
"Mah, Elle udah pulang?" Bara terlihat tergesa-gesa saat menuruni anak tangga. Namun saat melihat Elle sedang mengobrol dengan Mamahnya di ruang tengah, seketika ia menghentikan langkahnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mau ini anu kerjaan, iya kerjaan." Ucap Bara sedikit tergagap.
"Kerjaan kerjaan! Tadi aja di usir, sekarang di cariin. Nanti dulu, Mamah masih pengen ngobrol banyak sama Elle." Seru Mamah Feliz.
Bara hanya bisa menghela nafas. Laki-laki memutar badan, dan kembali melangkah gontai menuju kamarnya.
Tak lama setelah kepergian Bara, ternyata Elle menyusul Bara ke kamarnya. Sempat terjadi keheningan sesaat di antara mereka.
"Kabar klien gimana?" Pertanyaan kurang mutu itu keluar dari mulut pedas Bara. Niat hati ingin menanyakan kabar Elle, namun ternyata Bara tak memiliki keberanian sebesar itu. Ia masih gengsi.
"Klien kita baik, bahkan tadi pagi ada yang memberi kabar kepada saya secara pribadi." Jawab Elle.
Bara yang semula berdiri memandang ke arah luar jendela sontak membalik badannya ke arah Elle. Laki-laki itu menampilkan wajah penuh tanda tanya.
Untuk apa kliennya memberi kabar secara pribadi kepada sekretarisnya? Pikirnya membatin.
"Klien yang mana? Ngapain dia kasih kabar kamu secara pribadi." Dari nada bicaranya, Bara seperti tak suka mengetahui berita tersebut.
"Nggak Pak, saya cuma becanda. Lagian ngapain mereka ngelakuin itu semua." Terang Elle.
Bara segera menetralkan ekspresinya. "Oh."
Laki-laki mondar-mandir seperti setrika. Bara terlihat menyibukkan diri dengan dunianya sendiri, seperti mengecek beberapa buku di rak perpustakaan mininya, kemudian kembali bergerak untuk pergi ke kamar mandi, lalu memutuskan untuk bermain dengan hewan peliharaannya.
Elle hanya melihatnya sambil duduk santai di sofa panjang yang ada didalam sana.
Setelah merasa puas dan bosan, Bara menyudahi kegiatannya. Tanpa persetujuan, ia menjadikan paha Elle sebagai bantalan kepalanya.
"Eh?" Kaget Elle.
"Usap-usap." Perintah Bara dengan ciri khas nya, ketus dan galak. Namun tak ayal Elle tetap melaksanakan perintah Bosnya tersebut.
Elle mengusap surai hitam milik Bara dengan gerakan halus dan lembut. Sesekali jemarinya juga ia korbankan untuk memijat pelipisnya Bara.
"Kamu marah sama saya?" Tanya Bara. Laki-laki itu baru menyadari sesuatu, ternyata Elle banyak diam sejak tadi.
Elle menjawab sambil menggelengkan kepalanya, "Kalo saya marah, ngapain saya pijitin Bapak?"
__ADS_1
Suasana kembali hening. Elle larut dalam kegiatannya, dan Bara turut menikmati pijatan Elle di kepalanya.
"Elle." Panggil Bara.
"Iya, Pak?"
Pandangan keduanya bertemu. Tiba-tiba suasana pun jadi tegang.
Bara menelan ludahnya kasar, tatapan mata Elle ternyata sedalam itu. Dan ia tidak sadar selama ini. "Gimana kalo kita pacaran beneran?" Ajak Bara tanpa basa-basi.
Elle sedikit loading, namun tak lama gadis itu tersadar. "Gimana, Pak?" Balasnya dengan tampang begitu polos.
Mendapat respon di luar ekspektasi nya, Bara jadi gemas sendiri. Sekretarisnya ini bodoh atau pura-pura bodoh? Pikirnya.
"Saya lagi nembak kamu." Ucap Bara.
"Ommoo!" Elle membekap mulutnya tak percaya. Dirinya ditembak oleh Bosnya sendiri? Bosnya yang galak dan judes itu?
"Nggak mau." Tolak Elle mentah-mentah. Jawaban tak disangka-sangka itu membuat Bara terpaksa harus menegakan badannya. Laki-laki itu menatap Elle heran sekaligus kaget.
