
Derap langkah mantap yang begitu ku kenal membahana-mengalihkan pandangan kami-saat ia memasuki ruang pertemuan. Sosok bos ku terlihat sempurna dalam balutan blouse tanpa lengan dan rok selutut berwarna merah muda. Senyum kecil tersimpul di wajah saat dia memakai wedges maroon pilihanku. Dengan penampilannya sekarang dia sudah benar-benar terlihat menyakinkan, seperti profesional muda pada umumnya. Cukup untuk memberikan kesan positif meski aku masih tidak yakin dengan kemampuan berbisnisnya.
Untuk sesaat aku melupakan kekesalanku padanya. Yes, dia sudah berhasil membuatku kesal di hari sepagi ini di awal pekan. Aku sudah memperkirakan kalau Rami akan berbuat ulah di pertemuan penting hari ini. Karena itu, aku berangkat lebih pagi untuk menjamu para perwakilan dari perusahaan Jaya.
Untung aku melakukannya karena bosku memang baru muncul dua jam lewat dari waktu pertemuan. Perwakilan dari Jaya akan merasa sangat tidak dihargai dan mungkin akan membatalkan kerjasama jika tidak ku alihkan perhatian mereka. Aku tidak tahu Rami sengaja melakukannya atau tidak, yang jelas aku sudah berulang kali mengingatkan tentang pertemuan kali ini.
Sesaat pandangan mata kami bertemu, tapi aku merasa tatapannya padaku lebih kearah sesuatu yang tidak ia senangi. Aku mengerutkan kening, aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Apa dia marah karena aku bertindak tanpa instruksi dan pemberitahuan sebelumnya? Bukankah tindakanku kali ini menyelamatkan wajahnya lagi?
Buru-buru ia mengalihkan pandangan dariku. Senyum lebar terhias saat ia menyapa para tamunya. Dokumen-dokumen kontrak terselesaikan dengan cepat tanpa banyak revisi dari kedua pihak. Semua berjalan begitu sempurna, bahkan terlalu sempurna. Begitu juga dengan Rami. Hari ini dia terlalu ramah, terlalu banyak mengumbar senyum, mengobrol basa-basi tentang banyak hal dengan tamunya, tapi tidak sekalipun memandangku.
Aku menghapus peluh, merasa gerah di ruangan berpendingin ini, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Semakin gerah saat aku mendapati Rami melihatku dari sudut mata saat kami hanya tinggal berdua di ruang kerjanya. Aku gelisah, seakan sebuah bom waktu sudah ditanam dan berhitung mundur, tanpa tahu kapan akan meledak.
"Saya sudah mengantar mereka keluar. Saya juga sudah memerintahkan pak Sigit untuk mengantar mereka ke bandara," laporku cepat. Aku ingin cepat menyelesaikannya dan bisa keluar dari ruangan Rami.
Laporanku tidak mendapat respon apapun dari Rami. Rami yang duduk di mejanya sedari tadi, tak mengangkat kepala sedikitpun, sibuk mempelajari dokumen di tangan. Perhatiannya tidak beralih dari dokumen kontrak yang telah disepakati. Aku masih tidak bisa membaca ekspresi mata yang terhalang bulu matanya lebatnya. "Kalau begitu saya permisi dulu." Aku berbalik, menunda langkahku yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan yang terselimuti keheningan.
"Apa kamu punya masalah denganku?" tanyanya seperti petir menyambar di hari cerah, menghentikan langkah kakiku yang sudah berada di ambang pintu. Aku membalikkan badan, menatap ke arahnya yang masih tidak menatapku.
__ADS_1
Iya, jelas aku punya masalah denganmu. Bukan, sebaliknya apa kamu punya masalah denganku hingga membuat hidupku sengsara?
"Maaf? Apa maksud Anda, direktur?" tanyaku sok tidak mengerti saat kembali mendekat ke mejanya. Alisku berkerut, menebak-nebak apa yang sedari tadi terjadi dengannya. Seingatku tensi diantara kami kemarin malam cukup baik, eh...tidak benar-benar baik, tapi setidaknya tidak berpisah dengan makian dan adu argumen. Jadi, jujur aku bingung kenapa ia seakan marah padaku sejak pagi.
