
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih...
...Selamat membaca....
...___________________...
...M e l a m u n...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"—a! REA!"
Deg!
Si empunya nama tersentak, kaget. Cepat-cepat dia menoleh kearah sumber suara yang melengkingkan namanya dengan lantang. Siapa lagi kalau bukan Liam.
Lelaki dengan perawakan besar serta wajah yang tampan meski ia mengenakan kacamata. Sabuk pengaman sudah lepas dari tubuh lelaki itu; rupanya mereka sudah sampai, tepatnya sekarang ini Liam sedang menoleh serta mencondongkan tubuh kearah Rea—wanita yang sedari tadi tidak merespon panggilan miliknya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Liam sarkas, menyipitkan mata dengan tajam. Menunggu wanita tersebut untuk menjawab.
"Hah~" Rea merotasi mata.
Mendapat perlakuan seperti itu dia menghela napas panjang, tahu betul arti dari tatapan mata tersebut. Mau tak mau Rea harus menjawab sesuatu atau lelaki disampingnya ini akan marah.
Liam paling benci kalau seseorang yang dia cintai memikirkan hal yang tidak berkaitan tentang 'dirinya'—ini akan membuat lelaki itu cemburu secara membabi buta.
"Tak ada..." sahut Rea singkat, berpaling sambil melepaskan sabuk pengaman. Lebih baik beranjak dari sini dan masuk ke-rumah dari pada ditanyai oleh pertanyaan random milik lelaki dengan segudang rasa obsesi serta posesif didalam dirinya.
HAH—!
"Tch!" Jelas sekali Rea mendengar Liam berdecih. Dia tak suka atas reaksi yang wanita ini tunjukan tapi persetan! Memilih tuli—Rea benar-benar beranjak pergi meninggalkan Liam seorang diri.
__ADS_1
Dengan wajah kesal lelaki tersebut meninju stir dari mobil lalu cepat-cepat turun dari benda itu menyusul sang istri—Rea.
"Rea!" panggil Liam lagi, mencoba menggapai sosok yang hendak membuka kenop pintu didepan matanya.
"Apa?" sahut Rea sarkas, malas menanggapi lelaki itu. Mata wanita ini melirik kearah Liam.
"Kuncinya..." ucap lelaki tersebut seraya menunjuk kunci dari rumah mereka.
"Oh."
...***...
Ini bukan sekali dua kali, Liam lihat sedari tadi wanita berstatus istrinya itu seperti tengah melamunkan sesuatu. Lama-lama melihat membuat Liam risih, dia paranoid—takut-takut Rea merencanakan sesuatu; semacam pelarian mungkin.
Bertanya pun percuma, jelas Rea tak akan mau memberitahu apa yang tengah dia pikirkan didalam otak kecilnya. Tapi serius, ini sangat mengganggu.
Wanita itu pernah kabur sebanyak 51 kali meski ujung-ujungnya dia tertangkap lagi. Dan hari ini merupakan yang ke-52 kalinya dia berusaha untuk kabur—sekilas seperti main-main tapi Liam tahu; Rea adalah wanita yang cerdas.
Jika dia serius, seratus persen kemungkinan rencana yang dia buat akan berhasil.
Dia dulu pernah menghilang dari pandangan Liam selama beberapa waktu (semasa wanita tersebut belum kehilangan ingatan miliknya) andai kabar tentang kecelakan wanita itu tidak terdengar sampai ke telinga Liam mungkin saja; detik ini lelaki tersebut tak akan pernah bisa bertemu dengan sosoknya. Rea.
Haruskah aku mengunci Rea didalam kamar? Atau ruang bawah tanah, lalu merantai kedua kaki kurusnya? Pikir Liam. Melihat wanita tersebut menantap kosong televisi tepat didepan sana.
"HAH—!" Liam menghela napas panjang, berjalan menuju sofa lalu duduk tepat disamping sosok Rea.
Asal kalian tahu, sebenarnya Rea hanya sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa memecahkan maksud dari perkataan yang Fian lontarkan. Merasa tekanan dari sofa yang dia duduk menjadi lebih rendah, Rea menoleh—Liam baru saja duduk tepat disamping tubuhnya sambil menampilkan raut muka masam.
