Munafik

Munafik
Shock


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...S h o c k...


...____________________...


...__________...


..._____...


..._...


Cekrek!


Ah~


Sial! Aku mulai kecanduan.


...***...


"Berapa banyak lagi kau ingin memotret Rea? Seluruh dinding kamarmu sudah dipenuhi dengan wajahnya?!"


Aku terkekeh, mengabaikan celatukan mulut Fian dan memilih untuk fokus dengan layar laptop yang ada didepanku. Banyak gambar Rea disana, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan semua benda itu tanpa ketahuan?


Jawabannya cukup sederhana, aku meletakan beberapa kamera kecil diarea sekolah yang sengaja ku beli dengan uang tabunganku; kamera itu bertugas mengawasi aktivitas sekitar. Apabila dia menangkap keberadaan sosok Rea dengan sudut pandang yang bagus aku akan mengambilnya lalu mencetaknya menjadi lembaran foto. Dan tara~ aku malah keterusan melakukan hal ini; seperti seorang penguntit.


Sial.


"Dia benar-benar cantik..." gumamku, tanpa sadar seperti orang yang tengah mabuk kepayang. Fian pasti merotasi matanya jenuh, muak mendengar semua monolog tak berarti yang selalu ku sampaikan dalam beberapa waktu terakhir ini.


"Terserah kau saja sepupu—!" sahutnya, benar saja; memilih mendekat kearah ku. Berdiri tepat dibelakang sambil bersandar diatas pundak, gadis tersebut ikut memperhatikan semua gambar yang terpampang jelas dilayar laptopku. Aku tahu Fian juga menganggap Rea itu cantik, terbukti dari tatapan sukanya yang sama seperti ku.


Cukup lama hanyut dalam kegiatan masing-masing, keterdiaman itu tiba-tiba saja dipecah oleh Fian. Tangannya terangkat, menunjuk sesuatu yang berada dilayar laptopku sembari bertanya—


"Siapa dia?" kepada ku. Mengikuti apa yang sepupuku tunjuk; ku lihat ada sesosok penampakan seorang pria dengan lebel bajingan diatas kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Tian.


Benar juga, Fian sendiri tidak pernah mengetahui wajah sebenarnya dari orang yang selama ini membully ku.


"Tian," sahutku datar dengan kalimat yang singkat. Aku merasa tak perlu menjelaskan banyak hal tentang bajingan itu, terlihat dari tatapan Fian aku sudah sangat yakin dia tahu siapa yang ku maksud.


Yups! Bajingan itu.


Ku rasakan aura kebencian memancar dari tatapan mata yang sepupuku lontarkan. Dia menggeram, kesal dan terlihat seperti ingin masuk kedalam layar untuk mencabik-cabik sosok itu.


"Ada hal yang membuatku janggal Liam." ucap sepupu binal ku tiba-tiba. Sedikit ku lirik sosok itu yang sedang menyipitkan kedua matanya.


"Kenapa disemua gambar dia terlihat selalu berdua-an dengan Rea?"


Deg!

__ADS_1


Mendengar penuturan tersebut, dengan cepat aku mengalihkan pandangan. Menantap kembali layar untuk memastikan apa yang sepupuku katakan dan benar saja.


Disetiap sudut, Rea tampak terlihat bersama dengan bajingan itu. Ku gigit pipi bagian dalam, kenapa aku baru menyadari hal tersebut? Padahal aku disini berusaha untuk berubah, tapi kenapa sayang? Kau malah semakin terlihat membaur dengan bajingan itu?!


KENAPA?!


"Aku akan ke sekolah besok."


"Hah?!" Fian membeo, dia jelas bingung dengan pernyataan yang baru saja aku sampaikan.


"Lalu bagaimana dengan latihan mu?" tanya gadis itu.


Ya, ditunda. Selesai.


...***...


Bugh!


"Dimana kau bersembunyi selama ini pengecut?!" Padahal aku baru saja sampai di sekolah, tapi aku malah sudah disambut ramah dengan mereka sama seperti biasanya.


Tersungkur jatuh diatas tanah. Tidak terlalu sakit, kurasa Fian benar—latihan fisik serta membangun stamina memberikan dampak baik untuk tubuhku.


