
Di tengah perjalanan, Putri bingung sendiri. Abangnya seolah membawa dia menjauh dan semakin jauh dari hutan. Putri pun menjadi cemas karena meninggalkan Sindi dan Banda tanpa memberitahu mereka berdua. "Bang, Sindi dan Banda tidak apakan kita tinggal di hutan? Bagaimana kalau mereka mencari kita." ujar Putri menyahut.
"Kita tidak boleh dekat dengannya. Saat ini, Ipul dan ibu di tangka Walvin. Pasti Walvin punya mata-mata sampai tahu tempat tinggal kita." jelas Barra yang membuat Putri terkejut.
"Serius, Bang? siapa yang tega melakukannya?" ucap Putri yang menjadi panik.
"Siapa lagi kalau bukan mereka berdua. Mereka sengaja mendekati kita biar tahu rahasia kita. Mereka kan anak buah Walvin." kata Barra yang kesal.
"Lalu, keadaan ibu dan Ipul saat ini bagaimana, Bang? Apa yang harus kita lakukan. Putri jadi takut kalau sampai mereka terluka atau berubah jadi monster menyeramkan. Abang sendiri kan tidak bisa menemukan obatnya." ucap Putri yang terus berjalan mengikuti Barra dari belakang.
"Diamlah, kita sekarang menuju markas Walvin. Kamu tidak boleh jauh dariku, mengerti?" ucap Barra sambil menoleh menatap adiknya yang berada di belakangnya.
"Mengerti, Bang." jawab Putri dengan lantang sambil mengangguk kepalanya.
"Husst, diam! Jangan terlalu berisik." ucap Barra mengingatkan.
"Abang juga diam, jangan terlalu berisik." balas Putri mengingatkan Barra yang menatapnya dengan tajam.
Barra dan Putri berhenti ketika melihat sebuah labotarium yang tidak terlalu luas. Banyak para ilmuan berlari masuk dan keluar dari sana. Barra sampai terkejut, jumlah para ilmuan jauh lebih banyak daripada yang dia lihat di labotarium di kota.
"Apa Walvin sengaja menambah para ilmuan untuk melancarkan aksinya?" tanya Barra dengan suara sayup-sayup. Putri tidak fokus melihat ke depan dan hanya terus menunduk merasakan kakinya pegal bersembunyi sambil berjongkok di balik semak-semak.
"Bang, kapan kita maju. Putri tidak kuat lagi di sini. Banyak semut yang menggigit kaki Sulfi." ujar Sulfi memohon pada Barra.
"Tunggu sebentar lagi. Abang harus mencari jalan masuk yang aman. Sepertinya tidak ada lorong masuk yang sepi." jawab Barra tetap fokus menatap ke depan.
__ADS_1
"Langsung masuk saja, biarkan para ilmuan melihat kita. Kita juga mau bertemu Walvin kan? Kakek tua yang jahat itu." ucap Putri dengan nada suara lantang.
"Hustt, aku sudah bilang jangan bicara keras. Kau tidak tahu sama sekali, kita dalam bahaya. Tidak semuda itu kita datang ke sini. Apa kau tahu kenapa Walvin menyuruh kita datang dan menyandra ibu dan Ipul?" tanya Barra dengan wajah kesal karena tingkah adiknya.
"Tidak tahu, bang. Maafkan Putri yang ceroboh." ujar Putri yang menyesal.
"Sudah, ikuti abang. Jangan sampai berisik. Kita lewat belakang, semoga ada pintu yang tidak di jaga di sana." ujar Barra sambil memegang tangan adiknya. Putri pun menurut dan melangkahkan kakinya perlahan mengikuti Barra.
Sesampai di belakang labotarium kecil, Barra menerobos masuk setelah mendapat pintu yang tidak terkunci. Baru beberapa langkah berada di dalam, Putri menariknya kembali mundur keluar.
"Ada apa?" tanya Barra yang heran. Tidak ada siapapun yang dia lihat, keadaan masih aman tetapi adiknya kembali bertingkah aneh.
"Itu, Bang. Cctv di pasang. Kita kalau masuk lewat sini pasti terlihat cctv." jelas Putri sambil menunjuk ke arah tembok. Barra diam berpikir sebentar, melihat sekelilingnya.
"Bang, Putri tidak mau lewat sini. Putri takut." ucap Putri yang tetap diam berada di pinggir tanpa bergerak, sementara Barra sudah di tengah perjalanan.
