
"Liam! Apa yang kau lakukan?"
BADUM!
...______________________...
...P e n c u l i k...
...______________________...
...___________...
..._____...
..._...
"Liam?" Fian bergumam, memanggil nama dengan nada begitu lemah. Gadis itu lagi-lagi melihat diriku yang dipenuhi dengan luka lebam. Tak perlu bertanya lagi, aku yakin sosok tersebut dapat menebaknya.
Tapi dia lebih memilih bungkam, mungkin karena melihat wajah mengerikan penuh amarah yang sedang aku tampilkan.
Rea, kau milik ku. Aku akan mengambil mu.
.
.
.
.
.
"Katanya beberapa laporan masuk, ini tentang anak remaja yang dikatakan hilang oleh orang tuanya. Mereka rata-rata duduk ditingkatkan sekolah menengah atas."
Salah seorang yang mendengar mendengus.
"Bukankah itu wajar untuk anak seusia mereka; memberontak dan melakukan hal nakal?"
Aku tertawa mendengar pembicaraan kedua orang tersebut. Mereka benar, anak-anak seusia kami memang wajar melakukan hal-hal nakal seperti itu. Termasuk aku, sebagai pelaku utama dari khasus penculikan tersebut.
"Tenang saja, tak ada satu anak pun yang akan mati. Mereka hanya merasakan bagaimana rasanya meregang nyawa," Ha-ha—gumamku beranjak dari sana.
Terhitung hari ini sudah 1 bulan setengah aku melakukan rencana gilaku dan semua itu berjalan dengan baik. Tak ada hambatan, justru karena kegaduhan tersebut serta rumor yang selalu diceritakan dari mulut ke mulut lingkungan sekitar jadi sedikit lebih damai. Termasuk area dalam sekolah.
Mereka ketakutan, ya karena kebanyakan anak yang menghilang adalah teman-teman mereka.
Haha. |
Ini menyenangkan, satu persatu tumbang layaknya pohon yang sudah tua. Aku bergerak seperti seorang assassin, menarik mereka kedalam lumpur yang dalam lalu mencekik mereka dengan perlahan.
__ADS_1
Sampai ke sajian utama yang akan dihidangkan pada akhir acara nanti.
Tian.
Tunggu saja. Akan ku lahap kau hingga ke tulang belulang karena kau berani mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Rea.
...***...
Kreet~
Suara daun pintu terdengar, diselingi ringisan sakit dari salah seorang anak seusia ku meski kalau boleh jujur aku tidak mengingat siapa namanya. Yang pasti dia adalah anak buah dari Tian.
Tap!
Langkah kaki terdengar menyusul. Kegiatan melepaskan brutal kuku anak itu dengan tang tertahan, ku tilik siapa gerangan yang berani masuk kedalam ruangan. Ya meski aku tahu; siapa lagi kalau bukan—sepupuku.
"Aku tahu kau pasti merencanakan sesuatu..." ucapnya, lemah. Dengan mata yang begitu sendu.
Aku berbalik, melempar asal tang ditanganku. Entah mengenai siapa yang pasti salah satu dari 5 kepala manusia yang berada tak sadarkan diri disana.
Lima korban ku, mereka lucu karena lemas dan stress berlebihan akibat penculikan serta penyiksaan yang ku lakukan secara bertahap. Jangan menuduhku macam-macam, aku hanya ingin merusak mental mereka. Balasan yang setimpal untuk para pembully yang selalu menindas bahkan sampai menghancurkan psikis dari korban mereka.
"Kau disini sepupuku..." sahutku, bodoh. Berlagak biasa dengan wajah yang dungu. Ku lepaskan sarung tangan berlapis darah lalu membuangnya kedalam tong sampah, sial. Mataku sedikit berat. Jujur beberapa waktu belakangan aku mengalami yang namanya insomnia, lingkar hitam dibawah mataku semakin tebal seiring waktu berjalan. Ditambah pemikiran soal betapa mesranya Rea bersama Tian membuat seluruh amarahku semakin bergejolak.
Tak adil, aku juga ingin begitu meski ku tahu—ini bukan waktu yang tepat.
