Munafik

Munafik
Sudah


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Selamat membaca....


...___________________...


...S u d a h...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Bruk!


Suara pintu dibanting, Rea menutup rapat benda tersebut lalu membenturkan pelan keningnya kearah pintu sebelum benar-benar merosot jatuh. Terkulai lemas diatas lantai dalam sebuah kamar yang sekarang menjadi tempat pelariannya setelah insiden penendangan.


"ARGHHH!"


Sempat tertangkap lengkingan kesakitan dari arah mulut Liam. Memilih abai, Rea memejamkan kedua matanya—mencoba menetralisir deguban jantung dengan napas yang sedikit terengah.


"Hosh... hosh..." Keningnya berkerut, risih.


Deg!


Deg!


Deg!


Seperti ada yang sengaja meletakan jantung tepat didekat telinga.


Wajah Rea memarah. Wanita tersebut memukul pelan dadanya dengan kepalan tangan—bukan karena tersipu malu atau semacamnya tapi beberapa detik setelah kekonyolan bersama Liam barusan sekelebat ingat janggal tiba-tiba saja muncul.

__ADS_1


Merengsek masuk tanpa diminta.


Itu kenapa Rea menampilkan wajah membekunya, dia tak percaya ingatan janggal yang beberapa detik lewat tersebut berhasil mempengaruhi segalanya. Sekilas kembali diingat, hanya ada adegan menjijikan yang muncul. Dan ingatan tersebut adalah miliknya. Rea! Sungguh! Sangatlah menjijikan.


"Hoek..." tanpa sadar dorongan lain dalam perut membuat Rea ingin memuntahkan apa saja yang bersarang disana.


Kenapa Rea menyebut ingatan singkat tersebut menjijikan? Jawabannya sederhana, itu karena saat Liam mengapit pipi Rea lalu berusaha mempertipis jarak diantara mereka dengan wajah mesumnya—Rea melihat, bayangan yang sama persis seperti adengan tersebut hanya saja posisi mereka terbalik dimana Rea 'lah yang mengapit pipi dari lelaki polos serupa dengan Liam.


Tidak! Bukan serupa lagi tapi Rea rasa itu memang benar-benar Liam. Dimana tampilan lelaki itu jauh lebih muda dari yang sekarang.


Terlihat lugu, juga sedikit lucu. Begitu Rea menilainya—seperti tipikal orang yang mudah dimanfaatkan juga?


"Dibully..."


DEG!


Wajah putih mulus yang terlihat gampang kemerahan.


"Hosh..." Tanpa sadar Rea memeluk diri sendiri dengan bahu yang bergetar. Digigitnya pelan pipi bagian dalam, mencoba menyangkal.


Mustahil!


Disini Rea sama sekali tidak terkejut soal penampilan Liam, apa yang coba ia sangkal itu adalah tentang eksistensi dirinya.


Penggoda!


Wanita nakal!


Dan—?


"Lac*ur?"


DEG!


TUNGGU!!!


...***...


Tok! Tok!

__ADS_1


"Sayang buka pintunya~" seru Liam lantang, sudah lewat 2 jam wanita bernotabe istrinya tersebut mengurung diri didalam kamar.


"Hah..." Liam melenguh keras, haruskah aku mengambil kunci cadangan? Ucap dewi batinnya. Mau tak mau lelaki tersebut berbalik badan, siap angkat kaki dari sana sebelum gendang telinganya mendengar suara.


Kreet...


Daun pintu yang dibuka perlahan, Liam kembali berbalik; ingin menyambut wajah dari sang pembuka pintu tapi sayang—sesuatu yang janggal tertangkap oleh matanya.


Bukan wajah dingin yang biasa wanita itu tunjukan, bukan juga sorot benci tiada tara.


Lantas Liam mendekat, meletakan tangan tepat diatas permukaan wajah pucat Rea. Membawa pandangan kosong tersebut membalas tatapannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Liam dengan suara yang rendah. Rea tak menjawab.


Maniknya semakin kosong, pikiran wanita yang berdiri tepat dihadapan Liam ini seperti terbang entah kemana. Apa yang terjadi? Lagi-lagi Liam bertanya, dalam batinnya sambil berusaha mencerna segala situasi serta memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi.


Beberapa saat dilanda keheningan, Liam lihat Rea kemudian berusaha menggerakan bibir cantiknya yang terkunci rapat.


Dengan sigap lelaki tersebut menunduk, mendekatkan diri agar bisa mendengar dengan baik apa yang ingin Rea kata.


"A... aku ingat semuanya." bisik wanita itu, berhasil membuat Liam terkejut.


Walau hanya beberapa detik saja.


Liam lalu memelukknya, persisi seperti ingin mencekiknya.


Selamat datang kembali, wanita munafik.


...END...


...***...


...Terima kasih sudah mampir....


...Ketemu lagi dilain cerita....


...Bye Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2