MUNCULNYA PRIA GENIUS

MUNCULNYA PRIA GENIUS
19. Keracunan


__ADS_3

Barra menutup matanya mengira jika dirinya akan mati di tembak di sini. Tetapi tubuhnya tidak terasa sakit walau mendengar suara tembakan berkali-kali. Barra membuka matanya dan terkejut melihat dirinya masih selamat bersama tiga temannya.


"Kalian masih harus hidup dan membantu kami menyelamatkan dunia ini." ucap letnan tentara itu sambil tersenyum ke arah Putri.


'Apa apan ini, jangan bilang jika dia menyukai Putri. Tidak boleh!" ucap Barra dalam hati. Barra tidak mau jika adiknya pacar-pacaran dengan seorang tentara.


"Apa yang kalian berdua tunggu? Cepat buka ikat tali mereka, biarkan mereka lepas." ucapnya memberi perintah kepada anak buahnya yang berdiri di belakangnya.


Barra menjadi acuh tak acuh, dia merasa di tipu habis-habisan tadi. Tiba-tiba suara jerita terdengar membuat mereka semua kaget. Barra bergegas melihatnya di mana suara teriakan itu berasal dari orang yang Barra ikat. Ketika sampai di sana, salah satu pasien sudah sadarkan diri. Tetapi pasien satunya mengalami gejala aneh. Tubuhnya kejang-kejang sampai mengeluarkan busa.


"Tolong dia!" teriak pasien yang sudah sembuh. Barra membuka tali ikatnya dan langsung membantu pasien yang keracunan. Lama Barra memompa jantungnya, dia berhenti setelah memeriksa detak nadi pasien itu.


"Bagaimana?" tanya Banda yang penasaran melihat wajah Barra yang dingin dan kesal.


"Dia meninggal." sahut Barra dengan singkat sambil pergi dari sana.


Sindi membuka mulutnya sambil berjalan mendekati pasien itu. Mencoba memastikannya. Banda segera menyusul Barra yang memendam rasa marahnya sendiri.


"Sial!" teriak Barra di tengah hutan sendirian. Dia marah, murka dengan dirinya yang sudah meracuni seseorang. Entah apa yang membuat orang itu sampai keracunan, yang jelas Barra, orang yang terakhir memberi mereka makan.


"Barra, kau ini kenapa? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa mereka keracunan?" tanya Banda yang menjadi bingung. Banda merasa ada yang aneh dan mengganjal di sini.


"Aku tidak tahu. Sebelum pergi tadi, aku sempat melihat kondisi pasien itu dan mereka baik-baik saja. Mereka kehausan dan laper, meminta makanan padaku. Aku memberinya kelapa dan airnya untuk menghilangkan dahaganya. Tetapi malah seperti ini." jelas Barra yang duduk berjongkok sampai mengacak rambutnya, merasa frustasi.


"Kau yakin tidak ada makanan aneh yang kau berikan kepada mereka?" tanya Banda sekali lagi memastikannya.

__ADS_1


"Apa aku seorang pembunuh yang rela meracuni mereka? Kau lihat sendiri, dia mengeluarkan busa dari mulutnya. Pasti karena keracunan." titah Barra yang meninggikan suaranya.


"Aku jadi bingung." ucap Banda yang tidak bisa berpikir tenang. Letnan tentara tiba-tiba muncul setelah diam-diam bersembunyi mendengarkan pembicaraan Barra dan Banda.


"Apa kalian ingin tubuh orang itu di atopsi? Kita bisa tahu apa yang terjadi padanya. Apa benar dia keracunan atau tidak?" sahut letnan memberi usulan.


"Apa itu bisa di lakukan?" tanya Banda dengan wajah antusias.


"Iya, bisa. Para tentara punya rumah sakit khusus, kita bisa gunakan rumah sakit itu. Sebaiknya kita bawa mayat itu ke rumah sakit segera." perintah letnan.


"Siap, letnan!" ucap Banda yang ikut-ikutan bermain tentara.


Barra masih kesal, dia duduk menghampiri pasien satunya yang masih bisa bertahan hidup. Barra menunduk, mengatur nafas sebelum bicara.


