
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...PEMBERITAHUAN!...
...Chapter ini mungkin akan memberi sedikit efek trauma untuk sebagian pembaca, harap bijak dalam membacanya....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...A p i...
...____________________...
...__________...
...____...
..._...
"Ayah, dimana Liam?" Fian bertanya melalui telepon seluler miliknya, gadis tersebut sudah mengitari seisi apartemen tapi sayang tak seujung jaripun dia dapat menemukan keberadaan dari sang sepupu.
Terdengar lelaki diseberang sambungan sana menghela napas panjang.
"Jadi kau meminta izin untuk keluar mansion hanya karena ingin mendatangi Liam Fie?" pantul sang ayah, dia sedikit menyindir perihal Fian yang sudah berjanji akan duduk manis di-rumah selama lelaki tua itu mau membantu sosok Liam.
Tapi—
Persetanlah!
"Jawab saja ayah?!" sergah Fian kesal, karena kejadian kemarin malam gadis ini merasa sedikit khawatir. Dia tak ingin sepupu payahnya itu bertindak gegabah.
"Lokasi hidangan utama," singkat, padat, dan jelas. Fian rasa dia mengerti.
"Beritahu Fie ayah..."
.
.
.
.
.
Liam menendang sadis sosok Tian yang terikat dengan kursi hingga benda tersebut jatuh menghantam kerasnya permukaan lantai.
BUGH!
Bukan apa-apa tapi saat ini Liam benar-benar tengah dirundung oleh perasaan marah. Lihat saja wajahnya, begitu geram.
"Tarik kembali kata-kata mu!" ucap lelaki itu, menginjak kepala Tian hingga benda tersebut menempel lekat dengan ubin lantai. Jika kalian ingin tahu apa yang sudah terjadi? Jawabannya cukup sederhana, awalnya Liam hanya ingin menyiksa bajingan itu sama seperti yang lainnya tapi dia malah membuat kesalahan ketika memilih membuka lakban pada mulut Tian.
Padahal hanya ingin mendengar jeritan tapi Liam malah jatuh kedalam untaian kata penuh nada provokasi milik Tian.
Dia banyak berucap—kalimat tak berguna, menerka-nerka tindakan Liam yang disangka sebagai wujud balas dendam juga omong-kosong lainnya. Sampai dititik lelaki bajingan itu mengutarakan opini perihal Liam yang menyukai kekasihnya Rea.
__ADS_1
"Kalau benar, memang kenapa?" ucap Liam jenaka. Bermaksud merendahkan tapi justru malah direndahkan, mendengar kalimat tersebut Tian tertawa—amat kencang hingga rasanya Liam ingin memotong pita suaranya.
"Jadi hanya karena jala*ng itu, kau berubah menjadi psychopath?"
Liam mengerutkan kening, tak mengerti apa yang Tian ucapkan.
"Asal kau tahu Rea itu—"
DEGH!
Apa?
"Tarik kembali kata-kata mu!" desis Liam, menekan kuat kepala Tian hingga membuat si empunya kesakitan. Dia tak terima, Liam tidak terima.
Bisa-bisanya bajingan gila ini mengucapkan rentetan kalimat kotor tentang gadis-nya.
"Haha! Itu kenyataannya bung~" sahut Tian, benar-benar meremehkan. Liam menggeram, dia menjauhkan kaki kemudian berjongkok.
Menjambak sadis surai rambut Tian lalu menamparnya ala-ala tokoh mafia dalam film. Mungkin karena shock, bola mata Tian sekan keluar dari tempatnya. Dia pikir lengan kurus Liam tidak akan memberi efek tapi ternyata rasa panas menjalar, kebiruan muncul padahal baru sekali tamparan; bagaimana rasa tonjokkannya nanti?
Seperti ingin menangis, Liam menampar berulang kali wajah Tian. Sampai dia merasa puas.
Lelaki bajingan tersebut merasakan wajahnya bengkak, sudut bibir robek. Ada rasa besi didalam mulutnya.
Plak!
Plak!
Plak!
Tuli terhadap ringisan kesakitan serta permohonan untuk menghentikan aksi brutalnya, ketika merasa puas barulah Liam berhenti. Didirikannya kembali kursi itu lalu ditatapnya lekat sosok menyedihkan dari Tian.
"Akhirnya kau berhenti berceloteh," ucap Liam sepihak.
