
"Ini beneran tempat tuan kalian? Perasaan kita belum keluar kota? Ini masih di kota!" teriak Banda mengeluh pada tiga oeang tentara di hadapannya.
"Ini tempat persembunyian kami, di jamin aman di sini. Kita memang belum sampai tetapi tidak bisa keluar kota menggunakan mobil. Tuanku barusaja mengirim pesan agar kita menunggu di sini." jelasnya.
"Kenapa kita harus menunggu?" tanya Ipul yang berdiri di samping Banda. Mereka berdua seolah menjadi pahlawan di sini.
"Karena tuanku akan mengirim helikopter untuk kalian." ucap tentara itu sambil menatap Barra yang tidak bisa bergerak.
"Hei! Jangan memandang abangku seperti itu. Kalian tidak berniat membunuh abangku kan?" tanya Putri yang berteriak.
"Gas Putri! Mereka perlu di marahi emak-emak." ucap Ipul bertepuk tangan.
"Tunggu sebentar. Bukannya Walvin juga ounya helikopter? Apa tuan mereka adalah Walvin?" sahut Sindi setelah berpikir panjang.
"Walvin tuan kalian?" tanya Banda yang perlahan mundur.
"Bukan, nama tuan kami adalah tuan kami. Dia seorang ilmuan yang sudah lama pengsiun. Setelah kalian melihatnya, kalian akan tahu seperti apa wajahnya." jelas tentara itu dengan penuh percaya diri.
"Siapa nama tuanmu?" tanya Putri yang sedikit tidak mengerti.
"Tuan kami." jawab mereka semua dengan lantang.
"Aku bertanya siapa nama tuan kalian!" ucap Putri yang setengah berteriak. Tiga orang tentara bingung mendengarnya.
"Ya, tuan kami. Namanya tuan kami." ucap tentara kembali memberi penjelasan.
Semua orang tertawa, termasuk Barra yang sedang sakit. Nama yang aneh, Barra tidak mengerti nama tuan tentara itu adalah tuan kami. "Apa tidak ada nama selain itu?" tanya Barra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Entah mengapa, nama itu justru tidak asing bagi ibu." sahut Ibu Barra yang memanggu anaknya.
"Apa ada nama tuan mereka juga?" tanya Banda setelah tertawa puas.
"Tuan dia, tuan kamu, tuan aku." ucap Ipul mengejek. Tiga orang tentara hanya diam menerima semua ejekan. Awalnya, mereka juga sama seperti Banda yang tidak percaya. Tetapi lama kelamaan, kata itu mulai tidak lucu lagi bagi mereka.
Tidak berselang lama, lima helikopter datang dan mendatar di atas sampah. Satu per satu naik ke helikopter hingga akhirnya mereka berangkat menuju rumah tuan kami.
Rumah luas dengan dekorasi modern. Berada di tengah laut sehingga sulit di jangkau manusia. Pantas harus menggunakan helikopter untuk datang ke sinim
"Jika naik mobil, kita tidak bisa sampai di sini." bisik Sindi pada Banda.
"Iya. Memang kau mau mobilmu tergelam?" balas Banda.
"Nah, tuan kami sudah menunggu kalian di dalam. Silakan masuk dan bertemu dengannya." perintah salah satu tentara yang membawa Barra dan teman-teman datang ke sini.
Semua orang menurut dan mengangkat kedua tangan mereka. Dengan serius, Banda memanjatkan doa bersama.
"Semoga, dia bukan Walvin. Semoga tuan kami itu orangnya baik dan tidak seperti Walvin. Semoga, kami tidak di tipu lagi. Semoga kami mendapatkan obat untuk kesembuhan Barra. Semoga kami semua selamat sampai besok. Semoga kami.."
Sindi langsung menepuk Banda agar segera mengakhiri doanya yang akan sangat lama. Banda menoleh sebentar lalu tetap melanjutkan doanya. Sindi kembali menepuk dengan keras pundak Banda.
"Kau ini kenapa? Aku masih berdoa." ucap Banda mengeluh.
"Sudah. Aku mau masuk dan melihat langsung." ujar Sindi yang tidak mau bermain lagi. Dia segera membuka pintu dan masuk menemui tuan kami.
