My Evil Lady

My Evil Lady
Hari Libur


__ADS_3

"Dika...sudah siang, kamu mau bangun jam berapa?" Terdengar suara ibu dari dapur, beradu dengan peralatan masak yang berisik, membentuk suara berirama yang hampir tiap pagi ku dengar. Suara yang kali ini ku abaikan. Aku terlalu lelah dan mengantuk. Rasanya aku bisa tidur lima jam lagi. Aroma harum nasi goreng favorit bahkan tidak mampu memaksa kelopak mataku untuk terbuka. Lengket seperti terkena lem super kuat


"Hari ini libur, Bu. Dika mau bangun agak siangan," jawabku manja, masih dengan mata terpejam, menenggelamkan kepala ke dalam guling yang empuk. Begitu damai dan menyenangkan.


Setelah bekerja ekstra keras enam hari dalam seminggu, berangkat pagi pulang malam, akhirnya aku punya kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh lelahku. Merilekskan setiap tulang-tulang dan sendi-sendi di sekujur tubuh, bermalas-malasan di atas kasurku yang empuk sepanjang hari sebelum bekerja keras lagi esok Senin.


I love sunday.


Aku suka sekali hari minggu karena aku bisa bangun siang.


Aku suka hari minggu karena aku bebas bermalas-malasan, nonton acara televisi kesukaanku seharian.


Aku suka hari minggu karena aku bisa menikmati masakan ibuku dan menemaninya makan.


Aku suka hari minggu karena aku bebas memakai kaos dan celana kumalku yang nyaman.


Aku suka hari minggu karena aku tidak perlu tampil pantas, dan yang terpenting...


Aku suka hari minggu karena aku tidak harus bertemu dengan bosku.


Ibuku begitu pengertian, beliau tidak mengomel, untuk menyuruhku bangun saat aku bilang kalau aku ingin tidur lebih lama. Ibu tahu kalau selama ini aku sudah bekerja keras dan berhak untuk sedikit memanjakan diri. Tidak seperti seseorang yang sama sekali tak menghargai usahaku.


Aku membenamkan kepala semakin dalam, menutupinya dengan guling yang ku tengah peluk. Kenapa aku masih memikirkannya? Seharusnya aku memasukkan pikiranku tentangnya ke dalam sebuah peti yang terkunci rapat, menguburnya dalam-dalam, dan baru akan membukanya kembali besok pagi.


Suara deringan ponsel yang aku lempar ke nakas sebelah kasur kemarin, mengagetkanku. Masih tak mau membuka mata, aku meraba-raba, meraih ponsel berisik tersebut. Seharusnya ku matikan saja ponsel ini kemarin malam. Aku bertanya-tanya siapa yang mencariku sepagi ini. Aku malas mengangkat, tapi suaranya terlalu berisik untuk diabaikan. Aku langsung menghentikan dering berisiknya begitu menemukan dan langsung menempelkan ke telinga, masih dengan mata terpejam.


"Hari ini waktunya membawa bayiku ke bengkel," ujar suara di sisi lain telepon.


"Bayi siapa?" jawabku dengan suara serak, masih belum sepenuhnya tersadar dari dunia mimpi.


"Bayiku, si Raptor. Sekarang waktunya untuk ganti oli dan servis rutin." Orang di ujung telepon menaikkan nada suaranya, sebal karena yang diajak bicara belum mengerti apa yang dimaksud.


Aku bangun seketika saat mendengar kata Raptor. Kelopak mataku yang tadi terasa berat, sekarang terbuka sepenuhnya. Aku merasa aku mendengar suara Rami dan saat melihat nama yang muncul layar ponsel, ternyata aku memang sedang berbicara dengannya. Aku menjambak rambutku, kesal kenapa harus mengangkat telepon darinya. Seharusnya tadi aku biarkan saja telepon itu terus berdering. Aku menjejak selimut yang menutupi tubuh beberapa kali dengan kedua kaki, tak percaya kalau aku harus berurusan dengan Rami di satu-satunya hari liburku.


"Tapi, hari ini hari minggu, Direktur," keluhku dengan nada suara merajuk yang sering ku gunakan pada ibuku jika aku menginginkan sesuatu. Aku berusaha untuk bernegosiasi dengan Rami, siapa tahu dia bersimpati pada ku dan mengijinkan untuk membawa mobilnya ke bengkel besok.


