
Tok
Tok
Tok
"Masuk Elle."
Setelah memperoleh izin dari Bara, Elle baru membuka pintu ruangan itu.
"Maaf Pak, tadi kata Pak Reno saya dipanggil. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Elle hati-hati.
"Hm, kamu bisa duduk." Ucap Bara.
Elle menarik kursi dihadapan Bara kemudian mendudukinya. Wajahnya senatiasa ia tundukan karena tak memiliki keberanian untuk menatap Bosnya itu.
"To the point saja, saya mau tanya maksud kamu ngaku-ngaku jadi pacar saya itu apa?" Tanya Bara dengan tampang khas, datar. Elle tak menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan langsung seperti ini.
"Emm itu sebenernya-"
"Kalo ngomong tatap lawan bicaranya. Kamu ngomong sama lantai?" Kalimat sarkas dari Bara membuat Elle terpaksa memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya menatap Bara.
Pandangan mereka bertemu. Elle benar-benar takut melihat ekspresi tak bersahabat yang Bara tampilkan. Seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Kenapa diem aja? Kamu nggak bisu kan? Cepat jelaskan!" Lagi-lagi kalimat pedas itu keluar dari mulut Bara.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak." Sesal Elle dengan muka yang benar-benar melas tanpa dibuat-buat.
"Itu bukan kemauan saya, itu rencana sahabat saya." Jelas Elle.
"Nggak usah seret orang lain atas kesalahan kamu." Seru Bara.
"Jadi sebenernya ..." Elle menceritakan kejadian yang sebenernya kepada Bara. Tak peduli jika laki-laki itu akan mengejeknya karena tahu jika dirinya adalah seorang jomblo sejak lahir.
Di zaman sekarang, jomblo? Elle hanya bisa tersenyum miris.
"Gara-gara kamu saya harus terpaksa jadi pacar pura-pura kamu! Mana ada Bos yang nurutin permintaan karyawan nya?" Cibir Bara.
"Maaf, Pak." Elle menunduk lesu.
"Bener-bener nggak ngasih untung apa-apa buat saya. Bener-bener ya kamu."
"Bapak boleh minta apapun dari saya. Yang penting tetep jadi pacar pura-pura saya sampe saya nemuin cowok buat dijadiin pacar saya, gimana?" Ucap Elle memberikan penawaran.
Bara nampak terdiam seolah sedang menimang-nimang tawaran dari Elle.
"Oke, saya boleh minta apapun dari kamu kan?" Tanya Bara memastikan. Dengan ragu Elle menganggukan kepalanya. Gadis itu berharap jika permintaan Bara bukan suatu hal yang aneh-aneh.
*****
"Silahkan dinikmati kopinya, Pak." Elle menyajikan secangkir kopi pesanan Bara di atas meja laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Tunggu, jangan balik dulu." Bara menahan Elle yang hendak kembali ke ruangannya. "Kamu check dulu laporan keuangan itu. Sebelum makan siang laporannya harus sudah kamu kasih ke saya." Perintah Bara.
"Sebelum makan siang?" Guman Elle. Gadis itu melirik jam di dinding yang menujukkan pukul setengah sebelas siang. Dia hanya mempunyai waktu sedikit untuk mengecek setumpuk laporan keuangan itu.
"Apapun?" Ucap Bara.
"Apapun." Elle mengangguk lemas.
Sepertinya Elle harus segera menemukan laki-laki yang mau menjadi pacarnya. Bersama Bara hidupnya tertekan!
Waktu kurang setengah jam lagi. Dan Elle belum menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bara.
Tak ada yang tahu jika gadis itu sedang menangis saat ini.
"Halo, Mam. Ada apa?"
"Halo sayang. Mami mau ngasih tau kalo nanti malem nenek ngajak dinner. Ini kesempatan kamu buat buktiin ke nenek kalo kamu udah ada pacar. Kemungkinan besar nanti nenek pasti bakal jodoh-jodohin kamu sama cucu temen-temennya. Jangan lupa ajak Bara, ya! Bye sayang!"
Kring ... Kring ... Kring ...
"Halo, dengan Elle disini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Setengah jam lagi saya tunggu laporannya."
Tutt...
Pada akhirnya Elle mampu menyelesaikan pekerjaannya, walupun dirinya terpaksa, tertekan, dan terdesak. Sebelum menyerahkan laporannya kepada Bara, Elle memutuskan untuk membasuh wajahnya agar bekas ia menangis tidak dilihat oleh Bara.
