
"Tidak enak." Komentar kejam tak pandang bulu itu meluncur mulus dari bibir merahnya yang mungil, membuatku tanpa sengaja menelan bulat-bulat potongan steak di mulut karena begitu terkejut. Hawa dingin menjalari punggung, membuat perutku bergolak. Aku punya firasat buruk, kalau dia akan bertingkah lagi. Cewek yang duduk di sampingku itu hanya memainkan alat makannya saja. Ia mengacak-acak potongan daging dan salad di atas piring dengan satu tangan, tak berniat untuk memasukkan sesuap pun ke makanan itu ke dalam mulut sementara tangan satunya menopang kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan kebosanannya secara jelas di acara makan malam dengan klien.
Komentarnya yang memecah ketenangan acara santap kali ini berhasil menarik perhatian semua orang yang berada semeja dengan kami. Aku sendiri masih sibuk melancarkan potongan daging yang sempat tersangkut di tenggorokan hingga akhirnya berhasil dibebaskan dengan segelas air. Dia hampir saja berhasil membunuhku dengan mudah, tanpa bersusah payah, dan mustahil dipenjarakan. Keheningan yang memenuhi ruang makan mewah ini sedikit demi sedikit terganti dengan senyum dan pertanyaan canggung yang membuat leherku menegang.
"Maaf?" tanya sang tuan rumah dari seberang meja makan berbentuk persegi dengan hanya empat kursi yang mengelilingi. Sang tuan rumah mungkin mengira kalau pendengarannya mulai berkurang karena faktor usia, mengingat itu bukanlah jenis komentar yang lazim di dengar pada acara jamuan makan malam. Seutas senyum canggung terhias di wajahnya, berusaha menunjukkan ekspresi sesantai mungkin.
Aku menghela napas berat, ikut meletakkan alat makanku juga meski aku belum selesai. Mendadak aku kehilangan selera makan. Bukan karena rasa masakannya-yang menurutku tidak ada masalah, tapi lebih pada suasana yang seolah membuatku berada di tepian jurang. Sekali salah bergerak, aku bisa terjun bebas dan membunuh diriku sendiri. Jujur, aku merasa prihatin dan kasihan pada si tuan rumah. Di usianya yang sudah tidak muda lagi itu, mereka harus menghadapi gadis ingusan yang hampir tidak punya common sense ini. Gadis ingusan yang merasa dirinya bebas melakukan dan mengatakan apa saja hanya karena memiliki keluarga yang berkuasa.
Dalam acara perjamuan makan, kita tak akan mengatakan secara terbuka meski sajian yang dihidangkan tidak sesuai selera kita. Terlebih mengatakannya secara terang-terangan kepada si tuan rumah. Budaya kita mengajarkan untuk selalu menyenangkan hati tuan rumah yang mengundang meski itu harus berbohong sekalipun.
"Eh...daging steaknya tidak enak," ulangnya tanpa basa-basi, membuat raut wajah si tuan rumah menghijau. Sang nyonya rumah yang duduk di samping suaminya hanya bisa menundukkan kepala. Pertanyaan yang jelas-jelas tidak butuh penjelasan teknis per-steak-an. "Terlalu banyak bumbu jadi aroma asli dagingnya hilang. Tingkat kematangannya juga tidak rata. Tidak jelas tingkat kematangan seperti apa yang diinginkan." Dia membolak-balik potongan daging di piring. "Lihat, sebelah sini overcook, tapi sisi satunya masih rare." Dia menujukkan langsung potongan dagingnya kepada nyonya rumah yang hanya bisa mengangguk kikuk dan canggung dengan wajah memerah. Daging yang menurutku baik-baik saja, dan cukup enak untuk standarku. Tidak tahu standar bapa yang ia pakai hingga meneliti makanannya seperti itu.
Si tuan rumah yang merupakan salah satu seorang direktur perusahaan rekanan kami hanya bisa menggenggam erat tangan sang istri di bawah meja. Ucapannya terlalu berani, bahkan terlalu lancang, tapi mengingat pentingnya kerjasama di antara perusahaan mereka, beliau menahan diri. Ekspresi wajahnya rumit, antara menahan amarah atau malu.
"Maafkan saya kalau makanannya tidak sesuai selera Anda. Maklum istri saya baru belajar memasak." Si tuan rumah beserta nyonya memaksakan seutas senyum, berlagak seakan itu hal yang biasa sementara aku, keringat dingin sudah membasahi punggung. Daging steak yang terlihat lezat terhidang di meja, tidak bisa lagi menarik nafsu makanku.
