
Barra tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Walvin. Ibu dan adiknya, dua hal yang sangat penting dalam hidup Barra.
"Aku tidak akan mengorbankan diriku, tetapi aku juga tidak akan mengorbankan orang yang aku sayangi. Jika tidak ada pilihan lain, aku sendiri yang akan berkorban. Tetapi kau harus ingat, bebaskan adik dan ibuku, biarkan mereka pergi dari sini segera mungkin maka aku akan menuruti semua perkataanmu." jelas Barra dengan suara tegas dan tidak gugup sama sekali. Walvin tersenyum puasnya mendengarnya.
Sementara Putri dan ibunya membuka mulut mereka, termenganga dengan keputusan Barra barusan. "Abang tidak serius kan? Kota harus keluar bersama, Putri tidak mau abang ada di sini." kata Putri yang dengan cepat menarik tangan Barra dan memegangnya dengan erat.
"Ibu juga tidak akan meninggalkan kamu, Nak. Kita bisa bersama-sama." sahut ibu Barra dengan suara lemah tetapi masih bisa di dengar oleh sekua orang.
"Bar, aku juga tidak mau pergi jika kau tidak ikut. Aku akan tetap di sini." tambah Ipul yang bangun walau memaksakan diri.
"Tetapi, kalian semua harus selamat. Aku bisa baik-baik saja di sini. Percaya padaku." bujuk Barra sambil menoleh ke belakang menatap wajah manis ibunya dan Ipul yang terakhir kalinya.
"Hei! Kalian. Apa yang kalian tunggu, cepat bawa Barra ke ruang penelitian! Bisa-bisanya duduk di sini dengan santai." tegur Walvin yang menatap anak buahnya berdiri di belakangnya.
"Baik, Pak." kata mereka kompak.
Putri menangis histeris, dia tidak mau melepas abangnya apalagi membiarkan anak buah Walvin mengambilnya. Putri berusaha memegang tangan Abangnya, tetapi Barra sendiri yang melepasnya.
"Tepati janjimu, lepaskan keluargaku." bisik Barra pada Walvin saat melewati orang itu.
"Tenang, itu urusan mudah. Kau harus mengamankan dirimu dulu." kata Walvin yang puas.
Walvin lalu memberi kode pada letnan tentara untuk membawa keluarga Barra keluar dari tempat ini. Tidak butuh waktu lama, Putri berhasil di keluarkan dan tidak masuk melihat Barra lagi.
"Abang! Putri mohon kembali, Bang!" teriak Putri berusaha membuka pintu yang tertutup rapat. Ipul dan ibunya hanya bisa melihat dalam diam, mereka tidak bisa membantu banyak. Tubuh mereka sudah lemah dan hanya bisa berbaring saja.
__ADS_1
"Kak Banda, Kak Sindi. Oh, iya. Mereka pasti mau membantu." ucap Putri yang membawa Ipul dan Ibunya ke tempat aman terlebih dulu sebelum kembali ke hutan dimana Banda dan Sindi berada.
Tetapi, sesampai Putri di sana semua tenda kosong. Tidak ada tanda-tanda Banda dan Sindi berada di sini. Putri mencari, mengira jika Banda dan Sindi masih berada di sekitar hutan, tetapi Putri tidak berhasil menemukan dua temannya.
"Kak Banda! Kak Sindi! Kalian berdua dimana?" teriak Putri yang frustasi. Putri duduk sambil menangis. Dia lelah berlari di tambah hatinya tidak kuat membayangkan abangnya yang akan di bunuh.
"Kalian ada di mana? Abang dalam masalah. Aku mohon kembali dan bantu kami." kata Putri yang putus asa.
Sementara itu, Banda dan Sindi berhasil sampai di rumah Barra. Mereka berdua terkejut melihat mayat dimana-mana. Banyak mayat yang sudah membusuk membuat Sindi menutup hidungnya.
"Sepertinya mereka semua sudah menjadi bangkai." sahut Banda dengan langkah kaki perlahan menyusuri rumah Barra.
"Barra dan Putri tidak ada di sini, ibunya juga. Apa mereka pergi menyelamatkan diri?" tanya Sindi sambil menatap wajah Banda.
