
"Barra, ada pesan terakhir untuk keluarga kecilmu. Sebentar lagi, kepalamu akan di bedah. Kau tidak bisa melihat dunia lagi meski punya dua mata." kata Walvin memperingatkan Barra.
"Tidak ada pesan terakhir apapun untuk keluargaku. Hanya satu orang yang aku ingin beri pesan. Itu kau!" tunjuk Barra dengan kondisi tubuh yang lemah. Walvin sudah menyuntikkan tubuh Barra sehingga tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku? Katakan saja." ucap Walvin sambil tersenyum merendahkan.
"Kau dibuat buta oleh dunia dan pikiranmu. Kau seorang ilmuan, ingin terus menghasilkan hal baru. Hingga otakmu berhasil mencuci semua pikiran baikmi. Melakukan penemuan terhadap penyakit menular, lalu sekarang ingin membuat robot canggih? Seharusnya kau pindah jurusan. Kau tidak pantas di katakan ilmuan." jelas Barra.
"Terserah apa katamu, aku tetap akan membunuhmu. Aku butuh asisten yang pintar dalam segala hal. Meracik obatan, dengan begitu aku menjadi terkenal. Ha ha ha." ujar Walvin yang bersemangat sekali.
"Tunggu dulu. Bagaimana caranya kau menjadi terkenal jika sudah menghancurkan sebagian manusia?" kata Banda yang datang tiba-tiba. Walvin dan Barra terkejut. Banda berhasil masuk dengan selamat sampai di ruang penelitian.
"Kau! Sedang apa di sini!" teriak Walvin tidak percaya. Tikus rumahan seperti Banda masuk ke ruangannya.
"Kau bertanya, aku menjawab. Aku datang ingin menggagalkan rencanamu." teriak Banda sambil menembak tiap sudut ruangannya, berniat merobohkan ruangan ini.
Walvin lari menyelamatkan diri. Dia tidak punya senjata dan Banda punya itu. Tentu saja, Banda bisa dengan mudahnya membunuhnya.
"Barra, ayo kita pergi. Kita bakal membantumu." kata Banda sambil mengangkat tubuh Barra.
Mereka keluar dengan selamat. Sindi, Putri, Ipul dan Ibu Barra sudah menunggu di mobil. Setelah Barra dan Banda masuk, Sindi menyetir dan pergi dari sana dengan cepat. Mereka bersembunyi di rumah Sindi.
"Kalian semua tenang saja, tempat ini aman. Tidak ada yang tahu kita bersembunyi di sini." ujar Sindi ketika sampai.
Putri tidak khawatir dengan keadaannya. Melihat wajah tampan Barra yang terbaring di depannya, hati Putri terasa sakit. Dia sampai menangis diam-diam.
"Putri, jangan menangis. Abang sebentar lagi kembali pulih. Banda dan Sindi bisa membuatkan abang ramuan." jelas Barra menenangkan adiknya.
__ADS_1
Banda bangkit ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, Sindi menahan dirinya dan membawa Banda keluar dari kamar.
"Barra harus tahu jika kita tidak bisa membuatkan dia obat. Kita seorang ilmuan, tetapi masih pemula. Tidak pernah kita membuat obat tanpa bantuan ketua." jelas Banda yang khawatir.
"Jangan beritahu siapapun. Saat ini, keluarga Barra sedang bersedih. Kita juga tidak tahu obat apa yang Walvin suntikkan ke tubuh Barra. Jadi, kita harus tahu dulu obat itu lalu memberi Barra kesimpulan." ujar Sindi dengan suara perlahan.
"Oke. Besok, kita keluar mencari obat yang tersedia di kota ini. Bisa saja, Barra membutuhkan obat itu." seru Banda. Sindi hanya mengangguk dan kembali ke dalam kamar menemui keluarga Barra kembali.
Malam harinya...
Banda dan Barra berdua di dalam kamar. Banda lalu bertanya alasan Barra pergi membawa Putri tanpa mereka. Mendengar itu, Barra merasa bersalah.
"Ban, sejujurnya aku pikir kau yang sudah mengkhianati kami. Rupanya bukan kau." kata Barra yang mengalihkan pandangannya.
"Jadi, siapa yang mengkhianati kita?" tanya Banda yang penasaran.
