MUNCULNYA PRIA GENIUS

MUNCULNYA PRIA GENIUS
8. Keadaan Di Rumah


__ADS_3

Ibu Barra duduk di sofa sambil menyalakan tivi. Dia ingin melihat kejadian di luar seperti apa. Barra pergi bersama Putri tanpa pamit membuat ibunya lebih khawatir lagi. Terlebih setelah ibu Barra membaca surat buatan anaknya.


"Semoga kalian baik-baik saja di luar sana." ucap ibu Barra sambil berdoa memohon.


Tiba-tiba suara tivi semakin besar tak kalah melaporkan kejadian langkah ini membuat ibu Barra segera membuka matanya dan melihatnya.


[Berita terkini, tepat pukul 08 pagi tadi, kami menemukan orang-orang yang bertingkah aneh. Mereka semua menyerang beberapa toko makanan sambil merampok semua makanan yang ada. Pihak polisi berusaha melerai, tetapi para orang ini tidak mau berhenti walau mendengar sura tembakan berkali-kali. Setelah di selediki, orang-orang yang menyerang toko makanan di pinggir jalan adalah pasien yang terinfeksi penyakit aneh ini. Lalu, bagaimana tanggapan para ilmuan saat ini?]


Ibu Barra terkejut melihat berita ini. Bersamaan dengan pintu di buka membuat ibu Barra segera menoleh ke arah pintu.


"Ipul, kau membuatku kaget. Ada apa, kenapa wajahmu tampak panik?" tanya ibu Barra yang menghampiri Ipul dengan penuh keringat di wajahnya. Ipul lalu menutup pintu rapat-rapat, mengunci dari dalam lalu menutup semua jendela yang terbuka.


"Bu, pintu di belakang sudah di kunci? Cepqt kunci kalau belum." perintah Ipul yang membuat ibu Barra tidak mengerti.


"Ada apa, Pul? Kamu ini kenapa?" tanya Ibu Barra yang tidak mengerti.


"Di luar sana, Bu, terjadi kericuhan. Banyak orang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan berusaha mengambil makanan apapun yang ada di dalam rumah. Kata polisi, mereka semua adalah pasien yang terinfeksi. Pasien dari kota sudah sampai di desa, bu. Cepat tutup pintu, jangan sampai mereka masuk." titah Ipul yang panik.


"Ya ampun, kenapa kejadian ini semakin tidak terkendali. Bagaimana kondisi Putri dan Barra? Apa Putri juga seperti mereka." ucap ibu Barra yang penuh rasa khawatir.


Tanpa menunggu lama, segumpulan orang-orang terlihat di depan rumah mereka. Mereka mulai memanjat pagar dan mengetuk pintu rumah dengan keras. Ipul lalu menarik tangan ibu Barra untuk bersembunyi di balik sofa.


"Ipul, bagaimana ini?" bisik ibu Barra.


"Jangan berisik, bu. Kalau mereka mendengar suara manusia, bisa-bisa mereka memaksakan diri masuk ke dalam rumah. Lalu menyentuh kita dan kita pun terinfeksi." balas Ipul dengan kaki yang bergetar karena takut.

__ADS_1


"Barra dan Putri, bagaimana keadaannya di sana?" ucap ibu Barra yang lebih mengkhawatirkan keadaan anaknya daripada dirinya sendiri.


Tok.. Tok.. Tok..


Para manusia aneh itu belum juga pergi. Mereka masih terus mengetuk pintu rumah tanpa hentinya. Ipul dan ibu Barra terus bersembunyi di balik sofa agar tidak terlihat oleh mereka. Tiba-tiba ponsel Ipul berdering membuat ibu Barra terkejut.


"Husst, jangan berisik. Bagaimana kalau mereka sampai mendengarnya?" ucap Ibu Barra sambil memukul kepala Ipul.


"Maaf, bu. Aku lupa mematikan nada deringnya." ucap Ipul yang mengambil ponselnya. Ipul segera menonaktifkan suara ponselnya agar tidak berisik.


"Loh, ada pesan dari Barra. Dia menyuruh kita memakai pakaian pelindung untuk menghindari kontak dengan pasien yang tertular. Dimana kita dapatkan pakaian pelindung?" tanya Ipul sambil menoleh menatap Ibu Barra.


