
Bola mata Barra membulat melihat banyak manusia terbunuh dan berserakan di jalan. Letnan yang membawa mereka sampai tidak bisa mengantar lebih jauh lagi.
"Bagaimana ini? Kita terhalang di sini?" tanya Letnan yang menjadi kesal.
"Tidak apa, aku dan Banda bakal turun di sini saja dan kami berdua bisa berjalan kaki. Sebaiknya kau tunggu di sini." ucap Barra yang membuka pintu mobil.
"Kalian harus hati-hati, manusia pembunuh itu sudah tersebar di mana-mana. Jika bertemu dengannya, segera melarikan diri." teriak Letnan mengingatkan.
"Terima kasih, tetapi kau juga harus jaga diri dengan baik. Jangan sampai dia menghampirimu di sini. Cari tempat aman dan sembunyi saja." ucap Barra sambil menutup pintu mobil Letnan.
Banda dan Barra lalu bergegas pergi dengan cepat. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengintai dari kejauhan. Mereka bergerak secara perlahan menghampiri mobil Letnan yang terparkir begitu saja.
"Barra, apa dekat sini ada rumah sakit atau puskesmas?" tanya Banda yang berjalan dengan waspada. Pandangannya mengarah ke sana sini memastikan keadaannya aman.
"Mana aku tahu, aku ini orang desa." sahut Barra yang terus berjalan mencari rumah sakit terdekat.
"Kita harus tahu daripada nanti tidak ketemu rumah sakit dan malah bertemu manusia pembunuh itu. Benar-benar menyeramkan. Aku tidak percaya sang ketua membuat manusia menjijikan seperti itu." ucap Banda sambil menggeleng kepalanya.
Rankk...
Suara aneh terdengar entah dari mana. Banda dan Barra saling melihat sebelum memastikan darimana asal suara itu. Mereka berjalan mengendap-endap dengan nafas memburu dan tubuh yang mulai bergetar. Bisa di bayangkan betapa ngerinya manusia yang di serang ketika melihat video dari ponsel Letnan tadi pagi.
"Bar, kau periksa ada apa di sana?" tunjuk Banda yang tidak berani melangkah.
"Jangan takut, aku mulai takut juga melihatmu takut." sahut Barra yang ikut bergetar.
"Aku tidak takut, kakiku hanya lelah berjalan saja sampai bergetar. Kau saja yah, yang pergi memeriksa di sana ada apa?" ucap Banda lagi memberitahu Barra.
__ADS_1
Barra memberanikan diri melangkah tanpa membawa senjata apapun. Dengan modal nekat dan penasaran, dia terus berjalan menyusuri lorong. Berapa kali dia menelan ludah karena merasa takut nantinya melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat.
Rank.. Rank.. Rank..
Suaranya semakin dekat di telinga Barra, langkah kaki Barra semakin perlahan. Sebelum Barra mengintip, Banda mengagetkannya yang berteriak tiba-tiba. "Barra, aku puskesmas dekat sana. Kita sebaiknya ke sana lebih dulu." ucap Banda yang antusias melihat sebuah puskesmas di seberang jalan.
Barra pun bergegas menghampirinya dan tidak jadi melihat ada apa di balik tembok jalan itu. Padahal, seseorang tengah makan dengan lahap di sana seorang diri sambil memegang kaleng untuk membuat suara berisik.
Banda dan Barra mengambil alat yang mereka perlukan. Tas ransel Barra penuh begitupun dengan Banda. Mereka lalu berjalan keluar tetapi di hadang seorang dokter yang sudah berubah menjadi manusia pembunuh.
"Barra, waktunya menguji obat kita. Beri dia suntikan!" teriak Banda yang hanya tahu memerintah saja.
"Kau saja!" balas Barra yang tidak bergerak.
"Cepatlah, daripada dia lebih dulu menyerang?" bujuk Banda.
Barra tidak bergerak sampai dokter itu benar-benar menyerang mereka. Banda dan Barra berlomba berlari menyelamatkan diri. Barra bersembunyi di ruang rawat sambil menutup pintu. Sementara Banda terus berlari tidak henti.
