
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...A w a l...
...____________________...
...___________...
..._____...
..._...
"Aku akan menghubungi ayahku, lebih baik kau pindah dari sekolah itu!"
Lagi?!
Fian—argh! Sampai kapan dia ingin berceloteh ria soal itu? Padahal aku sudah menjelaskan semuanya dari tadi. Ya meski bagi dia itu tidak terdengar berguna, disini aku tetaplah korban; menurutnya.
Hah~
"Lupakan saja Fian..." pintaku, dari rumah sakit sampai apartemen dia selalu mengulangi dialog yang sama.
Menghubungi paman dan bla bla bla supaya aku bisa dipindahkan dari sekolah itu—seperti kaset rusak saja.
"Lupakan? Yang benar saja Liam! Bagaimana bisa aku mengabaikan ini semua, aku tak ingin suatu saat nanti ada yang menghubungiku sambil berkata 'saudara Liam telah meninggal!' Arghh! Aku tidak ingin LIAM!"
Aku mendengus, duduk disofa sembari memperhatikan Fian yang bolak-balik layaknya setrika pakaian. Kapan dia lelah? Batinku mencoba abai soal ucapan-ucapan bernada sarkas yang dia utarakan untukku; kadang juga Fian merutuki perilaku yang Tian lakukan hingga membuatku bisa berakhir seperti ini.
"Tidak bisa dibiarkan!" Dia mengamuk lagi, melihat tingkah konyol yang sepupuku lakukan tersebut membuatku terkekeh. Aku tahu betul betapa khawatirnya Fian denganku, tapi ku rasa aku masih bisa menahan ini semua.
Ditambah lagi adanya sosok Rea disana bisa dikatakan menjadi penyemangat baru untukku. Hanya sekadar mengingat dan melihat dari kejauhan sudah berhasil membuat semua rasa sakit dari pukulan bajingan bernama Tian itu lenyap seketika.
Ya setidaknya ini yang ku pikirkan, sebelum aku melihat Fian benar-benar mengambil ponsel miliknya lalu mencoba menghubungi paman yang tidak lain adalah ayah gadis itu sendiri.
Tunggu!
"Fian!" Aku berdiri dengan cepat, merampas benda tipis yang berada didalam genggaman gadis itu.
Tut~
Bib!
Suara panggilan diterima. Jika saja tangan satunya ini berfungsi, aku pasti akan menepuk jidat ku—heran atas tindakan yang sepupuku itu ingin lakukan.
"Ada apa Fie?" suara paman terdengar beberapa detik setelahnya.
Ku lihat Fian mencoba mengambil kembali benda ini dari tanganku tapi karena perbedaan tinggi membuat Fian tak dapat menjangkaunya.
__ADS_1
Aku juga sengaja mengangkat benda tersebut ke-langit-langit; jaga-jaga jikalau dia ingin melompat.
Tak kehabisan akal, Fian membuka lebar bibirnya bersiap untuk berteriak memberitahukan banyak hal tentang aku alias mengadu pada paman.
Sial.
Karena tingkah gila sepupuku ini, ditambah aku tidak ingin merepotkan paman lagi. Alhasil ketika Fian mencoba berteriak—aku langsung melepaskan ponsel tersebut lalu mendekap mulutnya dengan satu tanganku yang masih berfungsi.
Brak!
Terdengar benda jatuh, disusul dengan suara retakan. Ash!
Ku tilik sebentar dan benar saja, benda bernama handphone tersebut telah rusak. Layarnya retak, dari semula menyala kini berubah menjadi hitam. Sial. Fian pasti marah.
Terlena akan pikiran 'bagaimana caranya aku menenangkan amarah sepupuku nanti' aku malah dikejutkan oleh sesuatu. Rasanya sakit.
"Argh!" ringisku, menjauhkan tangan dari mulut Fian sambil melihatnya. Ada bekas gigitan disana. Belum sempat melayangkan kalimat protes gadis itu sudah lebih dulu menyela diriku.