Karena terlanjur kesal atas perkataan yang Tian ucapkan, Liam jadi memikirkan semacam ide supaya dia bisa menghancurkan Tian hingga keakar-akarnya. Tanda kutip merusak parah mental lelaki itu supaya dia bisa berpikir bahwa kematian jauh lebih baik dari pada ini semua tapi seperti tak ada kapok-kapoknya Tian malah kembali berusara.
"Kau diperdaya jala*ng itu."
BADUM!
Percikan amarah seperti berkobar didalam manik mata lelaki bernama Liam ini. Dia melihat semua barang-barang yang sengaja ia bawa kemari; berperan sebagai alat penyiksaan—ada sebuah pemantik api disana.
Tanpa pikir panjang lelaki tersebut langsung mengambilnya. Meletakkan ujung pemantik tepat didalam mulut Tian lalu menekan pemicu api dari benda itu.
Dan—
BOOM!
"ARGHHHHHHH!!!" jeritan mengerikan terdengar.
Tian merasakan mulutnya terbakar, panas dari api sampai ke tenggorokan.
Dengan tatapan mata yang begitu dingin Liam menjauhkan tangannya—membiarkan sosok tersebut menggeliat kesakitan sambil menitikkan air mata.
Tapi, siapa kira api yang ada dimulut Tian semakin membesar. Tersadar akan tindakan berlebihan itu, mata Liam membola. Kaki lelaki ini mundur secara teratur. Menyaksikan dalam diam kejadian mengerikan tersebut tepat didepan mata.
Tian dilahap habis oleh api, menyisakan jeritan panjang sebelum dia benar-benar kehilangan nyawanya.
Deg!
Angin dingin membelai tengkuk Liam, dia menggigil. Tubuh lelaki itu merinding. Pikiran lain menerobos masuk kedalam otak seperti bisikan para setan.
__ADS_1
Apa yang kau lakukan Liam!
KAU MEMBUNUH SESEORANG.
"Ti-tidak!" Liam menggeleng. Memeluk erat tubuhnya dan mulai merasa sedikit ketakutan.
Bisikan-bisikan aneh semakin menggila; merangsek masuk kedalam pikirannya. Liam terus menyangkal, dia bermonolog sendiri sambil berusaha mempertahankan kewarasan. Sampai tiba-tiba wajah Rea terlintas begitu saja didalam benaknya.
"Benar!" ucap lelaki itu cepat. Dia mendongak, tertawa melihat wajah hangus dari sosok tak bernyawa milik Tian yang duduk terpasung diatas kursi sana.
Semua ini aku lakukan karena dia yang dengan berani meletakkan tangan kotornya diatas kulit Rea!
Rea itu milikku.
"DIA MILIKKU!"
Lantas Liam mengambil sebuah benda yang selalu dia bawa, semacam kamera.
Untuk kenang-kenangan.
Didekatkannya benda itu kewajah, Tian tampak terlihat masuk kedalam layar tanpa pikir panjang Liam langsung membidik pemandangan tersebut hingga terdengar suara—
CEKREK!
Dari benda itu.
Bugh~
Suara benda jatuh terdengar, Liam menilik kebelakang punggungnya karena rasa penasaran. Sosok Fian tampak terlihat duduk diatas lantai dengan lutut yang bergetar; ketakutan sambil berusaha menutup mulutnya.
"Ar! Argh–?!" Dia ingin bertanya, 'apa itu?' pada Liam tapi tak bisa.
Lidah Fian terasa kelu, dia hanya mampu menantap dari kejauhan dengan pandangan tak percaya kearah tubuh tak bernyawa milik Tian.
"Kau disini rupanya Fie..." ucap Liam santai. Fian melirik horor, dia menelan saliva kasar. Sedikit merinding ketika melihat sang sepupu mulai berjalan mendekat kearah dirinya.
Sial! Sekilas tampak raut muka ketakutan tapi Fian berusaha terlihat tenang. Liam menghentikan langkahnya; tanpa di undang lelaki itu duduk bersimpuh diatas lantai tepat disamping tubuh Fian.
Memandang pemandangan yang sama. Siapa lagi kalau bukan sosok Tian.
Terjadi keheningan panjang sampai akhirnya suara lirih terdengar dari celah bibir milik Liam.
"A-apa yang harus aku lakukan... sepupu?" dia bertanya, menoleh kearah Fian sambil perlahan menitikan air mata.
"—aku tak tahu Fie~"
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Cerita dibuat semata-mata untuk hiburan saja, tidak membenarkan apalagi mewajarkan suatu tindakan. Diharapkan menjadi pembaca yang bijaksana....
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1