Munafik

Munafik
Pertengkaran


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Selamat membaca....


...____________________...


...P e r t e n g k a r a n...


...____________________...


...__________...


...____...


..._...


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan Rea?!" tanya Liam lantang, jantungnya berdegub kencang. Pikiran negatif berseliweran.


"Apa yang kau rencanakan! Apa yang kau lamunkan! Apa Rea?!" tanya Liam lagi, menunduk takut dengan manik yang bergetar. Dia tak tahan, seperti ada semacam tali tambang yang mencekik lehernya hingga membuat Liam kesulitan bernapas.


Sesak.


Cinta lelaki itu terlalu dalam hingga membuatnya tenggelam.


Tersadar oleh cengkeraman tangan dibahu yang semakin kuat, cepat-cepat Rea mendongak—membingkai manis rahang milik Liam dengan kedua tangannya. Wanita tersebut menghela napas panjang, sial! Rupanya Rea terlalu larut dengan pikiran.


Jika diteruskan bisa gawat.


Lebih baik lakukan sesuatu sebelum mental lelaki ini berubah kacau dan dia akan mulai bertindak gila, nanti.


"Tak ada!" sahut Rea cepat, berharap lelaki ini puas dengan jawaban yang dia berikan tapi nyatanya tidak. Liam bosan, dia muak mendengar kalimat 'tak ada!' yang selalu Rea lontarkan. Seumpama jika memang benar tidak ada; lalu kenapa jiwa mu seperti menghilang dari raga?


Ini yang Liam pertanyaan!


"Apa kau ingin aku mengurungmu di ruang bawah tanah?! Dan merantai lehermu seperti anjing atau sekalian saja kita potong benda ini—" ucap Liam melirik sebentar kearah paha Rea sebelum kembali melanjutkan apa yang dia ucapkan.


"Kedua kaki tidak berguna yang hanya akan membawa mu pergi menjauh dari ku." Merasakan maksud tersirat dari ucapan yang Liam katakan Rea lantas menjepit kuat rahang dari lelaki itu; membawa tatapan matanya menjauh dari area paha—atau lelaki gila ini akan semakin berhasrat mendeklarasikan keinginanmya dalam memotong kedua kaki Rea nanti.


"Tidak!" sela wanita itu. Jangan sampai fantasi berdarah milik Liam tersebut menjadi kenyataan.


"Aku tidak memikirkan apapun! Tentang kabur atau sejenisnya! Percayalah!" ucap Rea keras, berharap perkataannya sampai kedalam gendang telinga Liam serta dicerna dengan baik oleh otak korslet milik lelaki itu; meski jujur Rea sedikit ragu.

__ADS_1


"KAU BERBOHONG!" tuding Liam, mendorong tubuh Rea hingga punggung dari wanita tersebut membentur pelan permukaan sofa panjang; tempat yang sebelumnya mereka duduki.


Terkejut, Rea mencoba menahan sosok Liam dari mendorong jatuh dirinya dengan kedua tangan tapi naas lelaki tersebut malah lebih dulu mengunci pergerakan tubuh wanita ini; alhasil Rea sekarang berada dibawah kungkungan kedua lengan milik lelaki itu.


Tak bisa bergerak.


Sekalinya bergerak Liam malah akan mempertipis jarak.


"TIDAK!" lengking Rea, tak ingin berbagi napas. Dia memalingkan wajah, meski bisa dikatakan sekarang sudah terbiasa dengan sosok Liam, tetap saja—jika mereka berada dijarak yang terlalu dekat Rea akan merasakan perasaan benci yang membludak. Bayangan tentang bagaimana Rea bisa berakhir seperti ini; sungguh tak bisa dimaafkan.


Garis besarnya wanita tersebut masih tak mau menerima takdir menyedihkan yang menimpa dirinya. Sederhana bukan?


Sebelum bajingan gila diatas Rea ini berkicau tentang hal-hal tak masuk akal—hanya karena takut ditinggalkan, lebih baik Rea lebih dulu bicara.


"Dengar! Aku tidak memikirkan apapun yang kau takutkan Liam—!"


"Lalu apa?!" masih pada pendirian miliknya. Hal ini membuat Rea geram, selalu ingin tahu! Wanita tersebut mendengus kesal. Menyipitkan mata dengan tatapan tajam.


