
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...K a b u r...
...___________________...
..._________...
...____...
..._...
"Ergh?" Liam menggeliat, tangan lelaki itu meraba sisi lain dari ranjang yang ia tempati. Mencari seseorang yang 'seharusnya' berada disana tapi suhu dingin serta kekosongan yang Liam dapatkan membuat lelaki tersebut mau tak mau membuka pelan kedua kelopak matanya.
Ini masih pagi dan mood lelaki itu sudah dibuat hancur. Luar biasa~
"Kemana dia?" ucap Liam separuh mendesis. Merubah posisi menjadi setengah bersandar dikepala ranjang.
"Ish!" Kepalanya pening, seberkas ingatan soal mimpi perlahan muncul. Kalau tidak salah Liam tadi memimpikan tentang kenangan masa lalu yang sejujurnya tak pantas untuk dikenang.
Tapi apa boleh buat tak ada yang bisa mengatur seenaknnya para bunga mimpi tersebut. Dia akan terus hadir setiap malam ketika kau memejamkan mata.
"Huh—!" hela napas gusar terdengar. Liam perlu mengecek cctv nanti. Kemana lagi wanita itu pergi?!
Haruskah Liam membeli semacam rantai untuk membelenggu kaki miliknya? Lama-lama bersikap lunak membuat lelaki itu muak. Sudah hampir satu tahun mereka menikah tapi Rea tak pernah henti-hentinya berpikir untuk kabur.
Padahal Liam sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memanjakan sosok tersebut. Memperlakukannya seperti seorang ratu tapi— sekali bajingan ya tetap bajingan
Ha-ha |
Drttt!
Drtt!!
Drrttt!
Getar ponsel mengalihkan perhatian, lantas dia menoleh kearahnya. Benda tipis dengan layar yang menyala; tertera nama Fian disana, tak ambil pusing Liam langsung mencondongkan tubuh untuk menggapai benda tersebut yang berada tepat diatas nakas.
Bip!
"Halo..." sapa Liam cepat.
"Pagi sepupu~" sahut Fian diseberang sambungan telepon sana. Liam beranjak dari ranjang, menurunkan kaki menuju lantai. Rasa dingin dari ubin menusuk permukaan telapak kaki.
Dia ingin merokok sebentar.
"Ada apa?" tanya Liam to the point, melangkah menuju balkon tapi sebelum itu dia mengambil sebungkus rokok beserta koreknya. Jarang-jarang sekali sepupunya binal ini menghubungi, kecuali ada masalah besar yang menanti.
__ADS_1
"Tidak ada—" sahut Fian gantung. Dia sengaja menjeda kalimat miliknya.
"Hanya saja... istrimu saat ini sedang dengan ku." sambung wanita itu.
Ah~
Sepertinya Liam paham. Rea pasti tertangkap oleh anak buahnya ketika dia berusaha untuk kabur.
Wanita yang malang.
"Lima belas menit lagi aku akan kesana menjemputnya."
"Tentu~"
Bip!
Sambung diputus secara sepihak.
...***...
Fian menyimpan kembali telepon genggam miliknya kedalam saku pakaian, wanita itu lalu menoleh kearah sang saha—ehm! Mantan sahabat yang tidak lain adalah Rea.
Duduk manis didepan sana sambil menyeruput santai segelas teh hangat beraroma sedap.
"Padahal kau selalu tertangkap tapi masih saja berusaha untuk kabur." ucap Fian sarkas, ikut duduk tepat diseberang wanita itu.
Rea meletakkan cangkir ditangannya, lalu menantap sosok Fian. Wanita tersebut menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan.
"Aku tak akan pernah berhenti,"
Kali ini bergantian; Fian 'lah yang menghela napas panjang. Dia merotasi kedua matanya jenuh, tak habis pikir dengan jawaban yang Rea ucapkan. Selalu sama, itu-itu saja.
"Ingin ku beritahu sedikit?" ujar Fian tiba-tiba, merasa agak muak dengan kelakuan batu wanita itu.
Rea membolakan kedua matanya, terkejut mendengar penuturan yang baru saja Fian katakan.
Benarkah?
"Kau sungguh-sungguh?" sahut Rea ragu, pasalnya dia selalu dipermainkan oleh teka-teki kata dari kedua orang tersebut. Bukannya mendapat jawaban Rea hanya akan dipertemukan dengan jalan buntu. Itu menyebalkan, kau tahu?!
