MY BO$$

MY BO$$
D


__ADS_3

"Bawain tas saya." Elle dengan sigap membawa tas kerja milik Bara.


Mereka baru menyelesaikan makan siang bersama rekan bisnis Bara. Tujuan mereka saat ini adalah petshop. Bara mendapat titipan dari adiknya untuk membeli makanan kucing.


"Pegangin." Elle kembali menerima barang-barang Bara. Kali ini sedikit pribadi, karena Bara menyerahkan dompet, ponsel, dan kunci mobilnya kepada Elle.


"Bapak mau beli kucing?" Tanya Elle sambil memperhatikan Bara yang sedang melihat-lihat anakan kucing.


"Nggak jadi, saya mau beli baby cheetah saja." Jawab Bara kemudian menyudahi kegiatannya untuk melihat lihat anakan kucing yang siap adopsi.


"Cheetah?" Beo Elle. Mendengar namanya saja membuat Elle ngeri, apalagi memelihara nya.


Setelah mendapat barang yang dicari, keduanya langsung mengantri di depan kasir.


"Totalnya Rp. 3.050.000, Kak. Cash atau kredit?"  Tanya sang kasir.


Kenapa mahal sekali? Karena Bara tak hanya membeli makanan kucing. Ia juga membeli seekor hewan reptil yang biasa disebut bunglon. Bunglon yang ia beli ini beda dari bunglon pada umumnya. Karena bunglon nya ini bisa glow in the dark, atau mengeluarkan cahaya di kegelapan.


"Pak?" Panggil Elle pada Bara yang sibuk memainkan peliharaan barunya itu.


"Bayar pake kartu saya, ambil di dompet." Jawab Bara.


Elle pun menuruti perintah Bara. Ia membuka dompet milik Bos nya itu kemudian mengambil salah satu kartu miliknya.


"Ini Kak." Elle menyodorkan kartu Bara untuk membayar belanjaan.


"Terima kasih atas kunjungannya. Ditunggu lagi kedatangannya."


Setelah menerima nota pembayaran, Elle segera menyusul Bara yang sudah terlebih dahulu keluar meninggalkan toko.


"Pak tungguin!" Seru Elle. Kakinya pegal karena ia memakai heels saat ini.


Bara yang sedang melangkah jauh di depannya terlihat menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang.


"Jangan cepet-cepet, kaki saya pegel." Sungut Elle setelah berada di samping Bara.


Bara hanya menampilkan ekspresi wajah datar. Ia memindahkan bunglon nya ke tangan kiri. Kemudian tanpa aba-aba tangan kanannya meraih telapak tangan Elle untuk digenggam.


"Nggak usah ge-er, ini biar kamu nggak hilang." Seru Bara tanpa menatap lawan bicaranya. Namun laki-laki itu tahu jika Elle sedang curi-curi pandang padanya.


"Emangnya saya anak kecil pake ilang segala." Guman Elle sebal.


Bara tak menghiraukan gerutuan Elle, tangan kekarnya itu senantiasa menggenggam jemari Elle saat keduanya keluar dari Mall.

__ADS_1


"Kerjaan kamu sekarang nambah." Beritahu Bara.


"Nambah, jadi babu Bapak kan?" Balas Elle.


"Itu juga, tapi ini ada lagi. Kamu juga harus bantuin saya ngurusin Zero." Ucap Bara.


"Zero siapa Pak? Peliharaan Bapak?" Bara menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Elle. Ia menunjuk seekor makhluk hidup yang sedang bertengger manis di bahunya.


Ternyata Zero adalah bunglon yang baru saja Bara adopsi dari petshop.


"Timbang kadal aja dikasih nama Zero segala! Dasar prik!" Batin Elle kesal.


Pluk!


"Aaaaa!!!!" Elle menjerit histeris saat tiba-tiba bunglon milik Bara melompat ke padanya. Tangannya berusaha menyingkirkan makhluk mengerikan itu dari wajahnya.


"Pak tolongin!" Jerit Elle.


"Astaga!"


Bara berusaha mengambil Zero dari wajah Elle. Namun sepertinya hewan itu nyaman berada di wajah Elle. Terbukti karena dia tidak mau dilepas.