Dia mendesis.


Perkara bodoh apa yang sedang mereka bicarakan! Hingga membuat ini terlihat seperti pertengkaran yang dramatis. Bagai opera sabun.


Tak mungkin 'kan Rea menjawab kalau dirinya sedang memikirkan perkataan yang Fian lontarkan sebelum lelaki ini menjemputnya? Padahal semua itu tentang Liam, bukan yang lain. Argh! Memalukan.


Tapi jika tidak dijawab dengan jujur Liam akan semakin meledak, dia dengan kepribadian tak waras miliknya.


Ini melelahkan.


"Itu tentang kau! Puas?!" dengus Rea, menampilkan wajah keras. Dia benci mengakuinya tapi begitulah adanya, berbanding terbalik dengan sosok Liam.


Dia melongo.


Tiga detik saja waktu yang diperlukan agar bisa mencerna dengan baik ucapan yang Rea lontarkan, wajah marah dari Liam seketika runtuh. Lelaki tersebut membeo—


"Apa?" dengan rona berseri-seri. Sebuah perubahan reaksi yang mengerikan, apa jangan-jangan Liam memiliki gangguan kepribadian? Siapa tahu? Mood-nya terlalu mudah berganti antara satu dan lainnya.


Tidak lagi menghimpit keras, lelaki itu justru menghamburkan diri didalam pelukan. Mata Rea terbelalak—kaget, dia melemaskan tubuh lalu menindih wanita itu dengan bobot berat badannya.


Perasaan Rea menjadi sesak, pasalnya lelaki tersebut membenamkan wajah dibelahan dada-nya; kurang ajar.


"MENJAUH!" teriak Rea spontan. Dia geli, kalau dulu memang biasa melakukan hal romantis seperti ini—itupun tidak bertahan lama tapi sekarang? BIG NO; setelah Rea mengetahui secuil kebenaran pandangannya berubah.


Liam itu bajingan, penguntit, dan lelaki gila dengan otak yang miring. Rea benci.


Dia tidak menyukainya!

__ADS_1


Mendengar penolakan wanita berstatus istrinya tersebut membuat Liam terkekeh. Dia berusaha meronta, berharap bisa lepas dari Liam seperti cacing kepanasan tapi bukannya bebas posisi tubuh mereka malah semakin berbahaya.


Liam merasakan bagian bawah dari bajunya terangkat, berbenturan langsung dengan pangkal paha Rea yang mengangkang.


Iiishh!


BERBAHAYA.


Memilih buta dengan aktivitas Rea, Liam mendesis. Dia mendongak, melihat dari celah dada sang istri sambil berkata dengan mata sayu-nya.


"Diam 'lah sayang atau aku akan meminta hak ku pada mu sebagai suami." bisik lelaki itu, berhasil membuat Rea membeku seketika; manik matanya membola dengan bibir yang terkunci rapat.


Glek!


Tanpa sadar Rea menelan saliva kasar.


Jangan sampai terpengaruh oleh suasana yang Liam ciptakan! JANGAN REA!


Atau mereka akan berakhir di ranjang.


Melihat reaksi lucu dengan pipi memerah yang wanita itu tunjukan membuat Liam terkikik. Jarang sekali mendapati momen pas seperti ini, bahkan nyaris tidak pernah. Tapi Liam serius soal apa yang dia ucapkan barusan, kalau Rea masih saja bertingkah—ia akan benar-benar menyeret wanita itu ke-kamar lalu menggagahinya.


Mereka juga tidak pernah menghabiskan malam pertama, bukankah ini sebuah kesempatan yang bagus?


Membuat Rea hamil misal. Itu bisa jadi jaminan, Liam dengar kalau wanita sudah mengandung seorang anak dia akan terpengaruh oleh rasa tanggung jawab dan akan menjaga serta merawat anak tersebut dengan baik.


Ide bagus, patut dicoba meski Liam tidak ingin juga memaksa Rea melalui ranjang.


Akan lebih nikmat kalau sendainya Rea mau menyerahkan dirinya sendiri dengan suka rela. Pasrah dan tunduk dibawah Liam dengan patuh.


Itu pasti sangat luar biasa. SUNGGUH.


Ah~


Liam ingin.


Dia jadi menginginkannya.


...***...


...T B C...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2