MY BO$$

MY BO$$
F


__ADS_3

"Kemarin tetangga apartemen saya kejang-kejang gara-gara ketawa sampai bengek. Hati-hati kamu, nanti ikutan kejang sambil mangap-mangap." Seloroh Bara. Sebenarnya ucapannya adalah bentuk teguran karena Elle masih belum berhenti mentertawakan dirinya perihal obat tadi.


"Ya ampun doa nya gitu banget. Maaf, Pak. Habisnya Bapak lucu banget. Udah tua nggak berani nelen pil, hahahaha ..." Elle mengusap sudut matanya yang mengeluarkan setitik air mata karena masih tertawa.


"Saya nggak ada tenaga buat bales kamu. Tunggu setelah saya sembuh!" Dengus Bara. Enak saja dirinya dikatai tua. Memang sekretaris kurang asem!


"Siap, ditunggu kesembuhannya. Secepatnya ya." Ledek Elle dengan tampang puas penuh kemenangan.


"Kamu daripada gangguin saya mending mandiin Zero sana. Heran saya, ngeledek saya mulu dari tadi." Kesal Bara.


Mendengar nama Zero disebut-sebut membuat Elle panik seketika. Demi apapun ia tidak mau berurusan lagi dengan reptil yang satu itu. Dirinya masih trauma berat.


"Nggak mau, saya mau ke kantor aja." Tolak Elle. Gadis itu bersiap mengemasi barang-barangnya, namun Bara mencegahnya.


"Ngapain ke kantor, kayak beneran mau kerja aja." Cibir Bara membuat Elle mendelik tak terima. "Ya beneran kerja lah, memangnya selama ini saya ngapain? Jadi patung manekin?" Sewot Elle.


"Berhubung saya sedang berbaik hati, khusus hari ini kamu bebas dari tugas kantor." Ucap Bara.


"Yesss uhuyyy!!" Pekik Elle girang.


"Eits tunggu dulu, sebagai gantinya kamu harus nemenin saya seharian disini. Sesuai pesan Mamah saya tadi." Sela Bara.


Senyum Elle seketika lenyap.


"Nggak mau, Bapak bikin takut saya!" Seru Elle.


"Fine, kita temenan."


*****


Akhir pekan adalah waktu yang ditunggu-tunggu semua orang. Begitu juga dengan Elle. Gadis itu sengaja bangun terlambat agar bisa tidur lebih lama.


Elle butuh hibernasi setelah berhari-hari dibuat pusing oleh urusan kantor.


Namun rencananya itu gagal karena tiba-tiba ada tamu yang mencarinya di pagi hari buta.


"Siapa sih, Mam?" Guman Elle dengan wajah bantalnya. Gadis itu baru bangun tidur, dan bahkan nyawanya belum terkumpul. Namun sang Mami memaksanya untuk menemui tamu spesialnya.


CEKLEK


"Surprise!"

__ADS_1


Elle membekap mulutnya tak percaya. Dihadapannya kini berdiri seorang laki-laki yang sangat ia rindukan selama ini. Siapa lagi kalau bukan Leo, kakak laki-laki nya.


"Wow! You come back, Dude!" Elle langsung menyergap tubuh tegap itu dengan pelukan rindu yang amat erat.


"Owh, my little bunny you're so cute." Tangan besar Leo terulur untuk mengacak rambut adik semata wayangnya.


"Udah yuk masuk, kalian bisa kangen-kangenan di rumah." Seru Si Papi.


"Mami lagian kenapa abang nggak disuruh masuk langsung? Pake acara nunggu di luar segala, kan kasian abang ku." Oceh Elle menggerutu. Walau begitu ia tetap senang karena kakaknya pulang. Bahkan tangannya tak mau lepas untuk mengapit lengan Kakaknya.


Seharian ini Elle menghabiskan waktunya untuk quality time dengan keluarga kecilnya.


Bahkan Elle lupa kalau hari ini seharusnya dia ...


"Omaigott! Elle lupa, hari ini mau nemenin Bara main golf!" Pekik Elle dengan panik. Kedua orang tuanya, dan sang abang merasa heran dengan Elle.


Gadis itu segera berlari menuju kamarnya untuk mengecek ponselnya. Dan benar saja, ada beberapa panggilan dan pesan masuk dari Bos nya itu.