Sekilas wanita ini bisa menebak, Liam pasti sedang dirundung oleh perasaan gundah—hal itu membuatnya gelisah. Paling tidak jauh-jauh dari percakapan yang mereka lakukan dimobil tadi, soal 'apa yang kau pikirkan?' semacam itu.
Dasar lelaki dominan yang selalu ingin tahu segala hal.
Hah...
Rea tanpa sadar melirik Liam dengan tatapan yang cukup dalam, dia seakan meneliti dari ujung kepala hingga kaki. Sebenarnya tidak buruk juga tinggal bersama lelaki ini, tak seperti bayangan Rea pas awal-awal dinikahi secara paksa dengan sebuah perangkap.
Liam bisa dikatakan sebagai sosok yang sangat? Terobsesi pada pasangannya. Dia akan melakukan apapun supaya bisa membahagiakan, hanya saja satu hal yang membuat Rea penasaran—dan itu cukup mengganggu, apa lagi kalau tentang masa lalu.
Lelaki ini bisa dikatakan kriminal karena dia pernah membunuh seseorang diusia muda, tapi melihat catatan aktivitasnya sekarang ini Liam bisa dikatakan cukup bersih sebagai manusia. Itu yang Rea dapatkan, bisa jadi dia menyembunyikan banyak topeng dibelakang punggungnya.
Siapa tahu?
__ADS_1
"—kau membuat Liam mengalami depresi berat—" Kira-kira jika ditelaah lebih jauh lagi apakah Rea akan mendapatkan semacam petunjuk baru? Selain kerusakan mental dari lelaki itu tentunya.
Ah! Lupakan.
Oh ya... Mungkin ada beberapa yang penasaran soal bagaimana mereka bisa hidup tenteram seperti ini, sejujurnya Rea sudah membuat semacam perjanjian dengan Liam. Itu dia lakukan 1 bulan setalah pernikahan mereka; sebagai wujud antisipasi Rea ketika dulu mengira kalau Liam itu benar-benar seorang psychopath.
Dipikir-pikir perjanjian tersebut sudah nyaris tidak berguna lagi sekarang, kecuali ada pemicu yang membuat Rea harus menggunakan perjanjian itu sebagai tameng. Secara tak kasat mata, cara menaklukan Liam itu cukup sederhana.
Asal jangan membuat dia marah, selalu berada di zona miliknya, dan jangan pernah menghilang dari pandangan mata lelaki itu—maka semuanya akan aman.
Itu mengapa Rea selalu melakukan pelarian yang mencolok, dia tidak ada niatan untuk kabur kok hanya saja semua aksi yang Rea lakukan; semata-mata untuk menemukan kebenaran.
Dia mencoba bijaksana, bertindak dengan pikiran yang waras. Asal tahu apa rahasia yang Liam maupun Fian tutupi semua akan beres, bisa dibilang itu penentu apa yang akan Rea lakukan dimasa depan. Bisa jadi dia pasrah dengan takdir miliknya dan memilih duduk manis disamping Liam atau justru sebaliknya.
Kita lihat saja.
"REA!"
Deg!
Rea lagi-lagi tersentak, berbeda dengan posisi awal—saat ini Liam sudah berada cukup dekat dengan dirinya sambil meletakkan tangan dibahu wanita itu. Sesekali mengguncang pelan. Wajah Liam nampak pucat, dia seakan panik karena sedari tadi melihat sang istri menantap kosong kearah dirinya. Ketika di panggil Rea tak merespon.
Ini membuat Liam takut, dia mulai berpikir kalau otak kecil Rea tidak lagi merancang sebuah pelarian tapi kearah yang lebih jauh lagi; seperti bunuh diri misal?
Membayangkannya saja membuat Liam menggigil; jangan sampai itu benar-benar terjadi.
Berbanding terbalik dengan sosok Liam, Rea tampak hanya melenguh keras.
Sepertinya aku melamun lagi, ucapnya dalam hati. Begitu santai.
Ha-ha |
...***...
...T b c...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...