"Aku sudah mulai curiga dari saat itu," ucapnya. Tanganku terangkat, meregangkan otot leher yang sedikit terasa kaku. Mengajak Fian secara tidak langsung untuk ikut keluar dari ruangan khusus tersebut.
"Apa yang kau maksud Fie~" ku jawab dengan nada penuh canda, walau sejujurnya aku tahu apa yang gadis itu maksud. Dia menyinggung hari ketika aku kembali pulang dengan keadaan babak belur serta menyimpan segudang amarah nyata dimata ku.
"Kau, Liam. Seharusnya kau bicara dengan ku."
Apa lagi maksudnya itu? Bagaimana bisa aku bercerita soal rencana yang spontan ku pikirkan karena termakan oleh kemarahan. Apa kau ingin aku bilang—Fian aku akan menculik para bajingan itu satu persatu dan menyiksa mereka hingga mereka berpikir lebih baik mati dari pada berhadapan dengan pengecut seperti ku gara-gara bos besar mereka mengambil apa yang menjadi milikku; begitu?
Lucu.
Aku yakin kau akan mencegah ku melakukan hal gila tersebut.
"Kau tahu pekerjaan ayahku."
Atau mungkin sebaliknya. (?)
...***...
"Hosh~ akhirnya giliran bajingan itu... aku tak sabar, mendengar jeritan panjang serta wajah ngerinya." gumamku sambil menantap lagi malam yang terlihat begitu indah.
Semua berjalan dengan lancar, ini berkat bantuan dari paman. Padahal aku tidak ingin meminta lelaki tua itu untuk membantuku tapi semua gara-gara Fian yang berhasil membujukku meminta bantuan kepada sosok itu.
"Kau pikir semua rencana yang kau lakukan benar-benar sempurna Liam?" teringat kembali apa yang gadis tersebut katakan.
__ADS_1
"Lambat laun, pihak kepolisian akan mengendus jejak mu." Benar apa yang Fian katakan. Dan itu bisa jadi masalah.
Pergerakan kinerja ku akan semakin melambat. Masuk beberapa bulan atau paling lama 2 tahun didalam penjara anak andai kata jika aku ketahuan.
"Tapi tenang sepupu—" ucapnya memberi jeda.
"Kau tahu pekerjaan ayahku."
Siapa yang tidak, paman adalah lelaki paling berbahaya yang hidup di dunia hitam. Sosok yang setara dengan para mafia.
"Baiklah..." akhirnya aku membuat keputusan. Si binal itu langsung pergi menuju ayahnya untuk mengadu soal aku yang memerlukan bantuan.
Meski awalnya paman enggan masuk kedalam permainan anak-anak, tapi pada akhirnya dia setuju karena Fian melakukan pertukaran yang setara.
Jika paman mau membantu, Fian akan tinggal dan menjadi calon penerus yang menuruti segalanya.
Padahal aku tahu, Fian paling enggan terlibat dengan dunia yang dibawa oleh ayahnya. Rupanya sepupuku itu sangat menyayangi diriku.
Aku bersumpah setia akan melayani dirimu jika kau sudah duduk dikursi penerus nantinya—Fian.
Kembali lagi ke topik utama, berkat bantuan tersebut para polisi mulai terjepit dan perlahan kehilangan minat mereka karena tak dapat menemukan titik terang dari khasus penculikan yang aku lakukan.
Perlu waktu 3 bukan aku mengumpulkan, menyiksa, dan menumpuk mereka didalam ruangan apartemen baru yang sengaja aku beli untuk menyekap mereka seperti hewan.
Target terakhir yang aku culik adala jala*ng bernama Vioner. Meski dia bukan bagian dari anteknya Tian tapi gadis itu selalu berdiri disamping Rea seakan menyeret malaikat ku untuk termakan bisikan para setan. Jadi aku memilih menculik serta menyekapnya dengan penyiksaan ringan. Ah! Juga sedikit menanyai gadis itu soal Rea karena dia adalah teman masa kecil dari gadis ku.
Menguntungkan, aku jadi tahu hanyak hal tentang Rea.
Dan—
Hidangan utama menanti.
"Waktunya bermain~"
TIAN.
...***...
...T b c...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1