"Sebenarnya apa masalahnya Liam?! Kenapa kau masih ingin bertahan disana? Jangan bilang kalau kau ini adalah seorang masokhis!" tanya Fian lirih sembari menitikkan air mata, aku tahu wajah itu. Dia lelah, sangat-sangat lelah dan muak karena setiap saat selalu mengkhawatirkan diriku yang lemah ini.
Tanpa sadar aku merengkuh tubuhnya, meredam tangisan sepupuku dalam pelukan—mengenyampingkan tekanan yang akan diterima oleh tengan berlapis gips milikku. Dia bersandar, menangis sejadinya; mengungkapkan betapa dia mengkhawatirkan segala hal tentang diriku.
"Sejujurnya..." tiba-tiba saja entah karena apa mulut ini ingin bicara. Pijakan kami runtuh, merosot jatuh diatas lantai dengan posisi yang sama.
Isak tangis Fian perlahan mereda, walau gadis itu masih bungkam— aku tahu dia pasti tengah menunggu diriku untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai.
"Aku tengah jatuh cinta, Fie~"
Deg!
...***...
Tapi ternyata tidak.
Dia justru terlihat membeku dalam beberapa waktu lalu meminta ku melepaskan pelukan; kemudian berjalan ke dapur menyibukkan diri dengan memasak sesuatu.
"Fian?" panggilku untuk kesekian kalinya. Dia masih saja mengabaikan hal tersebut, acuh terhadapku.
Hah~
Satu hal yang bisa ku lakukan hanya menunggu Fian selesai, menata semua makanan diatas meja lalu ikut duduk tepat diseberang sana.
Padahal aku sudah dengan berani mengungkapkan perasaan konyol yang sedang aku rasakan saat ini, tapi reaksi gadis itu diluar dugaan. Fian seakan-akan tengah—jangan bilang?
"Kau cemburu?"
Plak!
"Ish!"
Sakit!
"Bicara apa kau?!" Fian mendengus setelah melempar keningku dengan sebuah sendok. Ini berdenyut, sial. Untung bukan garpu.
"Jadi itu alasan mu; melamun setiap saat... dan biarku tebak. Seandainya kau tidak jatuh cinta kau mungkin akan mengiyakan usulanku soal pindah sekolah itu, ya 'kan?"
__ADS_1
Benar sekali sepupuku!
Meski tidak mungkin aku mengiyakannya dengan suara lantang. Itu memalukan.
Pasti wajahku akan memerah lagi.
"Huh!" terdengar Fian mengembuskan napas kasar, keningnya berkerut. Tak habis pikir. Menantap diriku dengan tatapan yang tajam.
Padahal sesederhana itu tapi kau memilih—argh! Kira-kira begitu yang ingin dia ungkapkan melalui tatapan. Padahal tinggal bicara, mungkin kejadian tidak akan berakhir seperti ini.
Sudah ku bilang, aku malu bukan?! Jangan menghardik ku seperti itu!
Dengan ragu aku mengangguk.
"Ku rasa itu bagus." ucapnya tiba-tiba, membuat sebelah alisku terangkat. Ada apa dengan respon gadis ini? Dia bisa berubah secara drastis dibeberapa detik selanjutnya.
Eh? Tunggu?
Ah! Aku tahu wajah itu.
Dia pasti tengah memikirkan sesuatu didalam otak kecilnya.
"Mau ku ajarkan cara menarik perhatian lawan jenis Liam?"
Benarkan!
Dari tatapan hingga nada bicara terdengar sangat mengejek, ish! Sifat usil milik sepupuku kembali. Ini akan berakhir dengan sangat menyebalkan.
Tapi—
"Baiklah, aku mau." ku rasa tak masalah mendengar beberapa saran dari Fian. Lagi pula, aku sudah membuat sebuah keputusan sebelum mereka mematahkan tanganku.
Akan ku bunuh para setan yang menyeret secara paksa Rea kedalam perkumpulan tersebut.
Berani sekali dia mencoba menodai seorang malaikat.
Rea, tunggu saja—aku akan membebaskan mu sayang.
Ups!
Sial, wajahku memanas. Memanggil Rea dengan sebutan sayang–tidak berlebihan bukan?
Hihi.
...***...
...T b c ...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1