"Kenapa memang kalau hari minggu? Apa karena hari ini hari minggu jadi, semua urusan harus ditunda?" tuntutnya galak, membuatku gemas.


"Ehm...bukan begitu juga Direktur, tapi sekarang ini di luar jam kerja saya, dan saya rasa telat sehari atau dua hari tidak akan berdampak buruk bagi mobil Anda." Aku berusaha semanis mungkin untuk menolaknya.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, aku tak pernah telat membawa mobilku ke bengkel. Tak peduli di dalam atau di luar jam kerja, aku tetap atasanmu. Jadi, kamu harus melaksanakan yang diperintahkan. Kalau kamu tidak suka kamu boleh mengajukan pengunduran diri, aku tak akan menghalangi. Bukan aku juga yang harus memikirkan bagaimana melunasi cicilan rumah yang masih eh...10 tahun lagi," cerocosnya tak berperasaan, tepat mengenai titik kelemahanku. Dia tahu kalau aku tak boleh berhenti kerja sekarang jika tidak ingin diusir dari rumah nyaman ini dan menjadi gelandangan. Aku penasaran dari mana bos ku itu tahu berapa banyak hutangku. Dia tidak sedang menyelidiku, bukan?


Dasar nenek sihir. Aku yakin sekarang dia pasti tersenyum lebar, puas saat berhasil mengancamku terlebih setelah aku berhasil memanipulasinya kemarin. Bukannya aku penakut atau tidak percaya diri, aku hanya bersikap realistis. Menjadi PA jajaran direksi perusahaan multinasional adalah pekerjaan terbaik yang bisa aku dapatkan dengan latar belakang almamater yang biasa saja dan koneksi yang terbatas.


"Iya...Direktur, akan saya bawa ke bengkel hari ini. Anda puas sekarang?" Aku menaikkan nada bicara dibagian akhir kalimat. Terpaksa aku harus beranjak dari kasur empukku mengikuti keinginannya. Aku tak percaya aku masih harus bekerja untuknya di akhir pekan.


"Kamu marah?" tanya Rami yang alih-alih sebagai pertanyaan malah terdengar seperti cemoohan di telingaku. Seakan dia menantangku untuk melawannya.


"Tidak Direktur. Cuma disini sinyalnya tidak stabil." Aku berpura-pura tidak jelas mendengar omelannya. Aku segara menutup telepon sebelum aku benar-benar meneriakinya. Dengan kesal aku melempar ponsel ke atas kasur sebelum berlari keluar kamar sambil menyambar handuk menuju kamar mandi.


Ibu terbengong saat melihatku berlarian menuju ke kamar mandi padahal tadi aku berkata ingin bangun agak siang, bermalas-malasan di rumah dan menemaninya belanja.


"Kenapa terburu-buru, Dik?" tanya ibuku sambil menata nasi goreng di atas meja makan, siap untuk kita santap.


"Maafkan Dika, Bu. Dika harus pergi kerja. Kita belanja lain waktu saja, sekalian kita makan di luar. Sudah lama kita tidak makan enak," teriakku dari dalam kamar mandi yang hanya dibalas oleh desahan rendah dan kalimat tidak apa-apa. Bagaimana mungkin tidak apa-apa setelah aku mengecewakan beliau dan ini semua gara-gara Rami.


***


Aku melanjutkan tidur di salah satu ruang tunggu khusus pelanggan VIP. Ternyata Rami terdaftar menjadi pelanggan khusus bengkel mobil ini. Aku tidak perlu mengantri di belakang mobil lain untuk mendapatkan pelayanan. Begitu aku datang membawa Raptornya, para pekerja sudah tahu harus memasukkan di jalur mana dan segera melakukan pemeriksaan. Mereka seperti sudah mengenali mobil Rami.


Mereka juga tidak mempertanyakan kenapa aku yang membawanya ke bengkel, karena Rami selalu menyuruh orang untuk membawanya ke bengkel terutama saat dia berapa di Jerman.


Tidak ada perlakuan khusus untuk mobil Rami karena ini hanya service rutin selain juga karena mobil Rami terawat dengan baik. Tentu saja, bahkan untuk mengundur sehari dua hari jadwal servicenya ia tidak mau.


