
Hampir satu minggu, Bara dan Elle tidak bertegur sapa selama di kantor. Mereka menjalankan pekerjaan secara profesional.
Belum ada alasan yang pasti mengapa Bara menginginkan sandiwara mereka diakhiri. Padahal jika dipikir-pikir sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Elle terhindar dari perjodohan kuno Mami dan neneknya, dan Bara tidak dikira gay oleh Mamahnya.
Sore itu turun hujan lumayan deras. Sambil menunggu jemputan karena Elle tidak membawa kendaraan pribadi, gadis itu menunggu di sebuah halte yang letaknya tak jauh dari perusahaan.
Dari jauh ternyata ada yang mengamati Elle. Niat hati ingin memberi tumpangan. Namun saat melihat sebuah mobil menghampiri Elle, niat orang tersebut ia urungkan.
Dia adalah Bara, sosok yang tidak bertegur sapa dengan Elle selama seminggu ini.
Melihat seorang laki-laki turun dari mobil sambil membawakan payung untuk Elle, entah mengapa Bara merasa tak suka. Ia mencengkeram stir mobilnya dengan erat, urat-uratnya pun ikut terlihat.
"Ck! Memang saya peduli?" Dengus Bara.
*****
"Kak, Kak Elle kok jarang main lagi sih? Kalian berantem ya?" Seru Bila.
Baru pulang Bara malah diberikan pertanyaan yang membuat kepalanya semakin pusing oleh adiknya.
"Kepo." Balas Bara cuek.
"Dih."
"Iya loh, Bar. Elle jarang banget main ke rumah, kalian lagi ada masalah ya?" Sahut sang Mamah ikut bertanya.
"Nggak, Mah." Jawaban singkat dari Bara tentu membuat dua wanita itu merasa kurang puas.
"Ya udah, besok Mamah suruh Elle kesini, ya?" Ucap Mamah Feliz.
"Terserah."
Setelah itu terdengar suara pintu dibanting cukup keras. Bahkan Mamah Feliz dan Bila sempat terkejut hingga mengelus dada mendengarnya.
"Halo, malam Elle ..."
Keesokan harinya Bara dinyatakan demam oleh dokter setelah Mamah Feliz memanggil dokter untuk memeriksa kondisi putranya.
Tubuh laki-laki itu menggigil, dan suhu badannya panas.
"Bar, makan dulu sayang. Sedikit nggak papa, biar cepet sembuh." Bujuk Mamah Feliz kembali. Wanita itu berusaha sabar menghadapi tingkah rewel Bara saat sedang sakit.
"Lagian tumben banget tumbang. Mana nyusahin lagi." Cibir sang Papah.
__ADS_1
Plak
Mamah Feliz memukul lengan suaminya itu dengan perasaan kesal.
"Namanya juga penyakit, mana ada yang nyangka. Papah jangan gitu, Papah juga nyusahin kalo lagi sakit!" Semprot Mamah Feliz.
Bukannya diberi ketenangan, Bara malah dihadapkan dengan kedua orang tuanya yang sibuk beradu mulut. Ia menghela nafas kasar.
"Mamah sama Papah mending keluar aja deh. Bara nanti makan sendiri." Ucap Bara.
Kedua orang tua itu mengalah. Mereka keluar dari kamar Bara, dan membiarkan Bara istirahat dengan pikirannya sendiri.
Bara yang baru memejamkan matanya kembali di buat kesal karena lagi-lagi ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Pasti itu Mamahnya, pikirnya.
"Mah, Bara bisa makan sendiri. Mamah nggak usah jengukin Bara kayak anak kecil." Kesal Bara.
"Pak Bara." Tunggu, itu bukan suara Mamahnya. Dan Bara tau betul siapa pemilik suara itu.
Bara membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah sosok Elle yang sedang berdiri di sampingnya sambil membawa bingkisan kecil di tangannya.
Seketika ekspresi Bara berubah datar. "Ngapain kamu disini?" Tanya Bara dengan nada yang terdengar sinis.
"Jenguk Bapak." Jawab Elle seadanya.
"Sekarang udah lihat kondisi saya kan? Silahkan kamu bisa keluar dari kamar saya." Usir Bara tanpa basa-basi.