"Laporannya saya terima. Saya mau makan siang di kantor, tolong belikan saya rawon yang ada di perempatan depan." Pinta Bara.
"Itu saja, Pak?" Tanya Elle dengan senyum ramahnya.
"Ya." Jawab singkat Bara.
Elle sengaja melayani Bara dengan baik. Jangan sampai rencananya mengajak Bara menghadiri acara makan malam undangan neneknya gagal karena ia tak memperlakukan Bara dengan baik.
"Pak, saya mau ngomong." Ucap Elle hati-hati.
Bara melirik sekilas sekretarisnya itu, "Penting?" Tanyanya.
"Penting banget, buat saya." Jawabnya dengan suara rendah.
"Mau ngomong apa?"
Disana Elle langsung menjelaskan maksud dan tujuannya untuk mengajak Bara menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh neneknya.
"Saya sibuk nanti malam." Jawab Bara setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Elle.
"Beneran nggak bisa, Pak?" Tanya Elle memohon.
"Hm."
__ADS_1
"Pak, tapi perjanjiannya kan saya nurutin permintaan Bapak begitu pula sebaliknya. Kok jadi gini?" Protes Elle.
"Kapan saya setuju sama perjanjian itu?" Tanya Bara santai.
Elle mendengus. Memang tidak disahkan secara langsung. Tapi ia pikir Bara akan melakukan hal demikian.
"Udah ah kita udahin aja pacaran pura-pura nya. Saya tertekan sama Bapak. Saya juga bakal ngomong jujur ke Mami saya kalau kita nggak ada hubungan apa-apa!" Seru Elle mengeluarkan unek-uneknya.
"Mana bisa. Penjanjiannya kan sampe kamu dapet pacar. Kamu belum punya pacar kan? Dan asal kamu tau, Mama saya sudah tau tentang gosip kita. Mau dikasih penjelasan apa kalau kamu main udahan aja? Saya nggak mau ribet!" Protes Bara tak terima.
Keadaan seolah berubah, dimana Bara malah terlihat lebih membutuhkan bantuan Elle.
"Ya Bapak malah semena-mena sama saya. Mentang-mentang saya minta tolong sama Bapak!" Kesal Elle.
"Fine! Nanti malam saya hadir." Putus Bara pada akhirnya.
Ella tersenyum lebar mendengar ucapan Bara. Kali ini ia selamat.
*****
"Bapak nanti jangan kaku-kaku ya, biar nggak pada curiga." Pinta Elle yang hanya dibalas deheman oleh Bara. Elle adalah satu-satunya orang yang berani memerintah Bara.
"Acaranya sampai jam berapa?" Tanya Bara.
"Kalau makan malam doang jan 8 nan paling udah selesai. Kenapa, Pak?" Tanya Elle.
"Nanti mampir ke rumah saya, orang tua saya mau ketemu kamu." Ucap Bara.
"Oh oke."
Ruang makan begitu ramai karena dihadiri kerabat Elle yang lainnya. Mereka berbincang-bincang kecil sebelum mengawali kegiatan utama yakni makan malam.
"El, kamu bawa siapa? Temen kamu?" Sekian lama memperhatikan sang cucu akhirnya nenek angkat bicara.
"Pacar dong, Nek. Kenalin namannya Bara. Sayang, kenalin ini nenek aku." Ucap Elle.
Bara sedikit terkejut karena panggilan Elle kepadanya. Namun laki-laki tak menujukkan keterkejutan nya karena tertutup tampang datar wajahnya.
"Bara, Nek." Ucap Bara sambil menjabat tangan keriput milik Nenek Elle.
Nenek menelisik tampilan Bara dengan tatapan tajam, "Yakin pacaran?" Tanya wanita tua itu.
"Y-yakin lah!" Elle lupa kalau neneknya itu titisan cenayang. Mungkin wanita tua itu sudah mulai curiga dengan kebohongan yang Elle dan Bara buat.
"Oh."
"Ngomong-ngomong punya apa kamu sampe berani pacarin cucu saya?" Tanya Nenek kepada Bara.
"Saya cuma orang biasa, Nek. Punya apalagi selain cinta untuk cucu Nenek." Kata orang-orang ini namanya merendah untuk meroket.
TBC
__ADS_1