My Evil Lady

My Evil Lady
Prioritas Utama


__ADS_3

"Kita sudah sampai." Aku memberitahunya saat mobil kami berhenti di depan sebuah hotel mewah di pusat kota. Aku ingin mengajak Mita untuk makan di luar malam ini sebagai ganti karena terlalu sering menolak saat ia mengajak main. Beberapa bulan terakhir aku memang terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk pergi main dengannya. Bukan hanya untuk menyenangkan teman semasa kecilku itu, aku juga melakukannya untuk memperbaiki suasana hati. Untuk sejenak, aku ingin menghilangkan pikiran dari pertengkaran yang terjadi di kantor tadi siang, mengalihkan perhatian tentang Rami. Aku ingin untuk sesaat tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti.


Aku tak buru-buru keluar dari mobil meski sudah melepas sabuk pengaman. Ku biarkan Mita sejenak menikmati keindahan hotel berkelas ini dari dalam mobil. Matanya berbinar senang karena memang ini kali pertama aku mengajak makan di tempat mewah. Gemerlap lampu menghias indah halaman depan dan gedung hotel yang tinggi menjulang. Restoran yang akan kamu kunjungi ada di puncak gedung hotel. Restoran eksklusif yang hanya menerima beberapa pengunjung. Menyuguhkan pemandangan indah pusat kota dari ketinggian yang menakjubkan. Nilai tambah yang membuat restoran itu begitu mahal selain masakannya yang juga mewah.


Aku membukakan pintu mobil untuknya. Aku berusaha bersikap se-gentle mungkin. Dia terkikik saat mendapatiku melakukan hal-hal cheesy seperti di film. Aku memaksakan senyum untuk membalas tawa lebarnya, menunggu dia menyambut tangan, mengikuti permainanku. Suasana hati belum membaik, masih sama suramnya dengan tadi siang saat aku bertengkar dengan Rami.


"Kakak nggak suka makanannya?" tanya Mita memecah lamunan. Aku gelagapan menjawab pertanyaannya. "Kakak, tidak mendengar ceritaku ya?" tanyanya lagi sambil memasang tampang cemberut.


Aku meletakkan pisau dan garpu. Sepotong steak lezat di atas meja masih utuh tak tersentuh. Makanan lezat yang kali kedua aku anggurin setelah perjamuan makan tempo hari bersama Rami. Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir dia dari pikiranku. Aku mengajak Mita untuk makan malam karena aku ingin sejenak melupakan urusan kantor, tapi kenapa aku malah melakukan sesuatu yang mengingatkanku padanya. Pergi makan di restoran favoritnya, memesan makanan yang mengingatkanku padanya.


"Maafkan aku. Akhir-akhir ini aku banyak pikiran." Aku mengusap peluh di dahi, helaan napas berat mengikuti.


Mita ikut meletakkan pisau dan garpunya. Senyum lembut terhias di sudut bibirnya, berusaha menenangkan hati seakan semua akan baik-baik saja. "Apa atasan Kakak yang baru menyusahkan?" Alisnya berkerut, mencoba menebak apa masalahku, dan dia benar. Apa semua terpampang sejelas itu di wajahku?


Aku mengangguk lemah dengan bibir cemberut. "Dia itu cuma cewek manja yang tidak bisa apa-apa. Cewek yang kebetulan mempunyai seorang kakek kaya. Dia bahkan menganggap perusahaan itu hanya sebagai mainannya,” semburku refleks saat Mita menanyakan tentang bosku. Aku seperti mendapat lampu hijau, mengeluarkan banyak alasan pembenaran kenapa aku membencinya.


Aku mengeluarkan unek-unek yang didengarkan dengan penuh minat oleh Mita. Sesekali keningnya berkerut saat aku menceritakan kelakuan bosku yang hampir mustahil untuk dilakukan oleh seorang manusia. Tak pernah sekalipun ia memotong ceritaku. Ia juga tak mengalihkan tatapan mata sedetikpun dariku.


