
Ibu Barra pun mengamuk, menarik sapu dan dengan cepat menerobos orang aneh itu. Memukul dengan sapu, mengibas dimana-mana agar anak kesayangannya bisa terbebas. Dia tidak peduli lagi dengan dirinya yang bisa saja tertular penyakit aneh ini.
"Lepaskan Putriku, bodoh!" teriak Ibu Barra yang melempar ke sana sini. Tidak berhenti memberontak hingga akhirnya Ipul melempar air di dekat jendela membuat orang-orang aneh segera berlari untuk meminumnya.
"Cepat masuk dan bawa Putri!" teriak Ipul dari dalam rumah.
Sindi dan Banda sudah lebih dulu masuk. Barra membopoh adiknya sambil berlari masuk ke dalam rumah bersama ibunya. Setelah mereka masuk, pintu langsung di kunci dengan rapat dari dalam.
"Akhirnya kita selamat." ucap Ipul yang bernafas lega.
Putri duduk sambil menatap luka-luka di tangan dan kakinya. Dia seperti daging segar yang di perebutkan banyak orang. "Kau baik-baik saja, Nak?" tanya ibu Barra yang ingin menyentuh Putri, tetapi di cegah cepat oleh Barra.
"Putri terinfeksi, bu. Jangan menyentuhnya!" ucap Barra yang menarik tangan Putri.
"Lalu, apa ibu hanya akan diam melihat Putri seperti ini. Terlebih, orang yang terinfeksi akan berubah menjadi orang aneh. Ibu harus merawat luka Putri sebelum dia menjadi seperti mereka." ucap ibu Barra yang keras kepala.
"Apa ibu bodoh? Aku tidak bisa menjamin keselamatan Putri, lalu jika ibu tertular bagaimana? Aku takut, bu. Jadi tolong jangan membuat aku semakin kesulitan." titah Barra sambil meneteskan air matanya.
Semua orang yang duduk di sofa, terkejut dengan suara tinggi Barra. Ipul pun menepuk pundak Ibu Barra untuk mengerti. Dengan cepat Ibu Barra duduk sambil menatap Barra yang menangis.
"Sebaiknya kalian semua istirahat di kamar. Pasti lelah bersembunyi dari para polisi dan orang-orang aneh itu." ucap Ibu Barra yang bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamarnya menangis sejadi-jadinya di sana tanpa ada yang mendengarkan.
"Barra, aku sudah melihat berita di tivi. Apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar kan? Kau berusaha mencari obat untuk Putri atau kau di jebak oleh mereka berdua?" tanya Ipul sambil menujuk Sindi dan Banda.
__ADS_1
"Hei, jangan asal menuduh! kami juga di jebak." protes Banda yang merasa di rendahkan.
"Kalian di jebak oleh siapa?" tanya Ipul sambil menoleh ke arah Banda.
"Ketua, orang yang bicara di berita itu. Dia membalikkan fakta seolah kami pelakunya. Lihat saja nanti, aku akan balas semua perbuatannya." jelas Banda yang memendam emosinya.
Putri hanya diam, dia masih kepikiran dengan ibunya. Diam-diam Putri meninggalkan pembicaraan dan mencari ibunya. Dia ingin mengetuk pintu tetapi mendengar suara ibunya yang menangis dari dalam kamar. Wajah sendu, khawatir, sakit, semuanya bercampur. Putri memegang dadanya yang terasa sesak.
"Maafkan Putri, bu. Karena Putri pergi menjenguk pacar Putri, semuanya jadi seperti ini. Andai Putri tidak pergi, semuanya tidak akan seperti ini. Putri minta maaf, Bu. Putri sadar jika Putri yang salah. Maafkan Putri sekali saja, Bu." bisik Putri dengan berlinang air mata.
Tubuhnya menjadi lemah dan duduk di depan pintu kamar ibunya. Sindi yang melihatnya merasa kasihan. Dia pun memeluk Putri dari belakang dan menepuk pundak Putri perlahan agar bisa tenang.