Rami akhirnya mengangkat wajah, menghujaniku dengan tatapan tajam. Senyum mencemooh terhias di sudut bibirnya, "Buang tampang sok tidak tahu mu itu di depanku. Aku muak melihatnya," katanya kasar dan menusuk, membuatku jantungku mencelos. Aku sungguh tak mengerti, apa yang sudah ku lakukan hingga membuatnya marah seperti itu. "Kalau kamu memang tidak senang denganku katakan saja, jangan seperti musuh dalam selimut!"
Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh. Menyerah memikirkan apa yang tengah terjadi tanpa menemukan sedikitpun petunjuk. Aku membuka kancing jas, mengalihkan pandangan ke sudut ruangan sesaat seakan aku menemukan jawaban dari pertanyaanku disana.
Aku menghela napas berat. Sudah cukup. Ini sudah cukup. "Bukankah Anda yang punya masalah dengan saya, Direktur? Bukan saya," tanyaku membalikkan pertanyaannya. Aku sungguh sudah tidak ingin menarik diri lagi untuk menghadapi cewek manja di depanku ini. Boleh jadi Rami memang atasanku, tapi aku bukan budaknya. Aku memang bekerja untuknya, tapi aku berhak diperlakukan selayaknya manusia. Dia tidak bisa seenaknya memperlakukanku.
Menunggu beberapa detik, tapi tetap tak mendapat respon dari cewek di depanku, aku kembali meluapkan perasaanku. Kami memang harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. "Anda dengan seenak saja menyuruh-nyuruh saya kesana kemari. Menghilang seenaknya saat akan ada pertemuan penting, membuat saya kelabakan dan berlarian seperti orang gila." Aku berhenti untuk mengambil napas. Memberondongnya dengan semua unek-unekku sungguh menguras tenaga. "Saya bukan hanya seorang PA, tapi juga seperti seorang sopir, pembantu, bahkan direktur sekalipun karena Anda tidak pernah melakukan pekerjaan dan tugas dengan benar. Mengapa Anda melakukan itu pada saya?" Suaraku melembut saat menyadari bagaimanapun aku tetap berhadapan dengan makhluk berhati lembut meski dia tampak sekokoh batu karang.
"Menghalangi jalan Anda?" Aku tidak habis pikir bagaimana otaknya bekerja. "Selama ini yang saya lakukan semua itu untuk menyelamatkan Anda, menyelesaikan semua tugas Anda. Menyelamatkan wajah dan reputasi Anda di depan semua orang termasuk di depan para klien dan rekanan."
"Karena itu aku membencimu," semburnya cepat, Rami yang tiba-tiba berdiri membuatku terhenyak dan mundur beberapa langkah. Apa aku telah melewatkan sesuatu? "Kamu pikir aku cuma seorang pewaris manja yang tidak bisa apa-apa? Pernahkah kau berpikir kalau aku memang sengaja melakukannya? Itu memang tujuanku. Aku ingin dianggap tidak kompeten dan tidak layak mewarisi perusahaan agar bisa segera ditendang dari tempat memuakkan ini. Dan kamu dengan sok-sokkannya membereskan semua ulahku, hanya untuk membuktikan diri kalau kamu mampu dan mendapat pujian tak berharga dari kakek tua itu.” Rami melampiaskan semua amarahnya. Amarah yang anehnya membuat segalanya terang benderang. Rami tak ingin berada di perusahaan ini, tapi ia juga tak bisa angkat kaki dengan mudah karena itu dia melakukannya. Dia sengaja berulah sebagai bentuk perlawanan kepada sang kakek, dan aku berdiri diantara mereka. Jadi, wajar saja kalau dia membenciku.
"Anda memang hanya seorang pewaris manja." Aku mengangkat kepala, menantang meski sekarang tahu apa sebenarnya yang ia inginkan, sebuah kebebasan. Makianku membuatnya bola matanya semakin membulat saat bola mata kami bertemu. Tajam, menusuk, penuh amarah, tapi berkabut. Ada sepercik kesedihan dibalik tatapan tegasnya. "Hanya karena Anda tidak sepaham dengan kakek Anda, hanya karena sifat pemberontak Anda yang kekanak-kanakan, Anda menjadikan perusahaan ini sebagai mainan." Rami seperti akan menyela, tapi aku tidak memberinya kesempatan. "Perusahaan ini, perusahaan kakek yang Anda benci ini, ada boleh membencinya, tapi perusahaan ini sumber penghidupan ribuan karyawan dan keluarganya. Jadi, saya tidak akan membiarkannya menjadi alat permainan Anda. Saya tidak akan membiarkan Anda menghancurkannya," jelasku, panjang lebar ikut mengeluarkan semua keluhanku.