Semakin lama aku bercerita semakin aku menyadari kalau Mita semakin terdiam. Senyum tipis memang masih terpasang di bibir tipisnya, tapi aku merasa binar matanya meredup. Seberkas kesedihan tersirat di sorot matanya, membuatku tersadar kalau telah melakukan kesalahan. Aku menghentikan cerita tentang perusahaan, tentang pekerjaan, tentang masalahku, dan tentang Rami. Sekarang aku sedang bersama, dan ini moment yang semakin langkah saat kami semakin dewasa. Seharusnya obrolan kali ini berkutat tentang kita, tentang Mita, bukan tentang Rami.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membicarakan tentang perusahaan saat aku main denganmu." Aku menyadari kesalahanku yang tentu saja langsung mendapat anggukan tidak apa-apa darinya. Tumbuh besar bersama sejak kecil, kami memang jarang bertengkar. Mita, meski usianya lebih muda dari aku, tapi ia selalu bisa mengerti. Dia seperti seorang adik perempuan yang selalu ingin kulindungi. "Jadi, bagaimana rencana pendakian kalian akhir bulan ini?" Aku mengembalikan topik pembicaraan tentang dirinya.


Aku mengangkat alat makanku lagi, memasukkan sedikit demi sedikit potongan daging lezat itu ke dalam mulut sembari mendengarkan Mita menceritakan rencana pendakian mereka. Pendakian yang tidak bisa aku ikuti terlebih di situasi seperti ini. Hampir mustahil untuk mengajukan cuti kerja setidaknya sekarang. Senyum ceria berkali-kali mengembang dari bibir tipisnya saat ia semangat bercerita hingga suara dering ponselku menyela keseruan ceritanya.


Aku memandang nama yang terpampang di layar ponsel sebelum aku membalik ponsel dengan layar menghadap sisi meja. Aku memutuskan untuk mengabaikan, dan memfokuskan perhatian kembali ke cerita Mita.


"Dari kantor," jawabku membalas tatapan penasaran Mita yang mengikuti tingkahku.


Mita mengerutkan kening. "Apa tidak diangkat dulu saja? Siapa tahu penting,” sarannya, merasa terganggu dengan dering ponsel yang berisik, mengganggu ceritanya.


"Tidak perlu, sekarang juga sudah di luar jam kerja," jawabku enteng, berusaha bersikap secuek mungkin sambil melanjutkan makan. Memaksakan diri untuk terus mengunyah dan menelan potongan daging di atas piring. Makanan yang terhidang lezat dan tampak appetizing entah mengapa terasa hambar di mulut.

__ADS_1


Ponsel di atas meja kembali berdering. Ingin sekali aku mengumpat pada benda mungil yang berisik itu. Makin berat buatku untuk mengabaikannya jika terus saja berdering. Sempat terpikir untuk mematikannya saja, tapi malah akan membuatku tampak sengaja mengabaikannya.


"Angkat saja, Kak. Nggak apa-apa, siapa tahu memang penting." Mita kembali membujukku untuk menjawab panggilan itu. Aku tahu dia juga pasti merasa tidak nyaman.


Aku menuruti saran Mita, "Iya Indah, ada apa?" Aku menjawab panggilan dari Indah yang sudah kuduga pasti ada hubungannya dengan Rami.


Terdengar suara panik dan cemas dari ujung telepon. "Kak, direktur menghilang? Pak Sigit yang seharusnya mengantarkan direktur pulang, tidak bisa menemukannya. Aku sudah berusaha menelpon beliau, tapi tidak diangkat, terus aku harus gimana, Kak?" jelas Indah cepat, terlalu cepat seperti laju kereta, tanpa jeda, tanpa sempat ia mengambil napas. Dari suaranya yang serak, aku bisa menduga kalau sekarang ia pasti sedang menangis karena panik.


Aku menopang kepala dengan satu tangan di atas meja, tidak habis pikir kenapa masalah ini bisa terjadi. Kenapa Rami membuat ulah lagi. Ia memang seperti itu, tak pernah sedikitpun memikirkan yang lain.


"Tenang Indah, kamu tenang dulu." Aku berusaha menenangkan Indah meski hatiku sendiri berdetak tidak beraturan. "Aku akan segera mencarinya. Kamu coba terus hubungi direktur. Aku akan segera memberitahu mu begitu aku menemukannya," perintahku yang langsung disetujui olehnya tanpa protes.


Aku menutup telepon bimbang, terlebih saat aku menatap mata hitam Mita. Bimbang untuk membiarkan Rami menghilang sesaat atau harus mengecewakan Mita, lagi. Ingin sekali aku mengacuhkan Rami setelah apa yang terjadi tadi siang, tapi aku tak bisa membuat Indah terseret dalam pusaran kekacauan ini. Kalau harus mendapat sanksi atau hukuman aku siap, tapi ia tidak bisa melakukannya pada Indah. Aku yang meminta Indah untuk menggantikan mengatur kebutuhan Rami hari ini.