"Bahkan saya baru sampe, Bapak langsung ngusir saya?" Tanya Elle tak menyangka.
"Saya yakin kamu belum tuli." Sarkas Bara.
Elle mendengus kesal. Saat sedang sakit, tingkah menyebalkan Bara pun tak bisa hilang. Mungkin sudah setelan dari pabriknya.
"Kalo gitu saya mau ketemu Zero. Saya sudah berani pegang, Zero." Ucap Elle.
"Ck! Nggak usah ngulur waktu. Kamu bisa pulang sekarang daripada nanti dimarahin pacar kamu! Dan satu lagi, saya nggak mau buang-buang waktu untuk klarifikasi kalo kamu sama pacar kamu berantem." Seru Bara.
Sampai sini Elle belum paham kemana arah pembicaraan Bara. "Pacar saya? Maksud Bapak siapa?" Tanya gadis itu heran.
"Mana saya tau."
"Sebentar, saya masih belum ngerti kenapa sikap Bapak akhir-akhir ini beda ke saya. Setelah saya pikir-pikir, semua masalah datang setelah saya lupa untuk nemenin Bapak main golf, bener kan?" Seru Elle bertanya.
"YNTKTS" Yo Ndak Tau Kok Tanya Saya.
__ADS_1
FLASHBACK ON
Sebelumnya Bara sudah membuat janji dengan Elle untuk pergi ke tempat golf. Rencananya mereka akan berangkat pagi setelah sarapan pagi.
Namun di hari-h, sejak pagi ponsel Elle tak bisa dihubungi. Karena Bara kurang suka kondisi di siang hari, berakhirlah ia mengalah dan memutuskan untuk menghampiri Elle.
Dan saat sampai di kediaman Elle, Bara melihat suatu hal yang membuatnya mengurungkan niat untuk menjumpai Elle.
Bara melihat Elle sedang memeluk seorang pria dewasa. Didukung dengan raut bahagia yang Elle tampilkan, membuat suasana hati Bara menjadi tak menentu.
"Oh, kenapa nggak bilang kalo udah ada pacar? Tau gitu saya nggak perlu buang-buang waktu buat ngelakuin drama murahan kayak gini." Setelah bermonolog demikian, Bara memutuskan untuk kembali menyalakan mesin mobilnya, dan segera pergi dari jalanan di depan rumah Elle.
Mungkin terdengar aneh jika Bara dibilang sedang cemburu. Apalagi status mereka hanya pacar pura-pura. Tapi yang dirasakan Bara menujukkan jika laki-laki itu sedang cemburu.
FLASHBACK OFF
"Kasian banget yang jadi pacar kamu, nggak diakui." Cibir Bara dengan nada mencemooh.
"Wait, jadi Bapak mikir kalo yang Bapak lihat itu pacar saya?" Tanya Elle memastikan. Bara terlihat mengedikkan bahunya acuh.
Elle tertawa kecil. Ternyata hal itu lah yang membuat Bosnya uring-uringan akhir-akhir ini.
"Bapak salah paham." Ucap Elle.
"Maksud kamu?"
Elle pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya. "Yang Bapak lihat itu bukan pacar saya, tapi itu kakak saya. Dia baru pulang setelah tiga tahun tugas di perbatasan. Wajar kalo saya peluk-peluk, namannya juga kangen. Jangan bilang Bapak lagi jealous?" Tuduh Elle.
Seketika Bara panik dan gelagapan. Dengan cepat ia menepis tuduhan yang Elle layangkan kepadanya. "Mana ada, buat apa saya jealous sama kamu." Serunya.
"Yakin nih?" Elle menggoda Bosnya sambil menaik turunkan alisnya.
Bukannya memberi jawaban, Bara malah menarik sellimutnya kemudian membalik badan untuk memunggungi Elle.
"Oke nggak jealous."
"Btw ini ada kue titipan dari Mami saya, sama minuman herbal biar cepet reda demamnya. Saya pulang dulu, Pak. Assalamualaikum." Pamit Elle kemudian.
"Waalaikumsalam. "
Ingat, salam itu sunnah. Tapi menjawab salam hukumnya wajib.
TBC
__ADS_1