"Hiks ... hiks ..."


"Saya trauma, hiks ..." Elle mengusap ingus yang keluar dari hidungnya.


"Perlu ke psikiater?" Tawar Bara.


"Nggak perlu! Saya nggak mau lihat dia lagi, jangan tunjukin ke saya. Atau bakal saya cekik terus saya injek-injek biar jadi dendeng sekalian!" Kesal Elle kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Bara sendiri segera mengurung Zero ke dalam ruangan. Jangan sampai peliharaan barunya itu berakhir menjadi dendeng di tangan sekretarisnya.


*****


"Kamu kenapa menghindar dari saya? Saya nggak lagi sama Zero." Seru Bara.


"Siapa tau Bapak simpen di saku kan." Tuduh Elle. Gadis itu memilih menjaga jarak dengan Bara. Takut kejadian Zero melompat terulang kembali.


Bara berdecak, ia rasa Elle terlalu berlebihan. "Mana ada, kamu bisa check sendiri kalo nggak percaya." Dengan gerakan kasar ia menarik Elle untuk melihat sakunya secara langsung. Namun Elle malah menabrak dada bidang Bara, dan ...


Deg ... deg ... deg ...


Bukan Zero yang Elle temukan, melainkan detak jantung Bara yang memburu.


"N-nggak ada." Guman Elle. Gadis itu menelan ludahnya kasar karena berhadapan dengan Bara dengan jarak yang lumayan dekat. Bahkan lubang hidung Elle bisa mencium aroma maskulin yang memabukkan berasal dari tubuh Bara.

__ADS_1


"Ekhem."


Elle tidak berani berkutik. Ia terlanjur malu karena kedapatan mengendus-endus tubuh Bara.


"Elle?"


Gadis itu melepaskan diri dari Bara, kemudian segera berlari menuju ruangannya. "Aaaa Mami, El maluu!"


Samar-samar telinga Bara mendengar pekikan tertahan dari Elle. Laki-laki hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan segala tingkah laku ajaib dari sekretarisnya itu.


"Lama-lama saya ketularan gila, El." Guman Bara.


*****


Sudah beberapa hari Bara tidak masuk ke kantor. Dan hal itu membuat Elle sujud syukur. Bagaimana tidak, mau ditaruh mana mukanya itu setelah kejadian memalukan yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.


"Elle." Panggil Pak Reno.


Dengan sigap Elle menjawab. "Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Di ruangan Pak Bara ada Nyonya, beliau mau ketemu sama kamu." Beritahu Pak Reno.


"Mamah nya Pak Bara?" Tanya Elle memastikan. Pak Reno menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


"Segera temui." Pesan Pak Reno sebelum laki-laki menghilang dari hadapan Elle.


Setelah memastikan penampilannya rapi dan enak di pandang, Elle segera menuju ke ruangan Bara.


"Permisi." Elle membungkuk sopan untuk menghormati orang yang berada di dalam ruangan Bara.


"Sayang, sini-sini." Mama Feliz langsung saja menyuruh Elle untuk duduk bersamanya. Wanita itu benar-benar ramah, berbeda dengan putranya.


"Emm tan-Mamah tumben kesini? Mamah cariin Elle ya?"


"Iya sayang." Jawab Mamah Feliz.


"Jadi gini, Mamah sama Papah Bara, sama Bila juga mau pergi ke luar negeri untuk beberapa hari. Nenek Bara yang di Jepang sakit. Bara nggak bisa ikut karena lagi sakit. Nah maka dari itu Mamah mau minta tolong sama kamu buat jagain Bara selama Mamah di Jepang. Bisa kan sayang? Nggak lama kok." Jelas Mamah Feliz.


Dari sini Elle tahu alasan mengapa Bara tidak masuk ke kantor selama beberapa hari belakangan ini. Dosa kah berbahagia diatas penderitaan orang lain? Elle merasa bersalah sekarang.


"Elle, kok diem? Ngelamunin apa sayang? Pasti khawatir sama Bara, ya?" Goda Mamah Feliz.


"Eh itu, enggak eh maksudnya El bisa kok jagain Pak Bara selama Mamah di Jepang." Jawab Elle cepat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2