Fian mengangguk, dia juga tidak ada niatan untuk berbohong. Lagi pula saat ini Rea sudah secara resmi terikat dengan sepupunya—Liam, jadi tak masalah.
"Sampai mana informasi yang kau dapatkan?" tanya Fian. Dia tahu kalau Rea sendiri sudah mencari semaksimal mungkin tentang masa lalu dalam ruang gerak yang terbatas dan Fian yakin setidaknya wanita ini sudah mengerti garis besarnya.
"Penemuan remaja laki-laki di sebuah apartemen kosong dengan luka bakar dari dalam." sahut Rea, tenang menyebutkan sosok Tian yang digadang-gadang adalah kekasih semasa SMA-nya.
Fian terdiam, sedikit kaget ketika mendengar Rea menyebutkan berita lama tersebut. Kalau tidak salah insiden itu sudah ditutupi dengan baik oleh ayahnya meski sempat masuk kedalam koran lokal, walau begitu Fian amat yakin koran-koran yang sudah terlanjur dicetak dan baru 5% diedarkan tersebut sudah ditarik oleh pihak penerbit.
Jadi—
Bagaimana bisa Rea tahu?
"Ku pikir Liam benar-benar mengekang mu dengan baik, ternyata tidak..." sindir Fian dengan maksud memuji. Padahal pergerakan Rea diawasi tapi dia berhasil menemukan cukup banyak informasi walau seorang diri.
Bergeming, Rea nyaris tak peduli atas tanggapan yang Fian tunjukan. Wanita itu kembali menyeruput teh dicangkir miliknya. Menunggu jawaban serius dari sosok bernotabe sepupu dari suaminya.
__ADS_1
Melihat reaksi membosankan dari Rea membuat Fian mendengus kesal. Tidak asik! Batin wanita itu.
Rupanya dia tidak menyia-nyiakan waktu; selama kurang lebih setahun Rea berhasil beradaptasi dengan ketidakwajaran takdir yang menimpa dirinya.
Baiklah! Putus Fian, lebih baik dia serius kali ini. Wanita tersebut mencondongkan tubuhnya, meminta secara tidak langsung pada Rea agar dia mendekat.
"Kau lebih buruk dari sampah, setelah menghilang entah kemana Liam mengalami depresi berat. Jadi jangan heran—dia akan selalu bertindak gila."
.
.
.
.
.
"Tidak bisakah kau diam disatu tempat saja sayang?" ucap Liam bernada tanya, Rea merasa ada sedikit ke-sinis-an yang ingin lelaki itu tunjukkan.
Memilih bungkam, Rea memalingkan wajahnya menuju kearah samping—melihat lekat jalanan dari balik kaca jendela mobil yang sedang mereka naiki.
Lagi-lagi diabaikan, Liam menghela napas pasrah. Ya sudahlah~ Lebih baik bicara di-rumah saja dari pada termakan emosi lalu membawa mobil secara ugal-ugalan yang akan mengancam keselamatan nyawa mereka berdua nanti.
Tuk~
Rea membenturkan pelan keningnya kekaca, bersandar disana sambil memejamkan mata. Pikiran wanita tersebut melayang, teringat kembali percakapan terakhir yang ia lakukan bersama dengan Fian.
"Hah..."
Meski wanita itu berjanji akan bicara dengan jujur tapi tetap saja, dia masih melemparkan kalimat sulit pada Rea yang ujung-ujungnya perlu dianalisis sendiri.
Baik, mari kita coba pecahkan.
Di kalimat pertama yang Rea ingat, Fian menyebut kalau diri Rea itu sampah.
Berarti, argumentasi soal kepribadian wanita itu dimasa lalu benar adanya. Rea adalah sosok yang binal dan sangatlah nakal, ini diperkuat lagi oleh keterangan terakhir yang pernah Rea dengar langsung dari mulut Vioner. Notabe teman masa kecil Rea sebelum kehilangan ingatan.
Lanjut ke kalimat berikutnya, Fian menyinggung keputusan yang Rea lakukan dimasa lalu—berdampak pada kesehatan mental Liam yang sekarang; yaitu memilih untuk menghilang. Vioner juga pernah angkat suara soal hal tersebut hanya saja—tak ada yang tahu pasti alasan apa yang mendasari keputusan serta tindakan wanita itu.
Ini jadi sebuah tanda tanya besar, hanya Rea dimasa lalu 'lah yang mengetahui kebenaran.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
__ADS_1