Terpaksa kami harus menyudahi acara jamuan ini lebih awal dengan suasana canggung. Semua itu karena ucapan bosku yang kurang ajar. Tanganku gatal ingin memukul belakang kepalanya. Kalau memang dia tidak suka ya cukup diam saja, tak usah dimakan. Tak perlu memberikan komentar yang tidak diharapkan. Tak semua hal bisa dinilai hanya dari hasil. Ada proses sepenuh hati yang perlu dihargai juga.
Bosku menganggukkan kepala seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya, seakan maklum dengan jawaban sang direktur. "Saya rasa Nyonya masih perlu banyak belajar," sarannya sambil lalu makin membuatku geram.
__ADS_1
Dia mengalihkan pandangan, menatap sang direktur dengan tatapan mata bulatnya yang tegas, tapi tetap tenang. "Oh..ya Pak Toni untuk urusan perpanjangan kontrak kerjasama perusahaan, sebaiknya kita bicarakan di kantor saja. Bapak tidak perlu repot-repot mengundang saya. Saya takut akan memunculkan rumor yang tidak benar nantinya," ujar bos ku menyudahi pembicaraan tentang steak dan kembali ke urusan pekerjaan.
Sama halnya dengan menu makan malam yang gagal mengesankan bos ku, ternyata niat baik direktur untuk mengundang kami makan malam gagal menyentuh hatinya. Ia benci basa-basi. Benci berbisnis dengan cara kuno yang tidak profesional.
Sang direktur menelan ludah susah payah. Ia mengambil gelas di hadapannya, berharap air tersebut bisa menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Ini jelas bukan komentar yang bisa dia bayangkan sebelumnya. Terutama setelah komentar 'tidak enak' tentang sajiannya tadi.
Bosku mengambil tas tangan dan bangkit tiba-tiba dari tempat duduknya. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Sampai ketemu besok di kantor." Dia mengulurkan tangan sebelum disambut dengan kikuk oleh sang direktur.
Hentakan suara stilletto heels bosku memecah keheningan lorong marmer berwarna abu yang membentang menuju ke pintu keluar. Langkahnya mantap, tak ada keraguan saat ia sudah menentukan tujuan. Gaun sutra biru muda berpotongan A-line selutut melambai anggun, memberikan harmoni sempurna dengan ayunan lembut tangannya. Dengan tidak berperasaan, dia meninggalkanku sendiri untuk membereskan sisanya. Menghadapi tuan dan nyonya rumah dengan perasaan bersalah seolah ini semua salahku. Salahku karena membawanya kemari. Salahku karena menerima undangan makan malam ini.
Sang tuan rumah menghela napas panjang, mengamati kepergian bosku. Semua ini pasti mengejutkan untuknya. Ia tak menyangka kalau keramahannya bisa diartikan lain. Buru-buru aku mengeluarkan sebuah kartu nama seorang manajer salah satu restoran mewah di pusat kota.
"Direktur ingin menghadiahkan jamuan makan malam romantis untuk Anda dan nyonya di salah satu restoran favorit beliau. Direktur tahu kalau Anda berdua baru saja merayakan anniversary pernikahan kalian." Aku menyodorkan kartu nama tersebut kepada si tuan rumah yang menghujaniku dengan tatapan penuh tanya. Terlalu banyak kejutan yang terjadi hari ini untuk jantung tuanya. "Bukan hal yang biasa bagi direktur untuk menunjukkan niat baik dan perhatiannya secara langsung, jadi beliau mengutus saya." Dalam hati aku memuji diri sendiri. Semakin lama aku bekerja di bawahnya, semakin pintar membuat alasan dan mencari jalan keluar. "Mohon diterima dan silahkan menikmati jamuan makan malamnya. Tolong maafkan juga kecanggungan direktur saya pada jamuan makan kali ini." Aku menyerahkan kartu nama itu langsung ke tangan sang direktur yang tak kunjung mengambilnya.
Aku baru bisa bernapas lega, saat melihat senyuman di wajah mereka. Senyuman yang setidaknya menjamin kelangsungan kontrak kerjasama antar perusahaan. Sesuatu yang memantapkan langkah, menegapkan kepala saat keluar dari rumah besar sang direktur untuk menyusul bosku yang seenaknya sendiri.
***
"Kenapa lama sekali?" protes Rima, bosku-yang sudah duduk manis, menyilangkan kaki di kursi belakang mobil double cabin merah kesayangan. Kedua tangan yang terlipat di depan dada saat aku baru sampai di mobil setelah berpamitan dengan tuan rumah yang mengundang kami. Rambut hitamnya yang panjang berombak ia biarkan tergerai di kedua sisi pundak, memposisikan diri seperti ratu yang sudah selayaknya dilayani.