"Apa anda baik-baik saja? Apa perlu kami antar anda besok ke rumah keluarga anda?" tanya Barra dengan suara lemah lembut sambil menatap bapak di sampingnya.


"Apa ada yang kalian makan setelah aku pergi? Aku hanya memberikan kalian kelapa. Air kelapa atau isinya tidak akan membuat orang keracunan. Malah bisa membuat tubuh kita fit." ujar Barra menjelaskan.


"Kami tidak makan apapun selain apa yang kamu berikan. Tetapi kepala kami terasa pusing setelah meminum air kelapa. Aku sempat pingsan sebentar." ujarnya yang bicara terus terang.


"Maaf, aku seharusnya memeriksa kondisi kalian sebelum memberikan makanan atau obat. Aku akan sangat hati-hati lagi ke depannya." ucap Barra yang bangkit dari tempat tidurnya dan segera masuk ke dalam tendanya.


Banda sudah lebih dulu tidur di sana. Barra pun menggeser tubuh Banda agar bisa di gunakan bapak tadi untuk tidur di dalam tenda juga. Sementara tiga orang tentara memilih tidur di atas pohon dengan nyaman. Sudah biasa bagi mereka melakukannya.


Keesokan Harinya...

__ADS_1


Sinar matahari menyapa hutan belantara itu. Para tentara bangun lebih dulu dan membawa mayat pasien meninggal kemarin ke rumah sakit khusus untuk diatopsi. Bapak yang sudah sembuh pun di pulangkan oleh letnan tentara.


Tinggal mereka berempat di hutan, menikmati waktu santai. Barra memilih berburu hewan yang bisa dijadikan santapan pagi ini. Ketika menelusuri hutan semakin dalam, Barra menemukan banyak bangkai hewan yang sudah membusuk. Bahkan bangkai kelelawar pun berserakan di dalam goa.


Barra lalu pulang dengan tangan kosong membuat Banda tertawa mengejeknya. "Kau sudah pernah berburu sebelumnya?" tanya Banda yang tersenyum sinis.


"Aku menemukan hal aneh di hutan. Banyak bangkai yang sudah membusuk di sana. Bahkan bangkai kelelawar pun berserakan dalam hutan. Menurutmu apa yang terjadi?" tanya Barra balik.


"Bangkai kelelawar?" ucap Banda yang berpikir. Terlintas di pikiran Banda kejadian yang menimpah dirinya di labotarium pada saat itu. Kelelawar masuk ke dalam larutannya dan seketika hilang terbakar. Dia bahkan tidak sempat memberitahu Walvin karena merasa takut.


"Apa jangan-jangan itu ada hubunganya dengan penyakit aneh ini, Bang?" ucap Putri yang mendadak keluar dari dalam tendanya.


"Benar, bukan hanya manusia yang bisa terserang. Hewan pun juga. Kalau kita melakukan pengujian pada hewan dan menemukan obatnya, tidak kita perlu repot menculik pasien aneh dari tempat persembunyian." ujar Sindi menambahkan.


"Kalau begitu bagus dong. Abang tidak akan repot lagi. Tinggal mencari hewan yang terjangkit, setelah itu abang bisa melakukan pengujian." atur Putri yang terkesan mudah.


"Uji-uji. Bunga Rosmarinnya mana? Kita butuh bunga itu juga. Kalau tidak ada, mana bisa kita membuat obat yang cocok dengan penyakit ini." jelas Barra.


Banda hanya diam, kejadian di labotarium terus saja berputar di otaknya. Dia tidak memberitahu Sindi karena takut anak itu semakin bersalah. Banda harus memastikannya terlebih dulu apa memang itu penyebabnya.


Barra bergegas masuk ke dalam tenda, mengganti pakaiannya. Banda pun ikut masuk ke dalam tenda dan terus menatap Barra dengan serius.


"Naksir sama aku?" tanya Barra yang merasa aneh dengan tatapan Banda.


"Tidak."

__ADS_1


"Lalu, kenapa terus melihatku?"


"Aku punya mata untuk bisa melihatmu. Lagian kau juga bukan hantu, jadi masih bisa terlihat." jawab Banda dengan suara dingin dan datar. Barra hanya mengerutkan alisnya sebentar lalu kembali memasukkan pakaiannya ke dalam tas.


__ADS_2