabar hari ini karena Inka hanya ingin menghemat tenaganya yang gagal ia isi.


Inka kemudian pergi meninggalkan kantin. Dia duduk di bangku taman kampus dibawah pohon yang cukup rindang. Terik matahari hampir tidak bisa menembus pohon itu. Inka memegangi perutnya menahan lapar. Bukannya dia tidak punya uang untuk beli makanan lagi. Tapi dia muak berada di kantin.


Tiba tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya dan memberikan sebungkus roti coklat dan sebotol air.


" Seenggaknya masih bisa bertahan sampai jam pulang. Di sini orang seperti kita itu harus pinter pinter jaga diri, muka tebel dan mental baja." ucap pria itu sambil menyodorkan makanan pada Inka.


Inka yang masih terkejut dia seakan menjadi patung seketika. Diam tanpa kata. Dari mana asal pria ini tiba tiba datang. Kata katanya menyemangati tapi nadanya dingin sekali batin Inka.


Setelah Inka sadar, Inka menatap roti dan air yang ada di tangannya dengan berbinar karena memang sudah sangat lapar. Dan ketika dia kembali ingin mengucapkan terimakasih pria itu sudah menghilang saja.


" Apa dia itu hantu?" Gumam Inka heran. Tapi Inka tidak perduli, yang penting sekarang dia sudah mempunyai makanan untuk menahan laparnya.

__ADS_1


Hari sudah hampir gelap. Jam kuliah Inka sebenarnya sudah selesai dari tadi tapi dia harus mampir ke perpustakaan dulu untuk mencari materi tugasnya. Hingga tak terasa hari sudah gelap. Sore hampir mendekati malam, Inka berjalan keluar kampus. Dia hari ini ingin mampir sebentar menjenguk kesayanganya yang masih sakit itu.


__ADS_2