__ADS_1
Kembali setelah berhasil menyelesaikan ulahnya, tapi disambut dengan wajah ditekuk dan alis bertaut jelas mengaburkan semua senyum dan perasaan lega yang sempat menyelimuti hatiku. Aku berhak mendapatkan sesuatu yang lebih karena berhasil membuat si tuan rumah memaafkan dan melupakan sikap tidak lazimnya barusan. Suatu tindakan yang berarti juga menjaga image-nya dan tentu nama baik perusahaan, meski ia sama sekali tak merasa bersalah.
"Saya harus menghubungi manajer restoran favorit Anda untuk memberikan akses masuk kepada pak direktur dan istrinya," jelasku sesabar dan sekuat mungkin menahan rasa dongkol dengan ulahnya agar tidak terlalu kentara.
"Buat apa? Kamu tidak perlu melakukannya?" protesnya dengan nada bicara yang semakin ketus. Sepertinya ia belum menyadari betapa penting pembicaraan ini demi kelangsungan perusahaan. Kalau saja gadis cantik bermata bulat itu bukan atasanku, aku akan langsung memesan taksi dan pergi meninggalkannya.
"Saya tidak perlu melakukannya kalau Anda bisa sedikit mengendalikan diri." Hampir saja aku kelepasan mengatai mulut pedasnya, untung otakku bisa segera menemukan kata lain yang lebih sopan. "Komentar Anda tadi bisa menyakiti hati direktur dan istrinya," balasku tidak kalah sengit yang mendapat lirikan tajam dari sudut matanya. Bibirnya yang tipis tertutup rapat, jelas tak suka dengan apa yang ku katakan.
"Lalu kenapa kalau aku menyakitinya? Orang tua itu takkan berani memutus kontrak dengan kita. Lagian aku cuma bicara jujur kalau memang masakannya tadi tidak enak. Apa sekarang kamu menyuruhku untuk berbohong juga?" Dia menelengkan kepala ke arah jendela belakang yang terbuka, tempat aku berdiri. Matanya menyipit, menelisik saat menatapku seakan aku orang yang penuh tipu muslihat.
Aku menarik salah satu sisi dasi yang mencengkeram leherku sekenanya. Berusaha melonggarkan ikatan dasi agar bisa lebih leluasa menghirup banyak oksigen untuk bisa menyegarkan otak. Aku harus menghadapinya dengan kepala dingin, aku tidak boleh terpancing. Salah bersikap sedikit saja bisa berakibat fatal terlebih saat ia menunggu momen itu terjadi. Momen saat ia bisa mendepakku keluar dari perusahaan. "Saya tidak menyuruh Anda berbohong, tapi orang bijak selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk membuka mulut," nasihatku yang hanya membuatnya memutar bola mata. Dia terlalu tinggi untuk mendengar nasihatku. "Satu lagi, apa harus Anda duduk di kursi belakang?" ganti aku yang menatap dengan tajam saat ia semakin menyamankan duduknya.
Rami mengangkat bahu, "Memang kenapa? Aku memang bosmu?" jawabnya santai, sambil mengalihkan pandangan dariku, kembali menatap lurus ke depan, menunggu aku masuk ke dalam mobil.
"Tapi aku bukan sopir Anda, Direktur. Saya PA, personal assisten, bukan sopir. Ya...setidaknya Anda bisa duduk di depan," ulangku, mengingatkannya kembali barang kali dia lupa kalau aku bukan pembantunya.
Alih-alih menurutiku, gadis itu malah menodongkan tangan, menjulurkannya keluar melewati kaca jendela penumpang yang sedikit terbuka. "Kalau kamu tidak mau mengantarku, aku bisa pulang sendiri," tawarnya sambil menatapku dengan mata berbinar penuh harap, dan seutas senyum yang terlihat jelas dibuat-buat. Tawaran yang jelas bukan pilihan untukku. Aku mengacuhkan tawarannya, dan mulai masuk ke dalam mobil, lagi-lagi dengan perasaan dongkol karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya. Oh...aku bisa.
"Oh ya...sekedar informasi, biaya makan malam mewah untuk direktur dan istrinya akan saya bebankan ke rekening Anda," balasku sebelum menyalakan kunci mobil dan melaju ke jalanan. Pembalasan kecil yang berhasil membuatnya mengacak-acak rambut kesal.
__ADS_1
Aku bukan lawan lawan yang mudah.
***