"Ini semua bukan salahmu. Kami yang salah telah memasukkan obat yang salah sehingga semua orang berubah menjadi aneh. Tenang saja, aku janji akan membantumu sampai akhir." ucap Sindi dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak makan makanan aneh atau minuman yang belum pernah aku minum. Tetapi, ada sesuatu yang membuat aku curiga."
"Katakan saja apa itu, aku bisa melakukan penyelidikan untuk mengetahui masalah yang sebenarnya." ucap Barra membujuk.
"Aku sudah tua dan sering sakit-sakitan. Aku di haruskan minum obat setiap hari. Tetapi, obat yang aku beli terakhir kali, rasanya sangat berbeda. Aku tahu betul itu karena sudah sering mengonsumsinya." jelasnya yang membuat Barra mengangguk perlahan.
"Tidak apa, aku akan beritahu pendapatmu ini pada para ilmuan. Semoga mereka segera melakukan penyelidikan menyeluruh dan menemukan awal mula masalah ini berasal." ucap Barra yang mencatatnya.
Seharusnya dari awal Barra sudah curiga jika ada masalah dengan para ilmuan. Barra harus melakukan penyelidikan sebelum memberitahu Walvin. Tetapi bodohnya dia, Barra justru mengungkapkan di depan Walvin membuat Walvin bertindak cepat mengatasinya. Sampai berhasil menjebak Barra dan teman-temannya.
__ADS_1
"Ada masalah?" tanya Ipul yang masuk ke kamar Barra.
"Kenapa belum tidur?" tanya Barra sambil memanaskan obat yang sudah dia hancurkan.
"Aku terus kepikiran denganmu. Tidak biasanya kau membantah atau bersuara keras kepada ibumu. Tetapi tadi, kau melakukannya membuatku bingung. Kau pasti dalam masalah besar." ucap Ipul sambil berdiri di dekat pintu, merasa takut untuk masuk juga.
"Sampaikan maafku pada ibuku, aku tidak bermaksud melakukannya." ucap Barra yang selesai memanaskan obat itu yang kini berubah menjadi larutan.
"Kenapa tidak kau sendiri yang minta maaf?" tanya Ipul yang terus berbicara tiada henti membuat Barra terpaksa menatapnya.
"Kau tidak tahu masalah apa yang sedang kita hadapi. Orang aneh yang kehausan tadi bisa berubah menjadi orang yang membunuh manusia. Kita lihat saja seiring berjalannya waktu." jelas Barra dengan tatapan melekat.
"Benarkah? Aku merasa itu mustahil. Mereka hanya butuh makan dan minum. Itu saja." ucap Ipul yang tidak percaya. Sejauh ini, orang aneh yang mereka lihat tidak pernah melukai siapapun.
"Kau tidak percaya karena belum melihatnya. Mereka semua baru mencapai tahap kedua. Satu tahap lagi maka kau bisa melihatnya." jelas Barra yang melihat hasil tes obat itu.
Ipul terlihat berpikir lalu mengangguk kecil. Dia lalu pergi tanpa pamit dengan Barra. Barra yang sedang fokus mengamati hasil tesnya, menemukan hal aneh yang tidak seharusnya berada di dalam obat ini.
"Seumur hidup, aku belum pernah melihat bahan obat seperti ini. Darimana mereka mendapatkannya?" tanya Barra yang bingung sendiri.
Barra lalu membuka jendela sambil melihat-lihat pemandangan malam. Dia menelusuri jalan dimana tanaman Rosmarin berada. Biasanya Barra selalu bisa merasakan aroma Rosmarin dari jendela kamarnya, tetapi kali ini tidak bisa. Barra bahkan tidak melihat tanaman Rosmarin.
"Mungkin karena gelap, mataku sampai tidak bisa melihat tanaman Rosmarin. Baiklah, besok pagi aku akan mengambilnya." ucap Barra yang menutup kembali jendela kamarnya. Barra lalu mengisi daya ponselnya untuk dia gunakan beberapa hari kedepan. Mengingat dirinya masih harus berjalan-jalan mencari berbagai tanaman yang akan di gunakan dalam pembuatan obat.
__ADS_1