"Bisa jadi, aku tidak melihat mayat mereka." jawab Banda yang berjalan keluar dari rumah Barra. Tiba-tiba Sindi melihat kertas yang terjatuh di lantai, dia memungutnya dan membacanya sekilas. Betapa terkejutnya Sindi, dia sampai berlari menepuk Banda dengan keras dan memperlihatkan surat itu pada Banda.
"Walvin mengincar Barra juga. Apa dia tidak merasa bersalah sebagai ilmuan tetapi berniat merusak makhluk hidup yang ada di dunia ini. Apa dia tidak mau hidup juga?" ucap Banda yang menjadi kesal.
"Lakukan sesuatu. Apa ini alasan Putri dan Barra pergi meninggalkan kita, mereka ingin mencari ibunya dan Ipul." jelas Sindi.
"Sialan, Walvin! Aku berjanji, tanganku yang akan membunuhnya sendiri. Sindi, ayo kota temui Walvin dan beri dia perhitungan." kata Banda dengan tegas dan di sambut anggukan oleh sindi.
"Jangan lupa, kita singgah mengambil senjata. Kita tidak mungkin bisa menemui Walvin sebelum anak buah Walvin mati semua." kata Banda dengan penuh rasa percaya diri.
"Siap, kapten." kata Sindi sambil memberi hormat. Seketika, mereka berdua segera pergi dari kampung dan kembali berjalan ke kota. Sindi dan Banda singgah mengambil senjata seperti pistol yang akan mereka gunakan melawan Walvin.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Sindi terus menatap pistolnya yang sering di gunakan tentara angkatan darat dalam berperang.
"Ban, sejak kapan kita menjadi tentara. Kita kan seorang ilmuan?" tanya Sindi yang bingung sendiri. Dia tidak mahir menggunakan pistol. Bisa-bisa dirinya salah tembak. Bukannya lawan malah kawan yang mati.
"Kita tidak akan memakainya, hanya mengancam para ilmuan untuk memberi kita jalan masuk. Gunakan otakmu dengan cerdik." ucap Banda memberi penjelasan pada Sindi.
"Lalu, kalau mereka menunggu kita menembak, bagaimana?"
"Dasar bodoh! Tinggal tembak saja, mereka kan memintanya sendiri." jawab Banda yang fokus mebgamati jalan.
"Oke, aku mengerti."
Tidak lama, mereka berdua sampai di depan labotarium cadangan dimana Walvin memberi alamat pada Barra untuk datang ke sana. Karena Banda dan Sindi orang ilmuan, mereka masuk dengan mudah hanya dengan memakai seragam yang sering mereka gunakan dalam penelitian. Tidak ada yang menyadari mereka karena semua pakaian mereka sama dengan ilmuan lainnya.
"Nah, sekarang kita mau mencari Barra di mana? Aku belum pernah ke labotarium ini sejak bekerja." bisik Sindi yang berjalan perlahan dan dikelilingi para ilmuan yang sibuk dengan penelitian mereka.
"Aku kurang tahu juga. Setidaknya, kita bisa masuk dan mencari tahu daripada tinggal di luar tanpa melakulan apapun." balas Banda dengan bisik-bisik.
"Hem, semoga tidak ada yang curiga dengan kita." lanjut Sindi yang khawatir dirinya ketahuan.
Ketika mereka berdua bingung, terdengar laporan jika Walvin meminta tiga orang ilmuan yang sudah di tentukan agar segera masuk ke ruang penelitian. Banda dan Sindi tersenyum, mereka punya ide untuk tahu dimana Barra saat ini berada.
Tetapi, mereka berdua tidak bisa masuk lebih jauh lagi ketika harus menggunakan sidik jari sebagai pengaman masuk ke dalam tempat penelitian. Banda dan Sindi hanya berdiri di depan pintu.
"Bagaimana caranya kita masuk? Kalau kita memasang sidik jari dan tidak terdeteksi, pasti para ilmuan curiga." kata Sindi.
__ADS_1
Sebelum Banda menjawab, salah satu ilmuan yang lebih tua dari mereka berdua mendekati Sindi dan Banda. Dia rupanya sudah memperhatikan Sindi dan Barra dari tadi dan merasa curiga.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya yang terus memperhatikan Sindi dan Banda yang menunduk.