"Ayo bergerak, nanti kita ketahuan kalau kelamaan di sini." bujuk Barra dengan suara lembut.
"Bang, ini bukan mainan. Kalau jatuh, tubuh Putri bisa sakit. Putri tidak bisa dan tidak akan bisa." ujar Putri dengan tegas dan tetap pendirian. Barra hanya bisa menghela nafas kasar lalu melangkah kembali ke tempat Putri. Memegang tangan Putri dan membantunya berjalan bersama-sama.
Butuh waktu lama mereka sampai di ujung. Barra segera turun dengan melompat dan mempersiapkan dirinya membantu adiknya. Kamera cctv sudah mereka lalui. Mereka berdua bisa bernafas lega.
Barra dan Putri masuk ke sebuah ruangan dengan menyelinap dan melihat Ipul berserta ibunya di kurung di sana. Amarah Barra memuncak tak kalah melihat wajah ibunya sampai memar.
"Ibu, siapa yang melakukannya? Kenapa mereka membuat wajah ibu sampai memar seperti ini?" tanya Barra mengelus pipi ibunya.
__ADS_1
"Barra kau benar datang?" ucap ibunya dengan air mata menetes. Putri jadi ikut menangis. Terlihat Ipul di samping ibunya dengan tumbuh yang lemas, tidak bisa bergerak.
"Kami di bawa paksa oleh para tentara. Kami pikir ingin di karantina tetapi malah di bawa ke sini. Berapa kali kami di beri suntikan yang tidak aku tahu apa itu sampai tubuhku terasa lemas dan tak berdaya. Aku rasa, mereka ingin membunuh kami, Barra." jelas Ipul yang di sambut anggukan oleh ibunya.
"Benar-benar gila. Untuk apa mereka melakukannya. Aku tidak akan tinggal diam." ujar Barra sambil mengepal keras kedua tangannya.
"Bang, bantu ibu dan Ipul dulu. Kita harus segera pergi dari sini. Kasihan mereka berdua terus di siksa, Putri jadi sangat sedih." ujar Putri menepuk pundak abangnya.
"Oke. Kamu cari besi kecil untuk membuka gembok ini." titah Barra memberi perintah pada adiknya. Putri segera mencari seperti yang di minta Barra. Sementara Barra, fokus membuka gemboknya. Dia memukul keras tetap tidak berhasil. Hingga, suara datang mengejutkan mereka.
"Kau sudah datang tidak memberitahuku. Kenapa harus lewat pintu belakang sementara aku menunggumu di pintu depan?" tanya Walvin yang datang bersama anak buahnya.
"Ka.. Kau! Letnan!" tunjuk Barra terkejut. Letnan yang membawanya ke kota waktu itu, rupanya mata-mata Walvin.
"Jadi, kau yang sudah melakukan semua ini pada keluargaku. Apa salahku padamu, ha?" teriak Barra dengan wajah merah karena amarahnya.
"Kau salah karena meninggalkan aku dan membawa mobilku pergi. Aku hampir di makan zombie di sana. Beruntung Walvin datang menyelamatkanku dengan syarat memberitahu semua tentangmu yang aku ketahui." sahut Letnan.
"Apa? aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak melihatmu berada di sana dan terdapat banyak darah berserakan di tanah membuat aku dan Banda segera pergi." bantah Barra.
"Sudah-sudah. Itu semua tidak penting sekarang. Aku hanya butuh otakmu saja, Barra. Aku dengar-dengar, kau bukan sembarang orang melainkan bisa meracik segala macam obat." tunjuk Walvin membuat semua orang terkejut. Putri sampai bergetar dan segera bersembunyi di belakang abangnya.
"Jadi itu maumu menyuruhku datang ke sini? Aku menolak tawaranmu." ucap Barra dengan tegas membuat Walvin jadi marah.
"Apa kau tidak punya hati? Lihat keluargamu di belakangmu. Hidup mereka tidak lama lagi, sudah banyak penyakit berada di tubuhnya. Aku bisa menyembuhkannya jika kau berniat memberikan otakmu secara suka rela. Tetapi, kau tidak akan bisa hidup lagi karena robot ciptaanku yang akan memakai otakmu." jelas Walvin. Barra menjadi diam, dia tidak tahu harus melakukan apa. Bergerak menghancurkan keluarganya, mundur menghancurkan dirinya. Semuanya tidak ada menguntungkan baginya.
__ADS_1