Munafik

Munafik
Delusif


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...D e l u s i f...


...____________________...


...__________...


..._____...


..._...


"–Am! LIAM?!"


"Hah?!" Aku tersentak, kaget ketika mendengar Fian berteriak tepat disamping daun telinga. Cepat-cepat aku menoleh, kearah sepupu menyebalkan yang selalu menghabiskan waktu di apartemenku.


"Apa?!" ku lontarkan balik sebuah pertanyaan dengan nada yang kasar, jujur aku sedikit terganggu karena berkat si binal ini lamunan hebat dalam otak ku menjadi buyar.


Selain diriku ternyata Fian juga sama-sama memperlihatkan wajah yang kesal. Dia berkacak pinggang, melontarkan tatapan tajam.


Ada apa sih sebenarnya?! Dewi batinku bertanya-tanya. Menunggu gadis tersebut untuk bicara.


"Apa yang kau lamunkan Liam?" ucapnya berkalimat tanya. Menarik kursi meja makan didepan lalu duduk disana; berseberangan dengan diriku yang menyantap—? Sarapan pagi diakhir pekan ini.


Sret—!


"Tidak ada..." aku menyahut seperlunya sambil membuang pandangan. Fian menopang dagu dengan kedua tangan diatas meja, masih melayangkan tatapan tajam penuh dengan aura intimidasi.


Sial.


"Kau tahu, beberapa waktu terakhir ini aku melihat mu seperti tengah melamunkan sesuatu Liam. Raga-mu memang disini tapi entah kemana perginya jiwa yang didalam sana." ungkap Fian sambil menunjuk diriku dengan kuku panjang juga berwarna miliknya.


Spontan aku menunduk, berlagak sok sibuk dengan menyantap sarapan pagi ku yang hanya tersisa piring kosong.


"Ada hal yang mengganggu bukan?" Fian kembali bertanya, tak lelah bermonolog—menunggui diriku untuk menjawab barang secuil.


Semakin aku bungkam dan diam semakin aneh isi dalam pikiran. Ingatan serta bayangan sosok cantik Rea melintas begitu cepat, membuat kedua pipi ku menjadi memerah juga terasa panas.


Ku akui, beberapa waktu belakangan ini otak bodoh ku memikirkan banyak hal tentang Rea. Mulai dari betapa cantiknya gadis itu hingga sampai kebagian terkecil yaitu ukuran dari sepatu sekolah yang ia kenakan. Pernyataan berubah menjadi pertanyaan. Aku berpikir ingin tahu segalanya tentang dia.


Rea, kau tahu—jantungku selalu berdetak 5 kali lebih cepat dengan suara yang paling keras ketika aku memikirkan mu.


Seakan dia menunjukan kalau dirinya tengah memuja mu Rea.


Deg~


Deg?! DEG!

__ADS_1


"LIAM?! KAU MELAMUN LAGI!"


...***...


BUGH!


Lagi-lagi aku menghantam keras permukaan tanah, tekstur kasar dari batu kerikil menggeser sadis wajah ku—menimbulkan lecet baru.


Sial!


Satu-satunya hal yang bisa aku banggakan cuma wajah; dan bajingan gila bernama Tian ini selalu mengincar wajahku untuk dihantam.


Sudah berapa kali dia memukulku? Sudah berapa lama aku dipukuli?


Jawabannya—


Entahlah~


Mungkin karena aku terlalu terpana dengan sosok Rea yang berdiri tak jauh dari sana, menonton bersama gadis-gadis nakal yang sedang bersenda gurau dengan antek-antek Tian.


"Hah?"


Kenapa gadis itu bisa berada disini?


Bugh!


"Argh?!"


Sial! Dia menendang perutku.


Cukup puas dengan apa yang dia lakukan; maksudku Tian—lelaki itu memilih menjauhi diriku yang terlihat seperti akan membusuk dipojokkan sana. Berbaur dengan teman-temannya sambil meminta sebilah rokok untuk dihisap.