Saat aku keluar dari bengkel, matahari sudah memerah. Semburatnya menjangkiti langit biru yang cerah dengan gelapnya malam. Desahan napas berat, menguapkan semangatku. Aku harus menghabiskan hari liburku, lagi-lagi untuk urusan peqkerjaan.


"Kamu emank pemilih dan manja seperti ibumu," omelku pada dashboard mobil seakan dia bisa memahamiku. Sepertinya aku mulai sedikit gila meski baru beberapa minggu menjadi PA Rami.


Sebuah pesan masuk ke ponselku, sesaat mengalihkan perhatian dari jalan raya yang padat merayap. Jejeran mobil merangsek masuk, menuju pusat kota. Perjalanan balik setelah menghabiskan akhir pekan ke luar kota dan sekarang bersiap untuk awal minggu. Betapa menyenangkannya bisa menghabiskan akhir pekan ke luar kota, rehat sejenak dari rutinitas kerja yang melelahkan.


"Aish..." Aku mengumpat setelah membaca pesan yang tadi masuk ke ponsel. Meski dongkol, kesal dan marah, aku tidak punya banyak waktu untuk membantah. Aku harus segera mencari putar balikkan dan menuju ke tempat yang dia suruh.


***


"Kenapa Anda menyuruh saya kemari?" tanyaku dengan muka masam tanpa senyum sama sekali sambil menyodorkan popcorn dan minuman yang ia minta, popcorn kemasan jumbo dan greentea yang juga ukuran besar.


Rami sudah duduk nyaman di salah satu kursi bioskop, menungguku mengantarkan pesanan. Yeah...sekarang aku jadi pengantar pesanan. Saat aku datang ruangan bioskop masih terang jadi kemungkinan besar film yang ingin ia tonton masih belum diputar. Ruangan bioskop ini dipenuhi banyak orang. Hampir semua bangku terisi termasuk baris paling depan yang jarang ditempati orang. Hanya satu baris kursi di salah satu sisi yang masih kosong dan Rami menjadi satu-satunya orang yang menempatinya.


"Temani aku nonton," pintanya singkat, tapi lebih terdengar seperti perintah di telingaku. Aku tertawa miring mendengar permintaannya. Sekarang aku tahu kenapa dia tadi mengirim tiket online. Aku pikir tiket itu hanya untuk tiket pass agar aku bisa masuk theater bioskop dan menyerahkan makanan pesanannya.

__ADS_1


"Kenapa saya harus menemani Anda nonton? Saya bahkan tidak punya waktu untuk menemani nonton dengan teman-teman saya," elakku dari permintaannya yang konyol. Membantunya membeli pakaian kerja atau membawa mobil ke bengkel masih bisa lah dianggap sebagai tugas untuk kepentingan perusahaan, tapi kalau harus menemaninya nonton? Jelas itu bukan salah satu tugas seorang PA. Aku begitu frustasi karena cewek ini yang tidak lain adalah bos ku sendiri sepertinya tidak bisa membedakan mana urusan pekerjaan mana urusan pribadi. Aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri.


"Karena aku atasanmu bukan temanmu. Jadi, kamu harus melakukannya," jawabnya gampang. Dia bahkan tidak perlu menatapku saat mengatakannya. Jawaban yang sepenuhnya benar. Aku bisa memberikan sejuta alasan untuk menolak ajakan nonton dari anak-anak, tapi aku tak bisa melakukannya jika bos yang meminta.


Rami sama sekali tak memperdulikan protesku. Matanya fokus tertuju pada layar raksasa yang baru menayangkan iklan film yang akan segera rilis. Suara keras yang muncul saat ia menyedot minumannya seolah ikut mengejekku. Mencemooh aku yang tidak punya banyak pilihan.


"Direktur, Anda tidak boleh menyalahgunakan jabatan," protesku yang terganggu oleh pengunjung lain berjalan menuju kursi mereka masing-masing. Beberapa orang bahkan menyenggol punggungku karena aku menghalangi jalan dengan berdiri di sisi jalan.


Aku baru membuka mulut untuk kembali memprotes saat tiba-tiba lampu theater mulai dipadamkan. Mataku kegalagapan, sama sekali tidak siap menerima kegelapan mendadak ini. Aku meraba-raba kursi sekeliling untuk menopang tubuh.


