MY BO$$

MY BO$$
E


__ADS_3

CEKLEK


Sunyi dan remang-remang.


Elle sengaja datang ke apartemen Bara di pagi-pagi buta karena ia harus menjalankan amanat dari Mamah Feliz untuk merawat Bara.


Apalagi wanita itu meminta pap disetiap perkembangan Bara! Benar-benar di luar angkasa.


"Malah masih ngebo! Pantes nggak sembuh-sembuh." Cibir Elle menatap seonggok manusia yang masih terlelap di atas kasur empuknya.


Sambil menunggu Bara bangun, Elle memutuskan untuk pergi di dapur. Ia sengaja membawa bahan-bahan kebutuhan dapur untuk dia olah di apartement Bara.


Jika kalian bertanya-tanya bagaimana cara Elle masuk ke dalam apartemen Bara, tentu saja berkat Mamah Feliz. Wanita itu sengaja memberitahu pin apartemen Bara kepada Elle agar gadis itu tak perlu menunggu sang tuan rumah bangun terlebih dahulu.


"Orang sakit biasanya makan bubur sih." Guman Elle. Gadis itu sudah siap peralatan tempurnya.


Jangan salah, walau hidup serba berkecukupan, Elle juga jago masak. Gadis itu sering ikut serta dengan para pelayan untuk membuat makanan di dapur rumahnya.


Setelah masakannya dirasa sudah siap, Elle segera memindahkannya ke dalam sebuah nampan. Lengkap dengan buah-buahan, minuman, serta obat yang harus dikonsumsi Bara agar laki-laki itu lekas pulih.


Elle kembali ke kamar Bara dengan makanan yang ada di nampannya.


CEKLEK


"Pak- aaaaa!!" Dengan cepat Elle memejamkan matanya. Demi apapun mata Elle sudah tidak suci.


Sama terkejutnya dengan Elle, Bara segera berlari ke walk closet untuk mengenakan pakaiannya. Laki-laki itu tak habis pikir dengan Elle, bagaimana bisa gadis itu berada di unit nya pagi-pagi buta seperti ini? Dan bagaimana caranya masuk. Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Bara.


"Ekhem, saya sudah pake baju." Ucap Bara.


Elle membuka sedikit kelopak matanya. Benar saja, Bara sudah berpakaian.


"Hufft ... akhirnya." Gadis itu menghela nafas lega.


"Kamu ngapain pagi-pagi buta ke apartemen saya, mana masuk ke kamar orang tanpa permisi. Sopan kah begitu?" Sindir Bara dengan ekspresinya yang sedatar tembok.


Sebenarnya tadi Bara tidak benar-benar telanjang bulat. Ia masih mengenakan celana boxer walaupun bagian atasnya telanjang dada. Tapi tindakan Elle benar-benar mengejutkan baginya. Makannya Bara langsung berlari ke walk closet.

__ADS_1


"Emm itu-"


"Ini itu ini itu, apa? Mentang-mentang jadi pacar pura-pura saya kamu seenaknya nggak tahu privasi orang!" Semprot Bara.


"Kalo nggak disuruh enaknya gue juga nggak mau!" Decak Elle dalam hati.


Sebelum menjelaskan, Elle mengumpulkan oksigen agar kuat menghadapi ceramah Bara.


"Huft ... maaf Pak Bara yang terhormat. Kedatangan saya disini bukan maksud untuk lancang atau apalah yang Bapak pikirkan. Saya disini disuruh Mamah anda untuk merawat anda yang sedang sakit selama beliau berada di Jepang." Jelas Elle. Bara berdecih seolah tak percaya yang mana membuat Elle mengeram kesal. Dia kan sudah berbicara jujur.


"Dan untuk kejadian tadi saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya kira Bapak belum bangun, terakhir saya check Bapak masih ngebo." Lanjut Elle.


Bara mendelik tak terima saat dikatai ngebo oleh Elle. Itu artinya secara tidak langsung Elle sedang mengatainya kebo. Benar-benar sekretaris durhaka.


"Udah lah, sekarang udah tau kondisi saya kan? Kamu bisa pulang pergi sekarang." Oke, Elle diusir Bara.


