MUNCULNYA PRIA GENIUS

MUNCULNYA PRIA GENIUS
22. Pergi Dari Hutan


__ADS_3

Ketika malam mendatang, Barra pergi seorang diri ingin memeriksa keadaan keluarganya. Dirinya tidak mau tinggal diam setelah tahu apa yang terjadi dengan Ibu dan tetangganya yang sudah seperti saudaranya sendiri. Dia hanya merengek tas ranselnya yang di penuhi alat medis.


Barra lalu menyusuri tiap jalan dan mengambil jalan pintas. Walau tahu jarak dari hutan ke rumahnya sangat jauh, semua itu tidak membuat tekad Barra berhenti. Dia tetap ingin memastikan keadaan ibunya.


Sinar matahari mulai tampak, Barra istirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya. Dia kembali melanjutkan perjalanan setelah merasa lebih baik.


Sementara di hutan tempat kemah Barra, keadaan menjadi heboh ketika Banda menemukan kertas berisi pesan Barra. Banda lalu membangunkan Putri dan memberikan Putri pesan yang di buat Barra.


[Abang tidak tahu harus menulis apa? Yang jelas, abang akan pergi melihat keadaan ibu. Kalian tetap di dalam hutan dan jangan pergi ke mana. Setelah melihat ibu, Abang akan kembali. Abang janji. Jadi, jika abang tidak pulang dalam satu minggu, lupakan abang. Bisa saja terjadi sesuatu pada abang di dalam perjalanan.]


Putri melempar jauh kertas Barra, kesal dengan tindakan yang Barra lakukan. Sindi hanya bisa menenangkan Putri sambil mengelus punggungnya.


"Bagaimana jika kita pergi menyusul Barra? Keadaan di luar sana sangat buruk, tidak baik pergi seorang diri." ucap Banda memberi pendapat.


"No. Barra sudah melarang kita untuk keluar. Kau ini sepertinya tidak punya telinga?" bantah Sindi sambil melirik Banda dengan tajam.


"Aku hanya khawatir dengan Barra. Sebelum terjadi sesuatu padanya, kita harus menyusulnya lebih dulu." titah Banda dengan tegas.


Putri hanya terdiam sambil berpikir. Dia lalu menyahut membuat Banda semakin kesal. "Tidak, kita tidak akan pergi. Sebaiknya, kota tunggu Abang sampai kembali. Aku yakin sekali, Abang pasti kembali." jelas Putri yang di sambut anggukan oleh Sindi.


"Ya terserah, kau yang punya kakak. Bukan aku." sahut Banda yang pergi mencari makanan daripada terus berdebat dengan Putri dan Sindi.


Ketika malam kembali datang, Barra sudah sampai di perbatasan kota. Tidak lama lagi dirinya tiba di rumah orang tuanya. Jalanan yang menampakkan kakinya terasa sunyi. Tak satupun kendaraan lewat baik motor atau pun mobil.


"Mungkin semua orang takut keluar rumah." pikir Barra yang terus berjalan.


Barra lalu sampai di rumahnya tepat pukul dua belas malam. Dirinya ingin sekali berteriak memanggil ibunya. Tetapi Barra tahan dulu, takut membuat para monster aneh muncul.


Ketika melewati pagar rumah, Barra melihat banyak sekali bercahan darah. Terdapat dua mayat yang tergeletak di depan rumah Barra. Beruntung, kedua mayat itu bukan mayat Ipul dan ibunya.

__ADS_1


Barra masuk ke dalam rumah dengan rasa cemas dan khawatir. Pintu rumahngya tidak terkunci dan hanya tertutup rapat. Setelah berkeliling hampir tiga putaran, Barra tidak melihat ibunya dan Ipul.


"Apa mungkin terjadi sesuatu dengan mereka?" tanya Barra yang menjadi panik.


Barra berniat keluar mencari ibunya tengah malam, sebuah surat yang berada di atas meja seperti sengaja di letakkan di sana membuatnya penasaran. Terlebih, surat tersebut di duduki vas bunga agar tidak jatuh.


[Ini aku, Walvin. Jika kau datang dan melihat suratku ini maka segera pergi menghadap diriku. Kalau tidak, kedua orang yang tinggal di rumahmu bakal aku ubah jadi monster. Jadi, kau harus segera datang menemuiku. Aku beri waktu satu minggu saja setelah surat ini aku tulis.]


