
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih...
...Selamat membaca....
..._____________________...
...K e i n g i n a n...
..._____________________...
...__________...
...____...
..._...
Deg!
Rea tersentak, ada sesuatu yang salah dengan ucapan lelaki itu. Bahkan tatapan mata yang Liam berikan terkesan sedikit mencurigakan, tanpa sadar Rea menelan saliva kasar.
Pandangan Liam berputar, semakin sayu setiap detik-nya. Debar jantung lelaki tersebut terdengar tak karuan; begitu kencang hingga terasa seperti ingin meledak. Glek! Dibasahi-nya kerongkongan dengan air liur, tergiur pada sajian yang berada tepat dibawah sana; terkungkung lucu tampil tak berdaya.
Sedikit saja.
Liam ingin mencicipi sedikit saja tubuh dari wanita pujaannya, sudah cukup puas selama ini lelaki tersebut berperang dengan batin demi menekan semua kemauan duniawi yang ia miliki.
Jika saja Rea tidak membenci Liam terlalu dalam mungkin dia akan bertindak sedikit lebih berani, misal; menodai kecil tubuh manis wanita itu lalu meninggalkan jejak disetiap jengkalnya. Tapi sayang, Liam lebih mengutamakan kehadiran Rea disampingnya dari pada hasrat terhadap lawan jenis semacam itu.
Ha-ha! Sampai detik ini. Dia mulai merasa tak tahan dan ingin segera menerkam.
Tekanan atmosfer yang terasa janggal membuat Rea memutuskan sebuah pilihan; dari pada diam, dia harus menyingkirkan Liam dari atas tubuhnya secepat mungkin sebelum lelaki itu dimakan oleh keinginan binatang. Rea bukanlah seorang wanita lugu, dia langsung menyadari serta memahami—ditambah lagi sesuatu yang aneh tiba-tiba saja muncul; menekan area pangkal pahanya.
Sial!
Rea mendesis, berusaha menendang Liam agar lelaki itu sedikit menjauh. Boro-boro mendapat peluang untuk kabur, Rea malah disodorkan dengan tindakan impulsif dadakan dari Liam. Dimana lelaki tersebut kembali menghimpit serta mengunci pergelangan tangan Rea tepat diatas kepala wanita itu lalu menekan bagian tengah pangkal paha dengan lututnya. Seakan menggoda.
Benar-benar biadab!
"TIDAK!" Rea memekik, menggelengkan kepala sambil mengulum bibirnya ketika Liam dengan gamblang mendekatkan wajah kearah wanita itu seolah ingin mendaratkan sebuah kecupan hangat disana.
__ADS_1
Perasaan geli bergejolak, memporakporandakan isi dalam perut Rea. Dia merinding saat merasakan sesuatu yang lembap mendarat singkat di pipinya.
Cup~
"Hoek—!" mencoba menahan agar tidak muntah. Bukan bermaksud apa-apa, Rea sudah pernah bilang bukan? Kalau dia selalu merasakan perasaan aneh jika berada sangat dekat dengan Liam karena pengaruh psikologis wanita itu.
Sensasi janggal yang mencekik, selama ini Rea cukup yakin kalau Liam tidak tertarik secara intim padanya karena lelaki tersebut tidak pernah berkeinginan menyentuh wanita itu makanya Rea bisa beradaptasi dengan baik pada lingkungan gila yang Liam ciptakan, tapi apabila Liam tiba-tiba berperilaku seperti ini—Rea jadi ngeri.
Dia takut.
Dan merasa—JIJIK.
GATAL!
Tidak!
MENJAUH!
Liam yang mabuk dengan kegiatan dia sendiri tidak menyadari perubahan perilaku yang Rea tunjukan. Terlalu menghayati apa yang dia lakukan; memberi jejak cium di seluruh pipi Rea dengan mata yang terpejam. Menulikan pendengaran, mengabaikan rintih ketakutan.
Sebelah tangan Liam turun; masih dalam posisi mengunci—tangan yang berkesempatan nakal tersebut mulai menyusuri lekuk leher hingga ke-dada lalu berakhir dipingging. Disingkapnya baju yang Rea kenakan, membiarkan jemari kasar itu menjelajahi seenak jidat permukaan rata dari perut wanita yang sekarang berstatus sebagai sang istri.