"Aku sadar kalau malam ini aku terlalu banyak mengucapkan kata maaf, tapi aku harus segera pergi," kataku lirih, tak berani menatap matanya. Mata yang sekarang aku yakin kehilangan binar-binar keceriaan saat kami datang tadi.


"Aku tahu," jawabnya singkat. Suaranya yang lirih sedikit bergetar meski senyum masih setia terhias di wajahnya. Ia pasti sangat kesal sekarang.


"Kamu pasti kecewa karena malam ini tidak berjalan seperti yang kamu harapkan."


"Tentu saja," anggukku cepat. Aku lega saat melihatnya menikmati restoran mewah ini. "Aku akan meminta pak Sigit untuk menjemputmu. Kamu tak perlu mencari taksi," tambahku sebelum beranjak pergi. Pergi meninggalkan temanku sendiri, menikmati fasilitas resto mewah ini sendiri hanya untuk mencari bos yang hilang entah kemana.


***


"Direktur," panggilku pada sosok cewek yang sama sekali tidak sadarkan diri di sebuah lounge bar. Aku segera menghampiri untuk melihat keadaannya. Wajahnya tergeletak di atas meja dengan kedua tangan terlipat menjadi alas kepala. Rambut panjangnya tergerai menutupi wajah yang memerah. Dia sepenuhnya tertidur, tidak sadarkan diri meski aku berkali-kali mengguncang tubuhnya.


Aku tahu Rami berada di sebuah bar saat gps di ponselnya menunjukkan lokasi sebuah bar mewah di pusat kota, hanya saja aku tidak menyangka kalau akan mendapati pemandangan seperti ini, pingsan total karena mabuk.


"Siapa kamu?" Seseorang menahan tanganku yang berusaha membangunkan Rami. Seorang cowok tampan dengan garis rahang yang tegas, menyipitkan mata, menatapku tidak suka. Cowok itu duduk di sebelah Rami yang luput dari pengamatanku sebelumnya karena terlalu terkejut melihat keadaan Rami. Cowok itu menyeruput minumannya sambil menyandarkan siku di meja bar. Bau alkohol menyeruak kuat, keluar dari tubuhnya meski efek minuman itu tidak seekstrim pada Rami. Aku penasaran apakah ia adalah kenalan Rami karena ia berada satu meja dan membiarkan dirinya mabuk di depan cowok itu.


"Saya PA-nya," ujarku saat menatapnya. Aku mengambil napas sejenak, tidak berhasil membangun Rami. Suasana bar eksklusif ini tidak seramai bar pada umumnya. Bar untuk kalangan khusus yang dibuat elegan dengan puluhan lampu led yang temaram. Tidak ada hingar bingar musik di lantai, terganti dengan musik lembut yang menenangkan. Setiap lounge dibuat seprivat mungkin untuk melindungi privasi para pelanggan mereka. Kamu bisa menemukan banyak jutawan dan anak-anak tokoh penting di tempat tertutup ini.

__ADS_1


Cowok itu melepaskan tangannya yang sedari tadi menahanku. "Oh...pegawainya, aku pikir siapa," ujarnya meremehkan, segera memalingkan wajah sambil kembali menyesap segelas tequila di tangan. Setelan jasnya yang berwarna silver sudah tidak tertata rapi lagi. Kancing bagian atas terbuka memperlihatkan tulang selangkanya. Dasinya menggantung longgar di leher. Cowok itu sepertinya mulai mabuk meski tidak separah Rami.


"Lalu Anda sendiri, ada hubungan apa dengan Rami?" tanyaku tidak ramah yang hanya sekilas dilirik dari balik gelasnya. Aku belum pernah melihat cowok ini di sekitar Rami sebelumnya. Dia bukan sepupu, keponakan, kerabat atau teman dekat Rami. Aku tahu karena aku sudah mempelajarinya. Mempelajari siapa saja orang yang berada di dekat Rami agar aku tidak salah memperlakukan. Karena itu aku takut cowok itu memanfaatkan keadaan Rami yang mabuk parah.


"Aku cowoknya," jawabnya cepat. Jawaban yang langsung membuat mataku terbelalak.


