My Evil Lady

My Evil Lady
Prolog


__ADS_3

Pernahkan kamu membayangkan akan mengorbankan apapun demi orang lain? Bukan sekedar uang, harta, waktu, ataupun tenaga, tapi juga nyawamu.


Relakah kamu melakukannya meski untuk orang yang paling kamu sayang sekalipun? Sanggupkah?


Tak pernah sekalipun terlintas di benak jika aku akan melakukannya. Mengorbankan segalanya demi seorang gadis yang bahkan tidak ku miliki. Jangan sebut aku pahlawan karena aku tidak semulia itu. Aku melakukannya demi diriku sendiri. Rasa sakit yang akan kualami jauh lebih bisa kutanggung dari pada ketidakberdayaan saat melihatnya terluka. Perasaan saat menyadari kalau dia bisa menghilang kapan saja dari sisiku.


Aku melirik kaca spion tengah mobil. Tertawa sinis saat melihat bayangan yang memantul dari kaca bening tak bernoda. Bayangan sesosok pria dengan wajah pucat dan keringat mengalir deras. Bayangan yang tidak lain adalah bayanganku sendiri yang terbentuk sempurna di dalam kaca. Aku sepenuhnya sadar, siapa dan dimana posisiku di hadapannya, tapi tetap aku tidak bisa menghiraukannya. Aku mencemooh diri sendiri yang begitu loyal selayaknya seekor anjing peliharaan. Persis seperti yang dia ucapkan dulu. Dia benar dan sayangnya sekarang aku sama sekali tidak peduli.


Perhatianku tak teralih sedetikpun dari jalanan yang semakin malam semakin lenggang dan kelam. Temaramnya lampu jalan sesekali tertutupi dahan-dahan rindang pepohonan di kanan kiri jalan, mengharuskanku semakin keras memfokuskan perhatian. Aku bisa mendengar detik jarum jam tangan yang semakin keras di kesunyian, membuat jantungku ikut berdetak semakin kencang.


Aku menggigit bagian dalam mulutku, panik karena sampai sekarang belum berhasil menemukan mobilnya. Aku sudah berusaha menghubungi, tapi ponselnya yang tidak aktif membuatku semakin khawatir.


Setelah menit-menit yang menyiksa, akhirnya aku menemukannya. Perasaan lega yang sempat membanjiri aliran darah-saat aku melihat mobil merahnya yang membelah jalanan gelap dengan sombong-menguap seketika, berganti dengan hawa dingin yang menjalari punggung. Yang terpampang di depanku sekarang hanyalah pilihan sulit yang tidak bisa lagi ku hindari.


Aku menginjak pedal gas kuat-kuat, menambah kecepatan melewatinya dari arah berlawanan sebelum berbelok tajam. Aku bukan pengendara yang ugal-ugalan, tapi ini darurat. Untungnya malam ini jalanan begitu lenggang hingga manuver ku tidak membahayakan pengendara lain. Tak punya waktu memuji manuver drift-ku yang berjalan mulus, aku kembali tancap gas. Aku berusaha mensejajari mobil merahnya dari arah belakang. Aku tak kuasa menahan diri untuk menoleh, menatapnya, berharap kalau ini bukan kali terakhir aku bisa melihat wajah cantik itu. Dia menyadarinya dan dalam sepersekian detik itu pandangan kami bertemu.

__ADS_1


Aku memaksakan seutas senyum kecil di sudut bibir untuknya meski mataku mulai tergenang air mata. Pandangan heran dan penuh tanya mengekor mobilku yang dengan mudah mendahului dan memotong paksa jalurnya. Panik, ia menginjak pegal rem sekuat tenaga, berusaha menghentikan laju mobil, tapi tak berhasil karena pengereman yang terlalu mendadak. Alih-alih berhenti, mobil merah itu oleng, berputar arah hingga keluar ke bahu jalan.


Umpatan-umpatan kasar spontan menyembur keluar dari bibir tipis yang lembut saat membuka cepat sabuk pengamannya. Aku rasa aku bisa mendengar umpatan itu dengan jelas seakan aku berada tepat di sampingnya. Umpatan yang sering ku dengar di hari-hari yang lalu saat aku bersamanya. Umpatan yang anehnya tak pernah membuatku marah, malah membuatku merasa senang karena semua itu ditujukan hanya kepadaku. Senang karena eksistensiku menganggunya, membuatnya gelisah. Senang karena dia mengakui keberadaanku di sampingnya.


