Munafik

Munafik
Tian


__ADS_3

Hidangan utama sedang menanti~


^^^—Point of view Liam; selesai.^^^


..._________________...


...T i a n...


..._________________...


..._________...


...____...


..._...


Suara berisik sirene milik mobil polisi terdengar menggema dari kejauhan. Apa yang terjadi? Liam menghentikan langkah barang sejenak, getar tak biasa dari dalam saku celana lelaki itu membuatnya merogoh cepat benda tersebut.


Sambil bertanya-tanya, 'siapa gerangan yang menghubunginya disaat penting seperti ini?'—jujur Liam benar-benar antusias sekali; berjalan kaki menuju apartemen baru yang dia beli sebagai tempat penyekapan. Berjarak beberapa blok dari apartemen sebenarnya.


Padahal hidangan utama sudah tersaji didalam ruangan khusus, tinggal menunggu kehadiran Liam saja.


Bip!


"Ada apa?" setengah mendengus, lelaki itu menjawab panggilan dari Fian. Tumben sekali gadis tersebut menghubunginya melalui telepon seluler, biasanya Fian lebih senang bertransaksi secara langsung.


"Laim?! Jangan ke apartemen!" serobot Fian langsung, suara gadis ini tampak sedikit aneh. Menyadari hal tersebut, Liam lantas memperhatikan sekitar. Selain sepupunya beberapa orang diarea sini juga terlihat gelisah—seperti ada hal yang ingin mereka lihat.


Tak ambil pusing, Liam berbalik—dia harus mencari tampat aman supaya bisa bicara dengan Fian lebih leluasa.


"Ada sesuatu yang terjadi?" gumam Liam bernada tanya sambil berjalan kearah sebaliknya; menjauhi sumber keributan. Apartemen.


"Ya!" sahut Fian diseberang sana dengan cepat.


"Beberapa anak buah dari ayah ku yang bekerja disekitaran sana mendapat informasi kalau apartemen mu sedang digeledah polisi..."


Sebelah alis Liam terangkat, bibirnya kembali bertanya.


"Bagaimana bisa? Bukannya paman sudah menjamin kalau pergerakan ku tidak akan terendus—termasuk penyuapan terhadap para polisi," tanya Liam, mata lelaki tersebut melirik kearah celah gang antara satu toko ke toko lainnya. Tanpa pikir panjang dia berjalan menuju area sana membaur diantara kegelapan.


"Awalnya memang begitu, tapi sepertinya Rea berhasil menemukan sebuah petunjuk. Dia yang menarik opini publik dan mendesak polisi untuk melakukan penyelidikan!"


Benarkah?


Liam agak terkejut ketika sepupunya itu membawa nama Rea didalam percakapan mereka. Tapi tak heran, karena Liam sendiri sudah menaruh sedikit kemungkinan terhadap gadis tersebut; yang telihat seperti tengah mencoba untuk ikut campur beberapa waktu terakhir ini. Apa lagi saat dia mengetahui teman masa kecilnya ikut menghilang. Meski begitu tetap saja ini mengejutkan, ternyata Rea berhasil menemukan setitik celah didalam kesempurnaan cerita yang telah Liam ciptakan.


"Maka dari itu berhati-hatilah sepupu—"


Liam mengangguk, menghentikan langkahnya kemudian bersandar disamping dinding yang kusam. Celah bibir lelaki tersebut terbuka, untaian kata terdengar—


"Baiklah... Terima kasih informasinya Fie~" sahut Liam sebelum benar-benar memutuskan sambungan telepon seluler.


Bip!


Apa yang akan kau selanjutnya Liam?

__ADS_1


...***...


"—anak-anak remaja sekolah menengah atas yang dikabarkan menghilang akhirnya ditemukan!"


Liam menatap datar layar televisi didepan matanya. Telinga lelaki tersebut mendengarkan dengan baik berita lokal yang sedang hangat diperbincangkan pagi hari ini.


"Hosh~" embusan asap putih muncul dari celah bibir lelaki itu. Liam mendekati asbak rokok; membuang sisa abu pembakaran benda tersebut.


Bla, bla, dan bla—membosankan. Para reporter menjelaskan spesifikasi tempat juga rincian para korban melalui inisial nama.


"Hosh~"


"—para korban penculikan sedang dirawat di rumah sakit terdekat, rata-rata dari mereka mengalami luka fisik yang cukup serius selain itu ada juga yang mengalami gangguan secara mental karena merasa trauma—"


Ha-ha!


Kabar bagus.