Barra tercengah dan terkejut. Darimana Walvin tahu alamat dirinya. Seharusnya Walvin tidak datang dan membawa ibunya. Pasti ada seseorang yang memberitahu Walvin.


"Apa Banda atau Sindi?" tanya Barra mulai curiga.


Barra memilih kembali ke hutan menemui adiknya. Dia takut jika adiknya bakal di sandra oleh Walvin. Sudah cukup ibu dan Ipul yang berada di sana.


Sesampai di hutan, Barra membuka tenda Putri diam-diam sambil perlahan. Dia tidak mau terlihat oleh Banda atau Sindi yang tidur bersama Putri.


"Put.. Putri! Ayo bangun, kita harus segera pergi dari sini." ucap Barra menarik kaki adiknya.


"Jangan berteriak, jangan sampai ada Sindi atau Banda yang melihat kita. Ayo kita pergi, ambil semua barang-barangmu." ucap Barra memberi perintah kepada Putri.


Putri masih mematung, terkejut mendengarnya. Dirinya juga heran, mengapa kakaknya menyuruhnya pergi diam-diam?


"Kenapa, Bang?" tanya Putri dengan suara perlahan.


"Nanti abang jelaskan, yang penting kita harus pergi dulu dari sini." ucap Barra sambil menarik Putri segera keluar dari tenda.


Putri mengambil tas ranselnya dan bergegas mengikuti abangnya walau di penuhi banyak pertanyaan. "Kita pergi tanpa mengajak kak Sindi dan Kak Banda?" tanya Putri.


"Mereka tidak bisa di percaya." ujar Barra yang membawa adiknya keluar dari hutan tengah malam.

__ADS_1


Putri terus berjalan mengikuti abangnya meski dirinya tidak ingin meninggalkan Sindi atau Banda. Dirinya terus menoleh ke belakang melihat dua tenda yang di gunakan Banda dan Barra. Dari atas pohon, seorang laki-laki mengintai dan melihat pergerakan Barra dan Putri. Dia lalu memberi laporan kepada atasannya.


"Target sudah pergi berdua dengan adiknya tanpa kedua temannya. Apa yang aku harus aku lakukan, Pak?" tanyanya.


"Baik, segera aku jalankan." ucapnya yang melompat dari pohon dan menuju tenda Banda dan Sindi. Tiba-tiba, dia mendadak mundur ketika melihat sesuatu.


Keesokan Harinya..


Sindi berteriak melihat Putri tidak ada di dekatnya, di tambah tas ransel Putri pun hilang. Putri berjalan dengan cepat menuju tenda Banda.


"Banda, bangun! Putri kabur!" teriak Sindi berusaha membangunkan Banda yang masih terlelap.


"Apa? Aku masih mau tidur." jawab Banda yang mengantuk.


"Putri kabur dan kau masih ingin tidur? Cepat bangun dan cari Putri. Jangan sampai dia keluar dari hutan ini sendirian." jelas Sindi dengan nada suara tinggi.


Banda kaget, bangun dengan cepat menatap Sindi dengan tajam. "Apa maksudmu mencari Putri? Apa dia tidak ada di sini?" tanya Banda yang belum mengerti.


"Itu benar. Dia pergi dari hutan ini." jelas Sindi.


"Mana mungkin, dia bilang akan menunggu Barra. Jika di lihat, dirinya tidak punya nyali keluar dari sini seorang diri. Dia itu penakut, cukup penakut." jawab Banda yang tidak percaya.


"Kalau begitu, cari dia di sekitar sini. Kau tidak akan menemukannya. Tasnya juga hilang, sudah jelas dirinya kabur." titah Sindi yang tidak mau kalah.


"Serius?" ucap Banda yang terkejut.


"Kamu nanya, kamu bertanya-tanya?" balas Sindi yang sedikit jengkel dengan tindakan Banda.


"Dia pasti keluar mencari abangnya. Kalau begitu, kita harus cegah dia. Keadaan buruk sedang terjadi di luar sana. Sangat bahaya jika dia pergi seorang diri." jelas Banda yang mulai panik.

__ADS_1


"Seharusnya dari tadi."


__ADS_2