
"Kenalin, ini Bara pacar Elle. Dan ini Kak Leo, kakak aku."
Finally, Bara bertemu dengan sosok yang membuatnya panas belakangan ini. Dia adalah Leo, kakak kandung Elle yang berprofesi sebagai TNI.
"Saya Bara."
"Leo." Keduanya berjabat tangan seperti orang-orang saat pertama berkenalan pada umumnya.
"Waktu itu Bara sempet ngira kalo Kak Leo itu cowok lain Elle. Sampe drop juga loh." Beritahu Elle kepada seluruh anggota keluarganya.
Orang tua Elle dan Leo tertawa kecil menanggapinya.
"Elle." Guman Bara menahan malu. Bisa-bisanya Elle membuka aibnya di depan keluarganya.
"Nggak usah malu, kan sama keluarga sendiri." Imbuh Elle lagi. Kali ini membuat Bara lega, itu artinya Elle telah mengakui dirinya sepenuhnya.
"Wajar lah kan belum kenal, dan belum tau. Tapi nanti jangan sampe ke ulang lagi lho, Elle juga punya sepupu cowok banyak. Kelakuan mereka emang suka bikin salah paham."
"Iya Tante."
Setelah kunjungan singkat yang Bara lakukan di rumah Elle pagi tadi, kini pria itu mengajak Elle untuk membeli bahan-bahan makanan di Supermarket mengingat stok makanan di kulkas yang ada di Apartemen Bara mulai menipis.
"Sini, jangan jauh-jauh." Bara menarik pinggang Elle yang hendak berjalan mendahuluinya.
Bara telah menunjukkan sisi gelapnya, yakni posesif dan pencemburu. Lama-lama Elle merasa tertekan berada bersamanya.
"Aku mau beli bahan-bahan kue, mau nyoba bikin kue." Beritahu Elle kepada Bara.
"Ya udah ambil aja, nanti sekalian sama belanjaan aku." Jawab Bara singkat.
Mendapat izin dari Mas Pacar membuat Elle senang. Dengan antusias gadis itu mengambil bahan-bahan yang sekiranya dibutuhkan untuk membuat kue.
Bara yang melihat antusias Elle hanya menggelengkan kepalanya.
"Buat kue di Apartemen aja ya?" Elle mengangguk setuju dengan tawaran Bara.
Mereka pun memutuskan untuk langsung pulang setelah puas berbelanja di Supermarket tersebut.
"Mas awas, biar Elle sendiri yang susun belanjaan di kulkas." Elle mengusir Bara yang hendak memberikan bantuan kepadanya.
"Nggak, nanti kamu capek. Sini Mas bantu." Balas Bara yang tetap kekeuh ingin membantu Elle.
__ADS_1
"Enggak mau, Mas pergi aja sana, ngapain kek. Jangan ganggu Elle di dapur!" Omel Elle kepada Bos sekaligus pacarnya itu.
Bara pun akhirnya menyerah. Lama-lama Elle galak juga, pikirnya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke ruang keramat miliknya, dimana lagi kalau bukan ruang kerjanya. Tempat dimana Bara menghabiskan banyak waktunya disana.
"Kalo kue-nya udah jadi panggil Mas di ruang kerja. " Pesan Bara yang hanya mendapat gumanan singkat dari Elle.
Elle mulai berperang dengan alat masak seadanya yang ada di dapur Bara. Gadis itu melirik jam di dinding yang menujukkan pukul sebelas siang. Itu artinya jam makan siang segera datang.
Sebelum membuat kue, Elle pun berinisiatif untuk membuat menu makan siang terlebih dahulu.
"Semoga cocok di lidah Mas Pacar." Guman Elle menatap masakannya yang telah ia sajikan di meja makan.
"Sekarang waktunya masuk oven!" Elle memasukan beberapa loyang yang berisi adonan berbagai jenis kue ke dalam oven besar milik Bara. Entah apa motivasi Bara menyediakan oven di dapurnya padahal pria itu tidak menggunakannya sama sekali.
"Mas Bara, makan siang dulu, aku udah masak nih."
"Lho, kok nggak ada? Katanya di ruang kerja." Monolog Elle saat tak menemukan Bara di dalam ruang kerjanya.
