
Malam mulai menampakkan diri, labotarium sudah di tutup. Semua pekerja bergegas pulang membawa mobil mereka. Barra dan Putri masih berdiri di dekat parkir memperhatikan semua orang. Tiba-tiba Putri menyahut membuat Barra menoleh ke arah adiknya. "Bang, malam ini kita menginap di mana? Apa abang punya tempat yang bisa kita tinggali beberapa hari ke depan?" ucap Putri sambil menatap sekeliling melihat semua orang bergegas pulang tanpa mempedulikan mereka.
"Abang tidak tahu." jawab Barra yang menggeleng kepalanya dengan perlahan.
Tidak berselang lama, Walvin keluar dan melihat dua anak itu di dekat parkiran. Putri langsung menghampiri Walvin sambil memberikan sebungkus makanan pada kakek tua itu.
"Anda tadi menyuruhku membeli apa yang aku sukai lalu berbagi dengan kalian. Nah, aku ada sedikit makanan untuk kakek tua. Ambilah!" ucap Putri sambil menyodorkannya.
"Terima kasih." jawab Walvin yang menerimanya.
"Tenang saja, makanan itu bersih. Aku selalu menggunakan sarung tangan agar tidak menulari makanannya. Anda bisa makan dengan lahap." ucap Putri yang kembali berlari di dekat abangnya.
"Kenapa kau mementingkan dia dari pada abangmu sendiri? Aku sudah bilang tadi ingin menghabiskannya, kau malah melarang." protes Barra.
"Abang ini kenapa sih, selalu saja menjadi orang pelit. Sesekali berbagi, kita tidak akan membawa uang ke liang lahat nanti." jawab Putri yang menasehati Barra.
Walvin yang mendengarnya sedikit terkejut. Dia pun menghampiri Barra dan Putri, menawarkan tempat menginap. "Kalian butuh tempat menginap? Bagaimana kalau di labotarium ini saja. Kebetulan, Sindi dan Banda bermalam di sini juga untuk mengkarantina diri mereka." ucap Walvin dengan acuh tak acuh pada Barra. Sementara Barra tidak menatapnya sama sekali. Hanya Putri yang begitu senang dengan Walvin.
"Benarkah, apa boleh?" ucap Putri dengan wajah antusias.
"Tentu saja boleh. Labotarium ini tidak akan di pakai lagi. Semua ilmuan akan bekerja di labotarium baru mulai besok." jelas Walvin.
"Apa? Kenapa?" Barra mulai terpancing karena rasa penasaran.
"Sindi dan Banda ketahuan jika mereka terinfeksi. Beberapa ilmuan melakukan pemeriksaan tadi dan menemukan mereka berdua. Mau tak mau, mereka berdua harus di karantina di sini." titah Walvin sambil menatap labotarium yang sudah seperti rumahnya sendiri.
__ADS_1
"Semua ilmuan takut jika mereka terinfeksi jadi memutuskan untuk pindah tempat. Benar begitu bukan?" sahut Barra yang tersenyum walau itu bukan senyum tulus.
"Aku tidak menyangka para ilmuan juga mementingkan diri mereka sendiri. Seharusnya mereka menggunakan pakaian pelindung agar tidak terinfeksi. Kenapa malah menjauhinya?" lanjut Barra sambil melipat kedua tangannya.
"Kau lihat sendiri bagaimana pasien yang terserang mengalami hal aneh pada diri mereka. Kita tidak tahu kapan Banda dan Sindi akan berubah menjadi orang seperti itu. Jadi demi kebaikan bersama, kami harus melakulannya. Kau juga harus berhati-hati dengan adikmu. Di lihat dari wajahnya, sebentar lagi dia akan merasakan hal yang sama." jelas Walvin sebelum pergi.
Putri tidak mengerti, dia merasa bingung apa maksud Walvin. Tetapi, tangannya sudah di tarik masuk ke dalam labotarium dimana Banda dan Sindi berada.
"Hei, Banda! Sindi! Kalian ada di sini kan?" teriak Barra mencari dua orang temannya itu.
Suasanan begitu hening, di tambah kegelapan yang menyinari tempat ini. Putri pun menekan tombol hingga lampu menyala. Mereka berdua langsung terkejut melihat Banda dan Sindi di ikat seperti hewan peliharaan lalu di lakban mulutnya.