Penuh penghayatan, sedikit lagi—ia akan mendarat pada gundukan yang dilapisi oleh cup-cup bernama—
Deg!
Tangan Liam tertahan, mata lelaki ini terbuka dengan spontan; melotot setelahnya. Menatap kaget kearah wujud berantakan yang Rea yang tampilkan—hm... sedikit menggoda. Eh? BUKAN ITU POINTNYA!
Cepat-cepat Liam melepaskan kungkungan, membawa wanita tersebut duduk dengan benar sambil membingkai manis sisi rahang.
"Hiks! Hiks!" Rea menangis tersedu, cukup keras. Dia tidak bisa membuka kedua kelopak mata dengan lebar saking takutnya, hanya air mata yang mengalir begitu deras dari sana.
"Apa yang terjadi sayang?!" Dan si bodoh ini malah mengajukan pertanyaan diluar nalar. Hebat sekali kau Liam, padahal sumber dari semua masalah ada pada dirimu tapi kau malah bertanya dengan wajah seperti malaikat. Tak tahu dosa. Tch!
Menyebalkan. |
Bergantian, tidak seperti sebelumnya—kali ini Rea 'lah yang menjadi tuli. Dia hanya ingin menangis; ketakutan dan meluapkan segala emosinya. Sudah cukup lama Rea tidak menumpahkan ribuan kristal bening yang berasal dari kedua pelupuk mata tersebut. Terakhir yang ia ingat, benda itu sudi jatuh ketika dia pasrah menerima takdir atas pernikahan jebakan yang sengaja dirancang oleh lelaki busuk disampingnya.
Sialan.
"AkU memBenci MU!" teriak Rea kemudian, dengan nada sesenggukan. Dia mencoba beberapa kali memukul Liam dengan kepalan tangan lemah, berharap agar lelaki tersebut mengerti lalu memberi ruang pada dirinya. Walau berakhir nihil, apa yang kau harapkan dari lelaki yang isinya hanya cinta bertema gelap?
Obsesi, nafsu, dan lain-lain yang bahkan tidak terdengar romantis.
__ADS_1
Liam terlihat berusaha menenangkan, menyapu lembut air mata dengan jemarinya. Jujur, saat ini ia sedang panik. Tak tahu penyebab apa yang membuat Rea menjadi menangis, meski menerka—Liam merasa kalau dirinya tidak termasuk kedalam pilihan dari penyebab luruhnya air mata sang pujaan.
"Sttt!" Lelaki bodoh itu malah meminta Rea memelankan suara a.k.a diam secara garis besarnya. Dia menjepit pipi Rea seperti anak-anak, entah kenapa Liam malah terangsang dengan tampilan menggemaskan yang Rea tunjukan.
Sial! Aku tidak tahu bahwa aku semesum ini! Gerutu Liam dalam hati. Menggigit pipi bagian dalam sambil menantap lekat wajah Rea.
Glek!
Dia menelan saliva kasar.
"Hikss... hiks..." Tangisan Rea agak sedikit mereda, dia tidak mendengar lagi usaha-usaha yang Liam lakukan dalam menenangkan dirinya. Alhasil wanita berpenampilan berantakan tersebut membuka kedua kelopak mata dengan perlahan.
Liam masih berada disana, tak jauh dari Rea. Paling hanya berjarak sejengkal. Anehnya, lelaki itu kembali menampilkan ekspresi wajah yang sulit dibaca.
Rea rasa embusan napas panas milik Liam menyapu pelan permukaan kulit wajah.
"Boleh aku mencium mu sayang?" tanya Liam, tiba-tiba. Mengerti titik letak salahnya ada dimana. Dia baru sadar kalau sudah bertindak serampangan, seharusnya Liam bertanya lebih dulu sebelum bertindak.
Dia yakin, Rea pasti ketakutan. Siapa yang tidak ngeri jika dihadapkan dengan laki-laki bertampang mesum, ha-ha—umpama seperti itu.
Tangisan memang berhenti, Rea tidak menjawab tapi wajahnya berubah datar dengan ratapan dingin.
Lalu, tiba-tiba saja sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Rea berdiri, menendang kuat area pangkal paha Liam lalu kabur dari sana.
Bugh!
"ARGHHH!" Disusul lengkingan pilu.
REAAAAA!!!
Jerit-nya sakit.
...***...
...T b c...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
__ADS_1
...:3...