"Letnan. Dia marah karena kita meninggalkannya. Letnan sampai memberitahu Walvin tempat tinggal keluargaku. Dia yang selama ini menjadi penguntik." ujar Barra dengan jelas.
"Jadi, maksudmu masih banyak orang lagi yang terus mengikuti kita? Siapa mereka, orang suruhan Walvin?"
"Aku belum tahu pasti. Yang jelas, mereka juga menginap di hutan. Banyak jejak kaki hingga aku berasumsi jika orang itu tidak sendirian."
"Kamu tenang saja, Barra. Besok, aku carikan obat untukmu di kota. Semoga kau bisa sembuh secepatnya biar kita berdua bisa menghentikan Walvin bersama-sama." lanjut Banda sambil menepuk pundak Barra. Barra membalasnya dengan senyuman.
Malam semakin larut, tiga orang tentara berhasil sampai di depan rumah Sindi. Mereka lalu mengirim foto pada seseorang sambil berkata. "Pak, mereka semua berkumpul di sini. Barra tidak bisa bergerak hingga dia sakit. Mungkin lumpuh karena Walvin memberinya suntikan sebelum membedanya." tulisnya sambil mengirim pesannya.
Setelah selesai, tiga orang tentara itu segera pergi dari sana dan kembali bersembunyi di tempatnya seperti biasanya. Putri yang kebetulan datang memeriksa di kamar abangnya, sekilas melihat bayangan tiga orang dari balik jendela. Dia lalu membuka pintu memastikannya. Tetapi dirinya tidak melihat siapapun di luar.
__ADS_1
"Mungkin aku masih mengantuk." ujar Putri sambil kembali masuk dan mengunci pintu.
Ketika pagi menyapa, Sindi dan Banda sudah pergi jauh mencarikan Barra obat. Berapa kali mereka berkeliling, tidak menemukan satu rumah sakit yang menyediakan obat yang mereka inginkan.
"Kita terpaksa harus membuat ramuan penyembuh untuk Barra." ujar Sindi sambil memijat pelipisnya merasa pusing.
"Aku tidak mahir membuat ramuan tradisional. Apalagi harus mencari tanaman ini itu. Aku tidak tahu apapun." kata Banda.
"Lalu? Kita harus apa? Barra kesakitan di rumah. Obat yang kita maksud, tidak tersedia. Tidak ada pilihan lain." kata Sindi dengan tegas.
"Kau sangat khawatir dengan Barra. Apa kau mulai menyukainya?" sahut Banda yang memberhentikan mobilnya mendadak.
"Bukan tentang saling menyukai atau tidak. Ini keadaan darurat. Bagaimana kalau semua ini rencana Walvin, dia tidak ingin membedah Barra tetapi ingin membuat Barra menjadi monster juga. Bisa saja bukan?" ucap Sindi yang tiba-tiba kepikiran.
Banda berpikir sejenak lalu ikut mengangguk. Walvin tidak mungkin punya kemampuan membuat robot karena itu bukan jurusannya.
"Apa Walvin punya rencana lain untuk kita?" tanya Banda yang kembali menginjak gas dan segera memutar mobilnya. Mereka berdua khawatir terjadi sesuatu pada Barra di rumah.
Sementara itu, Barra selesai makan. Ibunya yang menyuapi dirinya. Ipul dan Putri duduk di kursi memperhatikan. Tiba-tiba tangan Barra bergetar sendiri dan sulit dia kendalikan. Kakinya mulai ikut-ikutan. Putri heran melihatnya.
"Bang, apa yang terjadi? Apa sudah pulih?" tanya Putri yang mengira jika Barra sudah bisa menggerakkan tubuhnya.
"Ini, aku tidak tahu. Kaki dan tanganku bergerak sendiri." ujar Barra.
Semua orang menjadi panik. Ipul segera memegang kaki Barra untuk tidak bergerak. Tetapi, getaran yang di buat tubuh Barra semakin besar. Ipul tidak bisa menahannya sendiri. Barra mulai merasakan sakit hingga dirinya berteriak keras.
"Akkk.." teriak Barra yang menutup kedua matanya, tidak bisa menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Abang, apa yang terjadi? Jangan buat Putri semakin khawatir." teriak Putri yang tidak tahu harus melakukan apa.
"Putri, telepon Banda dan Sindi. Mereka harus membantu kita." titah ibu Barra.