"Apa apaan ini? Kenapa kalian seperti ini?" tanya Barra yang berusaha melepas tali ikat Banda lebih dulu dengan memotongnya. Tetapi, dia merasa ada yang aneh dengan tingkah Banda yang seolah tidak bisa tenang melihat Barra.
"Ada apa, Bang? Kenapa abang tidak memotong semua talinya?" tanya Putri yang melihat Barra berhenti.
Putri melepaskannya membuat Sindi bisa bernafas lega. "Jangan lepaskan, Banda. Dia bukan lagi Banda, dia sudah berada di tahap pertama. Tingkat kelaparan. Dia bisa kabur jika kamu melepaskannya." ujar Sindi memberitahu Barra.
"Apa maksudnya tingkat pertama?" tanya Putri yang di buat bingung.
"Bagaimana denganmu?" tanya Barra ingin memastikannya. Jika di lihat dari wajah Sindi, masih terlihat sama dengan wajah aslinya. Berbeda dengan Barra yang sudah terlihat pucat seperti mayat.
"Aku baik-baik saja. Sekarang lepaskan dan kita cari obat untuk Banda." ujar Sindi membuat Barra beralih melepaskan tali yang melilit di tubuh Sindi. Putri yang membantunya keluar.
"Apa maksudmu dengan obat? Apa para ilmuan sudah menemukan obatnya?" tanya Barra setelah keadaan Sindi jauh lebih baik.
__ADS_1
"Iya. Tetapi mereka hanya bisa membuat sedikit saja obat untuk mencegahnya. Mereka tidak mau berbagi dan mengambil semuanya untuk keperluan mereka nanti. Kita bisa buat obat untuk Banda sekarang juga, sebelum tingkahnya semakin aneh." usul Sindi yang terburu-buru.
"Dimana resep obat itu?" tanya Barra.
"Tidak tahu, mereka pasti menyimpangnya di suatu tempat. Bukan, kita bisa melihat sisa larutan yang dia buat." ucap Sindi yang membawa Barra dan Putri masuk ke ruang labotarium khusus. Bukan labotarium pemula.
"Coba kamu cari tahu apa saja yang mereka campurkan ke dalam larutan sampai berwarna kuning cerah. Aku melihat banyak sekali larutan yang mereka masukkan. Tetapi, terdapat satu tanaman yang langkah membuat mereka tidak bisa memproduksi obat lebih banyak." jelas Sindi sambil memberikan semua alat yang di gunakan para ilmuan saat bekerja tadi.
Barra mencoba mengamati dan terdapat aroma yang sangat menyengat yang menusuk indra penciumannya. "Aku seperti mengenal aroma ini. Tapi dimana yah?" ucap Barra sambil berpikir.
"Coba abang ingat lagi. Mungkin inj yang mereka bilang tanaman langkah. Apa sebelumnya melihat dimana?" tanya Putri memaksa.
"Ah, aku tahu. Di pinggir jalan sebelum lorong rumah kita. Ini aroma Rosmarin. Kau ingat kan?" ucap Barra yang terlihat bersemangat.
Barra lalu menyiumkan aroma yang dia maksud kepada Putri membuat Putri menganggukan kepalanya. "Iya, bang. Putri juga kenal aroma ini." pintah Putri.
"Bagus, kita ke tempat itu sekarang mencari tanaman Rosmarin yang kalian maksud." kata Sindi yang merasa tenang.
"Tetapi, tempatnya jauh dari sini. Butuh waktu tiga jam perjalanan. Di tambah, keadaan saat ini tidak memungkinkan." jelas Barra sambil memperlihatkan Sindi video dari ponselnya di mana keadaan di sekitar sana sedang kacau. Terus saja di serang pasien yang mencari makanan karena kelaparan.
"Kau dapat video ini dari mana, Bang? Bukannya itu rumah kita yah?" tanya Putri yang terkejut.
"Iya, ini rumah kita. Ipul yang mengirimnya." jawab Barra.
"Lalu, ibu bagaimana, Bang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Putri yang menjadi sangat khawatir.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Ada Ipul yang selalu menemaninya." jelas Barra yang menenangkan adiknya.