MUNCULNYA PRIA GENIUS

MUNCULNYA PRIA GENIUS
26. Si Genius Yang Sakit


__ADS_3

Sindi dan Banda berlari masuk ke rumah. Mereka tidak sadar sebuah mobil telah terparkir di depan rumah Sindi. Ketika Sindi masuk, dia terkejut melihat tiga orang tentara berada di kamar Barra.


"Siapa mereka?" tanya Sindi yang waspada.


"Mereka orang yang membantu kami." jawab Putri.


"Apa? Mereka bukannya komplotan letnan yang tidak tahu diri itu kan? Memangnya, apa yang mereka bantu?" tanya Banda yang baru masuk.


Putri lalu menjelaskan Barra mengalami sakit misterius. Tubuh Barra tidak bisa di kendalikan dan bergerak sendiri. Di saat Putri dan keluarganya panik, tiga orang tentara ini lalu masuk dan memberi Barra suntikan. Satu kali suntikan, tubuh Barra sudah kembali pulih dengan cepat.


"Aneh, dari mana mereka tahu Barra sedang sakit?" tanya Banda yang menatap curiga tiga orang tentara itu.


"Kami sedang dalam misi mengawasi kalian hampir satu bulan ini. Rupanya, kalian bukan orang biasa termasuk Barra. Kalian semua orang hebat yang ingin berjuang demi masa depan umat manusia. Untuk itu, tuan kami mengutus kami membawa kalian menghadap padanya." kata salah satu tentara yang berbaris paling depan.


"Tuan kalian? Ha, siapa dia. Apa aku pernah bertemu dengannya, mengenalnya?" tanya Banda yang semakin curiga. Ada yang tidak beres dengan tiga orang tentara ini.


"Jujur, aku bukan orang yang jahat. Kami datang atas utusan tuan kami. Kami bukan tentara seperti yang kalian duga. Kami menerobos masuk dan terpaksa memakai pakaian tentara. Mungkin, kalian semua penasaran dan ingin bertemu dengan tuan kami, kami dengan senang hati akan mengantar kalian." ucapnya menyakinkan semua orang.


Barra yang sudah kembali sadar, menggeleng kepalanya. Dia merasa efek obat yang di berikan tentara itu membuat kepalanya sakit seperti menusuk.


"Bar, kau baik-baik saja? Apa tentara ini memberi obat yang salah?" tanya Banda yang memegang tangan Barra.


"Tidak, ini sudah obat yang benar. Suntikan yang Walvin berikan adalah suntikan mempergaruhi kinerja otakku. Aku tidak akan sadar dengan diriku sehingga tubuhku bisa di ambil alih oleh obat yang Walvin berikan. Ini sudah benar." jelas Barra yang membuat Banda terkejut.

__ADS_1


"Hemm, jadi kita harus apa? Bertemu dengan tuannya?" bisik Sindi.


"Kenapa kita tidak mencobanya. Bersembunyi di sini, sudah jelas pasti akan ketahuan. Mungkin tempat tuannya tidak akan di ketahui oleh Walvin." usul Barra.


"Tetapi, Bang. Apa tidak apa-apa jika kita ikut dengan mereka? Kalau mereka hanya pura-pira baik dan ternyata orang suruhan pak tua jahat itu, bagaimana?" seru Putri yang masih belum yakin. Masih ada keraguan di hati terdalamnya.


"Ini yang harus di pikirkan, cara kabur." jawab Ipul yang ikut-ikutan. Hanya ibu Barra yang tidak berkumpul sambil memberi pendapat. Tiga orang tentara itu hanya diam di pojokan menunggu respon Barra dan teman-temannya.


"Hei, kalian! Aku ingin bertanya satu hal. Apa Barra sudah sembuh setelah kalian memberikan suntikan itu?" tanya Sindi yang menoleh ke belakang.


"Belum sepenuhnya sembuh. Efek yang di berikan Walvin jauh lebih tinggi dari obat kami. Untuk itu, Barra harus di periksa bagian kepalanya secara menyeluruh." jawab tegas mereka. Sindi kembali menoleh ke arah teman-temannya dengan wajah bingung.