Bergeser ke ruangan yang ada di sebelahnya, Elle malah menemukan Bara tengah meringkuk di atas kasur empuknya dengan earphone yang menyumpal kedua lubang telinganya. "Katanya mau kerja, eh taunya molor." Guman Elle.
"Mas bangun, makan siang dulu." Elle berusaha membangunkan Bara dengan cara mengguncang tubuh pria itu.
Dan berhasil, Bara langsung membuka matanya perlahan. "Kamu laper? Kita pesen makan aja, ya?" Ucap Bara, suaranya masih sedikit serak dan itu membuat Elle semakin salah tingkah.
"Enggak, Elle udah masak. Ayo makan." Ajak Elle lagi.
"Bantuin bangun." Bara mengulurkan kedua tangannya bermaksud untuk minta dibantu bangun oleh Elle. Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun, Elle menerima tangan Bara dan mencoba menariknya. Namun bukannya berhasil membangunkan Bara, gadis itu yang malah terjerembab di atas tubuh Bara.
Bara langsung mengambil kesempatan untuk mengunci Elle dengan tangan dan kakinya.
Elle menjerit, "Aaaaa, lepasin!"
Elle mencoba berontak namun tenaganya tak sebanding dengan Bara. Pria itu malah tergelak cukup keras melihat wajah tersiksa Elle.
"Nangis nih!" Ancam Elle mengeluarkan jurus andalannya.
"Nangis aja, nggak bakal ada yang nolongin." Balas Bara dengan nada meremehkan.
"Mas Bara lepasin, aku sesek!" Pekik Elle.
Melihat wajah Elle yang sudah memerah menahan tangis, dan juga hidungnya yang sudah kembang kempis membuat Bara tak tega dengan gadisnya.
__ADS_1
"Ucul banget sih." Bara mengacak puncak kepala Elle dengan gemas.
Elle segera turun dari tubuh Bara. Gadis itu marah, terbukti karena membanting pintu kamar Bara dengan cukup keras.
BRAK!
"Astaga." Bara terkejut sambil mengusap dadanya.
Sebelum Elle bertambah marah dengannya, Bara segera bangkit dari kasurnya dan menyusul Elle yang sudah keluar terlebih dahulu dari kamarnya.
Makan siang itu terasa canggung karena Elle masih marah dengan Bara. Setelah acara makan siang selesai Bara kembali mencoba untuk membujuk Elle, namun gadis itu malah semakin garang kepadanya.
"Awas jangan deket-deket. Jangan sentuh kue aku, ini mau aku packing buat Mama!" Setelah memberikan peringatan kepada Bara, Elle pergi ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya disana.
Seperti biasa, akan ada dokumentasi di setiap maha karya yang ia ciptakan.
Tak ada lima menit Elle kembali ke dapur bersama ponselnya. Kameranya sudah siap menjepret kue-kue cantik buatannya, namun Elle malah dibuat melongo karena kue kering yang sedang ia dinginkan sudah tidak ada wujudnya. Dua loyang ukuran sedang itu kosong tanpa sisa sedikitpun!
Satu-satunya tersangka adalah Bara, karena pria itulah yang sejak tadi berada di dekat loyang-loyang kue.
"A-apa?" Tanya Bara saat tatapan Elle terlihat sedang menghakimi dirinya.
"Mana kuenya?" Tanya Elle.
"Ya Mas nggak tau lah, ilang kali." Jawab Bara ngasal.
"Nggak ada cerita kue ilang sendiri, kue nya Mas kemanain?" Desak Elle agar Bara mengaku.
"Mas nggak tau, Sayang."
Elle mendengus kesal. Ia kemudian mengeluarkan kue yang baru matang dari dalam oven.
Elle sengaja meletakkan kuenya diatas meja makan, setelah itu ia pergi ke kamar mandi. Ia ingin tau, kemana kue-kue nya itu pergi
"Oh jadi itu yang katanya nggak tau?"
Bara panik. Tangannya tak sengaja menyentuh loyang kue yang masih panas tersebut. Akhirnya kue-kue kering itu terjatuh dan berceceran di lantai.
"Sayang, tangan Mas melepuh." Adu Bara sambil menunjukkan jarinya kepada Elle.
TBC.
__ADS_1