Dari keseluruhan informasi yang Liam peroleh hari ini, dia dapat menarik sedikit kesimpulan—bahwa tidak ada satu orangpun yang mengetahui pelaku serta memahami motif sebenarnya dari insiden itu. Liam sendiri juga mendapatkan kabar bagus secara langsung dari paman; ayahnya Fian perihal hal tersebut. Semua jejak mu sudah dimusnahkan.


Jadi 'tenang saja nak, paman akan melindungi mu Liam' begitu kata ayah dari sepupunya. Ini menjelaskan situasi sekarang, bagaimana bisa Liam bersantai ria di apartemen aslinya sambil mendengar hangat berita yang terjadi tadi malam.


Tapi! Kalau boleh jujur, Liam agak sedikit merasa kesal karena acara utama yang sudah dia nanti selama berbulan-bulan berubah menjadi kacau.


Tak bisa menyantap hidangan yang sudah tersaji.


BOOM!


Tidak seperti kata yang terucap, maksud menyantap disini itu adalah—kau tahu? Bukan berarti benar-benar mengonsumsi daging manusia, hanya saja Liam sangat ingin memberi pelajaran 'lebih' kepada sang pembully.


Omong-omong soal itu, sepanjang dia mendengarkan berita yang disajikan oleh channel lokal di televisi Liam sama sekali tidak mendengar tentang kabar remaja laki-laki seumurannya berinisial T. Siapa lagi kalau bukan Tian.


Entah karena apa, seperti ada semacam percikan indah yang menggelitik bagian dalam perut lelaki itu. Liam melepaskan rokok ditangan, menghancurkannya didalam asbak. Tanpa pikir panjang lelaki tersebut langsung berdiri, mengambil telepon genggam yang duduk manis diatas nakas.


Dia perlu menghubungi seseorang.


Tut!


"Halo nak?" sapa sosok itu tepat beberapa detik setelah panggilan diterima. Liam tersenyum; lebih kearah menyeringai. Sambil berjalan kearea kamar dia berkata—


"Paman, bisa bantu aku?"


.


.


.


.


.


Luar biasa, Liam tak pernah berpikir kalau pamannya akan melakukan ini semua dengan cepat. Bahkan saat mendengar Liam meminta bantuan lelaki tua itu sudah bisa menebak apa yang keponakannya ini inginkan.


"Jika kau mencari 'itu'—" ucap dia.

__ADS_1


"Paman sudah mengamankannya."


Benarkah?


"Datangi distrik 1 malam ini, apartemen merah nomor 22 lantai 9—sandi kunci 21307."


Bip!


Dan disinilah Liam berada, tepat didepan pintu apartemen yang didominasi oleh warna merah. Tangannya terangkat, menekan pelan tombol kunci hingga terdengar tanda buka dan—


Krett~


Tanpa pikir panjang Liam melangkah masuk kedalam apartemen itu.


Disusul bunyi blam! Kemudian.


...***...


"Hmmmp! Ehmmp!"


Erangan tak berarti masuk kedalam telinga Liam, baru beberapa langkah dia berjalan—lelaki tersebut sudah disambut dengan pemandangan menyedihkan dari sosok Tian.


Kaki tangan terikat, mulut disumpal lakban serta mata yang ditutup dengan kain hitam. Tak dapat bergerak dan hanya bisa menggeliat diatas kursi saja. Pasti benar-benar keram. Liam berjalan seringan kapas mendekati sosok itu, dia tak ingin Tian tidak mengetahui siapa algojonya hari ini. Dengan hati senang Liam melepaskan penutup mata tersebut yang menghalangi penglihatan si pembully.


Dan tara—!


Wajah menyedihkan tersebut semakin terlihat jelas.


Awalnya Tian perlu waktu untuk beradaptasi, karena cahaya tiba-tiba saja merambat masuk kedalam retina mata. Tapi! Begitu selesai melakukan hal tersebut, dia malah dikejutkan dengan pemandangan wajah orang yang selalu dibully-nya.


"Ei Oecundhrang!" (Si pencundang!)


Liam yakin saat ini Tian sedang menyebutnya begitu.


Bolehkah lelaki tersebut terkekeh? Ini sungguh jenaka, dalam sitausi begini saja bajingan itu masih bisa mengejek sosoknya. Luar biasa.


"Jaga ucapan mu sialan! Atau aku akan benar-benar memotong lidah mu!!"


DEG!


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Story ini dibuat semata-mata untuk hiburan saja, tidak membenarkan atau mewajarkan suatu tindakan. Jadilah pembaca yang bijaksana....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2