"Kenapa kamu melihat ke arahku? Memangnya aku penjual barang seperti itu? Aku ini penjual pakaian kebutuhan sehari-hari." balas Ibu Barra yang menepuk pipi Ipul untuk segera menatap ke arah lain.


Keadaan hening seketika. Ibu Barra dan Ipul mengintip perlahan untuk memastikan keadaan di luar sana. Baru bisa bernafas lega mengira jika orang di luar sudah pergi, mereka di kejutkan dengan suara langkah kaki dari dalam dapur. Ibu Barra dan Ipul pun berjalan perlahan untuk melihat ada siapa di sana.


Jantung ibu Barra terasa ingin copot. Salah satu pasien masuk ke dalam rumahnya lewat pintu belakang dan memakan semua makanan yang ada di sana. Ipul dengan cepat membawa ibu Barra masuk ke dalam kamar, mencari tempat yang aman.


"Sudah aku katakan tadi, bu. Tutup pintu belakang!" ucap Ipul mengulang kembali perkataannya.


"Aku lupa, Pul. Namanya juga sudah tua. Lagian, tadi itu ibu syok dan tidak tahu harus melakukan apa." balas ibu Barra yang tidak mau di salahkan.


"Kita tidak boleh keluar dari kamar ini sampai keadaan benar-benar aman. Nanti, Ipul bakal pergi membeli pakaian pelindung." ucap Ipul dengan tegas.


"Aneh ya, Pul. Tempat ini seolah menjadi tempat mengerikan. Bukan zombie, bukan vampire, bukan serigala, kini manusia sendiri. Dari mana yah Pul, asal mereka. Kenapa tidak langsung di habisi saja orang terinfeksi itu biar orang yang belum tetular masih bisa selamat." ucap ibu Barra dengan nada suara sayul-sayup. Dia merasa kasihan dengan Putri yang tidak tahu apapun juga menjadi korban.

__ADS_1


"Tenang, Bu. Kita percaya sama Barra saja. Secepatnya, pasti Barra datang dan membawa obat untuk semua orang." ucap Ipul menanangkan ibu dari sahabatnya itu sambil mengelus pundak ibu Barra.


"Tunggu sebentar, Pul. Kau belum bersentuhan dengan mereka kan? Jangan-jangan sudah lagi, lalu pengang-pegang ibu. Ibu bisa tertular, Pul." cegah Ibu Barra sambil mendorong tangan Ipul menjauh.


"Ya ampun, Ibu. Aku kalau sudah terserang, ngapain masih ada di sini. Seharusnya sudah bebas pergi kemana-mana. Tidak perlu bersembunyi dari para pasien lain. Tidak ada bedanya juga kan." bantah Ipul.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar di ketuk membuat dua orang yang berada di dalam segera menepi ke tembok. Mereka berdua menjadi takut dan panik. Nafas Ipul sampai bisa di dengar oleh ibu Barra.


"Menjauh sedikit, Pul. Ibu tidak bisa nafas dengan tenang." ucap ibu Barra.


"Ipul takut, bu." ucap Ipul yang menjadi takut sampai tidak berani melepas kedua tangannya dari pundak Ibu Barra.


"Kau pikir ibu tidak takut, bagaimana kalau mereka membuka pintu dan membawa kita ikut dengannya?"


"Ibu jangan membuat aku semakin takut." kata Ipul yang tidak mau itu sampai terjadi.


Tiba-tiba, terdengar suara tangisan dari rumah tetangga sebelah. Ipul dan Ibu Barra saling menatap sambil menggeleng kepalanya.


"Dia pasti sudah dimakan, Pul." pintah ibu Barra.


"Aduh, bu. Aku kok semakin takut yah? Kakiku terus bergerak, tidak mau diam. Mana aku mau buang air kecil lagi." kata Ipul sambil berusaha menahan diri.


"Jangan buang air kecil di sini, ini kamar Putri. Dia tidak suka ada bau aneh di dalam kamarnya. Awas! Aku lempar kamu keluar biar dia mangsa sama mereka." ancam Ibu Barra.

__ADS_1


"Ibu kok bilang gitu, aku jadi meng-sedih gitu!" ucap Ipul dengan wajah cemberut.


__ADS_2