Lima bulan menghilang bukan berarti aku bersembunyi sialan, berkat kalian aku harus menjalankan perawatan mandiri paling cepat selama 2 bulan agar tulang tanganku bisa tersambung lagi. Lalu 3 bulan lainnya aku memilih absen karena alasan tertentu—ya karena latihan fisik sebenarnya; Fian bilang gadis seumuran dia lebih tertarik dengan lelaki yang kuat. Makanya aku berusaha berubah, barang kali Rea akan melihatku. Dan! Aku masih mengawasi pergerakan kalian di sekolah dengan kamera pengawas yang sengaja aku pasang.


Aku sebenarnya berharap komplotan Tian melakukan pembullyan semacam ini dengan seseorang; untuk dijadikan bukti supaya aku bisa mengangkat khasus tersebut ke pihak yang lebih tinggi dari pada sekolah. Percuma melaporkan bajingan seperti mereka karena para guru disini lebih memilih tutup mata dan tak ingin ikut campur—lebih baik aku langsung melaporkan 'sekolahnya' karena telah melakukan tindakan pembiaran. Iya kan?


Citra sekolah memang akan hancur tapi setidaknya hal tersebut bisa menarik perhatian pihak luar untuk melakukan investasi secara mendalam. Begitu rencana balas dendam ku—membunuh mereka secara perlahan dengan menargetkan mental rusak mereka; kejahatan tidak akan mungkin bisa diterima oleh masyarakat. Itu artinya tidak ada tempat bagi mereka untuk hidup dan lebih memilih untuk mati. Trik psychological tapi sayang mereka tidak melakukan hal gila, seperti biasanya mereka lakukan padaku.


Tiga bulan mengawasi terasa sia-sia, aku malah teralihkan dengan rasa puja ku kepada sosok Rea seperti layaknya seorang penguntit. Sial.


Tian menarik kerah bajuku, membawa ku berdiri dari tanah.


Merasa diabaikan bung? Ejek dewi batinku, menampilkan senyuman remeh. Entah karena apa tapi Tian sama sekali tidak terlihat menakutkan dimata ku


Dan aku baru sadar kalau bajingan itu lebih pendek dari ku. Sial. Seharusnya aku mendengarkan Fian lebih sering, soal saran-saran untuk berubah dan lainnya; ternyata berguna.


Padahal baru 3 bulan aku melakukan latihan fisik dengan ketat, tapi rasanya aku sudah bisa menantang Tian untuk beradu tonjok. Aku percaya diri. Terlalu sombongkah? Tidak juga.


"Tian!" suara seseorang terdengar, bajingan itu mendorongku lagi keatas tanah.


Bugh!


Dengan keras.


Tapi mari kesampingkan itu dulu, ada hal yang cukup mengejutkan ku. Kalian tahu? Siapa yang memanggil nama bajingan ini?


Dia tak lain adalah Rea.


Degh!


Tunggu?


Apa yang terjadi disini?


Mata ku melotot, menatap interaksi janggal antara dua orang tersebut. Beberapa percakapan terdengar, seperti;


"Bukannya kau bilang akan berhenti membully seseorang!" Rea menegur dengan nada yang manja.

__ADS_1


"Tentu saja sayang~ Jangan marah, pengecualian untuk dia karena aku punya urusan dengan pengecut itu. Yah sayang?" Tian memohon.


"Tapi!"


Lelaki bajingan itu membingkai wajah Rea.


"Ayolah sayang, satu bogeman saja. Semua akan selesai." ucapnya lagi.


Rea mengangguk. Dia mengangguk.


"Itu baru kekasih ku."


BEDUM!


"A-apa?" bibirku bergetar. Apa yang baru saja ku dengarkan?


Rea? Dan bajingan itu? Mereka pasangan kekasih?


Yang benar saja.


BERANI SEKALI KAU SELINGKUH DARI KU SAYANG.


Dia itu milik ku.


Hanya milik ku.


DIA MILIK KU!


"Rea–milik ku."


Deg!


.


.


.


.


.


Permainan sesungguhnya baru saja dimulai.


...***...


...— T b c —...


...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka....


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2