"Kita tidak punya pilihan selain ikut dengannya. Ini demi kebaikan Barra." bisik Ipul.


"Baiklah, kalian semua ikut aku. Perjalanan sangat jauh dan merepotkan. Kita harus mengendap-endap keluar dari kota ini." tegas para tentara yang berjalan lebih dulu sambil memegang erat senjatanya. Salah satunya memberi kode kepada temannya untuk memberitahu tuannya tentang kabar baik ini.


Mereka lalu pergi dengan dua mobil. Satu mobil tentara dan satu mobil Banda. Banda melaju mengikuti arah dari tentara di depannya.


"Semoga mereka orang baik." ucap Banda yang terus merasa khawatir.


"Diamlah, kau sudah mengatakannya seratus kali. Aku jadi bosan mendengarnya." ucap Sindi yang duduk di samping Banda.


Barra bersandar di tubuh ibunya, menahan sakit yang luar biasa di otaknya. Sesuatu seperti ingin menusuk otaknya itu. Keringat dingin Barra bercucuran, pundak ibunya sampai basah.

__ADS_1


"Barra, kau sakit lagi?" tanya Ibu Barra yang menyadarinya.


"Benarkah? Tubuhnya tidak bergetar seperti tadi pagi." sahut Putri memastikan keadaan abangnya.


"Aku haus, tolong beri aku minum." sahut Barra dengan suara perlahan. Sindi bergerak cepat menyodorkan air minumnya.


"Aneh, kau sudah di suntik masa masih memgalami sakit. Apa mereka salah obat?" tanya Banda yang menjadi cemas.


"Mereka sepertinya memberiku obat penghilang rasa sakit saja. Aku sempat membaca melihat sekilas obat yang mereka larutkan." ucap Barra yang kesakitan.


"Karen itu, rasa sakitnya muncul lagi. Aku rasa, aku pernah punya stok obat penghilang rasa sakit. Tunggu, aku cari di tasku." ucap Sindi yang membuka tasnya segera. Setelah menemukan obat yang di carinya, Sindi segera memberikannya pada Barra. Putri membantu Barra meminumnya. Setelah minum obatnya, Barra tidak merasa sakit lagi.


"Hanya obat penghilang rasa sakit sementara tetapi kenapa mereka repot menyuntikannya? Barra kan bisa langsung meminumnya. Aneh sekali tingkah mereka." jelas Banda yang terus mengomel.


"Benar aneh. Mereka bilang itu obat yang di buat tuannya. Kita sampai mengikutinya agar Barra bisa mendapat obat itu lagi, rupanya itu hanya obat biasa saja." sahut Ipul yang duduk paling belakang.


Putri memasang wajah sedih, wajah Barra tampak pucak sekali seperti mayat hidup. Tangan Barra dingin, Putri mengosok tangannya dan memberikan kehangatan sedikit pada tangan Barra.


"Bang, cepat sembuh. Putri masih sakit loh. Kalau Putri sakit dan abang sakit juga, yang buat obat untuk Putri siapa? Obat saat ini lagi mahal loh, Bang." kata Putri mengingatkan Barra. Hanya senyum yang Barra berikan membalas perkataan adiknya. Sementara ibu Barra menangis diam-diam. Hatinya terkikis dan sakit melihat anak-anaknya menderita.


"Sin, apa kita sudah sampai?" tanya Banda yang tiba-tiba memberhentikan mobilnya. Sindi yang menoleh ke belakang, kini berbalik menghadap depan. Terlihat mobil di depannya berhenti. Tiga orang tentara turun dari mobil mereka dan memberi kode pada Banda sudah waktunya untuk turun.


"Tunggu dulu, aku tidak lihat ada rumah. Ini hanya tempat pembuangan sampah saja. Mana mungkin tuannya tinggal di sekitar sampah." titah Putri yang menjadi panik. Bisa saja, apa yang di katakan Banda benar adanya. Mereka menipu Barra dan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2