__ADS_1
Aku pikir aku akan merasa puas setelah mengeluarkan semuanya. Meluapkan semua amarah dan rasa kesal, tapi ternyata aku salah. Bukan kelegaan dan kepuasan yang aku rasakan. Ada sedikit rasa sakit yang tidak nyaman di salah satu bagian hatiku. Aku memalingkan wajah, tidak ingin bertemu pandang dengannya.
Rami terdiam, ia seperti tidak ingin membalasku. Mungkin ini sedikit mengejutkan baginya. Ia tak menyangka akan melihatku berani menantangnya, berani memaki langsung di depan matanya yang merupakan atasan langsung dan calon pewaris perusahaan. Aku juga penasaran apa yang sebenarnya ada di otak Rami sekarang. Akankah ucapanku bisa jadi pertimbangannya atau malah membulatkan tekadnya untuk memecatku.
***
Aku berjalan dengan gontai keluar dari ruangan Rami. Aku keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Rami juga tak menghentikanku. Dia lebih memilih memandang jauh ke luar jendela kantornya yang mengarah langsung ke jalanan. Memperhatikan lalu lalang pejalan kaki yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, mencari nafkah. Kakiku terasa begitu lemas seakan aku belum makan selama berhari-hari. Aku memukuli mulut yang begitu lancang bicara sekasar itu kepada atasanku langsung. Aku mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menahan emosi. Para staf direksi lain, menghujaniku dengan tatapan penuh ingin tahu tanpa berani bertanya, saat aku keluar dari ruangan Rami dengan wajah dan pakaian lusuh. Habislah sudah aku.
Yang tersisa dari luapan emosi hanyalah sebuah penyesalan.
Aku sering membaca kata-kata bijak itu di buku pengembangan diri yang ku baca saat bersantai di akhir pekan. Kata-kata yang seharusnya bisa menjadi pengingat dan penyelamatku, tapi sayangnya kata bijak tersebut seakan tenggelam dalam labirin sel-sel otakku yang tertutupi amarah dan ego sesaat. Aku melupakannya. Aku tak bisa menahan emosi dan sekarang yang tersisa hanya penyesalan. Aku harus mulai memikirkan untuk mencari pekerjaan baru, memikirkan bagaimana menutup tagihan bulanan. Andai saat itu aku bisa menahan diri, mungkin sekarang aku tak perlu pusing memikirkan dengan apa besok aku memberikan uang belanja kepada ibuku.
"Eh..Indah, aku bisa minta tolong?" Aku menghentikan langkah melewati mejanya. Cewek itu menganggukkan kepala cepat, menatapku dengan pandangan prihatin. "Tolong pesankan sushi untuk makan siang direktur. Beliau suka sushi di kedai depan samping toko kue. Kamu bisa memakai ini." Aku menyerahkan kartu sakti Rami yang ia terima dengan wajah dipenuhi tanya. "Oh ya...infokan juga ke pak Sigit untuk mengantarnya pulang tepat jam lima sore. Direktur bisa marah kalau pulang terlambat,” pesanku lagi yang makin membuat kening cewek itu berkerut. Aku merasa tidak enak menambah kerjaan untuk mengurus bosku, tapi aku tak punya pilihan lain. Aku akan mentraktirnya besok.
"Kak Dika mau kemana? Aku harus bilang apa kalau direktur menanyakan, Kakak?"
Aku mengerutkan kening, tertawa miring. Rami kemungkinan besar tidak akan mencariku hari ini, tidak setelah pertengkaran kami tadi. Aku ingin pulang lebih awal. Aku juga harus mempersiapkan diri apabila besok aku menerima surat pemutusan kontrak. "Bilang saja kalau aku pulang cepat karena ada keperluan," jawabku singkat yang hanya dibalas anggukan mengerti oleh Indah. “Tapi sepertinya direktur takkan menanyakanku hari ini, jadi kamu tenang saja,” tambahku, memaksakan seutas senyum kecil seakan tidak terjadi apa-apa antara aku dengan Rami. Sebuah usaha yang sia-sia karena sepasang mata bulatnya sendu penuh simpati padaku. Semua staff di lantai direksi ini tahu bagaimana kerasnya Rami memperlakukanku.
__ADS_1
***