Cowok ini pacar Rami??


Sekarang dia berhasil menarik perhatianku. Aku mengamatinya dengan lebih seksama. Rambut pendeknya yang dibikin tipis di bagian samping, tersisir rapi ke belakang. Setelan jas mahal dan jam tangan bermerk menyempurnakan penampilannya. Wangi parfum yang maskulin menyeruak dari tubuhnya yang gagah bercampur aroma alkohol.


Dalam hati aku sedikit memuji Rami yang punya selera bagus dalam mencari cowok. Cowok tampan yang bisa dibilang sepadan dengan Rami yang cantik. Aku bisa membayangkan betapa irinya cewek-cewek lain saat melihat mereka berjalan berdua.


"Apa yang terjadi dengan direktur?" tanyaku belum berhasil menyadarkan Rami.


"Seperti yang kau lihat. Kemampuan minumnya tidak setangguh tekadnya,” jawabnya tenang seakan melihat pacarnya tergeletak tak sadarkan diri adalah hal yang biasa. Dia tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih sempurna. Aku sebagai seorang cowok jadi merasa rendah diri di hadapannya. Dia punya segala yang diinginkan para cowok di dunia. "Segelas miranda sudah berhasil membuatnya tumbang."


Aku mengerutkan kening, merasa kalau itu bukan sesuatu yang lucu. Kalau ia tahu kemampuan minum pacarnya kenapa ia membiarkannya. "Kalau Anda tahu dia buruk dengan alkohol, kenapa Anda membiarkannya minum?"


Cowok itu mengangkat bahu, menyandarkan lengan di punggung sofa. Ada sesuatu di balik sikap tenang pacar Rami yang membuatku merasa tidak nyaman, seperti rasa gatal di bawah kulit yang tidak bisa digaruk. Tidak bisa membedakan antara bersikap tenang atau abai. Ah...mungkin aku hanya merasa iri saja dengannya. "Apa ada orang yang bisa melarangnya?” tanyanya yang aku tahu betul apa jawabannya. Tidak ada, tidak juga sang kakek sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki. “Dia bersikeras untuk meminumnya. Dia bilang ingin menghilangkan stress karena masalah di perusahaan."


Aku salah tingkah mendengar penuturan cowok itu, tidak tahu harus berkomentar apa. Mungkin yang Rami maksud adalah masalahnya denganku.


"Sepertinya dia perlu mempekerjakan PA baru biar dia nggak perlu stress lagi," sarannya sambil melirikku dari sudut mata. Lagi-lagi ia tertawa kecil, seakan itu masalah sepele meski ini menyangkut masa depan karirku. Aku penasaran apa Rami menceritakan semua tentangku pada pacarnya itu.


"Kalau begitu saya akan membawanya pulang," putusku sambil mulai melingkarkan salah satu lengan Rami ke atas pundak. Mulai memapah tubuh berat Rami untuk membawanya pergi. Aku tak berminat lagi mendengarkan sindiran dari cowok itu..


Cowok itu mengangguk setuju sambil mengibas-ibaskan tangannya sebagai isyarat agar aku segera membawanya sementara ia masih melanjutkan minumnya. Sikap abai yang membuatku bertanya apakah dia benar pacar Rami. Pacar yang dengan gampangnya membiarkan ceweknya dibawa oleh cowok lain terlebih dalam kondisi tak sadarkan diri. Bagaimana kalau aku mengambilkan keuntungan dari kondisi Rami sekarang? Tentu saja aku tidak akan melakukannya, tapi dia tidak mengenal baik untuk mempercayakan Rami sepenuhnya padaku.


Susah payah aku memapah Rami untuk keluar dari pub tersebut. Aku pikir Rami tidak akan seberat ini jika dilihat dari proporsi tubuhnya yang ramping. Aroma alkohol menyeruak kuat dari tubuhnya, mengalahkan aroma segar parfum pinus yang ia sukai.


Aku baru saja akan mendudukkannya di kursi belakang saat menyadari kalau sekarang dia completely tidak sadar. Aku mengurungkan niatku dan berjalan memutar, meletakkannya di kursi samping kemudi.

__ADS_1


"Aku ‘kan bukan sopirmu." Seringai kecil ku tujukan ke arahnya yang memejamkan mata rapat, memasang sabuk pengaman untuknya sebelum berputar ke kursi pengemudi.


***


__ADS_2