Disaat puluhan bahkan ratusan wanita diluaran sana begitu mendambakan dirinya, mengapa Elle malah menolaknya tanpa pikir panjang? Batin Bara tak habis pikir. Bukannya Bara sombong, tapi itu kenyataanya.
"Why? Bahkan selama kita menjalankan peran sebagai sepasang kekasih, kamu fine-fine aja dengan saya? Bahkan kita terlihat serasi." Ucap Bara.
Elle menggaruk kepala bingung harus menjawab pertanyaan Bara yang mana dulu. "Emm Bapak bukannya nggak ganteng, Bapak ganteng tapi ..."
"Tapi apa Elle? Katakan supaya saya bisa memperbaiki diri." Desak Bara.
"Masalah hati kan nggak bisa dipaksakan." Ucap Elle lirih.
Bukan Bara namanya kalau tidak mendapatkan suatu hal yang diinginkannya. Suka atau tidak suka Bara akan menganggap Elle sebagai miliknya seorang. "Saya nggak peduli, pokoknya mulai sekarang kamu punya saya. Titik!" Seru Bara tak mau dibantah.
"Lho, tapi kan-"
"Shutt, saya nggak terima penolakan!" Tegas Bara mendahului perkataan Elle.
Bara menarik tubuh Elle untuk ia peluk. Sambil menopang bahunya di salah satu bahu Elle, laki-laki itu kembali bersuara. "Mulai sekarang kita pacaran beneran." Tubuh Elle menegang seketika.
*****
__ADS_1
Diluar dugaan Elle, menjadi pacar betulan Bosnya sendiri malah membuatnya merasa ngeri.
Bagaimana Bara malah semakin bawel dan menyebalkan menurut Elle. Benar-benar tertekan kuadrat.
"Benerin dasi saya." Titah Bara. Tumben-tumbenan laki-laki itu memerintahkan Elle untuk membenarkan tampilannya, padahal Bara biasa melakukannya secara mandiri.
"Nanti duduk di samping saya. Kebetulan orang yang mau kita temuin sedikit napsuan." Beritahu Bara.
"Serius? Saya nggak bisa gitu Pak digantikan sama Pak Reno atau yang lain?" Tanya Elle berharap.
"Pak?" Bara membeo.
"Mas, saya nggak bisa gitu digantikan sama Pak Reno atau-"
"Saya, saya, saya. Kamu beneran mau bikin saya marah?" Seru Bara dengan tatapan tajam mengarah kepada Elle yang masih berdiri tegak di hadapannya.
"Kan belum terbiasa." Ucap Elle memberikan pembelaan.
Bara menarik dagu Elle, "Ngelawan?"
Elle berdecak. Dengan perasaan dongkol, ia menghempas tangan Bara dengan kasar dari dagunya. "Terus aja! Terus bikin saya takut sama Bapak!"
Elle berniat untuk meninggalkan Bara, namun laki-laki itu terlebih dahulu mencegahnya. Dengan gerakan cepat Bara menarik pinggang Elle membuat sang empu menabrak dada bidangnya. Elle tersentak kecil saat itu.
"Jangan takut sama saya. Kamu harus merasa nyaman bersama saya. Maaf membuat kamu ketakutan." Bisik Bara lembut. Tangan laki-laki itu meremat jemari Elle lembut, berharap dapat memberikan ketenangan kepada gadisnya.
"Emm ..." Guman Elle.
"Nggak ada niat bales pelukan saya?" Tanya Bara. Dengan ragu Elle melingkarkan kedua tangannya di tubuh kekar Bara. Kini gadis itu turut membalas pelukan Bara.
Bara terkekeh kecil melihat Elle yang sedang menggosokkan wajahnya pada dada bidangnya yang masih dibalut kemeja. Sensasi geli menyeruak.
Tanpa diduga, tiba-tiba pintu ruangan Bara dibuka dari luar. Baik yang berada di dalam ruangan maupun yang berada di luar ruangan sama-sama terkejut.
Elle yang sudah terlanjur malu karena kepergok sedang berpelukan bersama Bosnya memilih untuk mengetatkan pelukannya pada tubuh Bara, dan menenggelamkan wajahnya pada pelukan laki-laki itu.
"Maaf, saya pikir Bapak free. Saya permisi." Asisten Bara tersebut kembali menutup pintu ruangan Bosnya.
"Maluuuu dilihat Pak Reno." Rengek Elle.
__ADS_1
Bara tertawa ringan, lalu mengecup kening Elle untuk menenangkan sambil berkata, "Sama Reno aman."
TBC