Aku bertanya-tanya, setelah malam ini apakah masih ada orang yang bisa menjadi tempat pelampiasannya untuk mengumpat. Mengumpat dunia dan hidupnya yang terasa begitu berat dan tidak adil di atas pundaknya yang mungil.


Aku tersenyum miring. Dia tidak pernah memintaku untuk melakukan ini. Aku memang takut, tapi aku lebih takut lagi jika aku tidak melakukannya. Aku tidak ingin menyesal.


Dorongan keras menghantam bagian belakang mobilku dari arah samping, membuatku terpelanting dan berguling liar di jalanan malam yang lenggang. Aku bisa menebak kalau hal ini akan terjadi, tapi aku tak mampu untuk menghindarinya. Laju mobilku tidak cukup cepat dan kurang lambat untuk bisa menghindar dari terjangan truk. Lebih buruk lagi, saat aku menggendarai mobil kesayangannya.


Setelah beberapa saat berguling liar, akhirnya aku tak merasakan lagi pergerakan. Dalam posisi terbalik, tertahan sabuk pengaman aku bisa melihatnya. Aku melihatnya berlari ke arahku. Rambutnya yang panjang terterpa angin, sama sekali tak ia hiraukan. Aku tak bisa lagi merasakan kaki dan tanganku, terlebih untuk menggerakkannya. Kepalaku berdenyut liar, membuatku tak mampu memfokuskan pandangan. Tulang rusukku tertekan air bag yang mengembang, menyesakkan dada. Aku harus susah payah menahan rasa sakit hanya untuk menarik napas.


Dari balik kaca jendela samping yang retak aku mendengarnya mengedor kaca, memaksaku untuk mengarahkan perhatiannya padanya. Dalam samar-samar aliran darah yang mengalir pelan dari pelipis kiri, aku bisa melihat mata basahnya menatapku. Bibir tipisnya yang senang mengataiku sekarang gemetar ketakutan.


Jangan menangis untukku. Aku tak pantas untuk kau tangisi.

__ADS_1


Dengan tubuh kecilnya, ia berusaha menarik paksa pintu pengemudi tanpa hasil. Tak berpikir lama, ia berputar ke pintu lain tapi tetap sama, semuanya tak bisa terbuka. Dia melihat ke segala arah, mencari ke segala penjuru untuk mencari pertolongan. Ia tak menemukan satu orangpun di sekitar, karena dari awal jalanan ini memang sedang lenggang. Pengemudi truk yang menabraknya, sudah tancap gas untuk melarikan diri. Ia kembali ke mobilnya, mengambil ponsel untuk meminta bantuan sebelum kembali berlari ke arahku. Seperti ia takut aku akan menghilang jika ia mengalihkan pandangan.


Tiap detik yang berlalu, tiap detik itu pulalah sosoknya semakin kabur dalam pandanganku. Aku mengedipkan mata berberapa kali, menghalau aliran darah agar tidak masuk ke mata, tapi kelopak mata yang semakin berat memaksaku untuk menyerah dan memejamkan mata.


"Jangan berani-berani kamu memejamkan mata?" teriaknya dari balik kaca jendela. Terdengar jelas nada perintah dalam teriakannya. Nada sama yang ia gunakan untuk memaksaku melakukan apapun keinginannya. "Kalau kamu melakukannya, aku takkan memaafkanmu," ancamnya dengan tatapan ketidakberdayaan.


Aku dengan senang hati melakukannya.


Tak mampu mengatakan sesuatu, aku hanya tersenyum lemah. Aku tidak suka mendengar ancamannya, tapi aku tak sanggup lagi. Sedikit demi sedikit kelopak mataku turun, memudarkan sosok indahnya, tergerus kegelapan. Menenggelamkan suara gedoran tangan di kaca jendela dan teriakan memelasnya.


Maaf, aku tak bisa memenuhi perintahmu kali ini.


Maaf, membuatmu meneteskan air mata untuk orang tidak berarti ini.


Maaf.

__ADS_1


***


__ADS_2