"Sudah nggak usah protes, cepet duduk sebelum penonton yang lain marah karena kamu menghalangi pandangan mereka," tambahnya, tanpa sedikitpun membantuku mencapai kursi kosong disebelahnya. Seperti yang tadi sempat ku duga, Rami memang membeli kursi satu baris. Tingkah arogan dan berlebihan hanya karena ia punya uang lebih. Sama sekali tidak toleran dengan pengunjung lain yang ingin menonton film ini, tapi kehabisan tiket.


Aku menghela napas berat. Mulai terbiasa dengan kegelapan yang tidak sepenuhnya total sekarang. Cahaya dari film yang mulai diputar, sedikit memberi penerangan pada ruangan gelap ini. Lagi-lagi dengan terpaksa aku menjatuhkan menyamankan pantatku di salah satu kursi samping Rami. Setelah tidur seharian di bengkel mobil, mungkin aku bisa menikmati dua jam ekstra tidur di dalam bioskop.


"Kenapa Anda tidak mengajak pacar Anda saja?" Aku masih belum terima dia memaksaku untuk menemaninya nonton secara kami bukan teman. Apalagi di hari liburku yang berharga ini.


"Dia sibuk. Ada konferensi penting yang harus dia persiapkan," jawabnya cepat. Tangannya sibuk memasukkan popcorn rasa karamel yang aku tadi ku beli ke dalam mulut.


"Anda bisa pergi dengan teman Anda kalau begitu."


"Aku tidak punya teman," jawabnya masih dengan ekspresi yang sama, seakan jawabannya adalah jawaban normal yang bisa dengan mudah dikatakan oleh siapa saja.


Aku memalingkan pandangan, menerka apakah jawaban itu bohong atau bukan dari raut wajahnya. Tapi saat pandangan kami bertemu, aku tahu kalau dia tidak sedang berbohong. Rami memang bertemperamen buruk, tapi bukan seorang pembohong.


"Kenapa kamu memandangku begitu?" Rami mendelik. "Berhenti memandangku dengan tatapan belas kasihan, aku benci melihatnya. Dan asal kamu tahu, aku tidak punya teman karena aku tidak butuh, bukan karena tidak ada yang mau berteman denganku," elaknya lagi yang aku jawab singkat dengan anggukan kepala biar dia puas dan tidak makin mendebatku. Hal terakhir yang aku butuhkan sekarang adalah diusir keluar karena mulai bertengkar dengan Rami. Pasti akan sangat memalukan kalau sampai itu terjadi.


Sepercik rasa simpati muncul dari lubuk hatiku untuknya. Dia yang besar tanpa kasih sayang orang tua tidak tahu bagaimana caranya untuk mencintai dan mengasihi yang lain. Satu-satu keluarga yang ia miliki adalah sang kakek. Satu-satunya anggota keluarga yang sepertinya juga tidak punya hubungan baik dengannya Rami. Betapa sepi hidupnya.


Aku merogoh kotak popcorn ukuran large yang ada di sebelahku, sebelum akhirnya pukulan keras menyentaknya. Aku meringis kesakitan sambil menarik kembali tangan tanpa ada popcorn yang terambil.


"Kenapa Anda memukulku?" Aku meniup tanganku yang panas kena pukulan dari Rami.


"Karena kau berusaha mencuri popcornku." Ia menyipitkan mata curiga seakan aku memang seorang pencuri.


Aku menelengkan kepala, lucu mendengar tuduhannya. "Bukannya wajar kalau berbagi popcorn dengan teman nonton kita, dan lagi pula aku juga yang membeli popcorn itu menggunakan uangku sendiri." Tanpa sadar aku sedikit menaikkan nada suara hingga salah seorang penonton di belakang kursi memberiku isyarat untuk diam.


Rami tertawa tanpa suara melihatku yang dimarahi penonton lain. "Kenapa juga kamu cuma beli satu," ejeknya sambil berbisik. "Teman? Sejak kapan kita berteman. Kamu 'kan cuma PA-ku," tambahnya yang membuatku semakin ingin menyiram rambut panjangnya dengan minuman di sebelah.


***

__ADS_1


__ADS_2