Barra jug melihat setumpuk kertas dari hasil uji tersebut. Rupanya, dokter yang bekerja di puskesmas ini ikut curiga dengan penyakit aneh yang di buat para ilmuan. Mereka sampai meneliti diam-diam di puskesmas sampai ikut terjangkit.
"Mereka pasti menemukan obatnya." kata Barra yang mencoba mencari sesuatu di ruang pengujian ini, tetapi tidak menemukan apapun dan hanya kertas selembar dari hasil uji para dokter. Karena tidak ingin pulang dengan tangan kosong, Barra membawa kertas selembar itu dan bergegas keluar.
"Banda! Banda! Kau dimana?" teriak Barra mencari temannya.
Barra berjalan mengeliling puskesmas dengan panik. Takut jika Banda di serang sampai meninggal.
"Ba.. Ra.. To... Long!" teriak Banda yang berada di atas pohon, sementara di bawahnya terdapat dokter pembunuh yang siap menunggunya ketika turun.
__ADS_1
"Barra, suntikan obat bius. Beri dia, supaya aku bisa turun." mohon Banda yang banyak bicara.
Barra membuka tasnya, memilih suntikan lalu obat bius paling tinggi dosisnya. Dia dengan cepat berlari memberi dokter itu kemudian mundur perlahan menunggu hasilnya.
Tidak butuh waktu satu menit, sang dokter sudah pingsan tidak sadarkan diri. Banda turun dan langsung berlari ke arah Barra.
"Ayo kita segera pergi, jumlah mereka bisa saja lebih banyak di puskesmas ini." kata Banda sambil menarik tangan Barra.
Ketika mereka sampai di tempat parkir mobil Letnan, mereka melihat beberapa titik bercak merah. Letnan juga tidak ada di dalam mobil. Banda dan Barra menjadi berpikie jika Letnan di serang sampai tidak bisa selamatkan diri.
"Ayo kita pergi dan bawa mobil letnan." ucap Banda yang segera masuk ke dalam mobil, mengemudi mobil Letnan.
"Apa kita sebaiknya memeriksa dulu, takutnya dia masih hidup dan hanya pergi bersembunyi sebentar." kata Barra yang ragu-ragu.
"Kau tidak lihat jejak darah dimana-mana? Bisa saja Letnan sudah berubah menjadi manusia penghisap darah juga." jelas Banda yang tetap pada pendiriannya. Dia melajukan mobil Letnan dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka sampai di hutan ketika sore hari. Mobil Letnan di sembunyikan di balik semak-semak agar tidak ada orang yang melihatnya dan mengambilnya.
"Abang, sudah dapat obat biusnya?" tanya Putri yang melihat Banda dan Barra datang.
"Iya, tetapi hanya sedikit stoknya." ucap Barra yang melepas tas ranselnya.
"Perjalanan kalian baik-baik saja? Dimana letnan yang mengantar kalian?" sahut Sindi yang bertanya karena tidak melihat Letnan datang bersama Barra dan Banda.
"Dia sudah mati di serang. Aku dan Barra tepaksa pulang berdua membawa mobilnya." kata Banda.
"Kita belum memastikannya. Belum tentu dia mati hanya karena terdapat bercak merah di sekita rmobilnya. Bisa saja dia masih hidup dan sedang bersembunyi." bantah Barra yang tidak mau memberi opini sebelum melihatnya langsung.
__ADS_1
"Jadi, kapan kita mulai beraksi membunuh para pemangsa darah itu? Aku lihat di ponsel, mereka sudah sampai di desa kecil. Berarti mereka sudah bergerak terlalu jauh." ucap Sindi yang duduk di depan tendanya.
"Iti benar, Bang. Terlihat ibu dan Ipul berlari menyelamatkan diri. Putri jadi khawatir dengan kondisi mereka berdua, bagaimana kalau mereka..." ucap Putri dengan suara tertahan. Tidak ingin membayangkannya.