"Tapi sebelum saya pulang saya butuh dokumentasi, Pak." Ucap Elle.


Alis Bara terangkat sebelah, "Buat apa dokumentasi segala? Nggak usah modus!" Serunya.


Kini gantian Elle yang tak terima karena dituduh modus. Hei, ini bukan kemauannya!


"Aib kamu bilang?" Geram Bara.


"Iya!" Jawab Elle tak takut sekalipun Bara maju mendekatinya.


"Kasih tahu saya dimana letak aib yang kamu maksud itu!"


Awalnya Elle memang bertekad untuk tidak takut dengan Bara. Namun saat bahunya dicengkeram erat oleh kedua tangan Bara, rasanya Elle ingin pingsan saja. Apalagi bola mata Bara menatapnya sambil melotot seolah akan keluar dari tempatnya.


"N-nggak ada aib, saya cuma becanda, Pak." Gagap Elle dengan tampang melas.


"Becanda kamu bilang?" Dengan gerakan kaku, Elle menganggukan kepalanya. Seketika tawa Bara mengudara. Hal itu membuat nyali Elle semakin ciut karena Bara terlihat sangat menyeramkan seperti para psikopat yang ada dalam film yang pernah Elle tonton.


"Orang kayak kamu gini harusnya dikasih pelajaran. Tapi pelajaran apa yang cocok buat biang rusuh kayak kamu gini?"


Elle panik.

__ADS_1


Gadis itu hendak berontak namun tak bisa karena cengkeraman Bara begitu kuat pada bahunya.


"Mau kemana, hm?" Kekeh Bara dengan senyum iblisnya. Laki-laki benar-benar puas melihat wajah panik Elle. Semakin gencar saja ia menjahili Elle.


"Pak- "


Drtt ... drtt ... drtt ...


Bunyi dering dan getaran dari ponsel Bara menghentikan kegiatan mencekam tersebut.


Mama is calling~


Bara segera mengangkat panggilan dari Mamahnya. Namun tatapannya tak terlepas dari Elle yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Seolah mengatakan jika peperangan akan dilanjutkan setelah Bara selesai berbicara dengan Mamahnya.


"Iya, Mah. Love you too."


Setelah panggilan berakhir, Bara kembali memusatkan perhatian pada Elle. Ia berniat menjahili gadis itu kembali. Namun dering sebuah ponsel menghentikan rencananya.


"Halo, Mah? Iya ini El ada di apart Bara. Vc? Mamah mau vidcall? Sebentar, Mah."


Elle meletakkan nampannya diatas nakas. Gadis itu bergerak cepat mendorong tubuh Bara agar laki-laki itu kembali berada diatas kasur nya. Kemudian merapikan sedikit sellimutnya. Mereka berakting seolah-olah Elle sedang merawat Bara dengan baik.


"Saya nggak mau dicap lalai dalam menjalankan amanah." Bisik Elle kepada Bara sebelum ia mengalihkan panggilan ke bentuk video.


"Hm, romantis banget kalian. Pagi-pagi udah suap-suapan." Di dalam layar Mamah Feliz senyum-senyum sendiri melihat interaksi yang ditampilkan Bara dan Elle.


"Hehe iya nih, Mah. Bara lahap banget makan masakan aku. Enak kan sayang?" Elle kembali menyuapkan bubur kepada Bara. Sengaja sedikit ia paksa, hitung-hitung bentuk balas dendam karena Bara sudah menakutinya tadi.


"Buburnya udah abis nih. Sekarang minum obat ya, ayo aaa ..." Bara masih membungkam mulutnya saat Elle menyodorkan satu pil obat di depan mulutnya.


Satu rahasia besar yang Bara miliki, sebenarnya laki-laki itu tidak bisa mengonsumsi obat-obatan dalam bentuk kapsul maupun pil. Sejauh ini masih dalam bentuk syrup.


"Ayo buka mulutnya, tunggu apa lagi? Tunggu lebaran monyet?" Desak Elle.


Di layar ponsel Mamah Feliz dan Bila berusaha menahan tawa melihat wajah tertekan Bara.


"Mah ..." Bara merengek pada sang Mamah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2