Bos Baraawwrr🦖


《Minimal kasih kabar.》


Ia ingin menelpon balik Bara, namun laki-laki itu sudah off WA sejak satu jam yang lalu. Elle bingung saat ini.


"Sumpah demi apa, gue deg deg-an." Saat ini Elle sudah berada di depan pintu unit apartemen milik Bara. Dengan ragu ia menekan pin yang biasa ia gunakan. Dan hasilnya berhasil. Pintu itu terbuka untuknya.


"Assalamualaikum, calon imam." Ceplos Elle tanpa sadar. Sambil menggerutu ia memukul pelan mulutnya sulit dikontrol.


Elle meletakkan tas nya di meja tengah. Kemudian ia mulai mencari keberadaan Bara disemua ruangan yang ada di sana.


"Kamu ngapain di sini?" Teguran dari Bara sukses membuat Elle terkejut. Gadis itu menoleh ke belakang, ia mendapati Bara dengan singlet dan kolornya. Tubuhnya penuh dengan peluh, mungkin habis olahraga, pikir Elle.


"Nganu ..."


"Nganu apaan? Nganu-nganu kayak nganu aja." Seru Bara.


Laki-laki itu mengambil air dingin di kulkas, dan Elle mengikutinya dari belakang.


Gleg ... gleg ... gleg ...


Elle menatap tak berkedip pada Bara yang sedang meneguk minuman dingin. Jakun laki-laki ikut naik turun seiring dengan tegukan air di tenggorokannya.

__ADS_1


"Stress gue lama-lama." Batin Elle sambil menggelengkan kepalanya. Jangan sampai fikiran kotor hinggap di kepala kecilnya.


"Pak, saya mau minta maaf. Saya lupa kalo hari  ini saya ada janji sama Bapak buat nemenin Bapak main golf. Saya nggak pegang hp seharian ini." Jelas Elle mengutarakan unek-uneknya.


"Oh." Balas Bara singkat.


"Bapak marah sama saya?" Tanya Elle. Selama beberapa waktu ini hubungan mereka membaik dan semakin akrab. Merasa jika Bara kembali bersikap cuek, memuat Elle menyimpulkan jika laki-laki itu sedang marah kepadanya.


"Nggak ada hak." Jawaban singkat kembali Bara lontarkan.


"Ada, kan kita pacaran." Balas Elle.


"Pura-pura kalau kamu lupa." Ucap Bara.


"Nggak papa yang penting kan namanya pacaran, pasti ada hak dong." Ucap Elle.


"Oke, jadi mau kamu apa? Buang-buang waktu saya? Iya? Kalau kamu sudah punya pacar bilang, kita udahan aja. Saya nggak sudi jadi cadangan kamu. Kamu pikir saya cowok apaan?" Sungut Bara berapi-api. Entah kenapa mood Bara terlihat buruk hari ini.


Elle mengeryit heran, ada apa dengan Bos nya?


"Bapak kenapa sih? Sensi banget kelihatannya, lagi dapet?" Tanya Elle dibumbui dengan candaan.


"Ini bukan waktunya becanda, Elle." Tekan Bara.


"Ya terus? Kan bisa diomongin baik-baik, nggak perlu pake urat kali, Pak." Balas Elle.


"Mending kita balik kayak dulu. Kita nggak ada hubungan apa-apa selain bos dan sekretaris. Saya nggak mau ada hubungan yang lain-lain. Saya nggak peduli." Seru Bara.


"Oke, fine. Itu lebih baik. Mulai sekarang kita hanya sebatas bos dan sekretaris. Untuk masalah penjelasan ke keluarga masing-masing, saya rasa kita bisa handle sendiri-sendiri." Balas Elle.


"Ya."


Elle pergi meninggalkan Bara. Sebelum gadis itu keluar, ia mengambil tasnya yang sempat tertinggal di ruang tengah apartemen milik Bara.


Mulai saat ini mereka end.


Bara hanya bisa menatap kepergian Elle melalui balkon apartemen miliknya. Keputusannya sudah bulat. Ia ingin hidup normal seperti sedia kala sebelum dirinya mengenal sosok Elle.


Niatnya membuka hati tapi malah tersakiti, memang payah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2