"Hei, Sindi! Kita masih berdoa! Doa itu penting." ujar Banda mengingatkan. Ketika Banda menoleh ke belakang, sudah tidak ada orang yang mengikuti doanya. Mereka semua memilih masuk dan bertemu tuan kami.
__ADS_1
"Ala, mereka tidak tahu yang namanya keajaiban doa." kata Banda yang segera mempercepat doanya lalu menyusul teman-temannya masuk.
Suasana menjadi sedih ketika Banda sampai. Ibu Barra menangis histeris di depan seorang kakek tua yang tidak Banda kenal.
"Bar, ibumu baik-baik saja? Apa dia terharu bertemu tuan kami?" tanya Banda sambil berbisik pada Barra.
"Dia ayahku yang kami pikir sudah mati." jawab Barra yang membuat Banda terkejut. Banda sampai melotot tidak percaya. Sindi memberi kode agar anak itu tidak mengganggu.
Setelah urusan bersedih selesai. Kini tuan kami atau pak Ilham memulai pembicaraan tentang siapa Walvin sebenarnya.
"Setelah menyelidiki asal usul keluarga Walvin, aku baru tahu Walvin memang seorang ilmuan. Dia sejak kecil sangat ingin menjadi ilmuan untuk balas dendam pada semua orang karena tidak ada yang peduli pada keluarganya. Ayah Walvin seorang ilmuan terkenal dan di kagumi banyak orang. Tetapi tiba-tiba terjadi kecealakaan di labotarium hingga ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, hidup Walvin berubah drastis. Dia kembali miskin dan hidup bersama ibu dan dua kakaknya. Satu per satu keluarganya sakit dan Walvin tidak punya uang untuk biaya berobat keluarganya. Al-hasil, semua keluarga Walvin meninggal. Walvin pun punya dendam pada tenaga media, pemerintah, dan orang-orang yang tidak mempedulikannya." jelas Tuan Kami.
"Jadi, karena itu dia sampai menciptakan penyakit seperti monster yang menular?" tanya Banda yang tidak habis pikir dengan keadaan ketuanya.
"Benar. Dia ingin semua orang tahu rasa sakit kehilangan orang terdekat dan melihat semua orang terjangkit hingga mati." jelas Tuan kami.
"Kalau begitu, kita laporkan saja dia ke polisi. Biar Walvin segera di tangkap." kata Sindi yang menjadi marah mendadak. Dia tidak terima, hanya karena dendam banyak manusia menjadi korban.
"Tidak semudah itu. Walvin punya rekaman kesalahan kalian sewaktu di labotarium. Aku juga terkejut melihatnya." kata tuan kami yang membuat Sindi dan Banda saling menatap. Mereka jadi tahu kesalahannya di labotarium di rekam Walvin diam-diam.
"Jadi, kami harus melakukan apa? Apa tidak ada cara untuk menjatuhkan Walvin?" tanya Banda seketika.
"Ada. Kalian harus masuk mengendap-endap ke tempat Walvin dan mencari tahu proses pembuatan obat yang memberi penyakit menular ini. Setelah itu, kalian harus mencari tahu obat yang pas untuk menyembuhkannya bagi yang terjangkit." jelas ayah Barra.
"Tetapi, yah. Kami semua sepertinya sudah terjangkit, tetapi masih bisa bernafas sampai sekarang. Sebenarnya penyakit aneh ini tertentu?" tanya Barra yang penasaran.
"Kalian harus menemukan obatnya secepatnya. Tidak ada yang tahu kedepannya apa yang akan terjadi pada kalian karena sudah terjangkit. Bisa saja, sesak nafas dadakan sampai menimbulkan kematian. Jika tidak ada obatnya segera, kalian akan hilang dari muka bumi ini." ucap Tuan kami yang seperti menakuti.
__ADS_1
"Barr, kita harus beraksi secepatnya. Aku tidak mau mati di saat belum menikah. Kalau nanti masuk surga, aku tidak punya istri yang menunggu di sana." kata Banda dengan wajah serius sambil menoleh menghadap Barra yang lemas.