Ku gigit bibir bagian bawah dengan kencang, bukan karena ingin menahan rasa sakit diarea perut tapi mungkin karena aku sedikit merasa cemburu. Kenapa tidak? Saat ini Tian berada cukup dekat dengan Rea, mereka menghirup udara dan melepaskan napas disatu area yang sama.


Itu membuatku jujur—sedikit iri.


Setelah pertemuan terakhir kami, aku bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Rea. Gadis itu terlalu sulit jika ingin didekati; dilain sisi aku sendiri tidak terlalu percaya akan diri.


Menyedihkan bukan?


Aku hanya bisa cemburu dengan orang-orang yang selalu ada disekeliling gadis itu. Bagaimana bisa semua orang dekat dengan Rea tanpa hambatan sedangkan aku tidak!


Hah~


Jawabannya sederhana.


Itu karena aku pecundang.


Argh! Lupakan.


Ada satu hal yang sedikit mengganggu pikiranku saat ini. Ku pikir Rea berbeda, aku tidak pernah menyangka gadis itu akan bergaul dengan bajingan sejenis Tian.


Padahal dia pernah berkata—!


Degh!

__ADS_1


Tunggu?


Kembali ku tatap baik-baik sosok Rea. Jangan berpikir negatif tentang gadis itu Liam, mungkin ada alasan tertentu yang membuatnya harus berada disini serta berbaur dengan para bajingan nakal itu.


Dan—


Benar saja.


Ekspresi Rea tampak tersiksa, walau sangat tipis tapi aku dapat melihatnya. Tanpa sadar aku mendengus senang, dia berada disini karena seseorang yang mengajaknya secara paksa bukan karena keinginan hatinya.


Siapa bajingan gila yang mengajak malaikat berkumpul diantara para setan?


"Aku akan membunuhnya..."


...***...


"Hiks... hiks... hiks!" suara tangisan memenuhi gendang telingaku. Dengan wajah risih, ku layangkan tatapan datar kearah Fian.


"Sudahlah!" pintaku kesal. Mau berapa lama lagi gadis itu menangis? Ini hanya patah tulang dan beberapa luka besar serta lebam; sama seperti sebelumnya.


Dia membalas tatapanku dengan sorot mata tajam, hidung gadis itu memerah.


"Kau pikir ini lucu Liam! Kau pulang dengan langkah tertatih sambil meringis kesakitan, meminta ku untuk mengantarmu ke-rumah sakit lalu ketika aku bertanya 'ada apa?' kau malah pingsan?!" ucapnya, lantang sambik kembali melanjutkan tangisan.


Sial, beberapa orang di rumah sakit mulai melihat kami. Dengan sebelah tangan yang masih berfungsi, ku tarik Fian agar menjauh dari sana. Kalau ingin bicara lebih baik pilih kearea sepi atau langsung ke-rumah saja.


"Aku khawatir Liam, ku pikir saat itu kau akan mati. Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak!" dia masih bermonolog lantang.


"Maaf," hanya itu yang bisa ku ucapkan untuk sepupu ku. Fian.


Aku tidak pernah berpikir akan jadi seperti ini. Para bajingan itulah yang memulainya; antek Tian rupanya mereka mendengar saat aku menggerutu soal membunuh apalah itu dan kemudian menyalahartikan-nya seenak jidat.


Berkat hal tersebut Tian menjadi murka, alhasil aku kembali dipukuli sampai satu lenganku patah. Rasanya memang sakit, tapi yang lebih sakit lagi adalah ketika aku memohon ampun dengan wajah paling menyedihkan tepat disaat Rea melihat diriku.


Dia bahkan melayangkan tatapan penuh rasa iba.


Padaku.


Pada mu, Liam.


Huh!


Mengingat kembali hanya akan membuatku kesal.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2